
"Lalu gimana kamu sekarang??"
Mereka berdua masih asik mengobrol, entah karena mamang kangen yang sudah lama terpendam, atau memang ada banyak yang perlu di ceritakan.
Vee mencoba menanyakan kepada Meli, tentu saja pertanyaan itu ada kaitannya dengan kehidupan Meli dengan Dio, bagaimana pun mereka menikah karena terpaksa. Meli nya yang terpaksa, kalau Dio nya memang sengaja.
"Aku???"
Meli tersenyum, ia tau di mana arah pembicaraan dari teman lamanya itu. Yah, pastinya berhubungan dengan rumah tangga nya.
"Kalau kamu berpikir aku tidak bahagia karena terpaksa menikah dengan Dio?? kamu salah."
"Aku bahagia. Meskipun awak waktu pernikahan kami, aku yang banyak diam, aku masih sok dan tidak menyangka akan menikahi dengan laki-laki yang tidak aku cintai, apalagi kami menikah dengan cara seperti itu, tidak pernah ada dipikiran aku sama sekali."
"Tetapi, seiring berjalannya waktu, apalagi Dio perhatian dan menyayangiku, aku sadar kalau memang takdir ku bersama dengan dia. Aku mulai sedikit demi sedikit mencintai nya, apalagi ketika aku tau, ada Orin di dalam rahimku. Aku memang sempat membenci Dio sebelum nya, tetapi aku tau....anak yang ada di dalam kandungan ku tidak bersalah, dan dari situlah...aku mulai belajar mencintai Dio, aku juga berpikir tidak mungkin membuat anakku tidak mendapatkan kasih sayank dari bapak dan ibunya."
Vee mangangguk, ia juga menghapus air mata yang sempat menetes ketika mendengarkan cerita dari Meli, ia menyesal kembali....karena tidak ada di saat orang orang terdekat nya membutuhkan bahu untuk bersandar.
"Dan buktinya sekarang, aku bahagia....Dio tidak berubah dari dulu, masih tetap mencintai aku, meskipun aku sudah menjadi istri nya. Apalagi kamu lihat sendiri kan?? bagaimana Dio menyayangiku dan juga Orin??", Vee mengangguk.
"Nah....makanya, jangan kamu menyia nyiakan cinta Gery, aku tau kalau kamu dulu juga terpaksa menerima cinta Gery, dan aku berharap kamu tulis mencintai nya seperti Gery mencintai kamu."
Vee seakan tertampar kenyataan, memang benar apa yang dikatakan oleh Meli, kalau lebih baik menerima orang yang mencintai kita, daripada mengejar orang yang tidak mencintai kita.
Yah, kembali Vee sadar kalau memang hanya Gery lah laki laki yang tulus mencintai dan memahaminya. Walaupun ia mencintai Gery dengan waktu yang begitu lama, tetapi setidaknya ia belum terlambat.
"Lalu di mana Bara sekarang?? sumpah aku kaget banget waktu tau kamu tidak dengan Bara."
Meli tersenyum, ia melihat ke arah Vee dengan mata yang curiga.
"Hei...jangan melihat ku seperti itu? wajar kan kalau aku bertanya??"
Vee seakan akan paham dengan apa yang ada di pikiran Meli, ia juga tidak menyalahkan karena memang dirinya juga penasaran dengan kabar Bara dan dimana sekarang ia berada.
__ADS_1
"Bara masih di Jakarta, dia tidak seperti kamu dan aku yang kabur karena keadaan."
Hahahaahahaha
Vee tertawa.... bukannya menyindir, memang kenyataannya seperti itu, lari dari kenyataan.
"Di Jakarta. Tetapi sekarang sedang di Australia...mungkin akan kembali beberapa hari lagi, kenapa kangen??",
Meli terkekeh geli, tentu saja kembali melihat eskpresi wajah Vee yang begitu berbeda.
"Kangen?? kalau aku jawab tidak, mustahil donk!!! karena nyatanya aku dan dia tidak pernah bertemu. Apalagi kami dulunya teman sejak kecil.", jawab Vee dengan santai nya, seolah oleh tidak merasakan apa apa.
"Apa kalian tidak pernah bertemu??", Vee menggeleng.
"What?? astaga.... kasihan sekali Bara.... berarti dia ke bolak balik ke Jerman sia sia donk!!"
Vee melototkan matanya, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh temannya, kalau Meli juga tau Bara bolak balik Jakarta Jerman.
"Kamu juga tau?? bukannya kamu tidak di sini??"
"Jangan mikir yang macam macam, aku dan Bara kini berteman, bukan hanya itu saja, Perusahaan Bara dan Perusahaan Dio bekerja sama, meskipun kita tidak satu negara. Jadi, apapun yang dia lakukan pasti Dio tau."
"What???"
Masih tidak percaya, yang dulu nya musuhan kini menjadi akrab, bahkan saling bercerita.
"Hmmm ya begitulah. Tidak ada yang tau kedepannya. Mau tau tentang Bara lagi enggak??"
"Buat apa??"
"Yah sapa tau kamu kepo, sudah lama kan kalian tidak saling berkomunikasi, jadi wajar donk jika kamu mau tanya tentang Bara."
"Haishhh... terserah kamu lah."
__ADS_1
Tidak tau lagi apa yang mau diucapkan oleh Vee, gadis cantik itu hanya diam saja, bahkan ia menopang dagu dengan kedua tangan nya.
Meli memulai bercerita, tentunya Vee mendengarkan seperti saat ia sekolah dulu. Namun, lama lama ia menggeleng, karena tidak percaya dengan cerita Meli.
"Bara belum menikah?? dan masih jomblo?? masa' sih??"
"Nih anak masih enggak percaya. Aku temennya sekarang, dan suami aku malahan dekat sama dia, satu kampus, satu jurusan bahkan satu kelas."
Ujar Meli bersemangat menceritakan semuanya, semua tentang Bara ia tau, bukan karena kepo masih cinta, tetapi semuanya dari Dio yang sekarang dekat dengan nya.
"What???"
"Kaget lagi?? bukan hanya Bara dan Dio saja, bahkan Gery juga satu kelas, entah lah mereka sudah lengket seperti lem saja, tidak bisa terpisahkan. Heran aku, apa enggak bosen ya??"
"Tau!!", jawab Vee singkat.
"Gery enggak cerita??", Vee menggeleng.
'Gery tau berarti.. Tapi mengapa tidak cerita sama aku??'
"Oh mungkin memang enggak perlu di ceritakan ke kamu, Gery takut kamu berpaling darinya , hahahaha......"
"Asem!!"
"Kamu jangan salahkan Gery, aku yakin dia enggak niat untuk menyembunyikan nya dari kamu."
"Aku tau Mel."
Mereka masih asik ngobrol, dan tentunya banyak hal yang di ceritakan, bukan hanya tentang Bara saja, tetapi juga semua nya.
Sedangkan Vee, entah kini rasanya seperti apa, ia sendiri tidak tau, tentunya setelah mendengar kenyataan yang sesungguhnya.
Pantesan saja Bara kekeh mencari Vee, kalau ternyata dia gagal menikah. Tetapi?? mengapa Bara sampai melakukan itu?? apa Bara mencintai Vee.
__ADS_1
'Tidak!! tidak itu tidak mungkin...kalau pun dia mencari ku karena cinta, itu rasa tidak mungkin....dan misal mungkin pun, aku hanya dianggap nya sebagai pelampiasan saja.'