Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Aneh


__ADS_3

Malam pun berganti, Bara dan yang lainnya sudah berada di Bandara, setelah pesawat yang ditumpangi nya mendarat sepuluh menit yang lalu.


Sengaja Bara tidak menggunakan pesawat pribadi, karena ia tidak mau sampai Daddy tau tentang kepulangan nya.


Yah, Bara akan memberikan kejutan untuk Mommy dan Daddy nya, dan juga untuk Velia.


Setau orang rumah, Bara akan pulang sekitar tiga hari lagi, tetapi....ia bisa mempercepat urusannya dan bisa kembali dalam waktu singkat.


"Ngopi dulu Bro!! kebetulan mobil jemputan belum datang, dan ini masih terlalu pagi."


Bara mengangguk, tetapi tidak dengan Vika. Karena mobil jemputan Vika sudah datang, sengaja memang gadis itu menyuruh supir keluarga untuk menjemput.


"Sorry, gue duluan ya....supir sudah jemput.", tunjuk Vika ke arah laki laki yang tidak terlalu tua yang mengarah kepadanya saat ini.


Bara melihat arah tunjuk Vika, tentunya ia hanya memasang kalau yang menjemput Vika itu benar supir pribadi keluarga nya, ia pun mengangguk manakala sudah melihat supir Vika mendekat.


Tidak mungkin juga Bara mengijinkan Vika pergi dengan orang asing, Vika masih tanggung jawab nya, karena gadis itu adalah sekertaris Bara.


"Oke, hati hati."


Ucap Bara setelah memastikan siapa yang menjemput Vika.


Setalah kepergian Vika, Bara dan Bagas masuk ke sebuah coffee shop yang ada di Bandara itu.


Minum kopi dan makan roti, rasanya lumayan untuk mengurangi rasa lapar dan juga lelahnya.


Kopi dan beberapa roti pun sudah dihidangkan di depan meja, Bagas and Bara segera menyantap hidangan di depannya dengan meminum kopi hitam khas Indonesia yang sudah lama mereka rindukan.


"Mau pulang ke mana??", tanya Bagas.


Sedari tadi Bara belum bicara mau pulang ke mana, karena semenjak Velia pergi, Bara lebih senang berada di apartemen, dan hanya sesekali pulang ke rumah.


Salah satu alasannya adalah tidak mau di desak untuk dikenalkan dengan anak kolega Daddy., dengan tujuan akan menjodohkan Bara.


Dasar Bara yang memang dari dulu tidak bisa diatur dan keras kepala, ia menentang dan akhirnya malas untuk berada di rumah.


"Rumah aja, kangen dengan Mommy.", jawab Bara.


Yah, alasan Bara pulang ke rumah adalah karena Mommy nya. Apalagi kalau Mommy sudah berkendak, tentunya Bara tidak dapat melawan, kecuali tentang dengan siapa ia akan menikah nantinya.


Bagas mengangguk, walaupun Bara orangnya yang sama sekali tidak ramah dengan orang lain, tetapi ia sangat menyayangi Mommy nya.


Mereka berdua masih berada di coffe shop, menghabiskan roti dan dan juga secangkir kopi, sembari menunggu mobil jemputan yang memang datangnya sedikit terlambat.

__ADS_1


"Apa rencana Lo pagi ini??"


Bagas yang sudah selesai menikmati jamuan pagi nya langsung saja menodong pertanyaan untuk Bara, ia sendiri yakin tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan oleh Bara.


"Gue akan ke kampus, tentunya menemui Vee.", jawab Bara dengan tersenyum.


'Sudah aku duga.'


Bagas hanya mengangguk, dan memang benar seperti apa yang dipikirkan nya, kalau pastinya Bara akan menemui Vee nantinya, bahkan Bara sudah tau jadwal kuliah Vee pagi ini, begitu juga dengan Bagas dan juga Bara.


"Lo enggak mau nyamperin ke rumah nya??"


Bara menggeleng, "Nanti saja, gue mau buat kejutan untuk dia."


Bara tersenyum lagi, yang membuat Bagas menggelengkan kepala nya. Baru kali ini sahabatnya itu tersenyum, setelah hawa kandung menyelimuti hati sahabat nya itu.


'Semoga apa yang lo inginkan dapat terwujud.'


.


.


.


"Maaf Tuan saya terlambat."


"Tidak apa apa Pak."


Bukan Bara yang menjawab, tetapi Bagas. Dan bukan Bara membenci supir telat itu, tetapi.... memang dasar Bara yang sikapnya acuh dan sedikit sombong. Apalagi sejak kepergian Velia, laki laki itu menjadi berubah dingin, hanya dengan orang orang tertentu saja, ia bisa ramah.


Jangankan ramah, senyum saja ogah. Dan baru terlihat beberapa hari ini, sejak ia menemukan Velia.


"Ke jalan xxx dulu!!", ujar Bara.


"Jalan xxx??? What???"


"Lakukan saja!"


Bagas menghela nafas panjang, ia tau jalan itu adalah arah rumah Velia, mau tidak mau jika Bos sudah memerintahkan, pasti harus di laksanakan.


"Putar balik Pak, kita ke jalan xxx."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Pak supir itu hanya menurut, ia juga sudah tau jalan yang di maksud oleh Bos nya, karena Pak supir juga kerap kali di minta untuk mengantarkan ke rumah Papah Cesa.


Bagas menggerutu di dalam hatinya, padahal kurang sebentar lagi ia sudah sampai di rumah utama Bara, tetapi....dengan seenaknya Bara mengubah rutenya.


Gila!! apa yang akan dilakukan dengan laki laki itu??


"Lo mau ngapain kesana?? katanya enggak mau ketemu?? lagian ini masih jam empat pagi Bar?? tidak baik bertamu di pagi pagi yang masih buta ini."


Bukan Bagas tidak suka atau tidak mau untuk mengikuti Bara, tetapi.....hanya mengingatkan saja. Belum apa apa ia bisa di tendang dari rumah calon mertuanya, jika nekad bertamu saat ini .


"Gue cuma mau lihat saja, bukan bertamu."


"Lihat?? emangnya bisa??"


Bagas masih tidak mengerti jalan pikiran Bara, apa jangan jangan sahabat nya itu yang mendadak gila!!


"Bisa. Lo diam saja kalau masih pengen ikut!!"


"Ya .... ya .... ya."


Bagas diam, tidak ingin diturunkan di tengah jalan, mungkin kalau Bara ngomong dari tadi, lebih baik Bagas pulang naik taxi saja, lelah....jangan di tanya, apalagi nanti juga ada kuliah pagi dan juga bertemu dengan dosen pembimbing skripsi nya.


Belum lagi dengan urusan pribadi Bara, mau tidak mau, suka tidak suka, ia juga ikut andil di dalamnya.


Dan tentunya, pekerjaan Bagas kini kian bertambah banyak sejak kedatangan Vee, ia yakin .. banyak yang akan dilakukan oleh Bagas nantinya.


Mobil mewah warna hitam sudah sampai di depan gerbang kediaman Aditya.


Bara sudah memerintahkan supir untuk diam saja dan jangan bergerak dari titik yang sudah di sampaikan oleh Bara.


Laki laki itu membuka kaca mobilnya, mendongakkan wajah nya ke atas, dan melihat dengan jelas ke sana.


Bara tersenyum, yah.... hanya dengan melihat jendela kamar Vee ia bisa mengembangkan senyumannya, padahal terlihat jelas kalau lampu kamar Vee masih gelap gulita, dan itu tandanya sang empu nya kamar mandi tertidur pulas.


'Bara memang gila!!'


Bukan hanya Bara yang melihat ke atas, Bagas yang penasaran juga ikut melihat ke arah jendela kamar Vee, tidak apa apa...mengapa Bara bisa tersenyum??


Klik


Lampu kamar Vee tiba tiba menyala, dan tentunya ia tau kebiasaan dari gadis cantik itu., kalau lampu sudah menyala, Vee bangun dan bergegas membuka jendela.


"Jalan Pak!!"

__ADS_1


Ucapan Bara itu membuat Bagas menggeleng, sungguh aneh. Disaat Vee akan membuka jendela, Bara malahan pergi.


__ADS_2