
Beberapa bulan kemudian.
Hari kelulusan pun tiba, dan saat nya melepaskan seorang teman sekaligus dianggap saudara nya. Yah, Brisa...nanti sore akan melanjutkan pendidikan nya di London, karena ia memperoleh beasiswa di sana.
Bagitu berat rasanya bagi Vee, karena Vee dan Brisa sudah sama sama terikat satu sama lain, bertukar cerita bahkan tidur bersama, tetapi karena sebuah cita cita, semua harus rela melepaskan.
"Jangan sedih, aku akan mengirimkan kamu pesan setiap hari.", ucap Brisa dengan memeluk tubuh Vee yang saat ini keduanya masih berada di sekolah.
Begitu juga dengan Gery, Bara dan Meli, mereka semua dinyatakan lulus dengan nilai-nilai yang memuaskan, dan sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota ini saja, hanya Brisa yang meninggalkan Indonesia.
"Ah kita seperti sepasang kekasih saja Vee, padahal pacar kamu enggak kemana mana.", ujar Brisa lagi dengan senyuman, mencoba untuk menghibur hati Vee yang sedang galau olehnya
"Huumb, untung saja Gery enggak ikut ikutan ke luar negeri, jadi siapa lagi temanku kalau tidak ada dia."
"Aku akan selalu ada untukmu yank, percayalah."
Ditengah tengah kegalauan Vee, Gery masih saja bersikap romantis. Pria itu memang tipe penyayang dan tidak akan menyakiti hati seorang wanita, apalagi orang yang disayang.
Gery bukanlah tipe laki laki yang mudah jatuh cinta, tetapi sekali ia menambatkan hatinya untuk seorang gadis, ia akan mempertahankan nya dan tidak akan melepaskan nya.
"Udah yuk .. ke rumah aku aja. Bantu aku kemas kemas."
"Oke Ca."
Dan akhirnya mereka berlima menuju ke rumah Daddy Brylli. Tentunya Bara dan Meli juga ikut, dan mereka sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orangtuanya masing-masing.
Karena setelah apa yang diucapkan Bara dulu nya, Bara langsung saja ikut terjun ke perusahaan Daddy Brylli, dan membantu pekerjaan di sana. Tentunya uang yang dikumpulkan untuk melamar Meli beberapa bulan lagi, seperti yang sudah di rencanakan oleh kedua keluarga.
Sedangkan Mommy Cheryy, jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan nya. Bukan nya ia tidak suka dengan Meli, tetapi hatinya masih belum ikhlas melepaskan Velia, yang sudah beliau jodohkan dengan Bara sejak kecil, tentunya tanpa sepengetahuan mereka berdua.
Tetapi, berulang kali Vee menyadarkan Mommy Cherry, Vee juga sudah membuktikan kalau dirinya juga sudah bahagia dengan Gery, dan akhirnya sedikit demi sedikit Mommy bisa menerima nya, meskipun masih ada sesuatu yang mengganjal.
Sore harinya.
Semua sudah berkumpul di Bandara, untuk mengantarkan Brisa. Tidak ada tangisan di sana, karena Brisa pergi untuk menuntut ilmu dan pastinya akan kembali.
__ADS_1
'Mungkin aku juga akan menyusul kamu Ca, kalau waktu itu tiba, dan aku tidak kuat dengan semuanya.', batin Vee yang sudah melihat pesawat Brisa terbang ke atas langit, meninggalkan negara Indonesia.
'Sungguh aneh, aku bisa membuat Mommy Cheryy yakin, tetapi aku sendiri tidak yakin dengan perasaan ku, aku tau....tidak seharusnya aku memikirkan seseorang yang tidak mungkin lagi akan menjadi milikku, tetapi di saat melihat dia bahagia...hatiku rasanya sangat sakit dan tidak kuat melihat kenyataan ini. Apakah aku sanggup melihat hari itu tiba?? melihat kamu memasang kan cincin di jari pacarmu Bar?? ah..aku rasa aku tidak sanggup, aku bahkan ingin menghilang saja saat itu tiba, tetapi......', batin Vee yang diam diam melihat ke arah pasangan yang saling bergandengan tangan, sementara dirinya berjalan di belakang sendirian, karena Gery tidak bisa ikut karena harus ke luar kota, sore ini.
****
Hari berganti hari, bulan pun sudah berubah.
Vee yang saat ini sudah duduk di bangku kelas XII dan tinggal beberapa bulan lagi dirinya juga akan meninggalkan sekolah yang sudah tiga tahun memberikan berbagai kenangan indah maupun pahit.
Siang ini, Gery tidak bisa menjemput, karena kesibukan kuliah dan juga dikantor Papahnya,. Vee juga tidak ada niatan untuk menghubungi Bara, tidak akan pernah meminta tolong kepada laki laki itu lagi, ia takut kalau tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Tetapi, siang ini....entah ada angin apa tiba tiba mobil mewah warna hitam sudah terparkir di depan sekolah, dengan pemiliknya yang sudah bersandar di samping dengan kaca mata hitam yang membuat aura ketampanan laki laki itu semakin nyata.
Deg
"Bara."
Vee yang tadinya bersemangat untuk pulang, dan sudah memesan taxi, tiba tiba dikejutkan oleh kedatangan Bara yang tanpa memberikan kabar kepada nya.
Gadis itu tau, kalau yang berada di depan dengan kaca mata hitam adalah Bara. Meskipun Bara merubah wujudnya sekalipun, , Vee masih tetap mengenalinya.
Gadis itu tidak mau GeEr terlebih dahulu, siapa tau memang Bara kesini untuk menjemput saudaranya Meli yang sekolah di sini dan Vee tidak tau. Dan akhirnya, Vee hanya diam saja , mematung dan tidak bergerak, sembari menunggu pesanan taxi datang.
Sedangkan Bara, ia melihat Vee yang hanya diam saja menjadi kesal, karena sudah menunggu nya dari tadi, tetapi gadis itu hanya diam saja.
"Ckkk dasar perempuan, di mana saja sama. Mau nya di jemput."
Bara yang lelah, akhirnya menghampiri Vee dan tentu saja dengan gaya cool dan sombongnya itu.
"Vee....yuk pulang."
Bara membuka kaca mata hitam nya, dan langsung saja menarik tangan Vee.
"Kamu tadi jemput aku Bar?? gak salah??"
__ADS_1
Vee yang di gandeng Bara begitu saja, hanya diam dan pasrah tetapi mulutnya ngoceh karena tidak tau tau Bara sudah membawa nya.
"Memang nya aku tiga puluh menit berdiri di sana nungguin siapa lagi?? kalau bukan kamu??"
"Aku??"
"Iya Velia .."
"Tapi Bar, aku sudah pesan taxi.....", kilah Vee yang sebenarnya sudah tidak ingin terlalu dekat dengan Bara lagi.
"Batalkan saja!!"
Jawab Bara enteng, kemudian membukakan pintu mobil untuk Vee, namun Vee segera menggeleng, karena ia melihat taxi baru saja berhenti di depan sekolah nya.
"Kenapa lagi?? keburu hujan Vee??"
"Itu taxi ku sudah datang, lain kali saja aku sama kamu."
Ucap Vee yang ingin menghampiri taxi yang dipesannya, tetapi Bara menolaknya.
"Masuk!!"
"Tapi Bar??"
"Masuk Velia!!!", tegas Bara lagi dengan sorot mata yang tajam, yang membuat Vee takut dan masuk ke dalam.
"Bar...mau kemana??", tanya Velia lagi.
"Batalkan taxi kamu, kamu pulang bareng aku."
"Dibatalkan??? tapi kasih ganti rugi Bar, kasihan.."
"Tenang saja, aku bukan orang miskin Velia sayank, duduk lah anteng di situ."
Jelas Vee tidak tenang, karena Bara orangnya yang sombong, mana mungkin bisa ramah dengan orang lain.
__ADS_1
"Semoga saja ucapkan nya benar."
Lalu Vee menutup kaca mobilnya dan memakaikan sabuk pengaman, ia juga tidak tau mau di bawa Bara kemana, karena tidak mungkin laki laki itu tiba tiba menjemput nya tanpa ada keinginan ataupun meminta bantuan terselubung.