Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Egois


__ADS_3

"Vee, tunggu!!"


Velia berlari dan keluar dari rumah Mommy Cheryy, ia bahkan tidak memperdulikan teriakan dari Brisa yang sedari tadi memanggilnya.


Tanpa menoleh sedikit pun, gadis cantik itu langsung saja masuk ke dalam Taxi dan segera meminta pak supir untuk buru buru jalan.


Vee dengan tangan nya menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipi nya.


"Jalan Pak cepat!!"


Pak supir itu mengangguk, ia kemudian melakukan mobilnya sesuai dengan perintah Velia.


Jangan di tanya lagi perasaan Vee saat ini, benar benar kacau dan tidak bisa berkata apa apa. Sungguh....rasnya penderitaan Vee tidak berkurang malahan semakin bertambah.


"Apa salahku??"


***


Sementara di dalam rumah Daddy Brylli.


Brisa menatap mata kembaran nya dengan sangat tajam, ia pun menggeleng.


"Aku seperti tidak mengenali kamu lagi Bang!!"


"Dan aku tidak menyangka, jika kamu bisa seperti ini. Aku kecewa sama Abang.", sambung Brisa lagi.


Bara masih diam saja, entahlah ... apa mungkin lagi mempersiapkan jawaban, atau memang menyesal.??


Ia adalah kembaran Bara, tetapi baru kali ini melihat Bara memperlakukan kasar kepada seorang perempuan, apalagi perempuan itu teman semasa kecilnya, bahkan bisa dibilang sejak dalam kandungan, sampai lahir dan tumbuh besar.


"Aku......"


Bara ingin membela diri, tetapi rasanya apa yang dilakukan nya adalah benar, karena ia sudah menawarkan gelang yang lainnya, tetapi mengapa menerima dari pria lain.


"Vee sudah keterlaluan. Aku sudah menawarkan untuk membelikan nya gelang, tetapi dia menolaknya, dan kenapa malahan dia nerima pemberian dari Gery. Apa itu gak namanya murahan!!"


Dasar Bara yang egois, dia yang salah, malahan melemparkan kesalahan kepada orang lain.


"Bang!!"


Teriak Brisa cukup kencang, dengan tangannya terkepal tetapi tidak bisa menampar Bara. Padahal tangannya sedari tadi sudah gatal dan ingin melempar ke pipi Bara.


"Apa?? kamu mau membela teman kamu yang murahan itu??"


Bugh


Brisa tidak terima kalau teman nya di bilang murahan,.apalagi yang mengucapkan adalah saudara kembar nya.


"Ca!!"


Teriak Bara dengan memegang bibir nya sedikit robek karena ulah kembaran nya. Bara juga tidak terima, apalagi dia takut kalau wajahnya jadi tidak tampan lagi.


"Apa?? aku tidak menyangka jika kamu begitu tidak berperasaan Bang!!"


Kemudian Brisa meninggalkan Bara, dengan tatapan wajah yang sangat tajam.

__ADS_1


"Ca!! Brisa!!"


"Arhhhhhh ....."


Merasa teriakan nya tidak di dengar oleh Brisa, Bara pun langsung masuk ke dalam kamar nya.


Entahlah, perasaan Bara seperti apa saat ini. Antara marah dan juga kasihan. Tetapi rasa cemburunya mendominasi dirinya.


Yah, Bara cemburu. Bukan cemburu karena cinta, tetapi lebih tepatnya dirinya merasa ada yang menyaingi saja, ketika Gery sudah jadian dengan Velia, dan itu berarti... dirinya sudah tidak di butuhkan lagi oleh Vee.


"Maafkan aku Vee."


****


Sesampainya di rumah, Vee melotot kan matanya, ia menggeleng tidak percaya, ketika sebuah mobil sudah berada di depan rumah nya dan seseorang sudah bersandar di samping mobil.


"Gery!!"


Vee yang melihat Gery, langsung saja keluar dari taxi dan....


Srekk


"Kamu enggak apa apa??"


Gery dengan cepat memeluk tubuh Vee, ia juga mengusap lembut punggung Vee. Pria itu tau, kalau pacarnya tadi habis menangis.


"Aku sesak."


Gery melepaskan pelukannya, "Maaf, aku terlalu khawatirr."


Vee menggeleng, "Sudah tidak."


"Jangan bohong, aku obati ya. Kamu duduk saja."


"Tapi......"


Gery menggeleng, lalu menarik tangan Vee dan mendudukkan di teras depan rumah.


"Jangan kemana mana, Aku ambil obat dulu."


Gery bergegas berlari menuju mobil nya dan mengambil kotak obat yang sudah ia siapkan sebelum ke sini.


"Tahan sedikit."


Dengan lembut, tangan Gery mengobati sudut bibir Vee, dan juga mengoleskan salep di sana, juga pipi Vee yang nampak memar.


"Terimakasih. Darimana kamu tau??"


Gery tersenyum. "Brisa yang ngabarin aku."


"Anak itu.", Vee pun menggeleng, memang hanya Brisa lah yang menjadi teman sejati nya dari dulu sampai saat ini.


"Dia khawatir sama kamu, aku juga."


"Aku tau, tetapi aku sudah tidak apa apa. Mendingan kamu balik saja ke kantor. Masih ada pekerjaan di sana kan??"

__ADS_1


Gery hanya diam, dan memang apa yang di katakan oleh Vee itu benar, kalau masih ada pekerjaan di kantor, dan ia pamit keluar sebentar.


Gery memang di minta Papahnya untuk membantu di Perusahaan, tentunya dia adalah satu satunya ahli waris yang dimilik oleh Papahnya.


"Jangan banyak mikir. Aku sudah tidak apa apa. Dan terimakasih, kamu sudah perhatian sama aku, dan bela belain ke sini."


"Aku sayank sama kamu, jadi kami adalah prioritas utama aku.", jawab Gery dengan menatap wajah Vee. Ia sebenarnya kasihan dengan Vee, tetapi tidak ingin memperpanjang urusannya.


"Aku tau. Udah sana balik.!!"


"Kamu ngusir aku??"


"Jelas!! lagian aku gak mau Papah kamu marah sama aku karena kamu disini lama lama."


"Alasan, bilang saja mau nangis di kamar."


"Enak saja. Sana pulang, beneran....aku gak mau kamu kena marah."


"Gak masalah, lagian Papah juga sudah tau kalau aku ke sini."


"Duh...jadi gak enak malahan. Udah ya....balik sono, besok jemput aku lagi."


"Iya ya ..dan jangan nangis!!"


Vee mengangguk, entah nanti nangis atau enggak nya nanti urusan belakangan, yang penting, Gery pergi dulu dari sini. Ia benar benar ingin istirahat.


"Masuk dulu, nanti aku pulang."


Tanpa membantah, Vee langsung masuk ke dalam rumah dan begitu juga dengan Gery yang kembali ke mobil dan meninggalkan rumah Vee.


****


Kamar Velia.


Sesampainya di kamar, gadis cantik itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, bahkan tidak mengganti baju yang dulu.


Vee memegangi nya pipinya, rasa perih itu masih terasa , tetapi tidak sebanding dengan hatinya yang bahkan lebih perih dan lebih sakit saat ini.


Gadis itu memejamkan matanya, hingga beberapa panggilan masuk tidak ia dengar.


Bahkan ia juga tidak perduli dengan suara telpon nya yang berbunyi beberapa kali.


Dan tanpa sadar, gadis itu tertidur... dengan masih memakai seragam sekolah nya.


Sedangkan di ujung sana, Bara nampak kesal. Setelah lama dirinya merenung, akhir nya Bara memberanikan diri untuk menghubungi Vee, walaupun ia tidak akan meminta maaf, tetapi setidaknya ia akan menanyakan bagaimana kabarnya.


Bara yang egois , tentu saja tidak akan dengan mudah meminta maaf, apalagi yang ia pikirkan kalau diri nya memang tidak bersalah.


"Shittt!!!"


"Aku sudah telpon sedari tadi, tapi kamu tidak mengangkat nya."


Bara yang kesal, akhirnya melemparkan ponselnya ke kasur dan ia sendiri langsung ke kamar mandi.


'Aku hanya ingin tau keadaan kamu saja, dan aku juga tidak akan meminta maaf, karena aku tidak salah!!'

__ADS_1


__ADS_2