
Kedua bibir saling menyatu, memberikan rasa yang sama sekali belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Baik itu Vee maupun Gery, ke-dua nya batu merasakan manisnya ciuman , karena memang ini adalah ciuman pertama bagi mereka berdua.
Gery menggigit kecil bibir bawah Vee, kemudian dengan kaget Vee langsung membuka bibirnya dan juga matanya, sungguh..... sesuatu begitu lembut dan enak ketika lidah Gery sudah menyapu di dalam mulut Vee, mengabsen deretan gigi gigi putih yang rapi milik Vee.
Vee yang terasa terbuai dengan sentuhan dan decapan bibir dan lidah Gery, ikut membalas nya, hingga keduanya benar benar terlena dan di buat mabuk hanya dengan pertukaran saliva saja.
"Aku mencintaimu sayank. Jagalah cintaku.", ucap Gery setelah mengakhiri petualangan bibir nya.
Keduanya sama sama mengatur nafas, dengan menautkan kening mereka.
"Aku juga mencintai kamu Ger."
Sungguh....rasanya Gery ingin terbang melayang saat Velia mengucapkan cinta nya, bahkan ia hampir tidak sadar atas apa yang telah Vee ucapkan...
"Ah sayank....aku jadi tidak rela melepaskan kamu ke Jerman.,", ujar Gery setelah mendengar ungkapan cinta dari Vee.
Dan Vee hanya tersipu malu, entahlah.....ia merasa Gery benar benar tulus mencintai nya, dan ciuman tadi membuat hatinya langsung luluh seketika, sehingga Vee akhirnya mengungkapkan cinta nya kepada Gery.
Perlu di ingat. Vee bukan perempuan munafik. Vee bukannya tidak mencintai Gery, tetapi....ada sedikit rasa di hatinya yang masih untuk Bara, maka dari itu....Vee akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, meninggalkan kenangan nya dengan Bara. Karena tak mungkin juga, ia terus bertahan dengan cinta yang masih tersisa untuk Bara, walaupun itu hanya sedikit saja.
"Aku turun ya Ger."
"Sayang nya aku malahan pengen nambah lagi yank. Candu banget bibir kamu.", ucap Gery dengan tertawa.
"Nakal ...sudah di kasih, malahan mau minta lagi."
Dan akhirnya Vee kaluar dari mobil Gery. Dan langsung saja masuk ke dalam rumah, dengan perasaan yang entah ia pun tidak tau, antara seneng ataupun sedih.
Deg
"Papah."
Vee kaget, ternyata Papah nya sudah sampai di rumah, tapi mengapa ia tidak melihat mobil Papah Cesa di depan??
"Papah kapan pulang??"
Papah Cesa memang sudah beberapa hari ada urusan ke luar kota, dan baru pulang hari ini. Vee takut jika Papah nya mengetahui apa yang ia dan Gery lakukan di dalam mobil, walaupun kecil kemungkinannya kalau sampai tau.
__ADS_1
Papah Cesa bukannya menjawab, tetapi beliau malahan berdiri dan menghampiri Vee, dan langsung memeluk putri tunggal nya itu.
"Kamu jadi ke Jerman??"
Ucap Papah Cesa di sela sela pelukan nya. Papah Cesa buru buru pulang kerumah setelah menyelesaikan pekerjaan nya di luar kota, dan tentunya ingin menanyakan tentang ini.
"Maafkan Vee Pah."
Papah Cesa menggeleng, beliau juga tau apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh putrinya, karena beliau juga pernah muda dan pernah merasakan sakitnya mencintai sendiri.
Papah Cesa melepas kan pelukan nya, dan beliau langsung membawa Vee ke sofa untuk duduk. Karena ada banyak hal yang mesti harus di bicarakan.
"Papah mengerti. Bunda kamu sudah memberi tahukan kepada Papah."
"Papah enggak apa apa?? Papah ngijinin Vee ke sana??"
Papah Cesa diam saja, inilah yang sulit bagi beliau untuk menjawab nya.
"Tidak rela sebenarnya harus melepaskan mu sayank, Apalagi kamu adalah satu satu nya yang Papah miliki, tetapi....setelah Papah merenung, mencoba berpikir ulang dan menimbang nimbang semua nya, Papah dengan terpaksa menyetujui permintaan kamu.", ujar Papah Cesa dengan mata berkaca-kaca.
Dan hari ini, Papah Cesa dengan berat hati akan melepaskan anak gadis nya untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman, walaupun itu bukan salah satu alasan untuk Vee pergi ke sana.
"Tetapi kamu akan kembali kan nak??"
Papah Cesa masih berharap kalau Vee akan kembali setelah menyelesaikan pendidikan nya, walaupun itu empat tahun lamanya dia di negara orang.
"Tentu Pah. Vee akan kembali setelah menyelesaikan pendidikan ku. Papah jangan khawatirr."
Vee memeluk Papah Cesa lagi, sosok orang tua yang Vee sayangi, tentunya setelah Bunda Rania nya.
"Tapi Vee minta, Papah jangan kasih tau siapapun kalau Vee ke Jerman. Biarlah mereka mengira kalau Vee mangambil beasiswa ke Amerika. Papah tau kan maksud Vee??"
"Papah tau sayank, dan Papah akan menjaga rahasia ini. Memang, Papah lebih setuju kalau kamu ke Jerman daripada ke Amerika. Kamu di Amerika tidak ada yang menjaga nya, setidaknya kalau di Jerman masih ada Bunda dan Ayah Arga."
Vee mengangguk, itulah yang menjadi alasan ia tidak mengambil beasiswa ke Amerika, karena pastinya Papah Cesa tidak setuju dengan alasan yang baru saja di ucapkan oleh beliau.
"Papah akan mengurus yang di sekolah kamu, karena keberangkatan kamu sudah disiapkan oleh Bunda. Istirahat lah nak."
__ADS_1
"Makasih Pah."
.
.
.
Di tempat lain, di sebuah rumah besar. Sekarang laki laki sedang berdiri di sebuah balkon kamar nya, tentu nya menatap ke atas, melihat bintang malam yang berkelap-kelip.
Laki laki itu jadi ingat seseorang kalau sedang menatap bintang seperti ini, yah seseorang yang selama ini ada untuknya dan berbagi cerita dengan nya, tentunya bukan hanya satu bulan dua bulan, sudah lebih dari belasan tahun bersama nya, berbagi kisah suka dan duka.
Entah mengapa rasa kangen itu tiba tiba muncul, di saat ia akan melangsungkan pertunangan nya beberapa hari lagi. Bukan hanya rasa kangen saja, rasa yang tiba tiba datang dan menyeruak masuk begitu saja di saat semua nya sudah ada di dalam mata.
"Ada apa dengan ku?"
Ceklek
Seorang wanita yang masih cantik meskipun sudah tidak muda lagi itu memasuki kamar Bara.
Yah, Mommy Cheryy ingin sedikit ngobrol dengan putra sulung nya, mungkin bukan untuk mempengaruhi keputusan nya, tetapi supaya Bara lebih peka lagi ke depannya.
"Sayank....."
Mommy Cherry sudah menemukan Bara yang berdiri di balkon, dan beliau juga langsung menghampiri nya.
"Bara."
Bara menoleh seketika, ia juga tidak menyangka Mommy nya ada di sini, biasanya Mommy paling males berbicara dengan nya, tentu saja karena Bara yang ngeyel dan tidak gampang di beri tau dengan baik.
"Mom."
"Kamu kenapa?? seperti nya galau??"
"Huff....entahlah Mom. Bara rasa ada sesuatu yang mengganjal di hati.", jujur Bara.
Mungkin saja ia akan cerita mengenai kegundahan hatinya kepada sang Mommy.
__ADS_1