
Meli dan Velia ngobrol bersama sama, hingga makanan yang di pesan sudah siap di atas meja.
"Makan dulu, ini makanan kesukaan kita.", ujar Velia.
Meli mengangguk, ia pun segera menyantap makanan yang memang sudah lama tidak ia makan. Yah, sejak meninggalkan Indonesia, Meli juga sama, tidak merasakan makanan seperti ini lagi.
"Rasanya masih sama ya??"
"Iya, apalagi kalau kita makan bersama sama. Aku jadi ingat waktu kita makan bersama dulunya.", ujar Meli
Vee mangangguk, mau ngomong apa tidak enak, karena salah satu personil nya adalah suami dari teman nya yang kini ada di depan matanya
Kangen....kalau ditanya, memang Vee kangen dengan kebersamaan seperti dulu lagi. Tetapi, rasanya saat ini tidak mungkin terulang kembali.
"Bunda...."
Anak perempuan sekitar dua tahun menghampiri Meli, dan itu membuat Vee mengeryitkan alisnya.
'Bunda?? anak Meli dengan Bara?? lalu Bara di mana??'
Vee jadi salah tingkah, sudah lama tidak bertemu dengan Bara, bukan karena masih ada rasa, tetapi seperti nya rasa canggung itu ada.
"Orin.....kenalin ini Tante Vee, teman Bunda."
"Oyin....Tante...."
"Cantik banget.... Orin namanya Mel??"
"Iya....Maurin....kami memanggilnya Orin, biar gampang."
'Cantik.... bentar bentar mengapa wajahnya Orin tidak sama dengan Bara?? dan malahan mirip dengan...??'
Vee menjeda makanannya sebentar, ia melihat dengan teliti wajah anak cantik di depannya, lalu menggeleng.
Ada rasa aneh di dalam pikiran Velia, mengapa anak nya Meli dengan Bara tidak mirip seperti Bara, tetapi malahan mirip Dio.
'Dio?? oh... tidak!!'
__ADS_1
"Ayah mana Rin??",
Pertanyaan Meli membuat Vee tersadar dari lamunannya, Vee sudah dilanda panas dingin, entah... apalagi yang dirasa.
Lucu sekali, ngomong nya saja sudah tidak ada lagi rasa untuk Bara, sudah ia keluarkan dari hatinya nama Bara, tetapi.... mendengar sebutan Ayah, hatinya mendadak berubah.
"Itu Ayah...."
Tunjuk Orin dan reflek Vee menoleh dan mengikuti petunjuk arah gadis kecil anak dua tahun.
'Dio?', batin Vee.
Ia sempat mengerjap ngerjapkan matanya, ketika melihat Dio berjalan ke arah Orin dan mencium pipi gembul gadis kecil itu.
Sedangkan Meli, ia menutup mulutnya.... tertawa tentunya karena melihat ekspresi Vee yang seperti nya kaget melihat kedatangan Dio.
"Iya, dia Dio., kamu enggak salah lihat Vee.", ujar Meli.
Meli tau apa yang dipikirkan oleh Vee, dan pastinya akan menjelaskan secara detail. Meli baru sadar kalau Vee tidak tau apa apa tentang hubungan nya yang kandas dengan Bara.
Dio menyapa Vee , mereka juga saling berjabat tangan. Karena diantara keduanya memang sudah saling kenal, walaupun tidak akrab.
"Aku denger kamu juga baru balik dari Jerman??"
"Iya Di. Aku kaget sekali bertemu dengan kalian, jadi kalian berdua??"
"Yah.... seperti yang kamu lihat, aku dan Meli sudah menikah, dan kami dikaruniai seorang gadis cantik."
"What?? menikah??"
"Astaga....aku sungguh tidak tau beritanya.", sambung Vee lagi dengan nada memelasnya, ia terlihat seperti orang bodoh di depan sepasang pasutri itu.
"Hahaha.....jangan begitu, aku juga tidak menyangka.", jawab Meli dengan tertawa, sungguh ekspresi Vee sangatlah lucu.
"Sayank ... aku bawa Orin main dulu, seperti nya kamu memang harus menjelaskan kepada teman cantik mu ini, supaya dia tidak bengong dan terlihat bodoh."
Cup
__ADS_1
"I love u."
"Love u too sayank, nanti aku kabari."
Dio mencium kening Meli, lalu meninggalkan Meli dan Vee berdua saja, supaya lebih bebas ngobrol nya dan juga bisa kangen kangenan.
"Jangan menatap akan seperti itu. Oke aku jelaskan, tetapi jangan di potong sebelum selesai. Kalau ada pernyataan, nanti saja."
Vee mangangguk, ia sudah penasaran dengan apa yang terjadi dua tahun yang lalu.
"Seperti apa yang kamu lihat, dan dijelaskan oleh Dio sekilas, aku dan Dio sudah menikah dua tahun yang lalu."
"Dua tahun yang lalu?? itu berarti??, sorry aku potong....enggak kuat nahan pertanyaan nanti aku lupa."
"Kebiasaan. Iya ... dua tahun yang lalu, lebih tepatnya tiga hari setelah rencana pertunangan aku dan Bara."
"Hah??"
Vee menggeleng, ia juga menutup mulutnya saking tidak percaya nya.
"Aku ceritakan lebih detail nya."
Melihat Vee yang melongo dan seperti nya tidak percaya, akhirnya Meli menceritakan secara detail bagaimana ia bisa menikah dengan Dio, dan juga kandasnya hubungan nya dengan Bara.
"Jadi kamu dan Bara??"
"Kami tidak jadi bertunangan, dan juga tidak menikah. Karena saat itu juga Bara memutuskan hubungan kami."
'Pantes saja ada yang aneh, mengapa Bara dua tahun ini tidak absen untuk ke Jerman, kalaupun ia sudah menikah dan bahagia, tentunya tidak mencariku sampai segitunya.'
"Maaf aku enggak tau Mel."
"Hahaha.....jelas saja kamu enggak tau, kamu pergi saat aku dan Bara belum bertunangan. Padahal Vee, Bara saat itu menghubungi kamu, ia sangat membutuhkan kamu."
'Bara membutuhkan aku?? maafkan aku Bar.....aku tidak ada saat kamu butuhkan.'
Ada rasa menyesal di hati Vee saat ini, bukan menyesal karena tidak menemui Bara, tetapi menyesal karena tidak ada saat itu untuk menghibur teman dari kecilnya.
__ADS_1