
Dengan nada yang emosi, Gery mendekati Bagas.....ia pun kembali mencengkram kerah baju Bagas, karena Bagas tidak kunjung untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan! siapa yang ada di Rumah Sakit.??", bentak Gery lagi.
Tangan satunya sudah terkepal kuat, dan siap untuk melayangkan bogem ke arah Bagas. Karena Gery sangat yakin yang ada di Rumah Sakit adalah Vee, dan jika itu sampai benar terjadi, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Bara di Rumah Sakit, karena Vee tida sadarkan diri.", ucap Bagas kemudian.
"Apa!!"
Mendengar jawaban Bagas, Gery menurunkan tangannya, ia kemudian segera meninggalkan ruangan Bara untuk menuju ke Rumah Sakit.
Dan memang benar apa yang di rasakan, juga yang ada dipikiran nya kalau Velia ternya masuk Rumah Sakit.
"Arhhhhhh......"
Sedangkan di dalam ruangan, Bagas yang baru sadar jika Gery sudah keluar dari ruangan Bara, seketika langsung ikut menyusul Gery, ia tidak mau terjadi apa apa antara Bara dan juga Gery.
"Gas ada apa??"
Vika yang melihat Bagas keluar dari ruangan Bara dengan terburu buru juga mengikuti Bagas, ia sebenarnya tidak tau dengan apa yang terjadi, mengapa Gery sampai datang ke kantor mencari Bara dengan marah marah sampai segitunya.
Dan apalagi ini, Bagas dengan cepat keluar dari ruangan Bara untuk menyusul Gery, dan tentunya ini bukan hal yang wajar, melihat wajah kedua nya yang sangat menyeramkan.
Kalau Gery khawatir dengan Velia itu wajar, tetapi..ini Bagas, ...pikir Vika sedari tadi
"Gue enggak ada banyak waktu untuk menceritakan nya, kalau Lo mau tau... sebaiknya lo ikut gue saja.", ujar Bagas yang sudah berada di parkiran mobil, tidak terasa sembari ngobrol kaki nya sudah sampai di sana.
"Oke gue ikut!!"
Bukan hanya penasaran saja dengan apa yang terjadi, tetapi...Vika juga ingin menjenguk Velia yang katanya masuk Rumah Sakit.
"Pakai sabuk pengaman Lo Vol, dan pegangan...gue akan ngebut!!"
__ADS_1
"Haha???"
Vika menggeleng, tidak mau kalau Bagas melajukan mobilnya dengan sangat kencang, tetapi ia langsung saja memakai sabuk pengaman nya, karena tidak ingin terjadi apa apa.
"Jangan gila Lo Gas!!", sentak Vika yang sudah siap dengan sabuk pengaman nya, dan juga tangan nya dengan reflek berpegangan tangan.
"Lebih gila lagi kalau Gery dan Bara sampai bertemu di Rumah Sakit.", jawab Bagas yang langsung melajukan mobilnya...awalnya pelan tetapi akhirnya melaju dengan sangat kencang.
"Bukan nya mereka akan bertemu juga.", ucap Vika lagi.
Dan memang kan kalau Gery saat ini sedang menuju ke Rumah Sakit, karena mendengar beritahu kalau Berlian sakit, tentu saja dia akan bertemu dengan Bara, tidak ada masalah kan??
"Bukan masalah itu, tetapi gue yakin kalau mereka pasti akan adu jotos kalau bertemu."
"Pegangan Vik!! atau tutup mata Lo kalau takut!!"
Bagas tidak ingin menjelaskan kejadian yang menimpa Vee saat ini, bukan waktunya.... karena yang lebih penting adalah menyelamatkan Bara dan Gery yang pastinya akan saling bogem membogem, kalau perlu malahan saling membunuh.
"Pelan pelan Gas, gue takut...gue belum nikah!!", ucap Vika dengan mata yang terpejam...ia benar benar takut dengan aksi ngebutnya Bagas, hingga tidak berani membuka matanya.
Bagas tidak menanggapi lagi teriakan Vika, ia membiarkan gadis itu berteriak tentu saja dengan mata tertutup.
Karena yang ada di pikiran nya sekarang adalah cepat sampai di Rumah Sakit.
...****...
Bukan hanya Bagas yang melajukan mobilnya dengan sangat kencang, Gery pun juga melakukan seperti itu.
Bahkan berulang kali ia hampir menabrak pengendara lainnya yang melintas di depannya.
Pikiran Gery kalut, tentu saja memikirkan Vee, bagaimanapun kondisinya dan juga ia kepikiran dengan hubungan nya.
Karena sampai saat ini, Gary tidak bisa melepaskan Vee, dan Gery akan menerima Velia apa adanya, dengan kondisi yang sekarang ini... meskipun Velia sudah berulang kali menolak nya, tetapi...karena rasa cinta yang di miliki Gery terhadap Vee sangat besar, ia tidak mau melepaskan nya.
__ADS_1
Dua tahun lebih ia sudah berhasil mendapatkan cinta Velia, sudah berhasil masuk ke dalam hatinya, dan kini karena insiden yang dilakukan oleh laki laki brengseekkk itu, Gary harus kehilangan Velia, tidak bisa!!
Sementara di Rumah Sakit, tepatnya di dalam kamar perawatan Velia, gadis cantik itu mulai mengerjap ngerjapkan matanya, ia memegang kepalanya yang di rasa sangat pusing.
Velia mengedarkan pandangan mata nya ke segala arah, dan terlihat ruangan yang berwarna putih dengan tangan nya yang sudah di pasang infus.
Ia juga melihat Bara yang menekankan mata nya dengan tangan Bara yang menggenggam tangan Velia.
Vee memejamkan matanya, ia mengingat ingat kembali kejadian yang telah dialami beberapa jam yang lalu, dan ia menggeleng tatkala mengingat kalau dirinya ingin mengakhiri hidupnya.
Vee menarik tangan nya pelan-pelan, membawa nya menjauh dari genggaman tangan Bara, tetapi ....
Sayang sekali... usaha nya sia sia saja, karena Bara malahan terbangun karena sadar dengan pergerakan tangan Velia.
"Sayank... sudah bangun....jangan di lepas."
Bara kembali menarik tangan Vee dan membawa nya ke dalam genggaman nya lagi, ia tidak perduli dengan Vee yang berusaha menolak nya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melindungi mu...andai saja kamu akan melakukannya itu, aku tidak akan pergi menjauh tadi, dan akan terus bersama dengan mu, aku bahkan akan mengatakan semua nya kepada Gery, bukan hanya kamu saja."
Terlihat Bara sangat menyesal dengan apa yang barusan terjadi, ia tidak ingin calon istri nya, calon ibuk dari anak anaknya kenapa kenapa.
Vee masih terdiam , tidak tau lagi apa yang akan di ucapkan nya, sungguh ia masih belum sanggup untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Jangan hanya diam saja yank, dan jangan melakukan apa pun yang akan membahayakan dirimu, kamu adalah tanggung jawab ku sekarang, dan aku tidak mau kamu kenapa Napa."
"Jangan kasih tau Papah."
Tidak menjawab apa yang di katakan oleh Bara, Vee malahan meminta untuk tidak memberi tahukan kepada Papah Cesa, yang ia tau kalau Papah nya sedang berada di luar kota.
"Aku tidak akan memberi tahukan kepada Papah, asal kamu mau nurut sama aku...."
"Aku tidak mau!!", tolak Vee
__ADS_1
Ia sudah membayangkan apa yang diinginkan oleh Bara, karena itu ia tidak mau nurut dengan laki laki yang sudah membuat hidup nya berantakan.
"Jangan berpikiran yang aneh aneh dulu, aku tau kalau kamu masih lemas dan aku akan menunda untuk meminta sesuatu dari kamu, tetapi....aku hanya ingin kamu makan, kamu belum sarapan kan tadi pagi??"