Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Gery Emosi


__ADS_3

"Kenapa lagi Velia Bar??"


Dokter Vikky yang tidak sengaja melintas di ruangan UGD, melihat Bara sedang menggendong Vee dan membawa nya ke ruang UGD.


"Pingsan Om, tolong Vee!!"


Dokter Vikky menepuk pundak Bara, "Tenang...Om akan melihat nya ke dalam."


Bagaimana bisa tenang, jika wanita yang di cintai nya kembali tidak sadarkan diri, dan ia tidak tau penyebab nya.


Bara tidak bisa tenang, ia berdiri dari duduknya, mondar mandir tidak jelas dan dengan wajah yang begitu cemas.


Sungguh, ia menyayangkan kejadian ini. Kalau ia tidak ada di sana, Bara tidak bisa berkata apa apa lagi


"Brengseekkk kamu Ger!!"


Bara malahan menyalahkan Gery karena meninggalkan Vee di pantai sendiri an tanpa tau apa yang terjadi setelah nya.


Lima belas menit kemudian, Dokter Vikky keluar dari ruang UGD, lagi dan lagi....bukan jadwal nya tetapi...Karena melihat Bara, anak dari teman dekatnya berada di sana, Dokter Vikky jadi ikut mengambil tindakan.


"Bagaimana Om??"


"Tidak apa apa, Vee hanya tertekan saja. Sebentar lagi juga akan sadar, dan jangan lupa kasih makan."


"Kasih makan?? aku selalu ngasih dia makan Om."


"Ya...ya .... atau jangan jangan kamu melakukan nya lagi?", tebak Dokter Vikky dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Bara mengangguk pelan, memang semalam ia melakukan nya lagi, hingga menjelang pagi. Berada di dekat Velia , tidak bisa mengontrol dirinya, dan ingin selalu memakan wanita yang akan menjadi calon istri nya.


"Astagfirullah....Nikahin dia secepat nya Bar....kamu ya??", Geram Dokter Vikky.


Beliau sampai menggelengkan kepala nya, manakala mendengar jawaban dari Bara.


"Minggu depan Om, undangan segera menyusul, dan jangan lupa bawa Tante ku yang cantik itu.", goda Bara.


"Kamu!!! awas saja matamu, Om colok kalau sampai ngelihatin istri ku!!"


"Hahaha....sudah tua cemburuan, salah sendiri punya istri masih muda dan awet cantik nya..", ucap Bara tidak sopan.


Kemudian laki laki itu meninggalkan Dokter Vikky yang mengepalkan tangan nya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ceklek


Bara membuka pintu ruang perawatan Velia, dengan pelan-pelan ia melangkahkan kakinya, karena tidak ingin mengganggu calon istri nya yang masih terlelap tidur belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayank....."


"Maafkan aku karena telat menolongmu, andai aku tau kalau kamu mau berbuat seperti ini, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian di sana."


Bara sangat menyesal, bukan karena perbuatan yang dilakukan nya pada Velia, tetapi karena ia tidak berada di samping Vee tadi, hingga membuat Vee nekad untuk mencoba mengakhiri hidup nya.


Cup


Bara mencium lembut kening Vee, setelah itu membiarkan Vee tidur dan Bara masih setia duduk di dekat Velia.


...****...


"Di mana Bara??"


Gary yang sudah sampai di BM Group, dan kini berada di lantai atas, di mana ruangan Bara berada.


Setelah Gery mendengar pernyataan dan penjelasan dari Vee, ia pun segera menemui Bara dan memberikan bogeman untuk Bara.


"Mana Bara , Gas??"


Tanya Gery sekali lagi. Ia tidak dapat menahan amarahnya, baru saja keluar dari lift dan menuju ke ruangan Bara, Gery menghentikan langkah karena melihat Bara dan Vika yang ada di depan ruangan Bara.


"Tenang dulu Ger, Bara tidak ada di sini."


"Bohong. Kamu jangan menyembunyikan laki laki brengseekkk itu!!"


Gery yang sudah emosi, dan mendengar Bara tidak ada di tempat, semakin emosi saja...ia menarik kerah baju Bagas dengan sangat kasar karena mengira Bahas menyembunyikan Bara.


"Beneran Get, Bara tidak ada di sini. Setelah pulang dari Korea, dia belum kembali ke kantor, dan juga harga ini."


"Bohong!!"


Lagi lagi Gery tidak percaya, ia masih memegang kerah Bagas dengan sangat kasar, hingga membuat Vika yang tadinya duduk, ikut menghampiri kedua laki laki itu.


'Ada apa Gery datang ke sini dengan marah marah?? apalagi mencari Bara?? apa yang sebenarnya terjadi??'.


Yah, Vika belum tau apa apa, tentang apa yang terjadi antara Bara dengan Velia, bukan sengaja di sembuhkan tetapi...tidak sempat saja bercerita.


"Stop Ger, ada apa?? lepaskan Bagas, dan kamu bisa melihat nya sendiri di ruangan Bara, masuklah!!"


Gery yang emosi tidak berpikir untuk langsung masuk ke dalam ruangan Bara, ia malahan sibuk bersitegang dengan Bagas.


Dan Bagas, ia yang tau kalau Gery lagi emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya, hanya diam saja....tidak membalas ataupun melawan.


Gery melepaskan cengkeraman kerja baju Bagas, dan tanpa permisi lagi...laki laki itu langsung masuk saja ke ruangan Bara.

__ADS_1


"Bara.... keluar kamu brengseekkk!!"


"Keluar kamu pengecut!!! aku akan memberi pelajar pada mu!!"


"Keluar!!"


Gery berteriak seperti orang gila, dengan penampilan yang acak acakan.


"Tidak ada di sini Ger ..Bara tidak ada di sini...."


Vika yang penasarannya mencoba menghampiri Gery, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan laki laki itu yang dari awal datang sudah marah marah tidak jelas.


"Duduklah!!"


Setelah melihat Gery duduk dengan tenang, Vika mengambilkan minum untuk laki laki itu, dan ia pun ikut duduk di dalam Gery.


"Minumlah... dinginkan kepala kamu."


Vika menyerahkan air mineral dalam botol kepada Gery, dan Gery pun menerima nya.


"Ada apa sebenarnya?? maaf jika aku bertanya, karena aku sangat penasaran...dan juga seperti yang kamu lihat dan dengar, kalau Bara memang tidak ada di sini....sudah beberapa hari Bara tidak pergi ke kantor."


Gery hanya diam, entahlah...ia juga bingung dengan Vika, padahal Vika adalah sahabat nya Bara, tetapi kenapa dia tidak tau. Apa mungkin masih di rahasiakan??


Dan juga Gery tidak mau mengatakan apapun juga, karena bagi Gery...tidak ada yang berubah...ia akan tetap menikahi Vee, walaupun kondisi Vee sudah jauh berbeda dari yang sebelumnya.


Kring....kring....


Suara ponsel Bagas membuat semua orang yang ada disana jadi kageet, karena mereka lagi serius dan tidak ada yang bersuara.


"Hallo...."


"Di Rumah Sakit?? oke...."


Klik...


Mendengar ucapan Bagas di telpon dengan seseorang, Gery pun mengeryitkan alisnya, apalagi mendengar kata kata Rumah Sakit.


"Siapa yang di Rumah Sakit??"


Tanya Gery dengan nada yang sudah emosi lagi, padahal baru saja sedikit reda emosi nya, tetapi seperti ada yang mengusiknya lagi.


Bagas bingung, antara ingin memberitahukan kepada Gery atau tidak, tentu saja kalau Gery tau dan ke sana, sudah di pastikan kedua laki laki itu akan adu kekuatan, dan tidak bisa di pisahkan.


"Cepat katakan!!", teriak Gery dengan kesalnya. Ia tau kalau Bagas menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2