Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Pasrah


__ADS_3

Vee kembali merenungi setiap kata kata yang di ucapkan oleh Vika, tidak beda jauh dengan yang dikatakan oleh Papah Cesa dan juga Bunda Rania, yang menginginkan Vee menerima semua yang telah terjadi meskipun itu sangatlah berat, dan menikah dengan Bara.


Bukan mereka semua tidak menyukai Gery, tidak seperti itu, bahkan saking sayangnya... mereka tidak ingin membuat Gery kecewa dan menyesal di kemudian hari.


Veelia menghela nafasnya kasar, mau tidak mau ia harus mengambil keputusan secepat nya, karena pernikahan yang di rencanakan Bara, akan di selenggarakan lima hari lagi, dan ia harus segera mengambil keputusan yang tepat, tentu saja berkaitan dengan Gery.


'Apa aku mamang harus menikah dengan Bara?? kalau bagaimana Gery?? memang aku dulu sempat mencintaimu Bara, dan mungkin yang Vika dan lainnya bilang kalau aku akan mudah jatuh cinta lagi dengan Bara, tetapi... bagaimana dengan Gery??? apa dia bisa merelakan aku?? apa dia bisa menerima aku untuk menikah dengan Bara?? oh Tuhan.... apa mungkin...ah!!'


"Vee...kamu baik baik saja kan??"


Vika yang masih bersama Veelia jadi khawatir dengan Vee yang tiba tiba menutup matanya, ia takut kalau Vee histeris lagi..


"Aku tidak apa apa Kak...Kakak tenang saja, aku hanya bingung....", jawab Vee jujur, dengan membuka telapak tangan nya yang tadi menutupi mata.


"Bingung?? kenapa lagi??"


"Bingung...di satu sisi, aku mencintai Gery tetapi di sisi lain, aku juga tidak mau Gery menanggung apa yang tidak ia lakukan, tetapi...aku juga tidak mau menikah dengan Bara, aku harus bagaimana??"


Lagi lagi Vika di buat bingung oleh Vee, ia sudah bicara panjang lebar, meyakinkan Vee untuk menerima Bara dengan tujuan masa depan anak yang mungkin kini sedang tumbuh di rahim Vee, tetapi Vee kembali bingung.


"Terima Bara, dan lupakan Gery...kamu harus tegas Velia.....!", tegas Vika yang sedikit geram dengan wanita cantik itu.


"Bagaimana dengan Gery??"


"Aku yakin, cepat atau lambat...Gery pasti akan menerima nya...dan berusaha untuk ikhlas, meskipun itu berat untuk nya, tetapi...kamu juga harus percaya....kalau Gery adalah laki laki kuat dan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk kamu, dan juga untuk dia sendiri..."


Vee mengangguk, "Bismillah....mungkin Gery memang bukan jodohku, dan dia ada untuk menjagaku selama ini..."


"Terimakasih Kak, atas saran mu dan maaf...kalau Bara akhir nya-----"

__ADS_1


"Aku tidak apa apa, semua sudah takdir, dari awal memang aku sudah tidak bisa masuk ke dalam hati Bara, dan semua nya di tunjukkan dengan kejadian seperti ini. Percayalah Vee, Bara itu tulus mencintaimu....mungkin cara nya yang salah karena mendapatkan mu seperti ini."


Vika memeluk Velia, tanpa sadar ia juga meneteskan air mata nya, meskipun.. ia tidak dapat memiliki Bara, tetapi....ia bahagia karena Bara memilih Velia, yang ia yakin...Velia adalah wanita yang baik, wanita yang tepat untuk mendampingi Bara.


"Sudah, jangan menangis....kamu sekarang tidak boleh nangis lagi.... hadapi semua masalah mu dengan tenang dan tanpa air mata...."


Vee mengangguk, ia sekarang jauh lebih tenang setelah bersama dengan Vika, meskipun bukan Vika lah orang yang pertama kali mengatakan kalimat kalimat untuk menerima Bara, tetapi.... dengan tambahan Vika, Velia jadi yakin untuk melangkah.


"Mau jalan jalan?? boleh ngopi kan??? kita ke kantin gimana??"


Vee mengangguk, "Boleh kok, mau mau aku, Kak...."


Vika tersenyum, ia lalu mengambil infus dan juga kursi roda untuk Vee, takut saja kalau wanita cantik itu masih lemas dan pingsan nanti nya.


"Enggak usah Kak, aku bisa jalan kok, Kakak tenang saja..."


"No.....", Vika menggeleng, ia tidak mau Bara marah marah pada nya karena Vee yang sudah jalan ke mana mana.


"Ada Bara di depan, aku enggak mau di marahin Bara, dan nantinya kita enggak jadi ngopi sambil nongkrong cantik."


Vee mengangguk, ia tau persis gimana Bara...dan seperti nya memang ucapan Vika ada benarnya juga... lagipula enggak masalah kan pakai kursi roda..nanti setelah sampai taman bisa di singkirkan, yang penting bebas dulu dari Bara.


"Yuk Vee... mumpung tidak begitu panas."


Vee mengangguk, dan ia turun dari ranjang... seperti layaknya orang yang sakit padahal ia sudah sehat, Vee duduk di kursi roda, dengan Vika yang mendorong nya.


...****...


Sementara di luar sana, Bara dan Bagas duduk di depan ruangan Veelia, Bara memang tidak mau jauh jauh dari ruangan Vee, karena ia masih merasa khawatir dengan calon istri nya.

__ADS_1


"Apa gue salah jika ingin memiliki Velia??"


Bara yang sudah tidak bisa berpikir lagi, menyandarkan tubuh nya di kursi depan, kemudian laki laki curhat dengan Bagas.


"Cara Lo memang salah, tetapi....cinta Lo tidak salah, sabar saja...mungkin Vee ingin sendiri dulu, Lo jangan terlalu memaksakan kehendak...Gue tau Vee seperti apa, meskipun gue belum lama kenal dan dekat dengan dia...tetapi gue yakin, Vee pasti akan menentukan pilihan nya yang memang terbaik untuk semua nya."


Bara mengangguk, ia sendiri menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, air matanya tiba tiba mengalir dari mata nya, ia sendiri tidak mau kehilangan Velia apalagi dengan apa yang sudah ia lakukan....


"Gue tidak bisa kehilangan dia Gas, gue mau mati saja kalau Veelia tidak mau menikah sama gue Gas....gue sudah menghancurkan dia, dan gue yakin kalau di dalam rahim Vee ada calon anak gue."


Bara masih menangis, hingga Bagas menepuk pundak nya mencoba untuk menenangkan sahabat nya itu.


"Kalau Velia memang jodoh Lo, pasti kalian akan bersatu....Lo banyakin sabar dan berdoa."


"Tau lah Gas, gue rasanya tidak tenang kalau Vee belum mau menikah dengan gue.... arhhhhhh......"


Bagas menggeleng, selama ia mengenal Bara, ia baru kali ini melihat Bara menangis dan itu karena Velia, dan ia yakin kalau cinta Bara ke Velia memang sangat lah tulus, bukan hanya sekedar obsesi saja.


Ceklek


Pintu ruangan Velia di buka, dan nampak lah dua wanita cantik keluar dari ruangan itu.


Bara langsung berdiri dan menghampiri kedua, ia pun kaget karena Velia dan Vika seperti nya mau keluar dari ruangan.


"Sayank mau kemana??"


Bara berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Velia, ia pun memandangi wajah Vee yang seperti nya sudah agak segar, dan tidak pucat lagi.


"Aku mau jalan jalan ke taman,.", jawab Vee yang juga sudah mulai menatap wajah Bara, sehingga laki laki itu tersenyum kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2