
Vee tidak menjawab, bukan ia tidak mendengar kan tetapi lebih tepatnya memang tidak ingin membuka mulutnya, apalagi mengenai apa yang dibicarakan oleh Bara.
Kalau saja ia bisa meninggalkan kelas ini, pasti sudah ia lakukan, tetapi itu malahan akan membuat Bara curiga, dan Vee tidak mau itu.
Sakit.....sungguh sakit.
Apa patah hati itu sesakit ini?? kalau tau akhirnya seperti ini, aku tidak akan mencintaimu.
Batin Vee yang sebenarnya hatinya menangis pilu, meratapi nasibnya yang mencintai seseorang tetapi tidak mencintai nya.
Hampir tujuh belas tahun bersama, tetapi nyatanya tidak menimbulkan benih cinta di hati Bara, tetapi malahan memilih perempuan lainnya.
"Gimana Vee??"
Merasa Vee diam, Bara bertanya sekali lagi. Hanya Vee yang bisa membujuk Mommy Cheryy, karena kalau Brisa tidak mungkin melakukan nya.
"Baiklah, aku akan usahakan. Tapi aku enggak janji."
Vee tau bagaimana Mommy Cheryy itu, apalagi dirinya juga sempat dijodohkan dengan Bara, dan tiba tiba membujuk Mommy Cheryy untuk menyetujui kalau Bara akan melamar Meli satu tahun lagi.
'Gila!! mungkin aku sudah gila!!'
"Makasih Vee."
Cup
Lagi lagi Bara memberikan satu kecu_pan di pipi Vee, yang membuat Vee langsung menoleh dan melotot kan matanya tajam.
"Sorry sorry, saking senengnya aku Vee."
Bara mengacak rambut Vee, kemudian merapikan nya lagi.
"Semoga kamu juga mendapatkan kebahagiaan dari Gery, seperti aku yang sangat mencintai dan menyayangi Meli."
"Aku ke kelas dulu, ponsel ku ketinggalan. Aku mau mengabarkan berita gembira ini pada dia, dan hubungin aku kalau sudah selesai."
Vee hanya mengangguk, tidak bisa berucap apa apa lagi.
Gadis itu menaruh bolpoin nya, kemudian matanya melihat ke arah luar, melihat sosok pria yang sudah berjalan ke luar kelasnya, pria yang sampai saat ini masih ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Vee memang egois dan tidak punya perasaan. Ia pacaran dengan Gery tetapi hatinya masih ada nama Bara. Ia yang berjanji dengan dirinya sendiri kalau akan melupakan cinta nya ke Bara, tetapi kenyataannya....sangat sulit di lakukan.
"Bagaimana kalau kebahagiaan aku bersama dengan kamu Bar?? apa yang akan aku lakukan?? sementara kamu sudah bahagia dengan orang lain." gumam Vee, tentu nya dengan airmata yah di tahan nya. Ia tidak mungkin menangis di sini, tidak.
Vee yang hatinya sakit, langsung saja menutup bukunya, ia kemudian mencari Brisa dan juga Gery, tanpa menghubungi Bara.
Gadis itu sudah sampai di ruang OSIS, dan kebetulan pintunya tidak ditutup jadi ia bisa melihat apa saja yang dilakukan di dalam ruangan itu.
Hingga tanpa sadar mata Gery melihat ke arah pintu, dan melihat Vee sudah berdiri di depan sana.
"Sebentar ya??"
Ucap Gery kepada teman teman nya, dan ia memilih menghampiri Vee dulu.
"Ada apa yank?? sudah laper??",
Vee mengangguk, mengiyakan apa yang diucapkan oleh Gery, walau sebenernya ia sendiri belum lapar bahkan malahan tidak n@fsu makan.
Gery mengacak rambut Vee dengan sayangnya. "Bentar ya, aku membubarkan mereka dulu."
Setelah mengucapkan itu, Gery masuk lagi ke dalam dan Vee menunggu nya di lobi sekolah saja, karena jaraknya memang dekat dengan ruangan OSIS.
Pria itu celingak-celinguk mencari keberadaan pacarnya, tetapi...tidak menemukan Vee sama sekali.
"Kemana kamu yank??".
Gery yang khawatir, juga merasa bersalah karena mengabaikan Vee, langsung saja berlari mencari gadis itu.
"Ca, lo ke kantin dulu, dan pesen makanan. Gue mau cari Vee."
"Siap Ger!!"
Brisa bergegas ke kantin, karena waktu istirahat nya kurang sebentar lagi, sementara Gery mencari Vee.
"Kenapa gak aktip??"
Sudah berulang kali Gery menghubungi nomer Vee tetapi tidak diangkat.
Dan akhirnya, ia merasa lega, karena menemukan sosok Vee yang sedang duduk lesu di lobi sekolah.
__ADS_1
"Yank...."
Gery langsung menarik tangan Vee dan memeluknya, ia sama sekali tidak perduli kalau masih di sekolah.
"Ger ih lepasin, ini di sekolah."
Vee memukul pundak Gery, supaya pria itu mau melepaskan pelukan nya.
"Aku khawatir, maaf ya??"
Vee mengangguk, ia kemudian menarik tangan Gery untuk menuju ke kantin, supaya pria itu tidak bertanya tanya, karena Vee yakin kalau Gery pastinya tau apa yang dipikirkan nya.
"Aku laper. Ayok Ger!!"
Gery tersenyum, tetapi dirinya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan pacarnya itu, seperti nya ada yang telah terjadi dengan Vee dan juga ada sesuatu yang di sembunyikan nya.
Namun, Gery akan bertanya nanti saja setalah pulang sekolah.
"Makan yank."
Mareka sudah berada di kantin, dengan Brisa yang sudah duduk di kursi favorit mereka.
"Makasih Ger, makasih Ca."
Vee makan bakso kesukaan nya, begitu juga dengan Gery dan juga Brisa yang sama sama menikmati makan siangnya di kantin., dan tentunya tanpa Bara di sana. Lupa atau memang mereka sengaja tidak menghubungi Bara.
Hingga makanan yang ada di depan akhirnya kandas, dan Brisa baru menyadari jika tidak ada kembarannya di sana.
"Bang Bara kemana?? astaga...lupa aku."
Brisa yang melihat tidak ada kembarannya, langsung saja mengambil ponselnya dan menelpon Bara, tetapi telpon nya sibuk terus.
"Kenapa Ca??"
"Sibuk, mungkin lagi telponan sama Meli."
"Iya ... tadi juga bilang begitu kalau mau telpon Meli,."
Brisa mengangguk, tetapi tatapan matanya juga menatap ke arah Vee, sama seperti Gery, Brisa juga menangkap kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Vee.
__ADS_1