Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Nyaman


__ADS_3

Velia masih saja memegang ponselnya ketika panggilan telpon dari Gery sudah terputus. Kembali lagi, Vee hanya bisa menangis sambil mendekap ponsel itu. Entahlah...ia harus menerima garis takdir bersama Bara, atau memilih menentang nya, karena ia yakin kalau Gery tau, pastinya dia akan menerima apapun keadaan nya.


Tapi apakah itu adil untuk Gery???


Tentu saja jawabannya tidak, meskipun Gery dengan segenap hati dan jiwanya menerima Vee apa adanya, tetapi....Vee tidak mau jika Gery lah yang menderita karena bukan perbuatan nya.


Mungkin jika orang yang melihat Vee akan bosan mendengar Isak tangis yang setiap hari selalu di dengar.


Tetapi, apa Vee meminta ini semua terjadi padanya??? tidak bukan?? Vee sendiri juga tidak tau mengapa hari nya begitu sulit untuk menerima semua ini, entahlah... padahal Bara juga tidak lepas dari tanggung jawab nya.


Tetapi mungkin saja karena Vee sendiri belum bisa membuka hati untuk Bara, bahkan belum bisa memaafkan laki laki yang telah membuat nya kehilangan semua nya.


"Jangan nangis, sudah aku bilang....kita akan melewati semua ini, dan aku akan menemanimu mengatakan pada Gery besok."


Bara mengambil ponsel Velia, kemudian memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana nya.


Ia tidak ingin Vee kembali meratapi nasibnya karena panggilan telpon dari Gery. Selain memang Bara tidak suka dan cemburu tentunya.


"Sudah siap??"


Bagas yang memang di perintahkan untuk menjemput Bara dan Vee, sudah siap dan kini masuk ke ruang perawatan Velia.


Laki laki itu juga begitu kaget ketika mendengar cerita dari Bara atas apa yang telah dilakukan oleh Bos sekaligus sahabat nya.


Bagas pun tidak menyangka kalau ucapan nya dulu ternyata benar benar dilakukan nya, padahal ia mengira kalau Bara hanya bercanda, meskipun memang ia memiliki keinginan yang kuat untuk mendapatkan Velia, apapun caranya.... tetapi....yang ada di pikiran Bagas, tidak seperti ini caranya.


"Sudah, ayok Gas cabut!!"


"Ayok sayank...."


Bara menghampiri Vee, ia juga menarik tangan gadis itu tetapi dengan cepat Vee langsung menepis nya.


Bara hanya tersenyum, ia harus kuat menerima semua yang dilakukan oleh Vee padanya, termasuk ucapan dan perlakuan kasar yang Vee lontarkan pada nya.


"Hati hati sayank...."

__ADS_1


Meskipun Vee masih bersikap kasar, tetapi..Bara masih perduli dan perhatian pada wanita yang akan menjadi calon istri nya itu.


"Langsung ke rumahku Gas,", seru Bara dengan suara lantang nya, takut saja kalau Bagas tidak mendengar nya, karena telinga nya di sumpal oleh headset.


"Rumahmu??? ke rumahku dulu Kak..."


Vee menggeleng, ia tidak ingin pulang ke rumah Bara, apalagi ia tau kalau di rumah Bara tidak ada kedua orang tua nya.


"Jangan Gas!! ke rumahku langsung."


Bara masih kekeh membawa Velia ke rumah nya, bukan nya apa apa tetapi ia akan menjaga Vee di sana, karena di rumah Vee juga tidak ada Papah Cesa, terlebih Bara tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.


"Aku tidak mau!!", tolak Vee.


Ia masih takut dengan kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Bara sudah memperkosa nya, tidak menutup kemungkinan kalau Bara akan melakukan nya lagi, mengingat di sana tidak ada kedua orang tua Bara.


"Tenang sayank....aku akan menjagamu. Dan mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawabku...ingat itu!!"


"Aku tidak mau!!"


Bara mengambil tangan Vee, kali ini ia memegang nya dengan sangat erat, meskipun berulang kali Velia mencoba untuk melepaskan tangan nya.


...*****...


"Lo istirahat dulu di kamar tamu, karena nanti sore kita akan ke bandara.", ucap Bara kepada Bagas.


Daripada bolak balik, lagipula juga tidak ada kerjaan yang penting di kantor, Bara meminta Bagas untuk istirahat dulu di kamar tamu, kamar yang memang biasnya di pakai oleh Bagas kalau menginap.


"Oke...ini tas Velia."


Bara mengambil tas itu dari tangan Vee, kemudian ia menggandeng lagi tangan Vee untuk masuk ke dalam kamarnya. Yah, kamar Bara sendiri...bukan kamar Brisa atau kamar yang biasa nya di tempati oleh Vee kalau menginap di sini.


"Kenapa di sini?? aku tidak mau!!"


Vee berusaha untuk keluar dari kamar Bara, setelah ia sadar kalau Bara membawa nya masuk ke dalam kamar nya.

__ADS_1


"Istirahat di sini, aksi akan lebih tenang....hanya untuk siang ini saja, nanti sore kita sudah berangkat ke Korea."


Entah mengapa Vee hanya diam saja dan tidak berkutik ketika tangannya di tarik oleh Bara untuk menuju ke atas ranjangnya.


"Tidur lah sayank.....aku juga lelah...."


Bara menarik tubuh Vee untuk berbaring di atas ranjang, dan tidur berdua dengan nya.


"Jangan takut.... kalaupun aku akan berbuat macam macam dengan kamu, aku akan bertanggung jawab, dan pastinya rasanya tidak akan sesakit seperti yang kemarin."


Vee melototkan matanya, ia sendiri tidak mau tidur berdua dengan Bara apalagi setelah Bara mengatakan seperti itu.


"Hahaha....aku hanya bercanda sayank, tetapi...kalau kamu mau...aku juga mau, dan juga kalau aku pengen...kamu harus mau...."


"Gila!! lepas Bar!!"


Vee ingin turun dari atas ranjang, tetapi Bara dengan cepat menarik tubuh Vee, hingga ia bisa memeluk tubuh indah wanita cantik yang sebentar lagi menjadi calon istri nya itu.


"Jangan bergerak Vee, kamu akan membangunkan ular ku....sini tidur saja, sebelum aku berubah pikiran sayank...."


Tidak ada perlawanan lagi dari Velia, mantan gadis cantik itu hanya diam saja dan pasrah, bukan karena ia ingin menikmati lagi semua yang dilakukan oleh Bara, tetapi...mencoba bersikap lebih tenang dan berusaha untuk menerima kenyataan nya.


"Pinter!! aku senang kalau kamu nurut seperti ini sayank.....dan aku janji akan membahagiakan kamu selama nya."


Bara memejamkan matanya, setelah ia berhasil memeluk tubuh Vee,. Rasa nyaman dan begitu hangat ia rasakan, sungguh...Bara tidak salah jika memilih Velia sebagai istri nya, ibu dari anak anak nya


Bukan hanya sekedar tanggung jawab saja, karena Bara melakukan itu dengan sengaja, dan juga ia mencintai Velia dari lubuk hati yang sangat dalam.


Sama dengan Bara, Vee juga langsung bisa memejamkan mata nya, entahlah....apa ia juga merasakan nyaman berada di dalam dekapan Bara.


Satu jam kemudian, Bara terbangun....ia merasakan tangan nya yang pegal karena menopang kepala Velia, tetapi.....ia tersenyum karena Vee bisa tertidur di dalam pelukan nya, tanpa rewel sedikit pun juga.


Bara memindahkan kepala Vee dengan pelan pelan, supaya tidak membangunkan Velia.


Dan berhasil....Velia sudah berpindah dan Bara dengan begitu erat nya memeluk tubuh Vee kembali hingga matanya ikut terpejam lagi.

__ADS_1


__ADS_2