
Vee sudah sampai di rumah sakit, tentu saja ia sangat benci dengan ruangan yang serba putih itu. Entahlah...rasanya ia teringat tentang kejadian belasan tahun yang lalu, ya memang bukan di Rumah Sakit ini, dan juga Vee masih kecil, tetapi...ingatan anak itu sangatlah kuat.
'Tidak!! aku tidak akan membiarkan Papah seperti dulu lagi, sudah cukup Papah menderita dan aku tidak mau jika Papah kumat lagi penyakit nya.'
"Ayok sayank....jangan takut. Ini Rumah Sakit Umum."
Gery menggandeng tangan Vee dan membawa gadis itu masuk ke dalam, Gery tau kalau Vee kembali teringat tentang kejadian dulu, meskipun itu sangat lama sekali.
Vee tidak berkata apa apa, ia mencoba tenang dan tetep tersenyum. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan Papahnya.
"Mommy...."
Vee yang melihat Mommy Cherry langsung berlari dan memeluk Mommy yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Dua tahun tidak bertemu, rasa kangen itu ada bahkan baik Vee maupun Mommy Cheryy saling meneteskan air mata.
"Kamu jadi cantik banget sayank.... Mommy sampai tidak mengenali kamu."
Mommy memandang wajah cantik Vee, wajah perpaduan Bunda Rania dengan Papah Cesa, tetapi lebih dominan ke Papah Cesa, yang kecantikan dan ketampanan nya tidak di ragukan lagi.
'Bagaimana kalau Bara lihat kamu Vee?? kamu cantik banget.'
Apalagi Papah Cesa, semakin tua semakin tampan dan mempesona.
"Daddy...."
Vee juga memeluk Daddy Brylli , "Kangen nasi goreng buatan Daddy."
Daddy Brylli membalas pelukan Vee, yang juga sudah beliau anggap seperti putrinya sendiri.
"Nanti Daddy buatkan, cabe sepuluh, dengan toping sosis, bakso dan juga telur mata sapi.", jawab Daddy Brylli dengan terkekeh.
"Betul. Daddy masih ingat saja."
Senyum Vee yang tadi nya mengembang, lama kelamaan memudar, seiring ia menoleh ke arah kiri dan melihat Papah Cesa yang terbaring lemah tidak berdaya.
__ADS_1
"Masuk lah sayank, aku temenin."
Gery membawa Vee menemui Papahnya, memang hanya diperbolehkan dua orang saja yang berada di dalam, dan nanti bisa gantian.
"Papah....."
Panggil Vee lirih, namun sayang sekali...yang dipanggil tidak bisa membuka mata.
Vee mendekati Papah Cesa dan memegang tangannya. "Pah ...Ve datang ...Vee bukan hanya menjenguk Papah, tetapi Vee kembali, Vee akan menemani Papah."
Vee menangis sesenggukan, rasanya tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat kondisi Papah Cesa saat ini.
Dua tahun yang lalu, Vee juga merasakan rasa sakit di hatinya, tetapi....ini lebih sakit lagi.
Gery yang berada di belakang Vee., memeluk kekasihnya dan mencoba menenangkan nya.
"Pah...Papah harus bangun, Vee akan terus di sini sampai Papah membuka mata, Vee tidak mau ke mana mana lagi "
Tetapi sayang sekali...Papah Cesa belum juga membuka matanya, yang membuat Vee tambah merasa bersalah.
Sama dengan Papah Cesa yang tidak mau membuka mata, Vee juga tidak berhenti menangis, ia merasa bersalah....karena di dinyalah, Papah Cesa seperti ini.
Satu jam telah berlalu, Vee yang sudah lelah menangis dan juga lelah selama perjalanan, akhir nya tertidur dengan tangannya masih memegang erat tangan Papah Cesa.
Gery yang melihatnya, pelan pelan menghapus air mata yang sedari tadi mengalir dari mata indah Vee.
Gadis itu terbangun, manakala ia merasakan sentuhan lembut tangan seseorang di wajah nya.
"Yank...kamu masih di sini??, enggak ke kantor?? atau ke kampus??"
Gery menggeleng, "Mana mungkin aku bisa ninggalin kamu yank, aku enggak tega, lagian kamu belum makan. Makan dulu ya??"
Vee menggeleng, bagaimana bisa makan, kalau melihat keadaan Papahnya seperti ini.
"Makan ya?? nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan jagain Papah??"
__ADS_1
Vee diam, memikirkan tentang ucapan Gery yang memang benar adanya, kalau ia sakit lalu siapa yang akan menjaga Papah Cesa??
"Tapi yank??"
Vee ragu ragu untuk meninggalkan Papah Cesa, takut kalau tidak ada yang menjaga Papahnya.
"Ada Mommy, dan juga Bunda.... semua masih ada di luar. Ayok aku temani kamu makan, kita makan di kantin saja biar dekat."
Karena dipaksa, mau tidak mau akhirnya Vee mengangguk, dan meninggalkan Papah Cesa, yah....diluar memang masih ada kedua orang tua dan juga orang tuanya Bara.
Kantin
"Makan yang banyak, supaya kamu punya tenaga.",
Gery dengan telaten membawakan piring dan juga gelas milik Vee, lalu duduk di samping gadis cantik itu.
"Makasih yank."
Dengan senyuman yang terpaksa, karena memang Vee lagi tidak ingin tersenyum, pikirannya tertuju kepada Papahnya.
"Yakinlah, Papah pasti sembuh, karena kamu ada di sini."
'Dan aku yang was was yank, aku takut kalau Bara mengambil kamu.', batin Gery.
"Iya yank."
Vee dan Gery menghabiskan makanan nya, bagi Gery .... tidak ada yang sebahagia ketika melihat senyuman Vee yang nampak manis di matanya.
"Aku bayar dulu, tunggu di sini."
Gery berdiri untuk membayar makanan, dan meninggalkan Vee yang masih duduk melamun di kursi nya.
Setelah selesai, mereka berdua kembali ke ruang perawatan Papah Cesa, tetapi....
Deg
__ADS_1
Velia menggeleng, mendapati semua orang berkumpul di depan ruangan Papahnya, apalagi ada Oma dan Opa nya.