Perjodohan Rahasia

Perjodohan Rahasia
Nikah Yuk!!


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Vee yang sudah menyelesaikan ujian nasional nya hari ini, malahan menjadi galau. Ia setiap hari selalu mengingat ingat akan hari hati di mana dirinya akan menyaksikan seseorang yang masih ada dalam hatinya melamar perempuan lain.


Tetapi, ia sendiri yang sudah memutuskan bahkan ia juga yang sudah memilih cincin lamaran itu.


Hufhh


Vee menghela nafas panjang, di satu sisi ia merasa lega, tetapi disisi lain...ada rasa yang begitu sulit ia jelaskan. Bahkan hati nya sungguh sedang berperang saat ini.


Tetapi, ia harus bisa menyembunyikan semuanya, tidak ingin pengorbanan nya sia sia.


"Yank."


Nampak Gery melambaikan tangannya. Laki laki itu sudah menunggu Vee sedari tadi. Sengaja menyempatkan untuk menjemput pujaan hatinya.


Vee tersenyum, ia menghampiri Gery yang tersenyum kepada nya.


Cup


Gery mencium kening Vee. Yah, selama pacaran...laki laki itu hanya sebatas mencium pipi, kening dan juga gandengan tangan. Tidak ingin merusak perempuan yang benar benar di cintai nya, sampai saatnya tiba.


"Gimana tadi yank??", tanya Gery dengan merapikan rambut Vee.


"Alhamdulillah sukses donk!!"


"Pinter!! pacar siapa itu dulu??"


"Pacar Gery donk, siapa lagi."


Vee langsung berhambur ke pelukan Gery, gadis itu tidak sadar langsung memeluk pacarnya begitu saja, membuat Gery kaget tetapi juga membalas pelukan Vee.


"Yank, nikah yuk??", ucap Gery dengan sungguh sungguh.


Bahkan tidak ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya, ia mantap untuk meminang Vee untuk dijadikan istri nya.


"Jangan bercanda Ger?? aku saja baru selesai ujian??"


Ucap Vee yang sebenarnya ia pun senang tetapi ragu juga, karena takut tidak bisa membalas cinta sejati yang Gery berikan untuk nya.

__ADS_1


Gery menggeleng, "Aku serius sayank. Aku tidak bercanda.",


Laki laki tampan itu menatap mata Vee dan juga memegang tangan Vee, ia tidak ingin gadis kesayangan nya di miliki oleh orang lain. Karena semakin hari Vee semakin bertambah cantik dan dewasa, apalagi nanti kalau sudah kuliah, pasti banyak yang menyukainya.


"Bahkan aku sudah bisa memberikan kamu makan, aku bisa menghidupi kamu, juga membiayai kuliah kamu.", sambung Gery lagi.


Bukannya ia sombong, tetapi memang nyatanya seperti itu. Secara tidak langsung Gery ikut terjun di perusahaan Papah nya juga karena Vee, ia dari dulu memang bercita cita untuk menikah muda, tentunya dengan pujaan hatinya.


"Aku tau Ger. Dan aku percaya sama kamu, tetapi aku masih ingin kuliah dan membantu Papah."


'Bukan hanya itu saja, hatiku juga masih ada nama dia, walaupun itu sedikit saja di pojokan, tetapi....untuk menikah dengan kamu, rasanya...aku belum siap...biarlah aku benar-benar menyingkirkan nama dia, baru aku bisa menikah dengan kamu.', batin Vee yang tidak bisa ia ucapkan di depan Gery.


"Aku tau, tetapi setidaknya bagaimana kalau kita tunangan dulu. Aku serius sayank."


Vee memang melihat keseriusan di mata Gery, tetapi rasanya sama saja, ia belum bisa melangkah lebih jauh lagi, sebelum bener bener hilang.


"Ya sayank??", ucap Gery lagi dengan terus menatap Vee hingga gadis itu merasa kasihan dengan nya.


Vee akhirnya mengangguk, walaupun belum yakin, tetapi...ia mencoba untuk putar haluan, dan mungkin inilah waktu yang tepat.


"Tetapi, tunggu aku benar benar lulus dulu ya?? takut saja kalau aku gak lulus.", ucap Vee dengan senyuman manis nya.


Gery mencubit hidung Vee, kemudian merubah posisinya dan melakukan mobilnya.


"Mau kemana lagi??"


"Emangnya kamu enggak kuliah??"


"Nanti siang yank, masih ada waktu tiga jam bersama kamu."


"Kalau makan saja gimana?? aku laper."


"Boleh."


******


Di sisi lain, Bara kini sedang urung uringan. Pasalnya Meli sejak pagi tidak bisa di hubungi. Padahal sudah ada janji untuk ke butik fitting baju lamaran yang rencananya akan dilaksanakan bulan depan, dan tentunya ini sengaja dipercepat oleh Bara, karena Bara sendiri yang memang sudah tidak sabar untuk segera malemar Meli dan mungkin juga tahun ini .....Bara akan menikahi gadis pujaannya.


Bara sudah menelpon Meli berulang kali, tetapi....tidak ada panggilan, ke kampus?? hari ini Meli tidak ada jadwal kuliah.

__ADS_1


Hingga akhirnya Bara memutuskan untuk datang ke rumah Meli saja, menjemput sekaligus melihat kondisi pacarnya itu.


Sementara di rumah Meli.


"Kamu sebaiknya pulang saja Di....aku mau pergi.", usir Meli kepada Dio, tetapi laki laki itu masih saja berada di sana, duduk manis dengan menatap wajah Meli.


"Aku tidak mau pergi Mel. Kenapa kamu takut sekali??".


"Bagaimana aku tidak takut, kalau Bara akan ke sini. Aku tidak mau kalian bertengkar gara gara aku."


"Bara??"


Ada senyuman sinis di wajah Dio, dan tentu nya ia pun mempunyai rencana yang menguntungkan untuk dirinya sendiri.


"Pergilah Di. Kamu jangan membuat aku semakin kesal. Dan mengalah lah. Aku dan Bara saling mencintai, dan kita akan bertunangan dan menikah. Aku harap kamu mengerti."


"Kamu temanku Di.", ucap Meli lagi.


"Aku tidak bisa, aku mencintai kamu Mel. Bahkan rasa cintai lebih besar daripada Bara. Tinggalkan Bara, dia tidak baik untuk kamu."


Meli menggeleng, "Tidak!! pergilah.!!", usir Meli lagi.


"Oke. Aku akan pergi, tetapi ada syaratnya."


Dio menyunggingkan senyumnya, tentunya syarat ini sangatlah berat bagi Meli.


"Katakan!!"


"Makan malam dengan aku!", ucap Dio.


"Kamu gila!! aku enggak mau!!"


"Hanya makan malam saja Mel, kalau tidak mau ya aku juga tidak akan pergi. Aku tidak apa apa jika bertemu dengan Bara."


Meli nampak menimbang dan berpikir, walaupun hanya makan malam saja, rasanya sangat sulit untuk ia lakukan. Tetapi, Meli tidak punya pilihan lain lagi, selain menuruti permintaan Dio.


"Baiklah. Tetapi kamu harus segera pergi."


"Oke sayank...sampai bertemu nanti malam."

__ADS_1


__ADS_2