
Berjuta juta untaian kata yang diucapkan oleh Bara, tidak membuat Velia luluh seketika, ia bahkan sekarang membenci laki laki yang sudah memeluk nya kini, dan juga sudah menghancurkan masa depan nya.
Tidak ada balasan pelukan dari Vee, ia hanya diam saja tanpa mengucapkan apa apa dan tanpa tangan nya membalas pelukan Bara.
"Oke...aku pulang, tapi.... nanti makan ya??? aku tidak mau kamu sakit."
Bara melepaskan pelukan dari tubuh Velia, ia sebenarnya ingin bermalam di sini, tetapi....Velia seperti nya tidak menginginkan kehadiran nya.
"Aku pulang, ingat ya....ada aku yang selalu di sampingmu, aku akan segera memberitahukan kepada kedua orang tua kita, aku mencintaimu Vee, sangat mencintai mu."
Cup
Satu ciuman mendarat di kening Velia, Bara yang benar benar mencintai Vee dengan tulus dan memberikan semangat untuk wanita cantik itu.
Hingga akhirnya, laki laki tampan itu keluar dari kamar Vee, dan memutuskan untuk pulang ke rumah, meskipun sebenarnya masih ada rasa khawatir di dalam diri Bara, namun.....ia harus menghargai apa yang di ucapkan oleh Vee dan ia tau apa yang dirasakan oleh gadis cantik itu.
Sesampainya di bawah, Bara menemui bibik yang setiap hari mengurusi rumah ini, termasuk segala keperluan Velia.
"Bik....kalau ada apa apa, nanti telpon saja aku.", ucap Bara kepada bibik asisten rumah tangga.
Bara sendiri masih khawatir terhadap Velia, hingga ia berpesan kepada bibik asisten rumah tangga itu, kalau ada apa apa untuk menghubungi nya....karena bibik itu pun tau nomer telpon Bara.
"Iya den...."
Dan Bara akhirnya meninggalkan kediaman Aditya, meskipun rasanya masih ingin bersama dengan Velia hari ini.
Sesampainya di rumah, Bara masuk ke dalam kamar nya, ia segera merebahkan tubuh nya di atas ranjang dan memandangi langit langit kamarnya.
Bara termenung sendiri, bukan karena menyesali perbuatannya atau memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakan pada kedua orang tuanya, bukan itu....
Kalau masalah itu, Bara tidak akan pusing.....ia tidak memikirkan kalau soal itu, tetapi ... yang jadi pikiran nya saat ini adalah....tentang ucapan Gery yang akan terus bersama dengan Velia meskipun gadis itu sudah tidak suci lagi.
"Aku harus bagaimana??? sedangkan Daddy dan Papah saat ini berada di Korea, dan tentunya tidak tau kapan akan kembalinya."
"Arghhhh......"
Bara menjambak rambutnya, ia tidak tau lagi apa yang akan di lakukan nya saat ini, tentu saja....untuk menghadapi Gery itu bukan hal yang mudah, karena Vee juga masih mencintai laki laki itu.
...****...
Keesokan harinya...
Bara yang terbangun gara gara bunyi ponsel nya, kaget dan lambung saja mengambil ponsel nya. Ia ingin tau siapa yang menelepon nya pagi pagi sekali.
__ADS_1
Dengan mata yang masih tertutup, Bara mengambil telpon nya dan memastikan siapa yang menelpon nya itu.
"Awas saja kalau Bagas!!"
Walaupun matanya masih merem, tetapi ia masih bisa mengumpat, karena biasanya memang Bagas lah yang membangunkan tidurnya, yah....hanya dia lah yang berani melakukan itu.
"Hallo....kenapa Lo nelpon gue pagi ini Gas!!"
Semprot Bara dengan cepat, bahkan ia tidak melihat siapa yang menelepon nya, langsung saja mengucapkan kata kata seolah olah itu adalah Bagas.
"Maaf den, ini bibik ...."
"Bibik??? astaga..."
Bara mengucek ngucek mata nya dan membuka matanya lebar lebar, hingga ia bisa melihat siapa yang menelepon nya.
"Ya Tuhan....maaf bik...maaf....aku enggak tau."
Setelah mengetahui bahwa yang menelpon nya adalah bibik, Bara segera meminta maaf .... dan ia membulatkan matanya lebar lebar...
"Ada apa Bik??"
Seketika hatinya nya jadi tidak karuan pas tau bibik asisten rumah tangga keluarga Velia menelpon, ia tau pasti ada yang tidak beres dengan Velia.
"Apa???"
Bara bangun dari atas ranjang, kageet mendengar ucapan dari bibik itu.
"Bibik sudah membuka kamar nya??",
"Kamar non Vee di kunci, dan kunci serep nya juga diambil oleh non Vee den...."
"Astagfirullah....."
Tanpa berucap apa apa lagi, Bara menutup telponnya dan seger ke kamar mandi, walaupun hanya cuci muka dan menggosok gigi saja, yang penting saat ini adalah Velia.
Masih dengan perasaan cemas, Bara segera melajukan mobilnya untuk ke rumah Vee. Hati nya kembali di landa rasa khawatir manakala ia mendengar kalau Vee belum keluar kamar dan kamar nya di kunci.
"Sayank....kamu kenapa lagi??"
Tiga puluh menit kemudian, Bara sudah sampai...ia membuka pintu mobil dan segera keluar. Laki laki itu berlari menuju kamar Vee yang di depan sana sudah ada beberapa asisten rumah tangga.
Tok....tok....
__ADS_1
"Vee....buka pintu nya sayank......"
Bara mengetuk pintu Vee, ia juga mendorong pintu itu tetapi tidak bisa di buka.
"Ya Tuhan...."
"Bibik mundur saja,. biar aku dobrak....."
Bara sudah kehabisan akal lagi, jalan satu satunya adalah mendobrak pintu kamar Velia, untuk memastikan keadaan Vee di dalam sana.
Brakk
Brakk
Brakkkkk
Tiga kali Bara menendang pintu dengan tubuh nya, pintu itu pun langsung terbuka, dan betapa kagetnya Bara ketika melihat Vee yang tertidur di bawah, dengan posisi duduk.
"Sayank....."
Dengan cepat laki laki itu menghampiri Vee, dan ia meneteskan air mata tatkala melihat wajah Vee yang sudah pucat.
"Bibik, tolong siapkan mobil, em....pakai mobil saya saja..."
Bara dengan langkah cepat menggendong tubuh Vee, ia juga merasakan jika tubuh gadis yang di cintai nya itu panas,.
Laki laki itu juga sempat melirik ke atas meja, dan...ia pun menggeleng... karena makanan dan minuman yang semalam ia bawa, sama sekali tidak di sentuh oleh Velia.
"Kenapa kamu seperti ini sayank.... astaga...apa yang harus aku lakukan....."
Bara cemas....ia sama sekali tidak tenang melihat kondisi Velia yang sudah nampak pucat, ia bahkan tidak mengira jika gadis yang sudah dalam dekapannya itu sampai seperti ini.
Tidak lama, mobil yang membawa Bara dan juga Vee sudah sampai di Rumah Sakit. Bara dengan segera menggendong Vee dan membawa nya ke ruang UGD untuk memberikan pertolongan pada pujaan hatinya itu.
"Suster tolong calon istri saya...."
Bara berteriak dengan memanggil suster dan Dokter yang berada di ruangan itu, hingga suster dan dokter jaga yang ada di UGD membawa Velia masuk.
"Bapak tunggu di sini saja, kami akan melakukan dengan sebaik baiknya."
"Tapi sus....."
Bara tetap ngeyel dan ingin masuk, tetapi...suster itu menggeleng .... mengisyaratkan untuk tidak ikut masuk.
__ADS_1