Polwan Cantik

Polwan Cantik
#16 SEASON 2


__ADS_3

Siang ini Zayn akan segera berangkat menjalani aktifitasnya kembali sebagai seorang pilot, pagi tadi ia telah mengemasi beberapa pakaiannya yang akan ia bawa, saat ini jam telah menunjukkan pukul 10.00pagi, kebetulan hari ini adalah hari Minggu kedua orangtuanya beserta adiknya sedang libur akhir pekan.


Zayn menuju kamar kedua orangtuanya untuk melihat keadaan ayahnya yang masih nampak baik-baik saja meskipun ia tau jika ayahnya sedang sakit, dilihatnya didalam kamar ayahnya sudah ada Humaira bersama ibunya menemani ayahnya yang sedang berbaring sambil membaca koran.


" Pi " (kata Zayn didepan pintu kamar)


" Zayn " (kata Safitri tersenyum & menghampiri anak sulungnya)


Zayn berjalan menghampiri ayahnya sambil digandeng oleh ibunya, terlihat ayahnya tersenyum kepadanya di atas tempat tidurnya.


" papi gak papa kan? " (kata Zayn)


" kenapa kamu tanya begitu kak? " (kata Safitri)


" tadi uncle Bara telpon Zayn pagi-pagi, kata uncle sekarang lagi dalam perjalanan kesini sama aunty & Gibran " (kata Zayn)


Zayn sangat cemas dengan keadaan ayahnya saat ini, mengingat siang ini ia akan segera berangkat menjalani aktifitasnya kembali, ia sangat takut jika ia meninggalkan ayahnya lalu ayahnya akan kenapa-kenapa.


" Pi kenapa tiba-tiba uncle Bara sama aunty Wid datang kesini Pi?, papi gak kenapa-kenapa kan?, papi jangan tinggalin Huma Pi, papi gak boleh sakit, papi harus sehat terus, Huma gak mau papi pergi " (kata Humaira histeris menangis)


" Huma,...Huma sayang, adek dengerin papi, please jangan nangis gitu ya sayang, papi kamu gak bakal ninggalin kalian, Huma gak boleh nangis, kamu liat kan papi sekarang masih sama kamu, papi janji papi gak akan pernah ninggalin kalian " (kata Abimana tersenyum)


Zayn semakin khawatir dengan keadaan ayahnya, bagaimana mungkin bisa ia meninggalkan ayahnya dalam keadaan seperti ini.


" Zayn, kakak gak usah khawatir, papi bakal baik-baik aja, kamu harus balik kerja jangan kepikiran " (kata Abimana)


" tapi Pi " (kata Zayn)


" Zayn, papi cukup senang kamu udah terima perjodohannya, papi udah tenang sekarang, jadi kamu jangan terlalu khawatir sama papi " (kata Abimana)


" kakak harus tetap berangkat ya siang ini, kerjaan kakak itu tanggung jawab kakak, jangan sampe terbengkalai " (kata Safitri), " papi disini ada mami sama Humaira, lagian kalo kamu sampe gak berangkat kerja kalo kakak nanti nikah sama Rindu siapa yang bakal biayain Rindu, ingat tugas kepala keluarga itu menafkahi anak istri " (kata Safitri)


" iya mi Zayn tau kok " (kata Zayn)


Mau tidak mau ia harus tetap berangkat hari ini meskipun dengan sangat berat hati, ia hanyalah berdoa dengan ia menerima perjodohan yang diinginkan ayahnya, ayahnya akan baik-baik saja.


#Aidan


Aidan bersama istrinya saat ini sedang mendudukkan anak gadisnya yang berusaha menolak perjodohan yang telah ia sampaikan tadi malam bersama sahabatnya Abimana, penolakan yang telak dilakukan oleh Rindu membuatnya harus bersikeras membujuknya agar bersedia menerima perjodohan tersebut, bahkan dari pihak Abimana Zayn telah menyetujui itu.


" Rindu jangan bikin malu papa sayang, papa gak bisa nolak perjodohan ini, apa lagi Zayn sudah setuju " (kata Aidan)


" kak, kenapa sih kamu gak mau terima perjodohan ini, emang Zayn kurang apa buat kamu kak? " (kata Risya)


" pa, ma, Rindu gak bisa terima perjodohan ini " (kata Rindu)


" kak papa harus gimana supaya kamu mau nerima " (kata Aidan)


Ia mulai putus asa dengan anaknya yang tak kunjung menyetujui perjodohan tersebut, Aidan hanya bisa memandang kearah Rindu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


" kak, apa perlu mama memohon sama kamu sayang supaya kamu mau terima perjodohan ini, tolong sayang mama mohon terima " (kata Risya)


" ma udah ma, rindu gak bisa kalo harus liat mama mohon-mohon gitu, Rindu gak mau jadi anak durhaka " (kata Rindu menangis)


Aidan mulai tersenyum melihat anaknya yang tersentuh dengan kata-kata ibunya, sepertinya sudah mulai ada sepercik harapan, Rindu memang mempunyai sifat yang gampang baperan jadi sangat mudah jika ibunya yang berhadapan langsung dengannya.


" Rindu bakal terima perjodohan ini dengan syarat " (kata Rindu)


" apa itu sayang " (kata Risya)


" Rindu pengen tetep bisa kuliah & kerja kalo rindu sudah lulus kuliah " (kata Rindu)


Aidan hanya tersenyum sambil memeluk anak sulungnya ini, akhirnya Rindu menerima perjodohannya, ia segera menghubungi Abimana untuk memberikan kabar baik ini, jika perjodohan kedua anaknya akan segera dilaksanakan, mereka harus segera membicarakan untuk rencana yang lebih lanjutnya.

__ADS_1


# Safitri


Ia tersenyum lega setelah mendapatkan kabar dari sahabatnya Risya, akhirnya Rindu juga menerima perjodohan tersebut, mereka akan membicarakan kembali tempat & waktu yang pas untuk acara yang lebih resmi untuk kedua anak mereka.


" Alhamdulillah akhirnya Rindu juga terima perjodohannya ya mi " (kata Abimana tersenyum)


" iya Pi " (kata Safitri)


Safitri & Abimana hanya berdua didalam kamar saat ini karena kedua anaknya sedang pergi menjemput Bara beserta keluarganya yang Baru saja tiba di bandara beberapa jam yang lalu.


" Bara kenapa tiba-tiba kesini Pi, dia pasti kesini gara-gara papi kan? " (kata Safitri)


" iya sayang, tadinya papi mau minta tolong dia kalo Zayn nolak, untung aja Zayn terima " (kata Abimana)


Safitri hanya tersenyum kearah suaminya, setelah beberapa saat mengobrol tiba-tiba terdengar ketukan dari arah luar, sepertinya tamu yang sedang dinanti-nantikan kini sudah berada didepan kamarnya.


Safitri sangat berantusias membuka kamarnya, seolah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya Widia yang kebetulan juga adalah istri Bara.


" hai,.....beb kangen " (kata Safitri memeluk Widia)


" ah gue juga beb, apa kabar? " (kata Widia)


" baik beb, mana Gibran beb? " (kata Safitri)


" masih dibawah sama Humaira sama Zayn Fit, gue bilang gak usah naik kesini soalnya gue pengen liat bang Abi takut keganggu kalo rame-rame " (kata Bara)


" dek, cepet juga Lo Sampek ya " (kata Abimana)


" ah gila sih Lo bang, gimana gue gak cepetan sampe coba, begitu Lo telpon gue langsung terbang kesini " (kata Bara)


" jadi gimana nih, Rindu sama Zayn terima gak? " (kata Widia)


" sukses, anak gue Zayn udah terima, terus tadi dapat kabar dari Risya katanya Rindu juga udah luluh terus Nerima, tinggal tentuin aja waktu yang pas " (kata Abimana)


" ais, tapi Lo bener-benar gila bang, bisa-bisanya Lo bohongin anak Lo supaya mau dijodohin kaya gini " (kata Bara)


" tau nih Bar Abang Lo punya ide sebegitunya pura-pura punya penyakit " (kata Safitri)


" emang Lo bang, orang yang sakit parah aja pingin sembuh Loh " (kata Bara)


" hahahahaha, ah apanya yang salah sih, lagian kalo ngomongin sakit gue emang sakit, nih kuku kaki gue lepas itu kan sakit " (kata Abimana), " kalau masalah gue bilang hidup gue gak tau bakal bertahan sampe kapan, itu emang kenyataannya, coba sekarang gue tanya ke Lo Bar, Lo bakal hidup sampai kapan?, Lo pasti gak tau kan lo bakal hidup sampai kapan, jadi omongan gue gak ada yang salah menurut gue, cuman mereka aja yang salah artikan " (kata Abimana menjelaskan)


" hahahahah, iya juga sih bang, bener....bener. bener....ah gak nyangka gue otak Lo masih encer aja ya bang " (kata Bara)


# Humaira Shakila Najma


Dirinya sangat penasaran sekali saat ini kedua orangtuanya beserta om & tantenya sedang membicarakan perihal apa, ia tak bisa ikut ke kamar ayahnya karena kata omnya yang kebetulan adalah seorang dokter menganjurkan agar ayahnya lebih baik tidak diganggu terlebih dahulu agar cukup untuk beristirahat.


Humaira bersama kakaknya duduk ditaman belakang rumah bersama anak dari om & tantenya yang bernama Gibran lebih tepatnya Aryan Gibran Alaric, Gibran lebih tua satu tahun darinya, saat ini Gibran sedang duduk di bangku kuliah semester awal, Gibran merupakan anak satu-satunya dari om & tantenya.


" jadi Lo bener-benar dijodohin bang? " (kata Gibran)


" iya kak, kak Zayn dijodohin " (kata Humaira menjawab)


" Lo keliatan lemes banget bang, emang anaknya Tante Risya jelek ya sampe Lo nolak? " (kata Gibran)


" cantik cuy, tapi gimana ya, gue gak cinta " (kata Zayn), " Lo ngebayangin gak kalo Lo diposisi gue, Lo dijodohin sama anak dari sahabat orang tua kita terus Lo harus terima meskipun Lo gak cinta, gimana perasaan Lo Gib yang jelas-jelas ini bukan jaman jodoh-jodohan lagi, Sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya kan? " (kata Zayn)


" sulit buat dibayangin sih bang & lebih baik gue gak ngebayangin " (kata Gibran)


" kak Gibran emang belum pernah liat anak Tante Risya? " (kata Humaira)


" pernah tapi lupa dek " (kata Gibran), " emang beneran cantik dek? " (kata Gibran lagi)

__ADS_1


" banget kak " (kata Humaira)


" ah penasaran gue, kaya apa sekarang si Rindu " (kata Gibran)


Lama tak melihat kakak sepupunya ini Humaira sangat dibuat pangling hari ini pasalnya saat terkahir bertemu kakak sepupunya ini tidak setampan saat ini.


# Bumi Samudera


Bumi seharian hanya sibuk bermain game online yang berada di ponselnya, merasa sangat kacau ia hanya bisa mengurung diri sendiri dikamarnya sambil meyakinkan dirinya agar tetap baik-baik saja. Mulai saat ini Bumi akan berusaha melupakan Humaira sebagai cinta pertamanya, tetapi ia harus terus menjadi sahabat Humaira sampai nanti.


" *ini yang terbaik, mungkin memang Lo bukan jodoh gue, gue cuma bisa doain Lo semoga Lo dapat jodoh yang terbaik, tapi gue harap bukan Kevin, kalo Kevin jodoh Lo gue juga gak bakal rela " (kata Bumi dalam hati)


" begini banget ya akhir cinta gue, belum berjuang udah harus mundur aja, ah ya sudah lah mau diapain " (kata Bumi dalam hati lagi*)


Bumi hanya bisa meratapi nasibnya sendiri, meskipun berat ia harus merelakan, ini adalah keputusan kedua keluarga untuk menyatukan kakakanya dengan Zayn, ia hanya berharap kakaknya bisa bahagia dengan pilihan ayahnya yang menurutnya memang tepat untuk kakakanya.


**tok....tok...tok


Pintu kamarnya diketuk, ia jelas tau bahwa itu pasti adalah kakaknya, padahal ia benar-benar sedang ingin sendiri dikamarnya, tak ingin membuat Rindu semakin bersalah ia hanya membiarkan kakaknya masuk.


" masuk gak dikunci kok " (kata Bumi)


" kakak masuk ya dek " (kata Rindu)


Memang benar sesuai dugaannya Rindu datang entah apalagi yang akan kakaknya ini sampaikan, Bumi harus ikut membujuk kakaknya agar mau menerima perjodohan ini demi masa depan yang baik untuk kakakanya, karena Bumi juga yakin Zayn adalah yang terbaik.


" kenapa kak? " (kata Bumi)


" Bumi maafin kakak " (kata Rindu)


" kenapa Lo harus minta maaf kak? " (kata Bumi)


" kakak terpaksa terima perjodohan kakak " (kata Rindu menangis)


Bumi menjadi terdiam mendengarkan kata-kata kakaknya, tiba-tiba hatinya seperti terasa tersetrum, sakit sekali, bahkan rasanya sampai ingin meneteskan air matanya.


" Hem,....kenapa kakak nangis, jangan nangis ya kak, kakak udah tepat buat Nerima perjodohan ini, kakak bakal bahagia sama kak Zayn, Bumi percaya kok kalo kalian bakal saling cinta nantinya " (kata Bumi)


" tapi gimana sama kamu dek?, kakak gak mau seumur hidup kakak bakal nyakitin kamu " (kata Rindu)


" kak liat gue, gue masih terlalu muda kak, jalan gue masih panjang, gue gak bakal cuman stop disini aja meskipun gue gak sama Huma " (kata Bumi)


Bumi hanya berusaha tegar agar kakaknya tidak merasa bersalah, bagaimanapun juga Bumi harus mendukung pilihan kakaknya yang dirasanya tepat.


" Bum " (kata Rindu terhenti)


" kak, gue mohon Lo jangan khawatirin gue, gue beneran bakal baik-baik aja kok, mulai sekarang Lo harus belajar cinta sama kak Zayn, dia calon suami Lo, dia calon patner masa depan Lo, Lo harus belajar banyak tentang kak Zayn, gue seneng Lo terima perjodohan ini, gue harap Lo jangan kecewakan mama papa " (kata Bumi)


#Rindu Mentari


Bagaimana bisa Bumi setegar ini menerima kenyataan yang sangat pahit bahkan lebih pahit dari meminum sebuah pil, umurnya lebih muda darinya tapi Bumi lebih dewasa darinya bahkan Rindu yakin jika ia ada diposisi Bumi pasti dirinya tidak akan mampu.


" kamu yakin bisa lupain Huma dek?" (kata Rindu)


" kak Bumi gak harus lupain Huma, Huma bakal tetep jadi sahabat terbaik Bumi, Bumi cuman bakal berusaha relain Huma yang ternyata bukan jodoh Bumi " (kata Bumi)


Mengapa bisa Bumi berpikir sangat dewasa, terkadang Rindu merasa bahkan ia lebih kekanak-kanakan dari adiknya, Rindu lebih cengeng & gampang baperan, mendengar kata-kata Bumi seperti ini saja air matanya kembali menetes.


" aduh kakak jangan nangis terus dong, itu mata Lo udah bengkak banget loh, Lo mau nangis Ampe rumah kita banjir ya, udah ah kak lo liat sendiri gue gak papa, jadi kakak jangan nangis lagi " (kata Bumi)


" kamu kenapa sih dek bisa sedewasa itu, kakak jadi tambah sedih " (kata Rindu)


" jadi kakak maunya gimana, kakak mau kita nangis bareng gitu, hahahahaha, kakak bayangin kalo kita nangis bareng gara-gara perjodohan Lo, konyol tau " (kata Bumi)

__ADS_1


Bahkan saat ini Bumi masih bisa tertawa meskipun ia tau hatinya juga sakit, tetapi entah mengapa Bumi tak menunjukkan perasaan terlukanya itu kepadanya, Bumi sangat pandai menyimpan perasaannya, wajar saja selama ini Humaira tak pernah sadar jika adiknya ini menyukai Humaira.


.


__ADS_2