Polwan Cantik

Polwan Cantik
#114 SEASON 2


__ADS_3

Satu bulan kemudian.....


Zayn telah berada di kota xxx beberapa saat lalu setelah menerbangkan pesawatnya dari kota C, sudah hampir satu minggu ia bolak balik menerbangkan burung besinya dari kota C, D & ke kota xxx.


Sebagai seorang pilot ia terlalu sering terbang ke kota lain tanpa istrinya & itu membuatnya mulai terbiasa meninggalkan Rindu di kota C sendiri, meskipun saat meninggalkan istrinya sendiri ia meras cemas & khawatir.


Tak terasa sudah lebih dari empat bulan bahtera rumah tangganya bersama Rindu berjalan, sampai saat ini istrinya masih di sibukkan dengan kuliahnya begitu juga dengan dirinya yang masih sibuk bekerja.


" kamu sudah ada nelpon Rindu kak? " (tanya Abimana)


Zayn menoleh kearah ayahnya, saat ini Zayn sedang bersama dengan ayahnya duduk diruang tamu sambil bersantai & menikmati secangkir teh hangat manis, saat ini jam telah menunjukan pukul 05.00 sore.


Saat berada di kota xxx ia akan pulang ke rumah orangtuanya, tak lupa ia juga akan mengunjungi mertuanya. Ini merupakan kebiasaan baru yang Zayn lakukan setelah menikah saat berada di kota xxx.


Zayn juga harus mengunjungi orang tua istrinya agar tidak terjadi kecemburuan sosial dalam keluarga, agar terjalinnya komunikasi yang baik karena bagaimanpun juga setelah menikah orang tua istrinya sudah jadi orangtuanya sendiri.


" sudah pi, oh iya dia kirim salam buat papi sama mami soalnya tadi gak sempet ngomong keburu ada kelas " (kata Zayn)


" waallaikumsalam, udah ada kabar baik belum dari istri kamu? " (kata Abimana lagi)


" maksudnya pi? " (kata Zayn)


" hamil sayang " (kata Safitri)


Zayn menoleh kearah ibunya yang baru saja datang menghampiri mereka dari arah dapur sambil membawakan sepiring pisang goreng & tersenyum.


" ah belum mi, namanya juga jarang ketemu kayak gini " (kata Zayn menjawab sambil tersenyum & menggaruk-garuk kepalanya)


Sebenarnya ia juga sudah sangat mendambakan kehadiran buah hati cintanya dengan Rindu tetapi sampai saat ini istrinya tersebut belum juga hamil, karena tak ingin terlalu memaksa ia & istrinya hanya pasrah kepada sang kuasa.


" bener juga sih pi, mana bisa Rindu cepet hamil kalo sering ditinggal Zayn gini, mana dia juga di sana sibuk kuliah " (kata Safitri)


Ayahnya menoleh kearah ibunya sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, Zayn hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


Kedua orangtuanya sepertinya juga sudah tak sabar untuk menimang cucu darinya & istrinya apalagi mengingat kedua orangtuanya juga sudah pantas untuk menimang seorang cucu.


" nanti juga kalo udah waktunya bakal dikasih mi, pi, lagian juga baru aja empat bulan Zayn sama Rindu nikah, kasian juga kalo Rindu hamil mana masih kuliah " (kata Zayn)


Ia sebenarnya juga berpikir istrinya pasti akan kewalahan jika istrinya dalam waktu dekat ini ia hamil, mengingat jadwal kuliahnya sudah kembali normal & tak lama ia harus menyusun skripsinya.


" emang kapan istri kamu lulus kak? " (kata Abimana lagi bertanya)


" gak lama lah pi, Zayn juga gak tau soalnya Zayn kan gak pernah kuliah, tapi Rindu pernah bilang si katanya dia cuma ambil S1 aja " (kata Zayn menjawab)


" tinggal satu tahun lebih lagi tuh berati kak, gak papa sabar aja, lagian bener kata kamu kasian istri kamu kalo hami pas kuliah, entar malah gak karo-karoan ngurus skripsi " (kata Safitri)


" iya juga ya mi, inget pas mami hamil dulu jadinya nda tega rasanya, hamil-hamil masih harus aktif kerja " (kata Abimana pada Safitri), " Zayn biar dulu istri kamu fokus kuliah, urusan anak bisa dipikir setelah Rindu lulus kuliah, istri kamu harus berhasil jadi sarjana ya, papi gak mau gara-gara nikah istri kamu sampe gagal jadi sarjana " (kata Abimana lagi pada Zayn panjang lebar)


Zayn mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, sejak awal menikah ia memang berjanji tak akan pernah melarang istrinya untuk melanjutkan pendidikannya, bahkan saat istrinya menuturkan akan mengambil cuti justru ia lah orang yang pertama tak setuju dengan keputusan istrinya tersebut.


Zayn ingin istrinya tetap menjalankan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswa meskipun beberapa bulan lalu Rindu bersih keras ingin mengambil cuti, saat Rindu ingin mengambil cuti kuliahnya karena istrinya tersebut berpikir jika ia tak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik.


Tetapi Zayn berhasil membuat istrinya mengurungkan niatnya, Zayn memberikan motifasi kepada istrinya agar terus menjalankan kuliahnya dengan baik dengan syarat istrinya tersebut tak boleh dekat-dekat dengan pria lain.


Saat mengetahui Rindu sedang dekat dengan pria lain Zayn akan cemburu, bahkan ia bisa nekat membawa istrinya langsung pulang ke rumah mereka, sudah beberapa kali Zayn melakukan hal tersebut, terkadang Humaira adiknya memarahi dirinya karena bertingkah kekanak-kanakan.


Zayn tak bisa menahan rasa cemburunya terhadap pria manapun yang mendekati istrinya, apalagi posisinya sebagai seorang suami tak terus-terusan bisa tinggal satu atap dengan istrinya karena ia akan ada di rumah setiap dua minggu sekali saat libur bekerja.

__ADS_1


Zayn takut jika istrinya tergoda dengan pria lain sehingga ia menjadi posesif, tetapi ia bersyukur istrinya sangat sabar menghadapi sikap posesifnya meskipun sesekali istrinya tersebut ikut ngambek karena tingkah kekanak-kanakkannya.


" bentar lagi libur semester kan?, kalian balik gak kesini? " (kata Safitri)


" pasti balik lah mi, mumpung libur biar aja Rindu puas-puas pulang ke rumah mama, papa " (kata Zayn)


" eemmm pulang ke rumah papa mamanya aja?, emang gak pulang kesini juga ya? " (kata Safitri)


" kesini juga lah mi " (kata Zayn sambil tersenyum), " gak mungkin Rindu gak bakal kesini, mami kan juga maminya " (kata Zayn)


Ibunya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tanpa mengatakan apapun. Zayn saat ini masih mengunyah pisang goreng buatan ibunya, bagi Zayn apapun masakan ibunya pasti enak & istimewa sama seperti apa yang dimasakkan istrinya untuknya.


" Kata Huma Desta mau datang buat ngomong sesuatu yang penting kalo Huma libur kuliah nanti kak, kamu tau kan apa yang mau diomongin Desta? " (kata Abimana bertanya)


Zayn kembali melihat kearah ayahnya, ia yakin jika ini perihal keinginan mereka untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang keseriusan.


Zayn hanya menganggukkan kepalanya karena ia memang tahu niat & tujuan Desta, meskipun niat Desta adalah niat baik tetapi ia masih belum mau jika adiknya Humaira menikah diusia mudanya.


" menurut kamu gimana kak? " (kata Safitri bertanya)


" kalo menurut mami giman? " (kata Zayn kembali bertanya kepada ibunya)


" mami sih terserah mereka aja kak, yang penting mereka harus berkomitmen, nikah bukan main-main, harus di jalani dengan baik " (kata Safitri)


" kalo papi gimana? " (kata Zayn bertanya pada ayahnya)


" papi terserah mereka aja, lagian Desta juga kan anaknya baik, kita juga kenal baik sama orangtuanya, kakaknya jugakan nikah sama sepupu kamu kak " (kata Abimana)


" tapi Zayn gak setuju pi, mi " (kata Zayn terus terang)


" alasannya apa? " (kata Safitri)


" ya kan Huma baru belasan mi, baru berapa bulan lulus sekolah, Zayn gak mau lah kalo-kalo seumpamanya Huma gagal ngejalani rumah tangga, dia masih terlalu kecil buat berumah tangga " (kata Zayn panjang lebar)


" enggak ah kak, Huma itu gak terlalu muda tau, lagian itu dulu Bundanya Desta sahabat mami nikahnya sama ayahnya Desta umurnya juga masih belasan & alhamdulillah aja rumah tangganya awet sampe sekarang, lagian kan niat baik Desta udah bagus kak dari pada kelamaan pacaran takut dosa " (kata Safitri menjelaskan)


" tetep aja mi Zayn gak bakal setuju, pokonya Zayn orang pertama yang bakal nentang Huma nikah kecuali nanti tiga tahun lagi kalo dia pas 20 tahun " (kata Zayn)


Zayn bersih keras tak memberikan restu, bukan perkara mudah baginya untuk menjalani bahtera rumah tangga banyak kemungkinan yang akan terjadi.


" kalo kamu gak setuju mami bisa apa kak, tapi kan kasian Huma, mami harap kamu masih bisa pertimbangkan baik-baik " (kata Safitri)


Zayn hanya diam menatap kedua orangtuanya saat ini, terlihat kedua orangtuanya seolah berharap jika ia akan mengijinkan Humaira & Desta menikah.


" ya udah mi, pi, Zayn mau ke kamar dulu ya, mau mandi bentar lagi magrib " (kata Zayn pamit)


Zayn lalu berdiri & berjalan menuju arah tangga atas menuju kamarnya, ia berusaha menghindar tak ingin mendengar perihal adik tercintanya, Zayn sebenarnya sangat menyayangi Humaira sehingga ia tak ingin adiknya gagal.


Sebenarnya pilihan masa depan Humaira ada ditangan Humaira sendiri & bukan ditangan orang lain tetapi Humaira adalah seorang anak yang sangat penurut yang selalu menanyakan pendapat orangtuanya serta kakaknya yaitu Zayn saat kan menjalani atau menghadapi sesuatu.


Setelah berada di dalam kamar Zayn lalu duduk ditepi ranjangnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya tak bisa membayangkan jika adiknya akan menikah secepat ini.


Zayn kemudian merebahkan tubuhnya sambil mengeluarkan nafas kasarnya dari mulutnya, ditatapnya langit-langit kamarnya sambil terus merenungkan masalah Humaira.


Setelah puas dengan pikirannya sendiri Zayn lalu bangkit dari tidurnya & berjalan menuju arah kamar mandi mengingat sebentar lagi Adzan magrib akan berkumandang.


# Rindu Mentari

__ADS_1


Ia duduk bersama dengan Humaira di kamarnya, beberapa hari ini adik iparnya ini lah yang menemani dirinya di rumah karena kebetulan suaminya sedang berada di kota lain & harus stay di kota tersebut.


Terpisah jarak & waktu sudah sangat sering ia & suaminya alami, apalagi mengingat profesi suaminya sebagai seorang pilot ia harus siap dengan konsekuensi ditinggal keberbagai kota & harus tinggal sendiri dirumahnya.


Sore ini suaminya telah berada di kota xxx di rumah orangtuanya, beberapa jam yang lalu Zayn sempat menghubungi dirinya saat ia masih berada di kampusnya & sampai saat ini Zayn belum menghubungi dirinya lagi.


" kak ditinggal kak Zayn gini perasaan kakak gimana? " (kata Humaira bertanya)


" yang jelas kaya ngerasa sepi aja " (kata Rindu)


" kok sepi kan ada Huma " (kata Humaira)


" ya beda lah dek " (kata Rindu sambil tersenyum)


" oh iya ngomong-ngomong libur kakak pulang gak? " (kata Humaira bertanya lagi)


Saat libur semester merupakan kesempatannya untuk berkumpul dengan orangtuanya, selama belum menikah saat libur semester ia akan pulang kerumahnya kali ini ada yang berbeda karena ia telah berumah tangga.


Bagaimana pun juga Rindu harus dapat ijin dari suaminya jika ia akan pulang ke rumah orangtuanya saat libur semester nanti, tetapi jika Zayn tak mengijinkan mau tak mau ia harus tetap berada dirumahnya.


" tergantung ijinnya kak Zayn sih dek, maunya sih pulang tapi kalo kak Zayn gak ngijinin gimana? " (kata Rindu)


" pasti bakal di ijinin kok tenang aja, gak mungkin lah kak Zayn gak ijinin kakak buat ketemu orang tua, lagian juga kan kakak disini sendiri kalo kak Zayn terbang ke kota lain, mumpung libur lah, yang jelas kalo libur kakak bakal sendiri di sini kalo Huma pulang, emangnya kak Zayn tega apa biarin kakak sendiri disini " (kata Humaira)


Rindu mengangguk-angguk sambil tersenyum, ia tau yang dikatakan Humaira ada benarnya, suaminya tak akan membiarkannya tinggal sendiri di rumahnya, seperti saat ini saat Zayn tak berada bersamanya ia menyuruh Humaira untuk menemaninya.


" eh ngomong-ngomong Bumi pulang gak ya kak?, kangen lama gak ketemu, ini tuh sejarah terlama loh Huma pisah sama Bumi " (kata Humaira)


" belum ada kabar sih dia mau balik atau enggak dek, tapi semoga aja dia balik soalnya kakak juga udah kangen banget sama dia " (kata Rindu)


" kakak udah pernah ngomong belum ama gebetannya Bumi?, cantik loh " (kata Humaira)


" belum sih dek, emang kamu udah pernah? " (kata Rindu bertanya)


" udah kak beberapa kali sih ngobrol pas mereka lagi sama-sama " (kata Humaira)


Rindu tersenyum mendengar kata-kata Humaira, ia agak lega karena pada akhirnya Bumi telah memiliki kekasih saat ini, setidaknya hal itu menandakan adiknya tersebut sudah tak mempunyai perasaan lagi dengan Humaira atau bahkan sebenarnya sebaliknya, semua ini hanyalah pelariannya seperti biasanya.


" eh Adzan tuh, sholat dulu yuk " (kata Rindu)


Adzan magrib pun berkumandang merdu, mereka berdua lalu berdiri menuju kamar mandi untuk berwudhu terlebih dahulu, mereka berdua akan sholat dengan bergantian.


Setelah berwudhu Rindu segera memakai mukenahnya & segera melaksanakan ibadah sholat magrib sedangkan adik iparnya masih duduk di tepi ranjang menunggu dirinya untuk bergantian.


Setelah beberapa menit ia pun selesai menunaikan ibadahnya, ia lalu berdiri & melepaskan mukenah yang ia kenakan lalu menoleh kearah Humaira sambil tersenyum.


Adik iparnya tersebut pun segera menunaikan ibadah sholatnya juga, ia merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Zayn, dengan keluarga yang sangat baik, kedua orang tua suaminya sangat perhatian dengannya bahkan adiknya.


Ia merasa takdir tuhan sangat luar biasa untuknya, allah sangat baik padanya sampai-sampai menjodohkan ia dengan pria yang baik & penyayang serta memiliki keluarga yang sangat luar biasa.


Rindu bersyukur ia tak menolak perjodohan yang telah ayahnya pilihkan untuknya meskipun awalnya ia tak menerima ini namun pada akhirnya ia & Zayn saat ini hidup sangat bahagia.


" hayo kenapa senyum-senyum sendiri " (kata Humaira yang baru selesai menunaikan ibadah sholatnya)


" gak papa ah, kamu lapar gak?, kita turun yuk makan dulu " (kata Rindu)


Adik iparnya hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum, mereka berdua akhirnya turun bersama untuk makan malam bersama.

__ADS_1


__ADS_2