Polwan Cantik

Polwan Cantik
#38 SEASON 2


__ADS_3

Zayn berada di dalam lift menuju kamar hotelnya masih bersama dengan Faiz setelah beberapa saat lalu mereka mengantarkan Rindu kembali ke kost-kostannya. Tak lama pintu lift terbuka lalu mereka segera keluar berjalan menuju kamarnya, Faiz merangkul Zayn sambil tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan ponselnya, Zayn sekilas melirik kearah ponsel Faiz yang sedang membalas chat dari seseorang yang ia yakini pasti seorang wanita.


Setelah berada didalam kamar Zayn segera melepas dasi beserta atribut seragamnya, Zayn duduk ditepi ranjangnya sambil melepaskan sepatu yang ia kenakan, sedang Faiz masih saja sibuk dengan ponselnya. Kali ini Zayn penasaran wanita mana lagi yang tengah dekat dengan sepupunya ini bahkan beberapa saat lalu ia baru saja dekat dengan salah satu pramugari yang ia kenal, dalam waktu satu minggu Faiz sudah dekat dengan dua wanita di kota C, Zayn menggelengkan kepalanya, semudah itu sepupunya ini berganti pasangan.


" kenapa lo bro, gue aneh ya?, ngeliatnya sampe gitu banget " (kata Faiz)


" enggak gue penasaran cewek mana lagi yang deket sama lo? " (kata Zayn)


" hahaha, lo kenal kok " (kata Faiz)


" pramugari gue lagi? " (kata Zayn)


" bukan lah " (kata Faiz)


" siapa? " (kata Zayn)


" temennya Rindu " (kata Faiz)


" temennya Rindu? " (kata Zayn)


Zayn menaikan satu alisnya mencoba menggali pertanyaannya pada Faiz, tidak mungkin wanita yang tengah dekat dengan Faiz yang dimaksud adalah Jiya.


" iya temennya Rindu " (kata Faiz tersenyum)


" jangan bilang Jiya " (kata Zayn)


" emang kalo iya kenapa? " (kata Faiz)


Zayn terkejut ternyata benar apa yang ia pikirkan barusan jika Faiz tengah dekat dengan Jiya wanita yang pernah sempat nempel sedikit di hatinya lalu menghilang entah bagaimana caranya tiba-tiba ia melupakan perasaannya pada Jiya.


" udah ngpain aja kalian? " (kata Zayn)


" belum ngapa-ngapain lah, kan masih tahap PDKT " (kata Faiz)


Sangking hapalnya Zayn dengan sifat Faiz ia tau apa saja yang akan Faiz lakukan dengan wanita-wanitanya, tetapi Faiz tak pernah memaksakan kehendaknya semua ia lakukan atas dasar suka sama suka, tetapi sejauh ini Faiz selalu berkata kepada Zayn dari sekian banyak wanita yang pernah ia tiduri tidak ada yang benar-benar masih asli perawan.


" gila lo, ati-ati ya bro tuh sih Jiya temennya Rindu jangan sampe tar Rindu marah ama gue gara-gara lo mainin temennya " (kata Zayn)


" astaga bro, gue ini pecinta wanita ya, kapan sih lo liat gue mainin cewek, yang ada gue itu bikin cewek seneng tau, kasih cewek kepuasan batin " (kata Faiz)


" kambing, PK amat lo " (kata Zayn)


" hahahahah, siala*n lo bro, lagian gue gak maksa kok, mereka aja dengan senang hati naik keranjang gue " (kata Faiz)


" ati-ati lo kena batunya bro " (kata Zayn)


" gue mah selalu hati-hati bro pake pengaman " (kata Faiz)


Membahas soal Faiz dengan gaya hidupnya tak akan pernah ada habisnya, wajar jika Faiz Dijuluki sebagai pecinta wanita, entah bagaimana mana caranya Faiz biasa jatuh cinta & putus dalam waktu yang singkat bahkan dalam waktu seminggu ini Faiz sudah dekat dengan dua wanita.


" bro lo masih lama kan cutinya? " (kata Zayn)


" masih bro sekitar dua minggu lagi, kenapa bro? " (kata Faiz)


" minggu depan gue libur, lo ikut gue balik ya kerumah gue " (kata Zayn)


" waduh yang ini nih yang paling gue gak bisa bro, kayanya gue balik aja kerumah gue bro, lagian kemaren bokap nyokap gue nelpon gue " (kata Faiz)


" alah bro ikut aja lah, lo sekalian denger keputusan kapan gue ama Rindu bakal dinikahin " (kata Zayn)


" gue males tau ketemu bokap lo, pasti gue bakal dapat ceramah lagi " (kata Faiz)


" ya apa salahnya sih di dengerin aja " (kata Zayn)


" hem, oke lah gue ikut, lagian udah lama juga gue gak ketemu bokap nyokap lo " (kata Faiz)


" gitu dong bro, gue mau mandi dulu ya " (kata Zayn)


Zayn berlalu masuk kedalam kamar mandi, satu minggu lagi ia akan libur & pulang kembali ke kota xxx, ayahnya telah berpesan agar dirinya harus meminta ijin untuk Rindu di kampusnya agar bisa pulang bersama-sama dengannya.


# Humaira Shakila Najma


Di ruang tamu ia sedang duduk bersama dengan Gibran sedangkan kedua orang tua Gibran sedang berada di ruang keluarga sambil menonton televisi, malam ini adalah malam terakhirnya berada di kota C, niatnya hari ini untuk pergi bersama Gibran untuk melihat kampus gagal karena Gibran mempunyai jadwal kuliah, tetapi harus ini ia tak gagal pergi kekampus karena ada Rindu yang menemaninya.


" besok lo balik jam berapa dek? " (kata Gibran).


" belum tau kak " (kata Humaira)


" besok gue libur, jalan-jalan dulu yuk, lo jangan pulang dulu " (kata Gibran)

__ADS_1


" tapi lo harus traktir gue loh ya " (kata Humaira)


" iya-iya gue traktir, tenang aja " (kata Gibran)


Humaira tersenyum kepada Gibran, kakak sepupunya ini selalu memperlakukan dirinya layaknya adik sendiri karena kebetulan Gibran adalah anak tunggal.


" anggap aja gue nebus kesalahan gue soalnya gak bisa nepatin janji buat nemenin lo liat-liat kampus tadi " (kata Gibran)


" alah biasa aja kali kak, lagian gue juga udah pergi liat kampus ama kak Rindu " (kata Humaira)


" ya kan harusnya lo perginya ama gue dek " (kata Gibran)


" kok jadi merasa bersalah lo kak, gue aja santai kok " (kata Humaira)


" jelaslah gue ngerasa bersalah, dek kita ke hotel bang Zayn yuk, mau gak lo? " (kata Gibran)


" mau banget kak, tapi lo ijinin gue ama bokap nyokap lo ya " (kata Humaira)


" sip, yuk siap-siap " (kata Gibran)


" gue gini aja ah " (kata Humaira)


" ya udah yuk ijin dulu " (kata Gibran)


Gibran mengajaknya menemui kedua orangtuanya yang berada diruang keluarga, terlihat kedua orang tua Gibran masih asik menonton televisi sambil mengobrol, mereka berdua duduk mendekat.


" mom, dadd " (kata Gibran)


Kedua orang tua Gibran sontak menoleh kearah mereka berdua, ibu Gibran langsung memeluk Humaira yang berada didekatnya sambil mengelus rambut Humaira sesekali.


" kenapa Gib? " (kata Bara)


" daddy Gibran mau bawa Huma ke hotel bang Zayn boleh gak? " (kata Gibran)


" ini jam berapa sayang? " (kata Widia)


" belum jam sembilan Mom " (kata Gibran)


" emang Huma mau ikut Gibran dek? " (kata Bara)


" iya uncle " (kata Humaira)


" kalo daddy sih ijinin aja Gib, gak tau tuh kalo mommy kamu gimana " (kata Bara)


" boleh tapi jangan malam-malam pulangnya, kasian adek kamu besok mau balik ke kota xxx " (kata Widia)


" siap mom, ya udah mom, dad kita pergi dulu ya, assalamualaikum " (kata Gibran)


" onty, uncle Huma berangkat ya, assalamualaikum " (kata Humaira)


" Waalaikumsalam " (kata mereka bersama)


" Hati-hati ya sayang, jagain adeknya bener-bener " (kata Widia)


Setelah berada di luar rumah mereka berdua langsung masuk kedalam mobil milik Gibran.


# Bumi Samudera








Bumi memandangi beberapa potret dirinya dengan Humaira, banyak hal yang tak bisa ia lupakan saat bersama Humaira, sudah hampir 17 tahun mereka selalu bersama dari kecil hingga tumbuh dewasa bersama, selalu bersama membuat benih cintanya kepada Humaira tumbuh, bahkan ia mulai mencintai Humaira sejak mereka masih sama-sama kecil, bisa dibilang bahwa Humaira adalah cinta pertama & cinta monyetnya, bahkan sampai detik ini ia masih belum bisa melupakan Humaira.


Bumi berusaha menahan rasa rindunya kepada Humaira, hari-harinya kini ia lalui tanpa Humaira, ia hanya berharap semua ini segera berlalu & ia segera bisa mengubur dalam-dalam perasaannya kepada Humaira, karena cepat atau lambat memang ia harus melupakan Humaira sabagai cinta pertamanya sebelum Humaira mendapatkan cinta sejatinya.


Satu bulan lagi ujian sekolah akan segera dimulai, ia akan melakukan ujian tersebut dirumahnya, setelah ujian usai & hasil dari ujian keluar, Bumi akan segera pergi ke London untuk mendaftarkan diri di sebuah universitas disana, Bumi akan memulai hidup barunya disana.


" gue bakal tetep jadi sahabat lo sampai kita tua nanti kaya yang selalu lo bilang ke gue, gue janji gue bakal terus jadi sahabat terbaik lo, tapi maaf untuk sekarang ini gue harus jauh dari lo dulu, gue harap lo ngerti & gue harap lo bisa jalani hari-hari lo tanpa gue " (kata Bumi sendiri sambil memandang foto Humaira)


__ADS_1


# Abdul Zayn Mikail


Kamar hotelnya seketika menjadi ramai karena kedatangan Humaira & Gibran, seperti biasa celoteh adiknya yang sangat cerewet berhasil membuat mereka semua menggeleng-gelengkan kepalanya. Humaira memang sosok gadis beliau yang mempunyai kepribadian ceria, bahkan siapapun yang dekat dengannya seketika bisa langsung akrab karena adiknya tersebut sangat friendly.


" ah gila-gila, seriusan jadi gara-gara Bumi gak masuk lo jadi deket ama playboy sekolah yang dari dulu ngejar-ngejar lo dek, hahahah " (kata Faiz)


Sedari tadi mereka memang hanya membahas tentang Humaira, cerita-cerita tentang Humaira memang terdengar sangat menarik, kisah seorang remaja putri yang merupakan idola di sekolahnya.


" iya kak, jadi selama seminggu ini deket ama playboy nya sekolah namanya Kevin, tapi gue kalo ama dia gak cuma berdua sih kak ama satu lagi temen sekelas gue Desi namanya, kalo gue ama Desi lumayan deket sih, baru dua hari yang lalu gue upload foto di Ig gue bareng mereka bertiga, tar gue kasih liat fotonya di galeri gue " (kata Humaira)



Zayn ikut melihat foto yang diperlihatkan adiknya kepada mereka bertiga, itulah pemuda yang pernah ia temui di toko sepatu bersama Humaira beberapa pekan lalu.


" lumayan juga sih mukanya, wajar aja playboy, tau gue saranin lo jangan deket-deket lagi dek, playboy-playboy gini gue gak mau juga adek gue dapat playboy kaya gue " (kata Faiz)


" sadap, mantap jiwa kak Faiz, tenang aja kak gue udah kebal ama Kevin hampir tiga tahun ini, gue deket ama dia juga cuman berusaha berteman biasa aja kok " (kata Humaira)


" iya tapi mesti tetap hati-hati sama jaga diri dek " (kata Zayn)


" bener tuh kata bang Zayn dek " (kata Gibran)


Humaira selama ini cukup cerdas dalam berteman, ia bisa memilah-milah mana yang baik untuk dijadikan teman & mana yang tidak.


" beres, eh Ngomong-ngomong tadi balik jam berapa tadi kak Zayn ama kak Faiz? " (kata Humaira)


" baru setengah jam yang lalu dek, soalnya begitu pulang kita cari makan dulu tadi bareng Rindu " (kata Faiz)


" oh gitu " (kata Humaira)


" bang Zayn ngomong-ngomong soal Rindu, gimana perasaan lo sekarang ke dia? " (kata Gibran)


" bagus bener pertanyaan lo Gib, hahaha " (kata Faiz)


" perasaan gue ama Rindu biasa aja tuh " (kata Zayn)


" yakin lo bro biasa aja, tapi gue liat udah ada benih-benih cinta tumbuh tuh di hati lo " (kata Faiz)


" bener tuh kak Faiz, gue juga ngeliatnya gitu " (kata Humaira).


" udah deh bang ngaku aja " (kata Gibran)


Zayn belum tau perasaannya dengan Rindu bagaimana yang jelas ia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Rindu saat pekerjaannya telah selesai.


" gak ngerti gue " (kata Zayn)


" kaya gak pernah jatuh cinta aja lo bro, kalo kaya Huma wajar aja gak ngerti bedain mana cinta mana bukan namanya juga gak pernah pacaran, nah lo kan udah pernah pacaran masa gak ngerti kalo perasaan cinta itu gimana " (kata Faiz)


" napa bawa-bawa gue kak Faiz " (kata Humaira)


" Terima kenyataan aja lo dek, kan lo emang belum pernah pacaran, hahaha " (kata Gibran)


" dasar mah kalian orang dewasa yang hidupnya rumit " (kata Rindu)


" hahahaha " (kata mereka tertawa)


Humaira belum pernah mempunyai pacar karena ayahnya tak mengizinkan adiknya tersebut untuk memiliki panjang arah terlebih dahulu sebelum adiknya lulus sekolah menengah atas.


" jadi gimana lo kak ama kak Rindu, sejujurnya gue juga penasaran gimana sekarang hubungan kalian " (kata Humaira)


" gue belum tau dek gimana perasaan gue, yang jelas buat saat ini gue mulai nyaman sama dia " (kata Zayn)


" cieeeeeehhhhhhh, tuh kan ama gue bilang udah mulai tumbuh benih-benih cinta, tapi kayanya Rindunya yang biasa-biasa aja ama Zayn, gak ngerti gue kenapa begitu " (kata Faiz)


" ayo bang Zayn lo harus berjuang supaya Rindu suka sama lo " (kata Gibran kepada Zayn), " bang Faiz lajarin bang Zayn tuh caranya dapatin cewek " (kata Gibran kepada Faiz)


" gak bisa gue ngajarin Zayn soalnya Zayn ama Rindu kalo ketemu udah kaya tom ama jery, berdebat mulu, bahkan bentar gak lama debat lagi tuh " (kata Faiz)


Zayn tersenyum mendengar kata-kata Faiz seketika ia mengingat tingkah Rindu, saat sedang menahan emosinya saat sedang ia kerjai, Rindu memang agak polos karena ia tak sadar semua tingkah Zayn yang membuatnya sebal hanyalah keisengan Zayn semata.


" BBC tau, Benci bilang cinta " (kata Faiz)


" kak Rindu tadi bilang kalo sebel ama kakak loh, katanya kakak itu kaya anak kecil, suka ngancam dia pake kejadian waktu di diskotik " (kata Humaira)


" haaa, dia ngomong gitu ama lo dek?, dia bilangin gue kaya anak kecil? " (kata Zayn)


" hahahaha, bener emang yang di bilang Rindu bro, lo emang kaya anak kecil tau " (kata Faiz)


" gue kan cuman pengen ngerjain dia bro makanya gue kaya gitu " (kata Zayn)

__ADS_1


" jahat lo kak ngisengin anak orang " (kata Humaira)


Zayn tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal saat ini.


__ADS_2