
# Humaira Shakila Najma
Begitu banyak para penumpang yang sudah berada di bandara entah akan terbang ke arah tujuan mana saja, Humaira terus berjalan bersama Faiz & Gibran menuju arah ruang tunggu, sesekali Humaira menggandeng lengan Faiz & Gibran karena ia telah berada diantar Faiz & Gibran, suasana hatinya saat ini nampak lebih baik dari sebelumnya.
" udah check in aja langsung kak " (kata Humaira)
" tar lagi " (kata Faiz melihat kearah tangannya), " duduk sini aja gin dulu sambil ngobrol ya, masih ada waktu nunggu setengah jam lebih lah " (kata Faiz)
" gue kesana ya kak?, mau beli minum dulu, mau nitip gak? " (kata Humaira)
" beliin gue rokok dek, nih duitnya " (kata Faiz memberikan uang dua lembar uang merah)
" berapa kak? " (kata Humaira)
" satu aja, kan gue aja yang ngerokok, Gibran gak ngerokok, tar lo beli apa yang lo mau pake duit gue aja " (kata Faiz)
" ok " (kata Humaira)
Ia lalu pergi meninggalkan Faiz & Gibran diruang tunggu berdua, Humaira berjalan sesekali melihat ponselnya. Humaira masuk kesebuah toko untuk membeli beberapa minuman serta pesanan Faiz.
" hai, kayaknya ini adeknya kapten Zayn kan? " (kata seorang wanita yang menegurnya)
Humaira menoleh sambil tersenyum, ia tak mengenal sama sekali seorangpun dari tiga wanita yang memakai pakaian pramugari yang telah berdiri disebelahnya.
" bener gak sih? " (kata wanita tersebut lagi)
" iya kak, kok tau " (kata Humaira tersenyum)
" nah kan bener " (kata nya lagi), " oh ya kenalin gue Maura " (katanya memperkenalkan diri)
" Huma " (kata Humaira)
" Andini " (kata Temannya lagi)
" Huma " (kata Humaira)
" Lira " (kata teman lainnya)
" Huma " (kata Humaira)
Ia tersenyum sambil menyalami satu persatu tiga pramugari untuk berkenalan, Humaira tak menyangka jika teman kerja dari kakaknya bisa mengenali dirinya meskipun ia tak pernah tau teman-teman dari kakaknya.
" kapten Zayn nya masih lama ya cutinya, kita udah kangen loh?, kenapa tiba-tiba cuti ya? " (kata Lira)
Humaira yakin jika teman-teman pramugarinya tak ada yang tau jika Zayn mengambil ijin cutinya untuk menikah.
" oh iya kak, mungkin satu mingguan lebih " (kata Humaira)
Humaira tak mengatakan kepada teman-teman kakaknya perihal pernikahan kakaknya yang telah berlangsung kemarin.
" lama juga yah, ngomong-ngomong mau kemana? " (kata Maura)
" nemenin kakak sepupu kak mau ke kota D " (kata Humaira)
" oh gitu, bisa minta nomer WA nya gak? " (kata Maura)
Humaira memberikan nomer ponselnya kepada Maura satu dari tiga pramugari yang terlihat paling cantik diantara mereka.
" ya udah ya kak Human kesana duluan soalnya udah ditungguin pasti " (kata Humaira tersenyum)
" ok " (kata Mereka bertiga)
Humaira lalu pergi meninggalkan ketiga pramugari tersebut, ia merasa salah telah memberikan nomernya pada salah satu pramugari tersebut, ia berfikir pastinya mereka juga merupakan pengagum dari Zayn, ia juga merasa salah karena tak mengatakan alasan mengapa kakaknya tiba-tiba mengambil cuti kerja.
Humaira menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya reflek, ia tak mengungkapkan status kakaknya saat ini sama saja ia tak menghargai Rindu sebagai kakak iparnya pikirnya, Humaira tiba-tiba berhenti lalu berbalik untuk kembali ketempat dimana ia bertemu dengan ketiga pramugari tadi untuk menjelaskan, tetapi saat berbalik ia justru menabrak seseorang.
" astaghfirulloh " (kata Humaira kaget)
Ia terpental & hampir terjatuh beruntung tangannya segera dipegang oleh seorang pria yang ia tabrak, bukannya pergi menemui tiga pramugari tadi Humaira justru bertemu dengan Bumi disini, pria yang bertabrakan dengannya & memegang tangannya untuk menyelamatkannya agar tak terjatuh adalah Bumi.
" gak papa kan? " (kata Bumi bertanya)
" iya gak papa " (kata Humaira yang masih agak kaget)
__ADS_1
" mau kemana sih kok buru-buru sampe gak liat-liat, untung yang lo tabrak gue, lain kali hati-hati ya " (kata Bumi tersenyum)
" anu tadi mau kembali kesana eh malah nabrak lo, sorry ya " (kata Humaira nyengir)
" iya, lo kok ada disini?, bukannya lo besok baru balik? " (kata Bumi)
" gue nganterin kak Faiz bareng kak Gibran, lo balik kan? " (kata Bumi)
" oh gitu, iya gue balik, kok kebetulan gini ya bisa ketemu disini, berasanya kaya lo mau nganter gue yang mau pergi keluar negri " (kata Bumi tersenyum sambil menggaruk kepalanya)
Humaira hanya diam tak bisa berkata-kata mendengar perkataan Bumi, ia merasa sangat canggung & berbeda sekarang jika bersama Bumi, sebelumnya ia & Bumi baik-baik saja namun setelah ia mengutarakan perasaannya Humaira merasa persahabatan mereka tak mungkin akan sama seperti saat dulu lagi.
" ini jadi lo mau kemana? " (kata Bumi)
" mau ke ruang tunggu aja, soalnya kak Faiz sama kak Gibran pasti udah nungguin " (kata Humaira)
" yuk sama-sama " (kata Bumi)
Humaira hanya mengangguk & tersenyum, ia berjalan beriringan dengan Bumi, sesekali ia memperhatikan Bumi yang telah fokus menatap ke depan, ia tak mengerti mengapa perasaannya pada Bumi sekarang bisa se kacau ini bahkan ia tak bisa senormal seperti biasanya lagi, ia lebih diam saat bersama Bumi sekarang & tak tau harus berkata apa-apa.
# Rindu Mentari
Ia terus memegang buket bunga yang barusan diberikan Zayn padanya, sesekali ia mencium wangi bunga tersebut, Ia benar-benar terkejut saat Zayn memberikan seikat bunga mawar berwarna ping yang sangat cantik sekali seperti warna kesukaannya, Rindu terus tersenyum karena mendapatkan sikat bunga dari Zayn.
" kamu seneng banget sih, senyum mulu, baru juga aku kasih seikat bunga loh " (kata Zayn ikut tersenyum)
" ya gak papa dong namanya juga aku suka " (kata Rindu)
" sesuka itu? " (kata Zayn)
Rindu hanya memanggutkan kepalanya sambil tersenyum, seorang wanita memang hatinya gampang luluh meskipun hanya dengan diberikan seikat bunga seperti ini atau bahkan setangkai bunga sekalipun.
" suka banget malah " (kata Rindu)
Senyumnya tak henti-hentinya mengembang, betapa romantisnya Zayn pikirnya karena telah membelikannya seikat bunga.
" iya aku beli bunga itu biar tar malem bisa ditukar pake yang lain " (kata Zayn tersenyum nakal)
Humaira menatap kearah Zayn yang saat ini telah menatap kearahnya dengan seringainya, ia lantas menggeser duduknya agak menjauh dari Zayn, tetapi Zayn malah kembali mendekat kearahnya.
Sontak Zayn mencium baju serta tubuhnya sendiri, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Rindu yakin caranya untuk menghindar dari Zayn kali ini akan berhasil karena Zayn kebetulan memang belum mandi walaupun tubuhnya tidak sama sekali bau.
" ah iya sih, aku mandi dulu ya " (kata Zayn yang tersenyum lalu berdiri menuju kamar mandi)
Rindu tersenyum sambil terus melihat kearah Zayn yang telah berlalu menuju kamar mandi, Rindu membuang nafas kasarnya merasa sedih karena selalu berniat untuk menolak Zayn.
" ya allah ampuni hamba, hamba benar-benar belum siap menerima kak Zayn seutuhnya " (kata Rindu bersedih)
Rindu menitikan air matanya karena merasa sangat bersalah, ia merasa gagal menjalankan kewajibannya menjadi seorang istri, Rindu sangat takut dengan dosa yang akan ia tanggung karena terus-terusan bersikap seperti ini.
# Muhammad Desta Hamizan
Seharian ia hanya berada di rumah untuk menikmati masa liburnya, Desta mengajukan ijin ke kantornya karena harus menghadiri acara pernikahan Zayn yang tak lain kakak dari pacarnya sekaligus anak dari sahabat ibunya. Desta duduk di ruang tamu bersama ayahnya sore ini sambil menikmati secangkir teh.
Ayahnya merupakan polisi senior, bisa dibilang ayahnya lumayan memiliki pangkat yang tinggi, namun jika dibandingkan dengan pangkat ayah Humaira jauh lebih tinggi pangkat ayah Humaira. Sebagai seorang polisi junior ia terkadang banyak bertanya juga dengan ayahnya, bahkan ayahnya juga kerap berbagi pengalaman dengannya.
Sebagai sesama polisi ia & ayahnya memiliki kesamaan yang lumayan persis, bahkan kadang orang lain berkata jika ia adalah kopi paste dari ayahnya, ia bahkan bisa masuk polisi juga karena minatnya ingin menjadi polisi sangat besar.
" mbak mu ada hubungin kamu gak Des? " (kata Randito)
" ada yah, kenapa yah? " (kata Desta)
" mbak Alma gak ada nasehatin kamu soal hubungan kamu sam Huma? " (kata Randito)
" ada yah " (kata Desta)
Beberapa hari yang lalu Almaira kakak sulungnya menghubungi dirinya untuk menasehati dirinya tentang hubungannya dengan Humaira, kakaknya tersebut cukup antusias dengan hubungannya dengan Humaira, Alma mengingatkan dirinya untuk menjaga nama baik keluarga & mengingat norma-norma agama tak ingin jika dirinya salah langkah & berbuat yang tidak-tidak dengan Humaira, apa lagi mengingat Humaira adalah anak dari sahabat kedua orangtuanya.
" mbak Alma cuman ngingetin Desta yah, jangan salah bergaul, jaga kehormatan Huma, inget norma-norma agama " (kata Desta menuturkan), " mbak Alma juga nanya apa Desta serius atau enggak sama Huma, soalnya lebih baik nikah dari pada pacaran dosa katanya " (kata Desta lagi)
Kakaknya Almaira memang telah berhijrah ke jalan yang lebih baik, bahkan saat menikah dengan suaminya kakaknya tersebut tidak berpacaran tetapi meraka berdua melakukan prosesi ta'aruf selama beberapa bulan.
" terus? " (kata Randito)
__ADS_1
" mba Alma nanya kapan ikatan Dinas Desta berakhir terus boleh nikah, kan ini memang udah mau berakhir tinggal beberapa bulan lagi " (kata Desta)
" jadi kamu serius gak sama Huma? " (kata Randito)
" serius lah yah, lagian Desta udah lama naksir Huma dari jaman sekolah SMA " (kata Desta tersenyum sambil menggaruk kepalanya)
" jadi gimana? " (kata Randito)
" ya gimana ya yah Desta juga bingung " (kata Desta)
" bingung gimana? " (kata Randito)
" Desta mau banget yah nikah sama Huma, tapi kaya apa dong kalo Huma nya belum siap, apa lagi Huma baru lulus sekolah, baru mau 17 tahun " (kata Desta)
Desta memang sudah sangat siap untuk menikah dengan Humaira seandainya Humaira mau menikah dengannya, tetapi ia tau jika Humaira belum siap untuk menikah dengannya.
" nanti ayah omongin sama papinya Huma gimana baiknya, tapi kamu beneran serius kan sama Huma " (kata Randito menepuk bahu anaknya)
" ya allah yah beneran Desta serius sama Huma " (kata Desta)
Desta benar-benar sangat serius dengan hubungannya bersama Humaira, ia berharap jika ia akan berjodoh dengan Humaira.
# Abdul Zayn Mikail
Ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan memakai baju kaos oblong & celana kolor, rambutnya masih sangat basah sehingga ia mengeringkan kepalanya dengan menggosoknya dengan handuk, Zayn berjalan kearah Rindu yang sepertinya baru saja menangis, matanya sembab & merah, Zayn khawatir dengan Rindu, ia lantas duduk di sebelah Rindu & mengelus kepalanya.
" kamu kenapa hem? " (kata Zayn bertanya)
Rindu hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab & kembali menitikan air matanya lagi, karena panik Zayn memeluk Rindu.
" aku ada salah ya?, kalo aku salah aku minta maaf ya?, kamu jangan nangis lagi " (kata Zayn)
" enggak, kakak gak salah justru aku yang salah sama kakak " (kata Rindu)
Zayn melepaskan pelukannya & menatap lekat istrinya, ia menghapus tetesan air mata yang membasahi pipi Rindu.
" sudah ya jangan nangis, aku gak ngerasa kalo kamu ngelakuin kesalahan kok " (kata Zayn menenangkan Rindu)
" tapi aku bukan istri yang baik kak, aku terus-terusan menghindar & mengukur waktu buat ngejalankan kewajiban ku sebagai istri " (kata Rindu)
" Astghfirulloh aku pikir kenapa kamu nangis, kamu jangan nangis ya, demi allah aku gak ngerasa kamu salah aku ngerti kalo kamu belum siap jadi kamu jangan pernah merasa bersalah ya, lagian aku kan sudah pernah bilang aku gak akan pernah maksa sampai kamu siap " (kata Zayn tersenyum)
Zayn memang tak akan pernah memaksa Rindu untuk melakukan hal yang tak bisa ia lakukan karena belum siap untuk melakukannya, bagi Zayn kali ini yang terpenting bukan masalah itu tetapi yang terpenting saat ini ia & Rindu telah menikah & akan hidup bersama selamanya.
" tapi kakak beneran gak papa, aku takut dosa " (kata Rindu lagi sambil menangis kembali)
" cup...cup...sudah ya jangan nangis, kalo kamu nangis terus malah aku nanti yang dosa udah bikin kamu nangis " (kata Zayn)
" tapi aku nangis kan bukan karna kakak " (kata Rindu)
" tapi kamu nangis karna takut dosa gara-gara gak bisa layanin aku kan, sama aja aku yang bikin nangis kamu sayang, kamu mau aku berdosa gara-gara kamu nangis gak diem-diem kaya gini? " (kata Zayn)
" tapi aku gak maksud bikin kakak berdosa loh " (kata Rindu)
" kalo gitu jangan nangis lagi ok " (kata Zayn tersenyum sambil memeluk istrinya kembali)
Zayn berhasil membujuk Rindu agar berhenti menangis, ia mengelus rambut Rindu sambil terus memeluknya.
" kamu itu kalo nangis jelek tau " (kata Zayn tertawa)
" emang aku jelek " (kata Rindu)
" enggak dong, istri aku itu cantik cuman kalo nangis jelek kaya anak kecil " (kata Zayn tersenyum)
" gombal " (kata Rindu)
" astaga serius sayang, beneran deh kamu itu cantik, apa lagi kalo senyum " (kata Zayn mulai mencairkan suasana)
" jadi aku harus senyum terus gitu biar keliatan cantik " (kata Rindu)
" iya lah, tapi senyumnya cuman buat aku ya gak buat yang laen " (kata Zayn)
" ya kali kak mau senyum sama orang apa lagi kalo gak dikenal, tar kalo aku senyum-senyum sama orang yang gak aku kenal dikira aku gila lagi " (kata Rindu)
__ADS_1
" iya aja kalo dikira orang gila, lagian mana mungkin orang bisa mikir istri aku yang cantik ini gila, yang ada orang bisa tergila-gila sudah disenyumin kamu & aku gak mau itu ya " (kata Zayn)
Zayn pun juga telah dibuat tergila-gila dengan istrinya saat ini, ia begitu mencintai Rindu sampai seperti orang gila.