
Zayn tersenyum melihat istrinya yang hanya tertunduk malu sambil menyuapkan makanan yang sudah ada di piring makannya, semua ini karena ia tadi keluar dari kamar dengan hanya mengenakan seragam pilot milik Zayn.
" sayang makanannya gak enak ya? " (tanya Zayn)
" emmmm, enak kok kak " (kata Rindu menjawab)
" terus kenapa makannya kaya gak nafsu gitu? " (katanya Zayn lagi), " kamu gak lagi sakit kan? " (kata Zayn mulai bertanya lagi)
Istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum & melihat kearahnya, Zayn lalu melihat kearah Gibran yang saat ini hanya tersenyum dambik menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
Ia mulai menginjak kaki Gibran sambil melotot memberi kode kepada Gibran agar tak membayangkan yang tidak-tidak tentang istrinya, ia yakin Gibran juga sempat melihat penampilan Rindu saat keluar dari kamar tadi.
Sepupunya tersebut malah cengengesan sambil menahan sakit dikakinya karena ia injak, Zayn hanya menggelengkan kepalanya karena sepupunya tersebut tak takut dengan gertakannya saat ini.
" apa sih lo bedua kak, pandang-pandangan, yang satu cengengesan yang satunya muka asem " (tegur Humaira yang melihat kedua kakaknya bertingkah aneh)
Zayn melihat kearah Humaira dengan wajah yang masih serius, ia tak ingin adiknya tau jika ia baru saja menginjak kaki Gibran karena tak suka melihat Gibran tersenyum sambil menggelengkan kepalanya seolah sedang memikirkan istrinya tadi. Adiknya tersebut melihat kearahnya & kearah Gibran bergantian dengan tatapan curiganya.
" kenapa ye, udah makan situ cepet, terus kalian balik ke kampus sana tar telat " (kata Zayn lagi berkilah)
" waduh roman-romannya ngusir nih, hmmmmm " (kata Gibran sambil berdehem & tersenyum)
Sontak Zayn menyenggol kaki Gibran dengan kakinya, kali ini ia tak menginjak kaki Gibran karena tak ingin menjadi bahan perhatian adiknya kembali, saat Gibran menoleh kearahnya ia kembali memelototkan matanya untuk memperingati Gibran tapi lagi-lagi Gibran malah tersenyum malah hampir tertawa karena sikapnya.
Jika saja bukan adik sepupunya mungkin saat ini Zayn telah murka semurka-murkanya karena tingkah Gibran yang seolah sengaja memancing amarahnya, ia membuang nafas kasarnya mengingat jika memang adik sepupunya ini suka iseng dengan siapapun.
" udah tatap-tatapannya?, kalo belum Huma sama kak Rindu mau pindah makan aja di ruang tamu, yuk kak " (kata Humaira sambil mengajak Rindu meninggalkan Zayn & Gibran)
" eeiitssss, mau kemana?, makan pindah-pindah, pamali tau " (kata Zayn), " duduk balik ah " (kata Zayn lagi memerintah)
Ia melihat kearah istrinya & adiknya yang saat ini telah berdiri seolah akan benar-benar pindah keruang tamu sambil membawa piringnya masing-masing.
" kalian kenapa sih tumben gak keliatan akur? gitu, bentar-bentar tatap-tatapan, bentar-bentar tatap-tatapan " (kata Humaira)
Mendengar pertanyaan Humaira ia sontak merangkul Gibran sambil tersenyum kerah adiknya & menepuk-nepuk lengan Gibran dengan satu tangannya, ia berakting agar adiknya tak berpikir jika ia sedang agak sebal dengan Gibran.
" siapa bilang gak akur, ya kan Gib? " (kata Zayn bertanya sambil menyenggol-nyenggol Gibran untuk memberi kode agar ia tak berkata yang aneh-aneh lagi)
Sepupunya tersebut hanya mengangguk sambil ikut tertawa, mengikuti tawanya, dilihatnya adiknya serta istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kearah mereka berdua, setelah tak dilihat oleh keduanya Zayn lalu melepaskan rangkulannya.
Setelah menghabiskan makanan adiknya serta istrinya pun bangkit dari tempat duduk menuju arah dapur untuk mencuci piring kotor mereka, Zayn menyanggah kepalanya dengan dua tangannya sambil terus tersenyum kearah istrinya.
# Aryan Gibran Alaric
Melihat kakak sepupunya seperti ini Gibran hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, Zayn seperti orang yang baru jatuh cinta, tingkat ke bucinan yang di alami Zayn saat ini cukup tinggi bagaikan remaja yang baru mengalami jatuh cinta.
Gibran terus memperhatikan Zayn yang terus tersenyum menatap arah istrinya yang saat ini sedang mencuci piring bersama dengan Humaira, ia sering jatuh cinta tapi ia tak pernah sampai seperti Zayn pikirnya.
" bang " (kata Gibran)
" hemmm " (jawab Zayn)
" bang " (katanya sekali lagi memanggil Zayn)
" hemmm " (kata Zayn menjawab masih sama)
Reflek Gibran menepuk jidatnya karena mata kakaknya masih terus fokus kearah istrinya & tak mengindahkannya. Ia berpikir apakah yang dialami oleh Zayn ini dialami orang lain juga yang baru menikah, mengingat kakaknya tak pernah memiliki pacar lagi sejak lulus SMA & masuk sekolah pilotnya lalu setelah itu ia sibuk bekerja & pada akhirnya saat ini menikah.
" bang " (panggil Gibran sekali lagi)
" apa sih Gib? " (tanya Zayn yang sudah melihat kearahnya)
Melihat Zayn dengan ekspresi agak marah Gibran hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia tau jika saat ini ia mengganggu kesenangan Zayn yang sedari tadi hanya memandangi istrinya.
" apa? " (tanya Zayn lagi)
__ADS_1
" hehehe, lo ngapain sih ngeliatin bini lo ampe segitu banget?, kaya yang lama gak pernah ketemu aja, baru juga semalem gak ketemu " (kata Gibran sambil terus meringis)
" ya elah ganggu kesenangan gue aja lo Gib, kirain mau nanyain apaan " (kata Zayn Zambil menggelengkan kepalanya lagi)
" emang apa si enaknya nikah bang?, gue ngeliat lo aneh tau jadinya, lo yang gue kenal gak kaya gini deh setau gue, atau otak lo geser ya? " (kata Gibran bertanya lagi)
Kakaknya menoleh kearahnya dengan wajah berbinar-binar tak seperti beberapa saat lalu, senyumnya tersungging lebar memancarkan kebahagiaannya saat ini.
" kambing lo, enak aja ngatain otak gue geser " (kata Zayn), " lo nanya apa enaknya? " (kata Zayn mengulang pertanyaan Gibran sambil tersenyum)
Gibran memanggutkan kepalanya sambil terus serius menatap kearah Zayn yang memalingkan wajahnya kearah lain masih tetap tersenyum, Gibran sudah penasaran dengan jawaban yang akan di lontarkan oleh Zayn saat ini.
" gak bisa di ungkapkan sama kata-kata Gib, yang jelas enak banget, suer gue beneran, gak boong, nikmatnya luar dalem " (kata Zayn dengan Ekspresinya)
" maksud lo nikmat luar dalem apa sih?, jangan ambigu ya tar gue mikir ngeres nih " (kata Gibran)
" anjimc otak sampah lo, eh tapi buat yang kali ini lo boleh lah mikir kotor " (kata Zayn tersenyum)
Gibran berpikir apakah kenikmatan yang dialami oleh Zayn saat ini hanya kenikmatan diatas ranjangnya & tak ada lagi kenikmatan lainnya, ia kembali menggelengkan kepalanya karena berpikir yang tidak-tidak.
" nikmat luar dalem lo cuman yang di atas ranjang bang? " (kata Gibran lagi bertanya masih tak puas dengan jawaban Zayn)
" apa sih ranjang lo bawa-bawa, emang kebutuhan suami istri cuman di atas ranjang aja, ya gak lah, eh tapi ada benernya juga sih " (kata Zayn menggaruk-garuk kepalanya)
Gibran lagi-lagi menepuk jidatnya reflek mendengar kata-kata Zayn yang terasa pin plan baginya, entah sejak kapan kakaknya tersebut menjadi se pin plan seperti saat ini.
" eh sini dulu lo Gib " (kata Zayn mengajak Gibran menuju ruang tamu)
" apaan? " (kata Gibran)
" sini " (kata Zayn sambil menarik tangan Gibran)
Gibran lalu berjalan mengikuti kearah kemana Zayn pergi karena lengannya di tarik oleh Zayn kearah ruang tamu. Dilihatnya Zayn sesekali celingukan melihat istrinya yang masih di dapur bersama Humaira.
" liat lah, emang lo pikir bini lo hantu apa?, keluar dari kamar yap gue gak liat " (kata Gibran)
" brengs*k lo, jadi lo liat bini gue pake baju gue tadi pas keluar? " (kata Zayn bertanya lagi)
" oh yang itu, hehehe " (kata Gibran sambil menggaruk kepalanya)
Ia hanya cengengesan mendengar pertanyaan kakaknya yang barusan, ia memang melihat Rindu saat keluar dari kamar dengan menggunakan seragam kerja kakaknya tersebut
" jadi lo liat? " (kata Zayn lagi memastikan)
" hehehe, iya bang, eh tapi bentaran aja kok gue liatnya, gak lama " (kata Gibran membela diri agar Zayn tak marah padanya)
" lama bentar sama aja oon, awas lo bayangin yang macem-macem soal bini gue " (kata Zayn yang mengancam)
" ya elah bang ngapain sih gue ngebayangin bini lo, yang suka ada-ada aja deh, eh tapi ngomong-ngomong bang berapa ronde tadi?, hahahahaha " (kata Gibran sambil tertawa lagi
" hahahah, asem lo Gib " (kata Zayn ikut tertawa)
" menang banyaka kayanya lo bang, bini lo ampe pules banget tidurnya, hahaha " (kata Gibran)
" stttt, ah lo mah bahas-bahas ranjang gue, tar bini gue denger ngambek lagi, berabe gue bisa tidur diluar " (kata Zayn)
" serius?, emang lo udah pernah di kunciin di luar? " (kata Gibran bertanya)
" belum pernah sih " (kata Zayn sambil meringis & menggaruk-garuk kepalanya)
" ah gue kira udah pernah, gak seru banget, lucu banget ya lo kalo tiba-tiba di kunciin Rindu di suruh tidur diluar padahal lo lagi pengen-pengennya, ****** dah lo, hahahahah " (kata Gibran sambil tertawa kembali)
" kampret, nyumpahin gue lo? " (kata Gibran sambil melempar bantal kepada Gibran)
" gak bang, gak nyumpahin cuman berharap aja " (kata Gibran)
__ADS_1
Gibran tak mampu menahan tawanya hingga terpingkal-pingkal membayangkan kakak sepupunya tersebut yang sedang di kunci istrinya & tak boleh masuk ke kamar.
# Humaira Shakila Najma
Melihat dua pria dewasa yang saat ini sedang bercengkrama sambil tertawa akrab Humaira menggeleng-gelengkan kepalanya, beberapa saat lalu Zayn & Gibran terlihat tak akur tetapi saat ini mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersama. Humaira melihat kearah kakak iparnya & menggandengnya menuju kearah ruang tamu untuk menghampiri Zayn & Gibran yang saat ini duduk berhadapan.
" kak Rindu balik kampus gak? " (kata Humaira bertanya)
" maunya sih balik dek " (kata Rindu)
" kok gitu? " (kata Humaira bertanya)
" ya aku sih tergantung kak Zayn dek, kalo di bolehin ya balik " (kata Rindu melihat kearah Zayn)
Humaira melihat kearah Zayn yang saat ini hanya bengong melihat kearahnya, ia yakin jika terjadi sesuatu sebelumnya diantara mereka berdua sehingga Zayn tak mengijinkan kakak iparnya untuk kembali ke kampus.
" emang lo kenapa kak gak ijinin kak Rindu balik kampus?, gua aduin ke mami papi lo " (kata Humaira)
Kakaknya hanya menggelengkan kepalanya melihat kearahnya, Humaira tau kakaknya tersebut memang tipe pengekang, bahkan terhadap Humaira kakaknya tersebut juga sama begitu. Ia masih terus melihat kearah Zayn menunggu jawaban darinya mengapa tak mengijinkan Rindu untuk kekampus.
" roknya udah gak layak pake dek " (kata Zayn menatap malas)
" gak layak, gak layak gimana kak?, perasaan rok kak Rindu tadi bagus-bagus aja sih " (kata Humaira menjawab)
" bagus gimana?, rok kecil gitu pantesnya di pake anak kecil, anak kecil juga gue yakin mah gak mau make rok begitu " (kata Zayn)
" hah, anak kecil gimana sih?, parah ah lo " (kata Humaira)
Ia menggelengkan kepalanya kembali karena baginya Zayn sangat tak masuk akal, padahal merata mahasiswi di kampus menggunakan bawahan rok yang mini seperti yang di pakai oleh Rindu termaksud dirinya.
" emang cewek-cewek di kampus mau pamer paha ya bukan nuntut ilmu, lo juga tuh, apa-apaan pamer paha kaya gitu, gak faedah banget " (kata Zayn), " kalo cowok berpikiran yang enggak-enggak jangan salah kan cowok, karna kalian yang memang mengundang cowok buat berpikiran enggak-enggak dengan pake rok mini gitu " (kata Zayn lagi panjang lebar sambil menyilangkan tangannya)
Humaira lantas menarik-narik roknya agak turun sambil meringis karena pada akhirnya ia jadi terkena imbasnya juga, Humaira tak berani berdebat dengan kakaknya sedikitpun, bagaimanapun yang dikatakan kakaknya tersebut memang ada benarnya.
" marahin aja Huma tuh bang, pake rok pendek gitu, mana kadang suka kecentilan lagi di kampus, TP-TP sama cowok-cowok, senyum kecentilan " (kat Gibran ikut memanas-manasi Zayn)
" gosok terus kak, biar makin panas, sape keluar asap sama api dari mata ama mulut " (kata Humaira pada Gibran)
" beneran lo dek kecentilan di kampus lo? " (kata Zayn bertanya)
Zayn bertanya sambil melihat kearahnya, sontak ia hanya menepuk jidatnya reflek karena pertanyaan Zayn, kakaknya saat ini percaya dengan kata-kata Gibran padahal ia sama sekali tak pernah kecentilan dengan pria manapun di kampusnya.
" enggak kak sumpah, lagian sejak kapan sih gue centil? " (kata Humaira pada Zayn), " asem lo kak Gibran, fitnah amat sih " (kata Humaira pada Gibran sambil menyilangkan tangannya)
" hahahahahahah, emang sih " (kata Gibran tertawa)
" jahat mulut lo kak pengen gue cabein rasanya " (kata Humaira)
" enak aja mau cabein mulut gue, parah lo " (kata Gibran)
" hahahah lo si kompor, gemes gue " (kata Humaira pada Gibran), " jangan percaya kak, tuh kak Gibran tuh fitnah " (kata Humaira kepada Zayn)
" awas lo dek sampe beneran kecentilan " (kata Zayn memperingatkan Humaira)
Kakaknya saat ini termakan gosip Gibran, ia mendengus mengeluarkan nafas kasarnya, lalu kembali lagi melihat kearah Zayn.
" is kakak nih ngancem-ngancem gitu, gak percayaan amat ama gue, gue tuh beneran tau gak boong, lo percaya ama kak Gibran berati tuhan lo dua " (kata Humaira)
" kok gitu? " (kata Gibran bertanya)
" iya soalnya lo kan pengikutnya dajjal, hahahahah " (kata Humaira sambil tertawa)
" hahahahah, seta*n enak aja lo ngatain gue pengikutnya dajjal, amit-amit nauzubillah " (kata Gibran)
Humaira ikut tertawa mendengarkan kata-kata Gibran begitu juga dengan kakaknya serta kakak iparnya yang sedari tadi hanya diam tak banyak bicara seperti biasa.
__ADS_1