
Mereka berdua hanya saling pandang, Zayn merasakan kecanggungan diantara mereka setelah menerima perjodohan yang telah ayahnya rencanakan bersama sahabatnya yaitu ayah dari Rindu.
" kak Zayn " (kata Rindu masih menyodorkan kunci dihadapannya)
Zayn tersadar dari pikirannya sendiri lalu mengambil kunci yang telah dijatuhkannya dari tangan Rindu tanpa mengucapkan sepatah katapun, mungkin dirinya tak menyadari menjatuhkan kunci mobil tersebut saat berjalan mencari Rindu, inilah yang di namakan takdir, saat ia berusaha menemui Rindu tanpa menghubungi Rindu justru ia bertemu dengan Rindu dengan cara yang tak terduga.
" permisi kak, aku harus balik ke kosan " (kata Rindu berpamitan lalu berbalik)
" ayo " (kata Zayn sambil mengambil alih koper yang Rindu bawa)
Sejenak mereka berdua saling pandang kembali, Rindu seolah terkejut saat Zayn mengambil alih kopernya, Zayn tak perduli dengan apa yang dipikirkan Rindu saat ini kepada Zayn.
" Rindu " (kata seorang wanita dari kejauhan)
Tiba-tiba suara panggilan seseorang membuatnya menoleh kearah si empunya suara, Zayn membulatkan matanya melihat seorang Jiyara Zulfa Kirana wanita yang berhasil sedikit mencuri hatinya.
" Jiya " (kata Rindu tersenyum)
Zayn hanya terpaku terdiam ditempatnya melihat dua gadis dihadapannya saling sapa & saling berpelukan seolah-olah kehadirannya tak dihiraukan, Zayn berusaha menyadarkan mereka berdua karena merasa terabaikan.
" ehem " (kata Zayn berdehem)
Zayn berhasil membuat kedua wanita yang berada dihadapannya ini melihat kearahnya, sementara itu Zayn hanya memalingkan wajahnya kearah lain, tak ingin kedua wanita ini berpikir jika ia sedang mencari perhatian.
" Rindu, kamu bareng dia? " (kata Jiya)
" enggak, kenapa? " (kata Rindu)
" ya terus kok bisa barengan disini? (kata Jiya)
Zayn kembali menatap kearah kedua wanita yang hanya bisa saling memandang karena bingung dengan kehadirannya, Zayn sedari tadi memang belum menjelaskan kepada Rindu maksud & tujuan mengapa dirinya berada disini.
" hemmmm " (kata Zayn lagi)
Zayn berdehem kembali yang berhasil membuat kedua wanita tersebut kembali menatap kearahnya, Zayn merasa tak tahan melihat ekspresi dua wanita yang berada didekatnya serasa ingin tertawa terbahak-bahak.
" apa sih, ham...Hem...Mulu " (kata Jiya dengan memasang muka agak kesal)
" Jiya " (kata Rindu menyenggol tangan Jiya)
Zayn tersenyum mendengar kata-kata Jiya yang begitu berani dengannya, hanya seorang Jiyara Zulfa Kirana yang bisa seberani itu dengannya padahal dirinya adalah idola para kaum hawa, Zayn kembali menatap kearah dua wanita dihadapannya secara bergantian.
" apa? " (kata Jiya masih dengan nada nyolotnya)
" Jiya, kak Zayn kan kerja disini jadi wajar lah kalo bisa ketemu disini " (kata Rindu)
Jiya menatap kearah Zayn seolah-olah masih tak percaya dengan yang dikatakan Rindu, Zayn memalingkan wajahnya berusaha tak bertatap muka dengan Jiya.
" ada masalah kalo gue ada disini?, lagian Lo denger kan kata Rindu kalo gue kerja disini " (kata Zayn tersenyum menyeringai)
" iya aku tau kalo ini tempat kakak kerja, lagian itu seragam yang kakak pake juga udah nunjukin kalo kakak pilot disini, cuman itu koper Rindu bisa kakak yang bawa, gimana aku gak mikir kakak bareng Rindu " (kata Jiya sinis pada Zayn), "huft, gak nyangka deh sama idolanya kaum hawa kenapa se Oneng ini sih " (kata Jiya menyilang kan tangannya)
Zayn tersenyum kembali sambil menundukkan kepalanya, benar saja Jiya berpikir seperti itu karena koper milik Rindu memang sedari tadi sudah berpindah ditangannya. Rindu menatap kearahnya lalu mengambil alih kembali koper miliknya dari tangan Zayn, Zayn kembali lagi mengambil koper tersebut dari tangan Rindu & melenggang pergi.
# Rindu Mentari
Ia & Jiya saling adu pandang, Rindu tau pasti saat ini Jiya mempunyai banyak pertanyaan kepadanya tetapi pertanyaan tersebut tak ia sampaikan karena terkejut dengan Zayn yang tiba-tiba meninggalkan mereka berdua dengan membawa koper miliknya, Rindu akhirnya menarik Jiya untuk ikut dengannya mengejar Zayn yang sudah lumayan jauh darinya.
" kak Zayn tunggu " (kata Rindu)
Dengan setengah berlari ia berusaha mendekati Zayn, meskipun mereka berdua saat ini telah dijodohkan Rindu tidak ingin Zayn bersikap seolah ia perduli dengannya seperti ini. Setelah berhasil mengejar Zayn ia menarik tangan Zayn supaya menghentikan langkahnya, Zayn pun menghentikan langkahnya & melihat kearahnya.
" kak koper aku tolong balikin, aku mau balik " (kata Rindu)
" udah biar gue yang bawa, Lo mau balik gue Yang antar " (kata Zayn)
" gak usah kak, aku balik bareng Jiya aja " (kata Rindu menatap kearah Jiya)
Rindu tak ingin merepotkan Zayn karena harus mengantarkannya, terlebih lagi ia tak ingin Jiya tau jika ia & Zayn saat ini sudah di jodohkan.
" aku bareng Jiya aja kak, kebetulan kita satu kosan kok " (kata Rindu)
Rindu tersenyum kepada Zayn untuk menghilangkan sedikit kecanggungan diantara mereka, ia berharap jika Zayn berhenti melakukan hal-hal yang membuat dirinya sendiri terpaksa seperti saat ini.
" kak tolong ya tuh kopernya balikin, yang punya koper gak mau balik bareng kakak jadi jangan maksa deh " (kata Jiya)
" maksa? " (kata Zayn kaget dengan kata-kata Jiya)
Rindu menatap kearah teman baiknya tersebut, ia refleks menepuk jidatnya, begitu lah Jiya meskipun terkadang ia bersikap ketus kepada seseorang padahal aslinya Jiya adalah wanita yang sangat baik.
__ADS_1
" Jiy tenang, jangan emosi gitu ah, aku kenal kak Zayn kok dia bukan mau nyulik aku lagian dia gak maksa-maksa aku sih " (kata Rindu sambil tersenyum)
" ya terus apa namanya main bawa kabur koper orang gitu, mau nyolong? " (kata Jiya)
" nyolong? " (kata Zayn lagi terkejut)
Rindu kembali lagi menepuk jidatnya karena teman baiknya ini telah jauh salah faham kepada Zayn gara-gara dirinya.
" Hem,... sorry Lo kayanya terlalu banyak ngomong deh dari tadi, Lo bilang gue maksa terus bilang gue nyolong, Lo gak mikir bilangin gue begitu, Lo tau siapa gue? " (kata Zayn)
" tau " (kata Jiya mengangguk), " kapten pilot idola kaum hawa + emak-emak seantero jagat raya terkecuali gue " (kata Jiya)
" gue? " (kata Zayn terkejut)
" Jiya... Jiya....aku mohon stop " (kata Rindu menghentikan Jiya agar tak bersikap kurang ajar dengan Zayn)
Jiya membuat mata-mata memandang kearah mereka bertiga & menjadi pusat perhatian, bahkan sekarang justru Jiya bersikap tak hormat dengan Zayn yang notabenenya lebih tua dari mereka dengan berkata "gue" . Selama berkuliah di jurusan pariwisata memang mereka di ajarkan untuk bersikap ramah belajar dari bahasa sehari-hari dengan membiasakan bahasa mereka yang biasanya menggunakan bahasa gaul anak milenial diganti menjadi saya atau aku itulah sebabnya Rindu & Jiya kerap menggunakan aku kamu jika berkata dengan orang yang lebih tua atau teman sesama jurusannya.
" Hem,...gue disuruh bokap buat jemput Lo jadi tolong Lo ikut gue dari pada tar Lo ada apa-apa gue yang disalahin " (kata Zayn kepada Rindu), " oh iya, temen Lo kalo mau ikut juga boleh kok " (kata Zayn tersenyum. lalu berjalan kembali)
Lagi-lagi Zayn meninggalkan dirinya dengan Jiya kembali, Jiya menatap geram entah apa yang membuat Jiya semarah ini.
" ih gila ya tuh orang, malah senyum gitu, bikin enek " (kata Jiya)
" sudah deh Jiy jangan kaya gitu sama kak Zayn, kenapa sih sinis banget sama kak Zayn, kaya ada aja salah sama kamu dia " (kata Rindu), " ya udah deh mending kamu juga ikut aku ya sama kak Zayn " (kata Rindu)
" ogah, aku duluan ya " (kata Jiya)
" no,...ayo " (kata Rindu menarik Jiya)
" aaaa,... enggak, gak mau, kenapa sekarang jadi kamu sih yang maksa aku " (kata Jiya)
Rindu tak mempedulikan Jiya yang tak ingin ikut dengan dirinya justru Rindu terus menerus menarik Jiya sambil tersenyum.
# Abdul Zayn Mikail
Saat ini ia telah berada didalam mobil yang ia bawa tadi bersama dengan dua wanita yang pastinya Rindu & Jiya, mobil segera melaju menjauh dari bandara, ia masih setia dikemudinya sambil sesekali melihat kearah Jiya dari arah kaca spion, terlihat Jiya cemberut seakan tak suka dengan kehadirannya, Zayn melemparkan senyumnya kearah luar jendela, sebegitu menariknya Jiya pikirnya.
" kak ini salah jalan Loh kak " (kata Rindu)
Zayn menoleh kearah Rindu yang mengatakan salah arah, memang Zayn belum tau dimana Rindu tinggal di kota C tetapi ia sengaja membawa Rindu ke rumah pamannya terlebih dahulu untuk mengajak Gibran & Faiz Agara menemaninya sekaligus agar mengantarkannya pulang ke hotel tempat ia menginap.
Rindu hanya mengangguk & tersenyum kearahnya, tak menunggu lama mobil yang ia kendarai telah berada dipekarangan rumah Gibran setelah security membukakan pintu pagarnya.
" mau ikut masuk gak? " (kata Zayn)
" lama gak kak? " (kata Rindu)
" gak sih, cuman mau manggil Gibran sama Faiz aja " (kata Zayn)
" tunggu disini aja deh kak " (kata Rindu)
Zayn lalu keluar dari mobil masuk kedalam rumah Gibran, setelah berada didalam ia segera mengajak Faiz & Gibran, tak lupa ia berpamitan kepada paman & tantenya untuk kembali ke hotel setelah mengantar Rindu & Jiya.
" lah Rindu nya mana Zayn? " (kata Widia)
" diluar aunty " (kata Zayn)
" kok gak dibawa masuk sih? " (kata Widia)
" sama temennya dia aunty, ya udah ya aunty Zayn jalan dulu terus langsung balik ke hotel nanti " (kata Zayn)
" hati-hati ya kalian " (kata Bara)
" ok uncle " (Faiz)
" Dadd...mom.. Gibran jalan dulu ya " (kata Gibran)
Mereka bertiga pun melenggang keluar dari rumah, terlihat Rindu yang sudah berada diluar berjalan menghampiri orang tua Gibran.
" hallo om...Tante " (kata rindu menyalami Bara & Widia)
Ibu rindu memang bersahabat baik dengan tantenya tersebut itulah yang membuat Rindu juga akrab kepada ibunya Gibran.
" aduh cantiknya ya sekarang Rindu " (kata Widia)
" makasi Tante " (kata Rindu)
" sering-sering mampir ke sini ya mulai sekarang, apalagi kalo ada Zayn " (kata Widia)
__ADS_1
" iya Zayn kalo kamu ada rute di sini ajak sering-sering Rindu ke rumah " (kata Bara)
Zayn hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tak ingin menjawab apa-apa karena tak enak dengan Rindu takut jika Rindu akan salah faham.
" ya udah sana gih nanti keburu kemaleman " (kata Widia)
Merekapun berjalan menuju arah mobil, disana sudah ada Jiya masih tetap duduk ditempatnya tadi tak bergerak sama sekali.
" gue aja yang bawa mobil bang " (kata Gibran)
" Hem, gue baru tau ini ada satu lagi cewek didalam " (kata Faiz)
" aih mulai, buaya " (kata Gibran)
" asem Lo Gib, gak liat gue lagi usaha " (kata Faiz)
Tanpa berbasa-basi Zayn lalu masuk kedalam mobil disebelah Gibran tepat disebelah kemudi, sedang Faiz saat ini duduk diantara Rindu & Jiya, entah trik apa lagi yang akan dilakukan oleh Faiz untuk menggoda dua wanita yang berada diantaranya.
" Hem kenalin gue Faiz " (kata Faiz kepada Jiya & Rindu)
" Rindu " (kata Rindu)
" Jiya " (kata Jiya)
" hati-hati Rindu, tuh Abang sepupu gue bisa makan orang loh, hahahah " (kata Gibran)
" kampret Lo pikir gue kanibal " (kata Faiz)
" hahahahah " (kata Gibran tertawa)
Sementara Zayn masih tetap diam membisu sambil sesekali memperhatikan Jiya, bagi Zayn Jiya sangat unik, pemarah tapi tetap setia kawan, bahkan saat ini ia berada di mobil karena menemani Rindu meskipun Jiya terlihat tak suka dengan Zayn, bahkan Zayn tak tau apa penyebabnya.
" Rindu, ini ngomong-ngomong dimana ni tempat kos Lo? " (kata Gibran)
" di Jalan Permata nomer 26, belok kanan dari simpang tiga " (kata Rindu)
" kos-kosan Buana ya, kos-kosan yang khusus cewek semua kan? " (kata Gibran)
" iya " (kata Rindu)
" lah Lo ngekos disitu, jangan-jangan Lo satu kampus sama gue tapi gue gak tau " (kata Gibran)
" emang kamu di UGM? " (kata Rindu)
" iya lah, jangan bilang Lo juga? " (kata Gibran)
" iya aku UGM juga " (kata Rindu)
" astaga kenapa kita gak pernah ketemu ya, gila " (kata Gibran)
" ya lagian ngapain ketemu sama Lo curut " (kata Faiz)
" hahahah, ya kali aja ada yang bisa gue gebet kak, soalnya anak pariwisata terkenal cantik-cantik Lo " (kata Gibran)
" modus lo, ngomong aja Lo mau ngegombal Rindu Ama Jiya " (kata Faiz)
" hahahahahh usaha masa gak boleh sih " (kata Gibran)
Perbincangan yang panjang disela perjalanan mereka menuju tempat tinggal rindu & Jiya, setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga di kos-kosan tempat Rindu & Jiya tinggal, setelah berpamitan akhirnya mereka melaju menuju hotel tempat Zayn menginap.
" ternyata calon Lo lebih cantik aslinya ya Zayn, gak nyangka gue " (kata Faiz)
" Lo mah semua cewek Lo bilang cantik bang " (kata Gibran)
" hahahah, tapi Rindu emang cantik kok, menurut Lo gimana Gib? " (kata Faiz)
" emm, gue akui bener omongan Lo " (kata Gibran), " gimana bang?, masa Lo gak naksir sih sama Rindu? " (kata Gibran kepada Zayn)
" walaupun gue gak naksir sama dia tetep aja dia bakal jadi istri gue, jadi gak ada gunanya gue mikirin gue naksir atau gak sama Rindu " (kata Zayn)
" weisss sadap, santai bro, santuy Lo tenang aja tar juga Lo bisa cinta sama dia, woles men " (kata Faiz)
" dalem banget omongan Lo bang, kalo gue jadi Lo dijodohin sama cewek secantik Rindu bakal sujud syukur gue " (kata Gibran)
" alah Lo mah lambat aja ditawar Gib " (kata Faiz)
" hahahahahah " (kata Gibran tertawa)
Zayn tak mood untuk membahas perihal Rindu saat ini meskipun Rindu memang wanita yang cantik & baik, kedua sepupunya sangat antusias membahas tentang Rindu tetapi Zayn malah fokus memikirkan Jiya satu-satunya wanita yang mengatakan secara terang-terangan tak menyukainya.
__ADS_1