
Zayn siang ini mendapatkan telpon dari teman pilotnya yang meminta tolong untuk menggantikan dirinya di penerbangan rute kota D sore nanti & harus stay di kota D, mau tak mau ia harus menolong temannya untuk menggantikan pekerjaan teman pilotnya karena teman pilotnya menuturkan jika ia sedang tertimpa musibah, orangtuanya sedang masuk rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sebagai sesama rekan pilot Zayn harus mau saling membantu meskipun seharusnya ia masih libur hari ini, waktu istirahatnya berkurang satu hari demi membantu teman seprofesinya, apa lagi ia mengingat ia juga masih memiliki orang tua, ia sangat mengerti bagaimana perasaan sedih teman pilotnya saat ini.
Ia tengah bersiap-siap menggunakan seragamnya dengan di bantu oleh Rindu, tak lupa istrinya menyiapkan setelan baju serta celana tidur untuknya untuk ia gunakan saat sampai di kota D malam nanti saat berada di hotel.
" sayang kamu beneran gak mau ikut nih, kalo kamu ikut aku bisa booking tiket pesawat buat kamu " (kata Zayn)
Ia tak ingin meninggalkan istrinya saat ini mengingat baru kemaren mereka sampai di kota C & ia harus kembali lagi menerbangkan pesawat untuk menggantikan temannya.
" gak ah kak, besok aku ada mata kuliah pagi, kak Zayn berangkat aja sendiri ya " (kata Rindu)
" ya udah deh tar aku suruh Huma temenin kamu di sini atau enggak kamu aja nginep tempat uncle, kan kebetulan kita belum ketemu sama uncle kemaren " (kata Zayn)
" iya juga sih, aku juga udah kangen sama onty Wid " (kata Rindu)
" ya udah kalo gitu kamu siap-siap aja sekarang, jadi langsung aku anter kesana " (kata Zayn)
" ya udah aku siap-siap dulu ya, tapi kakak belum terlambat kan? " (tanya Rindu)
" belum sayang, cepet gih " (kata Zayn)
Ia menunggu istrinya untuk bersiap-siap sambil duduk di tepi ranjangnya & membenarkan dasi yang ia kenakan yang ia rasa terlalu kencang, setelah beberapa menit akhirnya istrinya keluar juga dari kamar mandi dengan & telah siap dengan pakaiannya.
" tar ya aku sisir dulu rambut aku kak " (kata Rindu sambil berjalan kearah meja rias)
Zayn berdiri & menghampiri istrinya yang masih menyisir rambutnya & memeluk erat istrinya dari arah belakang lalu mencium pipi Rindu.
" kalo kakak begini kapan aku selesainya kak " (kata Rindu tersenyum)
" gak usah dandan juga udah cantik kok " (kata Zayn manja)
" gombal, lepas dulu kak, aku mau rapiin rambut aku nih, tar keburu kakak terlambat " (kata Rindu)
Zayn lalu melepaskan pelukannya & bersender di meja rias tersenyum menatap kerah istrinya yang masih sibuk menyisir rambutnya yang tak seberapa panjang.
" kenapa sih senyum-senyum gitu?, kaya gak pernah ngeliat aku aja kak " (kata Rindu ikut tersenyum)
" emang gak boleh ya ngeliatin istri sendiri, dari pada ngeliatin istri orang dosa " (kata Zayn ngasal)
" ngawur, emang kak Zayn berani apa ngeliatin istrinya orang?, heeemmmm " (kata Rindu)
Zayn hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum melihat istrinya yang saat ini sudah berkacak pinggang seolah mengancam.
" berani gak? " (kata Rindu mengulang pertanyaannya)
" ya enggak lah, lagian ngapain aku liatin istri orang kalo istri sendiri lebih cantik " (kata Zayn menjawab)
" alah gombal " (kata Rindu berjalan menjauh dari meja rias sambil tersenyum)
" gak gombal sayang, beneran " (kata Zayn)
" awas macem-macem " (ancam Rindu masih tersenyum)
" kamu ngancemnya senyum gitu tapi aku tetep takut loh sayang, tapi percaya deh aku beneran gak bakal macem-macem kok " (kata Zayn)
" yakin? " (kata Rindu)
Zayn kembali memeluk istrinya sambil mengelus-ngelus punggung istrinya, ia sangat menyayangi istrinya, rasa sayangnya kepada Rindu melebihi rasa sayangnya kepada dirinya sendiri, setelah memeluk istrinya ia lalu melepaskan pelukannya & mencium kening istrinya.
" udah yakin belum? " (kata Zayn tersenyum)
" apaan? " (kata Rindu tersenyum)
" hahaha, ya udah yuk berangkat " (kata Zayn mengajak istrinya)
Merekapun lalu berjalan bersama kearah luar kamar menuju arah bawah, jam telah menunjukan pukul 03.00 sore, jadwal penerbangannya sekitar dua setengah jam lagi dari sekarang, pukul empat lewat ia harus segera sampai di bandara untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum penerbangannya.
Mobil menjauh dari pekarangan rumah setelah mereka berdua masuk kedalam mobil, Zayn tersenyum menatap kearah istrinya yang terus memandang ke arah luar menikmati pemandangan kota C.
" nanti aku anter kamu ke bandara ya kak? " (kata Rindu yang melihat kearah Zayn)
Zayn menoleh kearah istrinya yang sedang bertanya kepadanya, saat ini Rindu sudah mahir menyetir sendiri setelah beberapa bulan yang lalu ia menyuruh istrinya untuk kursus mengendarai mobil, saat berada di kota D istrinya kerap mengendarai mobil sendiri untuk sekedar mengantar jemput dirinya ke bandara maupun untuk pergi KKN.
" boleh, tapi kamu hati-hati ya, soalnya ini baru pertama kalinya kamu nganter aku ke bandara disini " (kata Zayn)
" iya kak tenang aja, aku pasti hati-hati kok, lagian aku kan gak pernah bawa mobil laju-laju " (kata Rindu)
Zayn mengelus kepala istrinya lembut sambil tersenyum dengan satu tangannya, istrinya lalu memegang tangannya & mencium punggung tangannya.
__ADS_1
" makasih ya kak " (kata Rindu)
" untuk? " (kata Zayn bertanya)
" makasih soalnya udah kasih cinta kakak buat aku " (kata Rindu tersenyum)
" sudah semestinya kan kamu istri aku sayang, sudah kewajiban aku buat cinta sama sayang sama kamu " (kata Zayn yang gantian mencium punggung tangan Rindu sambil tersenyum)
Memang sudah sewajarnya jika sepasang suami istrinya untuk saling mencintai & menyayangi, bahkan rasa cintanya pada istrinya akan ia terus pelihara hingga mereka sama-sama menua nantinya.
Beberapa puluh menit berkendara dari rumahnya kini mereka berdua sampai juga dipekarangan rumah pamannya yang tak lain rumah dari sepupunya Gibran juga. Setelah memarkirkan mobilnya ia & istrinya segera keluar dari mobil miliknya menuju pintu rumah tersebut. Di tekannya bel pintu rumah pamannya sambil menunggu ada yang membukakan pintu untuk mereka berdua.
" oh mas Zayn sama mbak Rindu, ayo silahkan masuk " (kata ART pamanya)
" iya bi, uncle sama onty ada bi? " (kata Zayn sambil tersenyum)
" ada mas, bentar saya panggilin dulu ya " (kata ART tersebut lagi)
Zayn hanya mengangguk & tersenyum lalu berjalan kearah sofa ruang tamu sambil terus menggandeng tangan Rindu, mereka berdua segera duduk di sofa ruang tamu tersebut.
Dilihatnya pamannya & tantenya baru saja menuruni anak tangga sambil tersenyum kearahnya ia pun membalas senyum paman & tantenya.
" udah lama bang? " (kata widia bertanya)
" belum onty, baru juga sampe " (kata Zayn menjawab)
Paman & tantenya kemudian duduk bersebelahan tepat di hadapannya & Rindu sambil terus tersenyum kearah mereka berdua.
" loh ini kamu kenapa pake baju kerja?, bukannya lagi libur ya? " (kata Bara bertanya)
" iya bukannya kamu libur bang? " (kata Widia juga)
" harusnya sih libur tapi tadi ada temen minta tolong buat gantiin dia dulu onty, orangtuanya masuk rumah sakit jadi Zayn gantiin deh, kasian soalnya, apalagi ini orangtuanya kan " (kata Zayn panjang lebar)
" iya bener juga tuh bang, lagian gak ada salahnya bang saling tolong menolong, suatu saat juga bakal ada timbal baliknya, ya bukannya mengharap balasan tapi yang namanya musibah siapa yang tau kan " (kata Bara panjang lebar)
Dianggukannya kepalanya saat ini, yang dikatakan pamannya memang ada benarnya, bukan bermaksud berharap untuk kebaikannya dibalas suatu saat nanti tetapi semua pasti akan ada timbal baliknya.
" oh iya kalian apa kabarnya?, Rindu gimana, sehat sayang? " (kata Widia bertanya)
" alhamdulillah baik & sehat onty (jawab Rindu tersenyum)
" mommy apaan sih, ya jelas aja sumringah bahagia, namanya juga penganten baru, lagi bahagia-bahagianya " (kata Bara menjawab)
" jadi inget pas kita nikah deh Dadd " (kata Widia sambil tersenyum)
Zayn ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengarkan kata-kata tantenya, saat ini ia memang sangat bahagia bersama Rindu, kebahagiaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
" mommy jadi baper ngeliatin mereka berdua deh " (kata Widia sambil memegang pipi kanan kirinya masih terus tersenyum)
" ih mommy ah lebay, baper kenapa coba? " (kata Bara)
" inget masa muda Dadd " (kata Widia menjawab)
" astaghfirullah, maaf ya anak-anak, onty kalian emang suka gitu " (kata Bara tersenyum)
" hahaha gak papa uncle, namanya juga pernah muda " (kata Zayn), " oh iya onty, uncle, boleh gak tar malam titip Rindu disini? " (kata Zayn lagi bertanya)
" ow ya jelas boleh lah, onty seneng lagian kalo Rindu mau nginep disini, biar Huma ada temennya " (kata Widia)
Zayn tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Zayn juga berpikir begitu tadinya, istrinya bisa sekamar dengan Humaira adiknya agar ada teman mengobrolnya hari ini.
" iya bener kata onty kamu Zayn, kalo ada istri kamu Huma jadi ada temen ngobrolnya, saban hari soalnya uncle liat ama Gibran berdebat mulu, sampe geleng-geleng kepala uncle ngeliatnya " (kata Bara)
" kenapa uncle? " (kata Zayn)
" ya biasa Gibran kan suka iseng sama songong " (tutur Bara)
Zayn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sikap narsis Gibran memang terkadang membuat adiknya Humaira jadi agak sewot dengan Gibran.
" ngambek-ngambek marah sayang mah mereka Dadd, namanya juga saudara " (kata Widia tersenyum)
" iya sih bener kata onty kamu Zayn, bentar ngambek, bentar baean lagi mereka, tapi anehnya marahan gak bisa lama, semenit dua menit baean, kadang ngerasa lucu kalo ngeliat mereka berdua " (kata Bara)
" hahahaha, iya onty emang " (kata Zayn tertawa)
" ini gak tau tumben belum pulang Huma sama Gibran " (kata Bara melihat jam ditangannya)
Zayn ikut melihat jam ditangannya, masih banyak waktu untuk mengobrol dengan paman serta tantenya sebelum berangkat ke bandara pikirnya.
__ADS_1
" tadi sih katanya Huma masih di dalam kelas uncle, kalo Gibran belum ada balas pesan dari Zayn " (kata Zayn)
" eh tapi itu kayaknya suara motor Desta deh " (kata Widia), " tar onty bukain pintu dulu " (kata Widia sambil berdiri)
Ia juga mendengar suara motor berhenti tepat di pekarangan rumah pamannya tersebut, ia lalu menoleh kearah pintu yang terlihat Humaira masuk dengan memeluk tantenya, Zayn tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap manja adiknya tersebut.
" assalamuallaikum " (kata Humaira memberikan salam sambil tersenyum)
" waallaikumsalam " (jawab mereka semua)
Adiknya tersebut menyalami pamanya serta dirinya & Rindu lalu memeluk Rindu & mencium pipi istri Zayn lalu memeluknya.
" ih main peluk-peluk sama cium istri kakak aja lo dek " (kata Zayn)
" apa sih, mau juga Huma cium sama peluk " (kata Humaira lalu memeluk Zayn)
Zayn yang dipeluk oleh adiknya hanya tersenyum sambil mencoba melepaskan pelukan adiknya yang serasa mencekik lehernya membuatnya tak bisa bernapas.
" dek gak bisa napas kakak ah, lepas " (kata Zayn)
" ih gitu deh mentang-mentang udah ada bini " (kata Humaira mulai melepaskan pelukannya & duduk disebelah tantenya)
Zayn menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang saat ini justru menempel dengan tantenya seperti kebiasaannya saat bermanja-manjaan dengan orang tua mereka.
" kakak mau kemana?, kok pake seragam? " (kata Humaira bertanya)
" mau kerja dek " (kata Zayn)
" bukannya libur? " (kata Humaira)
" gantiin temen " (kata Zayn singkat)
" kak Rindu tinggal kan? " (kata Humaira)
" iya dek, kakak tinggal " (kata Rindu)
" nginep sini aja kak, tar tidur di kamar Huma kita ngobrol sampe malam " (kata Humaira)
" enek aja mau ngajakin istri kakak begadang, jangan ya, kak Rindu tuh harus banyak istirahat " (kata Zayn menjawab)
" is apaan sih pelit amat, orang juga gak sering-sering kak " (kata Humaira), " ya kan kak Rindu " (kata Humaira tersenyum pada Rindu)
" iya dek " (kata Rindu yang juga tersenyum)
Ia melihat kearah adiknya lalu melihat istrinya yang saat ini juga tersenyum kearah Humaira, beberapa hari ini istrinya memang sangat kurang istirahat karena melayani dirinya sehingga ia tak ingin istrinya kurang istirahat apa lagi saat tak ada dirinya.
" udah bang, gak usah khawatir tar onty yang ngeliatin mereka berdua ya, kalo udah larut onty suruh tidur kok " (kata Widia seolah mengerti)
Zayn hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal seolah malu-malu. Setelah asik mengobrol ia lalu melihat kearah jam ditangannya kembali, sudah waktunya untuk pamit kepada paman & tantenya saat ini untuk berangkat ke bandara.
" uncle, onty kayaknya Zayn udah harus berangkat deh, soalnya sekitar setengah jam lagi Zayn harus sampe di bandara buat siap-siap " (kata Zayn pamit)
" ya udah berangkat gih bang, tetep hati-hati & konsentrasi ya bang " (kata Widia memeluk Zayn) , " semoga sampai di tempat tujuan dengan selamat ya bang " (kata Widia lagi yang telah melepaskan pelukannya & menepuk bahu Zayn)
" aamiin, iya onty " (kata Zayn tersenyum), " uncle " (kata Zayn menyalami pamannya & memeluknya)
" hati-hati ya Zayn " (kata Bara)
" iya uncle " (kata Zayn yang telah melepaskan pelukannya)
" ini naik apa kamu bang? " (tanya Widia)
" naik mobil onty sama Rindu, tar Rindu balik lagi bawa mobil Zayn kesini " (kata Zayn menjawab)
" Rindu bisa nyetir?, bukannya kata ayahnya dia gak bisa nyetir " (kata Bara)
" bisa uncle, udah kursus dia " (kata Zayn)
" ok, kalo gitu hati-hati ya kalian berdua " (kata Bara)
" Huma ikut " (kata Humaira), " please, kan kalo Huma ikut bisa nemenin kak Rindu pas pulang dari pada kak Rindu sendiri " (kata Humaira memohon)
Zayn melihat kearah paman & tantenya lalu melihat kearah istrinya, di lihat paman serta tantenya mengangguk kearahnya sambil tersenyum, ada benarnya Humaira ikut agar istrinya tak pulang sendiri setelah mengantarkan dirinya ke bandara.
" ok, ayo " (kata Zayn)
" yeay " (kata Humaira senang)
Mereka bertiga pun segera pergi kearah luar setelah berpamitan untuk menuju mobil & pergi ke bandara.
__ADS_1