Polwan Cantik

Polwan Cantik
#28 SEASON 2


__ADS_3

# Rindu Mentari


Ditatapnya pria yang duduk tepat dihadapan nya saat ini, sorot matanya tak terlihat hangat lagi bahkan tatapan matanya bak berapi-api menatap tajam kearahnya, Rindu hanya bisa tertunduk menghadapi Zayn, seakan mengerti pikiran buruk apa yang dipikirkan Zayn kepadanya. Dilihatnya sudah dua gelas Zayn menenggak minuman berkadar alkohol padahal Rindu tau sebagai seorang pilot Zayn tidak boleh meminum minuman yang berkadar alkohol seperti ini karena jika ia dalam keadaan tidak baik maka akan berpengaruh pada jadwal penerbangannya esok hari.


" kalian ngapain kesini? " (kata Zayn)


Mendengar Zayn akhirnya membuka suara justru malah membuat tubuhnya menjadi semakin merinding, ia tak menyangka Zayn bisa juga terlihat se menyeramkan ini, bulu kuduknya berdiri seolah-olah hari ini hidupnya akan berakhir sampai disini.


" kalian sendiri ngapain kesini? " (kata Jiya)


Rindu melihat kearah Jiya yang menjawab pertanyaan Zayn dengan pertanyaan yang sama yang dilontarkan Zayn, begitulah Jiya, Jiya akan menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan dengan mulut pedasnya & tak perduli akan seberapa menyakitkan kata-katanya apalagi dalam keadaan hati yang tidak baik yang ia rasakan saat ini.


Zayn hanya melihat malas kearahnya & kearah Jiya, Rindu tak berani membuka suaranya takut jika kesalahfahaman ini akan berlanjut & sampai ke telinga kedua orangtuanya, padahal selama ini kedua orangtuanya tak pernah mendengar hal buruk apapun tentang dirinya.


" kita cari hiburan lah, ya kan bang? " (kata Gibran tersenyum)


" iya, suntuk " (kata Faiz)


Jiya tersenyum tipis mendengarkan kata-kata Faiz & Gibran, sedangkan Zayn sepertinya tak tertarik dengan jawaban keduanya. Rindu menghela nafas panjang, ia hanya berdoa semoga Zayn tak melaporkan hal ini kepada kedua orangtuanya.


" kalian janjian sama orang disini? " (kata Faiz)


" gak, kita gak janjian sama siapa-siapa " (kata Jiya)


" kalian sering kesini? " (kata Gibran)


" gak sih, paling kalo lagi bete baru kesini " (kata Jiya)


" oh jadi kalian sekarang lagi badmood gitu? " (kata Faiz)


Jiya menatap kearahnya sambil tersenyum & memegang tangannya, Rindu membalas senyum Jiya, betapa Rindu tau apa yang dialami Jiya saat ini.


" hemmm, emang lagi badmood, tapi lebih tepatnya gue sih, Rindu cuman nemanin gue aja " (kata Jiya)


Jiya menenggak minuman yang berada di hadapannya, lagi-lagi Jiya meminum-minuman beralkohol untuk melupakan permasalahan yang ia pikul, Rindu sangat berharap Jiya tak akan mabuk kali ini.


" Jiya, please jangan minum lagi " (kata Rindu)


Rindu memegang tangan Jiya mencegah agar teman baiknya ini tidak bertindak bodoh, meskipun malam ini Jiya melupakan masalahnya dengan cara mabuk-mabukan tetapi esok hari ketika ia sadar ia akan mengingat kembali permasalahan yang menjeratnya.


" tenang aja Beib, gak bakal mabuk, janji deh " (kata Jiya tersenyum)


" Lo tenang aja ada kita disini kalo temen Lo mabok " (kata Faiz tersenyum)


" Lo gak minum Rin? " (kata Gibran)


" hehehe, mana bisa Rindu minum, dia gak doyan minum yang beginian " (kata Jiya)


" oh jadi Lo gak minum ya, bagus lah " (kata Gibran tersenyum melihat kearah Zayn)


" biar Lo paksa dia gak bakal mau minum, dia juga ada di sini cuman buat nemenin gue kok " (kata Jiya)


Rindu hanya diam tak menjawab sepatah kata pun, ia tak bisa berfikir apapun lagi.


" kalo badmood ngapain harus ketempat kaya gini sih, emang gak takut datang-datang ketempat kaya gini? " (kata Zayn)


" gue lebih takut lagi kalo harus pergi ketempat biasa " (kata Jiya)


" kenapa? " (kata Faiz)


" gak penting lah, yang jelas gue lebih aman disini " (kata Jiya)


Rindu lagi-lagi memegang tangan Jiya berusaha menenangkan Jiya, tidak akan terjadi hal buruk apapun yang akan menimpa Jiya selama ada Rindu bersamanya.


" makasih ya Beib " (kata Jiya tersenyum pada Rindu)


Rindu hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Rindu akan melakukan apapun agar teman baiknya ini merasa aman.

__ADS_1


" eh turun yuk " (kata Jiya mengajak bergoyang)


" aku disini aja ya " (kata Rindu)


" yuk bro " (kata Faiz)


" kalian aja deh " (kata Zayn)


Faiz & Gibran serta Jiya sudah turun untuk bergoyang mengikuti irama musik DJ, sedangkan ia masih berada ditempat duduk bersama Zayn.


# Abdul Zayn Mikail


Sudah tiga gelas alkohol ia tenggak karena kesal dengan wanita yang berada dihadapannya, bagi Zayn tak ada satupun alasan baik jika seorang wanita bisa berada ditempat seperti ini. Dilihatnya Rindu hanya menundukkan kepalanya sedari tadi tak melihat sedikitpun kearahnya. Zayn agaknya kecewa mengetahui wanita yang dijodohkan dengannya berani menginjakan kakinya ketempat yang tidak cukup aman untuk seorang wanita.


" Lo pulang aja deh, ajak temen Lo, ngapain sih datang-datang ketempat kaya gini? " (kata Zayn sedikit emosi)


Rindu tak menjawab pertanyaannya saat ini tetapi Rindu akhirnya melihat kearahnya setelah sedari tadi hanya menunduk. Saat ini pasti Rindu merasa seperti tertangkap basah oleh Zayn karena berada disini.


" Lo itu cewek, Lo gak takut diapa-apain orang disini, bokap sama nyokap Lo bisa marah kalo tau Lo suka main ketempat kaya gini " (kata Zayn)


" kak,...kak...please jangan bilang sama mama papa aku ya, janji ini yang terakhir aku kesini " (kata Rindu)


" Lo tau orang tua kita lagi ngerencanain pernikahan kita, sebentar lagi kita bakal nikah, tapi justru gue kaya ngegep Lo rasanya disini, setelah kejadian kaya gini apa Lo pikir gue masih bisa ngira lo cewek baik-baik " (kata Zayn)


Wanita dihadapannya ini hanya diam seribu bahasa mendengar kata-katanya saat ini, bagi Zayn image Rindu sabagai wanita baik-baik sudah tak ada lagi meskipun Rindu beralasan apapun saat ini, ditenggaknya lagi satu gelas minuman beralkohol di dalam gelasnya.


" kayanya kakak udah terlalu banyak minum, besok kakak masih ada jadwal penerbangan kan?, jadi aku harap kak Zayn jangan sampai mabuk " (kata Rindu)


" apa urusan Lo, lagian gue mabuk atau gak itu gak ada hubungannya sama Lo " (kata Zayn)


" Hem,...emang bukan urusan aku kak, tapi kakak bakal bawa penumpang pesawat besok yang bakal jadi tanggung jawab kakak, apa kakak mau bikin nyawa puluhan orang dalam pesawat terancam gara-gara kakak dalam kondisi gak baik, mabuk kaya gini " (kata Rindu)


Zayn hanya menatap bingung kearah Rindu, meskipun Zayn berkata buruk kepada Rindu saat ini, tetapi Rindu justru masih memperdulikan dirinya, Zayn meletakkan gelasnya kembali setelah berfikir yang dikatakan Rindu ada benarnya.


" kak aku gak marah kakak mau mikir aku seburuk apa, asal kakak tau yang kakak pikirin itu gak selamanya benar, aku gak perlu ngejelasin apa-apa ke kak Zayn yang jelas orang lain pasti bisa menilai, cuma satu yang aku minta ke kak Zayn, seburuk apapun yang kakak pikirkan tentang aku tolong jangan sampe ke mama papa aku " (kata Rindu)


" Lo sekarang balik sama gue " (kata Zayn menarik Rindu keluar dari tempat tersebut)


Zayn sangat emosi karena merasa terhina dengan perkataan Rindu, ia menarik Rindu menjauh dari tempat itu, ia tau jika Rindu bahkan tak mempunyai daya untuk melawannya, cukup cerdas Rindu hanya menurut tak ingin menyebabkan keributan di tempat ramai seperti itu.


" kak tolong lepasin " (kata Rindu setelah berada diluar tempat diskotik yang lumayan sepi)


" ayo Lo pulang sama gue " (kata Zayn memegang tangan Rindu kembali)


" kak please " (kata Rindu melepaskan tangannya dari Zayn)


Mereka berdua hanya saling pandang, Zayn tak mengerti apa yang sedang dipikirkan Rindu bahkan ia justru melawannya kali ini.


" kak aku gak bisa ninggalin Jiya " (kata Rindu dengan pandangan serius)


" Lo gak usah khawatir, temen Lo ada sama Faiz sama Gibran, jadi Lo balik bareng gue " (kata Zayn emosi)


" enggak kak, aku gak bisa ninggalin Jiya, aku harus balik bareng Jiya " (kata Rindu)


" aaaaah " (kata Zayn berteriak emosi melemparkan tinjunya keudara kesembarang arah)


Zayn mengambil ponselnya yang berada disaku celananya & menghubungi Faiz, sedangkan Rindu masih berdiri disebelahnya dengan tatapan memelas.


📞 calling is Faiz....


*Tut....Tut...tut....


" xxxxxxxxxxxx " (kata Faiz)


" Lo bawa Jiya keluar dari situ, gue mau bawa Rindu pulang " (kata Zayn lalu menutup ponselnya)


Diletakkannya kembali ponselnya kedalam saku celananya lalu menghadap ke arah Rindu.

__ADS_1


" puaskan Lo " (kata Zayn kembali menarik Rindu), " sekarang Lo masuk, kita tunggu didalam mobil " (kata Zayn)


Zayn menyuruh Rindu untuk masuk kedalam mobilnya sambil menunggu Faiz & Gibran beserta Jiya, tak lama nampaklah mereka bertiga keluar menuju arah mobilnya, Jiya terlihat sudah sangat mabuk saat ini, Zayn yakin Jiya sudah kehilangan kesadarannya saat ini, Zayn hanya menggelengkan kepalanya ternyata seperti ini lah sifat asli wanita yang sempat membuatnya tertarik.


" Gib Lo Ama Faiz antar Jiya balik, gue bawa mobil gue sendiri bareng Rindu " (kata Zayn)


" kak jangan kak, Jiya harus sama kita " (kata Rindu mencegah)


Wanita yang duduk disebelahnya kini telah keluar dari mobil sambil memapah Jiya menuju mobil milik Zayn, Zayn menggelengkan kepalanya kembali dengan apa yang dilakukan Rindu, sebegitu perdulinya Rindu kepada Jiya, ia lalu turun dari mobilnya.


" Gib Lo sendirian gak papa? " (kata Zayn)


" gak papa bang, lagian gue gak mabuk kok, minum dikit aja, ya udah gue langsung ke hotel ya " (kata Gibran)


" iya Lo hati-hati " (kata Zayn)


" hati-hati Gib " (kata Faiz)


" sippo, Rindu gue duluan ya " (kata Gibran)


Rindu hanya tersenyum kepada Gibran, kini kemudi telah berpindah ditangan Faiz, sedangkan Zayn duduk disebelah Faiz & Rindu duduk di bangku belakang bersama Jiya, Zayn melihat kearah Rindu & Jiya dari kaca spion, entah permasalahan apa yang sedang disembunyikan oleh kedua wanita dibelakangnya saat ini, Jiya begitu membutuhkan Rindu sehingga Rindu tak bisa meninggalkan Jiya begitu saja. Rindu termasuk seorang yang setia kawan pikirnya.


Setelah beberapa menit akhirnya mobil yang Mey kendarai sampai juga didepan tempat kost-an Rindu, Zayn menggendong Jiya menuju kamar Rindu atas permintaan Rindu karena Jiya saat ini sudah tidak sadarkan diri. Setalah sampai dikamar Rindu ia meletakan Jiya ditempat tidur.


" makasih ya kak " (kata Rindu)


Zayn berjalan melangkah keluar dari kamar Rindu karena ia tau jika ini adalah kost-an khusus wanita tak ingin jika orang berfikir yang tidak-tidak seorang pria berada dikamar wanita.


" besok gue jemput Lo ke kampus, jadi tunggu gue " (kata Zayn)


" gak perlu kak, aku kan sudah bilang bisa berangkat ke kampus sendiri " (kata Rindu)


" Lo gak boleh nolak, kalo Lo nolak gue aduin Lo ke nyokap bokap Lo kalo Lo suka main ke diskotik " (kata Zayn mengancam)


" astaga " (kata Rindu menepuk jidatnya)


" gue balik " (kata Zayn)


" iya " (kata Rindu agak cemberut)


Zayn membalikan tubuhnya melangkah menjauh dari kamar Rindu, Zayn justru tersenyum saat melihat Rindu cemberut karena ancamannya.


#Rindu Mentari


Setelah kepergian Zayn ia pun langsung masuk kedalam kamarnya, ia membenarkan posisi tubuh Jiya yang saat ini telah terlelap tidur diatas ranjangnya, ia melepaskan sepatu yang dikenakan Jiya lalu menyelimutinya, ini bukan lah yang pertama kalinya Jiya dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini, Rindu menatap sendu kearah teman baiknya ini, Jiya mengalami masalah yang lebih rumit dari yang dialami Rindu saat ini, bahkan Jiya mengaku tak akan bisa lepas dari masalah tersebut meskipun Rindu selalu menasehatinya & berjanji akan membantunya, tetapi Jiya memutuskan tak ingin Rindu terlibat dalam masalah yang tengah menjeratnya, itulah alasan kenapa Jiya kerap menyimpan sendiri masalahnya agar Rindu tak tau, meskipun begitu sebenarnya Rindu tetap tau jika terjadi hal buruk dengan teman baiknya saat ini.


" kamu terlalu kuat hadapin ini sendiri, seharusnya kamu dengerin nasehat-nasehat aku Jiy sebelum semuanya terlambat, aku yakin kamu pasti bisa keluar dari masalah kamu " (kata Rindu memegang tangan Jiya)


Rindu melangkah kearah meja belajarnya, dilipatnya tangannya diatas meja tersebut lalu dibenamkannya kepalanya diatas lipatan tangannya. Rindu selalu berfikir mengapa teman baiknya ini masih terus bertahan menghadapi kepelikan hidupnya, Rindu tak pernah mengerti dengan jalan pikiran Jiya.


" aku bahkan gak yakin bakal bisa bertahan kalau aku ada diposisi kamu Jiy, masalah yang aku hadapi bahkan gak seberapa dibandingkan masalah yang kamu hadapi tapi rasanya aku malah sering ngeluh seolah-olah gak sanggup " (kata Rindu yang telah meneteskan air matanya)


Salah satu sifat buruk Rindu adalah baperan & melan kolis sehingga wajar saja ia mudah meneteskan air matanya disaat-saat seperti ini, baperannya Rindu bukan seperti orang yang bawa perasaan saat orang lain memberikan perhatian kepada orang lain, tapi ia lebih suka terharu atau cengeng saat menghadapi situasi yang di rasanya menyedihkan bahkan jika situasi tersebut bukan dirinya yang mengalaminya. Suara ponselnya pun berhasil membuatnya tersadar dari pikirannya saat ini, ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dilihatnya notifikasi pesan WhatsApp masuk dari Zayn.


💬 pesan WhatsApp Zayn


Zayn : jam berapa besok gue harus jemput Lo


Rindu mengingat kembali ancaman Zayn yang akan mengadukan dirinya kepada orangtuanya karena telah berada di clubb malam, ia segera membalas pesan dari Zayn.


💬 pesan WhatsApp Zayn


Zayn : jam berapa besok gue harus jemput Lo


Rindu : jam 11


Zayn : ok

__ADS_1


Rindu sengaja mengerjai Zayn agar menjemputnya pukul 11 siang padahal ia akan ada kuliah pagi pukul 9, Zayn akan pergi ke kostnya saat dirinya sudah berada di kampusnya, Rindu tersenyum berpikir bagaimana reaksi Zayn besok saat tau jika Rindu hanya mengerjainya.


__ADS_2