Polwan Cantik

Polwan Cantik
#122 SEASON 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari H yang ditunggu-tunggu oleh keluarganya, setelah beberapa hari mempersiapkan semuanya akhirnya hari ini datang juga. Humaira sudah cantik dengan mengenakan gaun berwarna biru muda dengan rambut di cepol ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.


Zayn tersenyum melihat adiknya yang saat ini terlihat nampak bahagia duduk bersanding dengan Desta. Meskipun bersandingnya Humaira & Desta hari ini hanyalah untuk melangsungkan acara pertunangan mereka yang di simbol kan dengan pertukaran cincin.


Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajah dua sejoli yang saat ini telah menyematkan jari di keduanya. Jika saja hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua pastinya mereka berdua akan lebih bahagia dari hari ini.


Zayn ikut menyambut tamu undangan yang datang untuk memberikan selamat atas pertunangan Humaira & Desta, para kerabat berbaur jadi satu, dilihatnya kedua orangtuanya asik mengobrol dengan para sahabatnya yaitu orang tua Rindu yang tak lain adalah mertuanya serta orang tua Desta yang tak lain adalah calon mertua adiknya Humaira.


Acara pertunangan Humaira & Desta di adakan di rumah kedua orangtuanya, acara pertunangan mereka hanya dihadiri oleh sanak keluarga terdekat saja saat ini, bukan hanya keluarga dari ayahnya saja yang telah datang & ikut memeriahkan tetapi keluarga dari ibunya juga hadir juga.


" Zayn " (kata seseorang yang menepuk bahunya dari arah belakang)


Zayn sontak menoleh kearah belakang sambil tersenyum melihat kearah seorang pria yang selama ini telah menjadi sahabat baiknya, siapa lagi kalau bukan Faiz yang tak lain adalah sepupunya sendiri.


" kenapa Fa? " (kata Zayn bertanya)


" gakpapa, lo kenapa berdiri di sini sendiri? " (kata Faiz balik bertanya)


" gue speechless aja ngeliat Humaira sama Desta, gue gak nyangka adek gue udah tunangan aja sekarang " (kata Zayn)


" iya ya, hmmmm semoga aja mereka selalu bahagia sampe ke jenjang berikutnya " (kata Faiz sambil melipat tangannya didepan dadanya)


Zayn kembali melihat kearah Faiz, sepupunya ini sengaja mengambil cuti untuk menghadiri pertunangan Humaira. Kali ini sepupunya tersebut tak datang sendiri, ia datang bersama seorang wanita yang sangat ia kenal meskipun ia tak pernah akrab dengan wanita tersebut.


Wanita tersebut adalah Jiya teman baik istrinya, wanita yang pernah sempat sedikit membuat dirinya tertarik namun hanya sebentar lalu perasaan tersebut hilang begitu saja.


Zayn tak tau sejak kapan Faiz bisa berpacaran dengan Jiya, padahal menurut penuturan istrinya beberapa bulan yang lalu sebelum ia & Rindu menikah Jiya di kabarkan memiliki seorang tunangan.


Faiz tak pernah bercerita sebelumnya perihal kedekatannya dengan Jiya hingga mereka bisa berpacaran sekarang, tentu saja kabar hubungan Faiz & Jiya membuat dirinya serta Rindu sangat terkejut tak percaya.


" oh iya ngomong-ngomong sejak kapan lo pacaran sama Jiya?, ko lo gak ada cerita sama gue? " (kata Zayn bertanya)


" sudah sekitar dua bulan terakhir ini sih, bukannya gue gak mau cerita sama lo bro cuman ini panjang ceritanya bro, nanti lah gue ceritain " (kata Faiz)


Zayn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan jawaban dari Faiz, ia berharap Faiz kali ini tak main-main lagi mengingat sepupunya tersebut adalah seorang playboy.


Ini adalah rekor terlama Faiz menjalin hubungan dengan seorang wanita, hubungan Faiz biasanya hanya bertahan satu minggu saja, karena saat libur bekerja Faiz lebih memilih menjalin cinta kilat di banding harus bertahan lama dengan satu perempuan yang sama.


Entah sejak kapan sepupunya tersebut bisa bertahan dengan satu wanita dalam wakti dua bulan terakhir ini, ia bersyukur jika pada akhirnya saat ini Faiz sudah bisa serius dengan satu wanita.


" Gibran mana ya? " (tanya Faiz sambil menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Gibran)


" tadi sih gue liat duduk di sana dia " (kata Zayan sambil menunjuk)


" tumben menyendiri tuh bocah " (kata Faiz)


" baper kali " (kata Zayn)


" baper kenapa? " (kata Faiz bertanya)


Zayn lagi-lagi menoleh kearah Faiz, selama enam bulan terkahir ini ia & Faiz memang tak pernah bertemu setelah acara pernikahannya berlangsung tetapi mereka berdua masih tetap menjalin komunikasi lewat telpon dengan baik, tetapi ada hal-hal yang belun sempat ia ceritakan pada Faiz saat mengobrol lewat telpon seperti pengakuan Gibran jika sepupunya tersebut ternyata memendam rasa dengan Humaira.


" hahahaha, tar lo tanya aja sama Gibran nya langsung " (kata Zayn sambil tertawa)


" kampret " (kata Faiz)


Saat masih asik berbincang dengan Faiz tiba-tiba Gibran pun datang menghampiri ke arah mereka berdua.


" lagi ngobrolin apaan nih?, kok kayaknya seru banget " (kata Gibran yang baru saja datang)


" nah panjang umur nih yang di omongin " (kata Faiz)


" lah pada gibahin gue?, apaan kaya emak-emak aja" (kata Gibran)


" anji*r, pedes amat tuh mulut ngatain kaya emak-emak " (kata Faiz)

__ADS_1


" hahahahaha, lah emang cuman emak-emak kan yang tukang gibah " (kata Gibran)


" serah lo aja Gib " (kata Zayn sambil cengengesan)


" emang kalian ngomongin apaan bang? " (kata Gibran bertanya lagi)


" kata Zayn lo baper, kenapa lo baper? " (kata Faiz)


Zayn hanya tersenyum sambil melipat tangannya & melihat kearah lain menahan tawanya melihat ekspresi Gibran. Sepupu mereka Faiz memang belum mengetahui perihal ini.


" anu bang, gak baper gue, heheheh " (kata Gibran sambil menggaruk-garuk tengkuknya mencari alasan)


" alesan tuh, apa perlu gue aja yang ngasih tau Faiz " (kata Zayn)


" lo apaan sih bang " (kata Gibran pada Zayn)


" hahahahaha " (kata Zayn hanya tertawa)


Melihat ekspresi Gibran saat ini jelas jika adik sepupunya tersebut malu untuk mengakuinya, apalagi jika sampai Faiz mengetahui jika Gibran baper dengan Humaira.


" apaan sih Gib?, awas lo ya bohong-bohong ama gue " (kata Faiz Penasaran)


" ngaku lo Gib " (kata Zayn memanas-manasi)


" kompor emang lo bang " (kata Gibran pada Zayn)


Lagi-lagi Zayn hanya tertawa mendengar kata-kata Gibran, lama tak berkumpul bersama ini lah momen yang ia tunggu saat bersama dua sahabatnya yang kebetulan sepupunya sendiri.


" apa sih Gib?, jangan bikin gue penasaran deh " (kata Faiz)


" hufffttt, iya deh gue cerita dari pada lo mati penasaran bang " (kata Gibran ngasal)


" hahahah, kampret, buruan apaan? " (kata Faiz kembali)


" aduh pake sumpah lagi, panjang amat lo mau cerita kaya emak-emak komplek aja " (kata Faiz)


" hahahaha, bukan gitu bang takut tar ada yang salah faham, jadi beberapa bulan yang lalu tuh gue sempet baper sama Huma " (kata Gibran berterus terang)


" tar dulu deh, maksud lo baper apaan?, jangan bilang lo suka sama Huma? " (kata Faiz mencoba mencerna kata-kata Gibran), " bro gimana nih bro?, apa maksudnya ni bocah " (kata Faiz pada Zayn)


Melihat sepupunya Gibran malu-malu sambil menggaruk-garuk tengkuknya Zayn kembali lagi tertawa terbahak-bahak, Zayn pun sebagai kakak tak menyangka jika sepupunya tersebut bisa baper dengan adik mereka sendiri.


" ah gila, jangan bilang omongan gue tadi bener, wah parah lo Gib, itu sih Huma kan adek kita, kunyuk lo " (kata Faiz)


" hehehe, anu bang maklum kelamaan jomblo gue, hari-hari ketemunya sama Huma, eh tapi itu dulu kok, sekarang udah enggak " (kata Gibran)


" hahaha, kampret emang lo Gib, bisa banget baper ama Huma " (kata Faiz yang ikut tertawa)


" ya namanya juga perasaan bang mana bisa sih kita milih harus jatuh ke siapa " (kata Gibran beralasan)


" iya emang Gib, tapi gak Huma juga kali, adek sepupu kita sendiri pula, hahahahah " (kata Faiz)


" iss, kena lagi dah gue, hmmmm nasib jadi bahan gue hari ini " (kata Gibran)


" aduh sakit perut gue, ah g*la " (kata Faiz berjeda), " terus Huma nya gimana pas tau lo suka sama dia? " (kata Faiz bertanya kembali)


" aduh panjang nih masa lalu, lo sih bang pake bahas-bahas " (kata Gibran pad Zayn)


" ya lo aneh sih " (kata Zayn)


Zayn yakin sebenarnya Gibran saat ini memang sudah tak memiliki perasaan suka lagi kepada adiknya Humaira, sebenarnya saat Gibran mengakui menyukai Humaira mungkin saat itu karena hanya Humaira lah satu-satunya wanita yang tengah dekat dengan dirinya.


" kadal lo Gib " (kata Faiz)


" biarin lah suka-suka lo deh bang ngatain gue, puas-puasin dah emang perasaan gue kok yang salah " (kata Gibran)

__ADS_1


" hahaha, perasaan lo gak tau aturan sih " (kata Faiz lagi)


" udah ah males gue bahas itu lagi, kan itu masa lalu, hahahaha " (kata Gibran tertawa)


" tapi lo kali ini gak baper kan liat Huma bareng Desta? " (kata Faiz bertanya sambil tersenyum seolah mengejek)


" dih apaan lo bang, mana ada gue baper " (kata Gibran membela diri)


" alah ngaku lo Gib " (kata Zayn mengejek)


" semp*k, sumpah kaga baper gue " (kata Gibran)


Zayn & Faiz tertawa terbahak-bahak kembali menertawakan adik sepupunya tersebut bersama, Gibran yang menjadi bahan pertanyaan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Zayn lalu merangkul Gibran & menepuk-nepuk pundaknya sambil tersenyum, selama Humaira berada di kota C & ikut tinggal di rumah Gibran, dirinya sangat mempercayakan Humaira pada Gibran, bahkan Gibran lah yang kerap menjaga adiknya tersebut.


Selama dirinya jauh dari Humaira & sibuk dengan kehidupannya sendiri, Gibran lah yang selama ini menjadi pengganti sosoknya, Humaira tak pernah kesepian karena adanya Gibran di sisinya sebagai seorang kakak.


" tapi gue makasih banget ama lo Gib, makasih lo udah jagain Huma, ada dimana pun Huma butuh lo, di saat gue yang kakaknya sendiri yang harusnya gue yang ada di posisi itu " (kata Zayn masih merangkul Gibran)


" apaan sih lo bang, kan itu juga udah jadi tugas gue sebagai abangnya Huma, siapa lagi coba kalo bukan gue bang " (kata Gibran pada Zayn)


Faiz pun ikut merangkul Gibran seperti dirinya yang saat ini masih merangkul Gibran, mereka bertiga saling merangkul sambil terus menatap kearah Humaira & Desta yang terlihat bahagia.


# Maura Aradin Mauren


Maura yang turut di undang oleh Humaira untuk menghadiri pesta pertunangannya berdiri dari kejauhan terus menatap kearah Zayn. Sedari ia datang sampai saat ini matanya tak pernah lepas dari arah dimana pun Zayn berada, saat Zayn bersama istrinya beberapa saat lalu & sampai saat ini saat Zayn bersama kedua pria yang tak ia kenal siapa dua pria tersebut.


Melihat Zayn bisa tertawa & tersenyum seperti ini membuat Maura semakin ingin memiliki Zayn, Maura bahkan rela jika harus jadi yang kedua jika Zayn mau dengannya. Tetapi sayangnya sampai saat ini ia belum memiliki kesempatan untuk mendekati Zayn.


Bahkan saat berada dalam satu kru ia juga tak punya kesempatan untuk merayu Zayn karena ada saja kendalanya, ia mulai berpikir mungkin ia harus melakukan hal kotor agar bisa mendapatkan Zayn.


Ia mulai berpikir jika ia tak bisa memiliki Zayn maka tak ada seorang wanita pun juga yang berhak mendapatkan Zayn, maka jalan satu-satunya ia harus melenyapkan Rindu.


" lo harus mati, karena Zayn sudah seharusnya jadi milik gue " (kata Maura dalam hati)


Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar ia bisa menghabisi nyawa Rindu supaya tak menjadi pengganggu dirinya untuk mendapatkan Zayn.


Melihat Zayn bahagia dengan wanita lain membuat hatinya terasa hancur, harusnya ia lah yang berada diposisi Rindu, harusnya saat ini hanya dia lah wanita yang boleh di cintai Zayn.


Ia merasa jika Rindu telah merebut tempatnya, posisi yang saat ini ditempati Rindu sebagai istri Zayn harusnya dialah yang berada di sana & bukan Rindu.


Maura menyeruput kembali gelas yang berisikan minuman non alkohol yang sudah sedari tadi ia pegang, matanya pindah kearah Humaira & tunangannya.


Mauren melihat Humaira adik kesayangan Zayn yang selama ini ia manfaatkan untuk mendapatkan informasi apa pun yang berhubungan dengan Zayn.


Humaira begitu bod*h pikirnya selama ini, bahkan sampai detik ini Humaira tak pernah menyadari jika Mauren tak benar-benar tulus ingin dekat dengannya.


" heh, dasar bocah dung*, bisa-bisanya lo gak sadat kalo selama ini lo cuman gue manfaatin " (kata Maura dalam hati sambil tersenyum menyeringai)


Maura sengaja datang membawa salah satu sepupunya untuk menemani dirinya saat ini, ia benar-benar nekat datang hanya demi untuk bertemu & melihat Zayn. Satu-satunya niatnya datang ke acara pertunangan Humaira hanya lah demi memuaskan hatinya untuk memandang Zayn.


" Ren pulang yu " (kata sepupu Maura)


Maura lalu melihat kearah sepupunya yang bernama Andrea, seorang mahasiswi fakultas Hukum semester akhir, Andrea adalah siswi dengan nilai IP tertinggi di kelasnya.


" bentaran ah Ra, nanggung nih, gue soalnya masih pengen disini " (kata Maura)


" cowok yang lo yang lo taksir itu ada disini ya Ren? " (kata Andrea bertanya)


Maura hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ia kerap bercerita jika ia menyukai seorang pria tampan kepada Andrea sebagai sepupu perempuan satu-satunya yang ia miliki.


Meskipun saat bercerita pada Andrea ia tak mengatakan jika pria yang ia cintai sudah memiliki istri beberapa bulan yang lalu, perasaannya pada Zayn jauh lebih dulu ada sebelum Rindu datang merebut Zayn darinya oleh karena itu ia sangat membenci Rindu.


Bukan hanya Rindu tetapi sebelumnya ia juga membenci siapa pun wanita yang berani-berani mendekati Zayn & segala cara pun ia lakukan untuk membuat wanita-wanita yang mendekati Zayn jauh dari Zayn.

__ADS_1


__ADS_2