Polwan Cantik

Polwan Cantik
#45 SEASON


__ADS_3

# Rindu Mentari


Angin semilir berhembus dari jendela mobil yang saat ini tengah dikendarai oleh supir pribadi calon mertuanya, ia duduk didalam mobil menuju bandara bersama dengan Zayn beserta Faiz serta Gibran sekeluarga, kebetulan waktu telah menunjukkan pukul 07.00 malam, mereka berenam akan kembali ke kota C malam ini juga. Rindu terpaksa nekat kembali ke kota C malam ini karena besok ia harus segera kembali berkuliah karena ada jadwal mata kuliah penting yang harus ia ikuti.


Udara malam hari terasa menusuk di tulang baju yang ia kenakan tak cukup menghangatkan tubuhnya, berkali-kali ia mengusap-usap kedua tangannya, tubuhnya agak meringkuk agar tak terkena udara dari luar, untung saja ia saat ini duduk di bangku paling belakang tentunya bersama dengan Zayn.


" kedinginan? " (kata Zayn)


Rindu hanya menganggukan kepalanya tak sanggup berkata-kata lagi, Zayn melepaskan jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh bagian bawah Rindu.


" tau mau berangkat malem kenapa pake celana pendek gitu sih " (kata Zayn)


Saat ini Rindu memakai pakaian sangat santai bahkan ia mengenakan celana pendek meskipun tak terlalu pendek, ia tak mengira jika udara malam ini akan sedingin ini.


" kenapa bang? " (kata Bara)


Ayah Gibran sontak menoleh kearah mereka berdua karena komentar dari Zayn tentang pakaian yang ia kenakan.


" gak papa uncle, ini si Rindu cuman agak kedinginan sedikit, tapi sekarang kayanya udah engga sih " (kata Zayn)


" kamu kedinginan Rin, kalo gitu tutup aja kacanya biar gak dingin kamu " (kata Bara)


" gak usah aja om, ini juga udah gak dingin kok " (kata Rindu tersenyum)


" peluk dong bang, tau yayangnya kedinginan gitu kok " (kata Gibran)


" hahahaha, malu-malu kucing mah dia Gibran " (kata Faiz yang nyaut dari arah depan)


" hust, kok pada godain Zayn sih, Jagan gitu dong ntar Rindu jadi malu loh " (kata Widia)


" ya kalo orangnya mau gue peluk sih gue dengan senang hati buka lebar-lebar dada gue buat jadi landasan " (kata Zayn sambil tersenyum)


" ngarep " (kata Rindu agak menjauhkan duduknya)


" hahahahah, emang ngarep tuh sebenarnya " (kata Faiz)


Meskipun saat ini ia memang merasakan kedinginan tetapi ia tak akan membiarkan kesempatan untuk Zayn untuk berbuat yang aneh-aneh, ia sengaja menggeser duduknya agak jauh dari Zayn tetapi bukannya Zayn diam ditempat & ikut menjauh ia justru malah mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Rindu.


" kalo lo jauh-jauh tar ko makin kedinginan " (kata Zayn pelan seolah hanya mereka berdua saja yang mendengar)


Tangan Zayn telah memegang kedua tangan Rindu saat ini, ada suatu getaran di hatinya saat tangannya & tangan Zayn salin bersentuhan.


" gini aja jangan dilepas " (kata Zayn sambil tersenyum)


Rindu menatap kearah Zayn yang tiba-tiba menjadi sweet pikirnya, wajahnya begitu teduh & lembut tak seperti biasanya yang selalu membuat dirinya kesal.


" Rindu tidur dirumah tante aja malam ini ya, dikamar Huma, soalnya kita sampe sana pasti tar kemalaman " (kata Widia)


" tapi gak papa nih tante?, Rindu gak enak " (kata Rindu)


Mereka akan sampai dikota C sekitar pukul sembilan lewat, cukup malam meskipun belum terlalu larut tetapi ia sadar saat sampai dikota C nanti pasti meraka akan sama-sama kelelahan karena perjalanan cukup jauh.


" udah Rin di rumah gue aman kok, tar bang Zayn gue kunciin dikamar gue biar gak bisa ganggu lo " (kata Gibran)


" iya Rin gak papa ko nginep dirumah aja, lagian gak mungkin mommy nya Gibran suruh kamu nginep kalo memang gak aman, lagian kan tante Wid polisi Rin, kalo mereka macem-macem biar tante abis yang selesaikan " (kata Bara)


" iya uncle selesaikan memang langsung ke penghulu " (kata Faiz)


" mantep, hahaha " (kata Gibran)


" kalian ini becanda mulu " (kata Widia)


Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai juga di bandara, mereka semua segera keluar & berjalan kearah bandara, setelah selesai check-in & lain-lain mereka semua segera masuk kedalam pesawat.


Didalam pesawat Zayn duduk ditengah diantara dirinya & Faiz, Rindu duduk tepat disamping kaca jendela pesawat.


" kita ke hotel atau kerumah uncle nih bro? " (kata Faiz)


" kerumah uncle aja kita bro, soalnya Rindu juga disana, besok juga dia mau kuliah, kecuali Rindu mau diajak tidur dihotel " (kata Zayn)


Rindu mememukul paha Zayn pelan sambil melotot, Kata-kata Zayn benar-benar membuat kesal kali ini padahal baru saja Zayn terlihat sangat manis pikirnya.


" ih apa sih tau-tau mukul gitu, belum nikah aja udah suka KDRT " (kata Zayn tersenyum)


" ngomong sih ngasal aja kak, enak aja mau bawa-bawa aku ke hotel " (kata Rindu)

__ADS_1


" ya kan gue gak maksa, orang gue cuman bilang kecuali lo mau diajak ke hotel, kan gue gak bilang yang aneh-aneh tuh mau ngapain di hotel " (kata Zayn)


" ih pikirnya sih " (kata Rindu yang memukul paha Zayn lagi)


" hahahaha, kurang kuat Rin, tangan lo kurang berasa tuh kalo mukulnya gitu doang " (kata Faiz)


" bantuin kak " (kata Rindu)


" gue bantu doa aja ya biar akur " (kata Faiz)


" iya akur itu lebih baik loh, daripada lo marah-marah mukulin paha gue, itu tangan lo panas juga loh kalo mukul, bukannya belajar nya yang gue malah belajar KDRT " (kata Zayn)


" wih mulai keliatan Jablay nya lo " (kata Faiz)


" hahahahaha " (kata Zayn hanya tertawa)


Rindu hanya memalingkan wajahnya kearah kaca jendela pesawat tak ingin mendengarkan pembicaraan pria dewasa disebelahnya yang semakin kearah negatif.


# Abdul Zayn Mikail


Pesawat ia naiki saat ini sudah berada di ketinggian 2500kaki, Zayn ikut kembaly kekota C malam ini hanya demi bisa menemani Rindu, selain itu alasannya kembali ke kota C untuk mencari rumah yang cocok untuknya & Rindu untuk mereka tempati setelah menikah nanti. Zayn berencana mencari rumah yang dekat dengan kampus Rindu agar saat menikah dirinya tak was-was meninggalkan istrinya saat berada dalam rute penerbangan di kota lain.


Pesawat telah mendarat dengan baik setelah dua jam mengudara, para penumpang bersiap-siap untuk turun, setelah menunggu beberapa saat akhirnya para penumpang segera turun dari pesawat, Zayn berjalan beriringan dengan Rindu, selama dekat dengan Rindu Zayn selalu bisa tersenyum lebar tak hanya itu ia juga merasa ingin selalu bisa dekat-dekat dengan Rindu.


Kesabaran Rindu saat menghadapi dirinya membuat dirinya kagum, selain itu ia juga kagum saat Rindu mengingatkan dirinya tentang ibadahnya dimanapun ia berada, itulah yang membuat Zayn selalu mengingat Rindu dimanapun ia berada & gelisah ingin cepat-cepat bertemu.


Setelah keluar dari Bandara sudah ada mobil milik pamannya menunggu diarah parkiran, tanpa menunggu lama mereka segera menghampiri mobil tersebut & naik dengan formasi yang sama Faiz didepan disamping pak supir & di bangku tengah Gibran beserta kedua orangtuanya sedangkan Zayn & Rindu berada dibelakang. Tanpa menunggu lama mobil segera pergi melesat jauh meninggalkan bandara.


" kalo lo ngantuk lo boleh senderan ama gue kok " (kata Zayn sambil tersenyum)


Rindu hanya diam menatap kearahnya sambil melihat bahunya, Zayn menarik kepala Rindu pelan menempelkan di bahunya.


" gue tau lo pasti butuh sandaran yang empuk " (kata Zayn)


Rindu masih diam bersender di bahunya, tangan Zayn menggenggam tangan Rindu, Zayn tersenyum sambil mengelus kepala Rindu, entah mengapa Zayn sangat merasakan kebahagiaan yang tidak terkira saat ini, ia tak ingin waktu cepat berlalu & berharap waktu bisa berhenti sejenak disini.


Setelah beberapa puluh menit berkendara akhirnya mobil menepi didalam pekarangan rumah Gibran, akhirnya mereka telah sampai juga, mereka semua segera turun & masuk kedalam rumah tersebut, Zayn mengajak Rindu untuk duduk diruang tamu terlebih dahulu.


" Rindu mau minum apa sayang? " (kata Widia)


" gak usah repot-repot tante, aku belum haus kok " (kata Rindu)


" iya tante " (kata Rindu tersenyum)


" bang nanti anter Rindu ke kamar Huma ya, tante mau langsung istirahat " (kata Widia kepada Zayn)


" iya onty " (kata Zayn)


" mom bang Zayn tidur dikamar Huma bareng Rindu? " (kata Gibran)


Zayn tersenyum menoleh kearah Gibran tau bahwa adik sepupunya tersebut hanya bercanda untuk mengisengi Rindu, sedang Rindu yang mendengar kata-kata Gibran langsung menoleh kearahnya seolah-olah berharap jika ia tak mau sekamar dengan Zayn, padahal Zayn tau bahwa ia tak mungkin tidur sekamar dengan Rindu mengingat mereka berdua belum sah menjadi suami istri.


" siapa bilang mereka sekamar, sah aja belum, jangan mikir macem-macem " (kata Bara)


" mommy gak ijinin ya kalo sekamar, lagian kalo gak muat dikamar kamu masih ada kamar tamu tuh kosong sayang " (kata Widia pada Gibran)


Zayn melihat Rindu membuang nafas leganya karena tak akan sekamar dengan Zayn, melihat ekspresi Rindu Zayn serasa ingin tertawa.


" onty kalo diem-diem Zayn keluar terus masuk kamar Rindu gimana? " (kata Faiz)


" kalo cuman mau ngobrol doang gak papa kali ya, tapi kalo buat tidur bareng no, ya udah ya onty mau masuk kamar duluan, onty harap kata-kata onty cukup bisa dipahami kan, awas ya kalo dilanggar " (kata Widia), " Zayn tahan-tahan jangan asal nyosor mau masuk-masuk kamar Rindu lagian gak lama lagi kalian nikah kok, kan kamu sendiri bang yang minta diundur nikahnya jadi jangan gatel nyelinap kekamar Rindu, awas kalo onty ngeggep kamu ya " (kata Widia)


" astaghfirullah iya onty, masa sih gak percaya ama Zayn " (kata Zayn)


" ingat bang setan di mana-mana " (kata Bara)


Zayn hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Paman & tantenya tak terlihat lagi karena telah masuk kedalam kamarnya.


" anter lah bang Rindu ke kamar Huma " (kata Gibran)


" tar dulu Gib, gue bales WA dulu dari teman-teman gue " (kata Zayn yang masih menatap layar ponselnya)


" Rin lo kunci pintu benar-benar ya, takutnya tar Zayn tiba-tiba masuk kekamar lo, mana kita tau kalo dia tiba-tiba khilaf " (kata Faiz tersenyum)


" percuma lah bang, lagian tadi gue liat dia bawa kunci serep dari Huma " (kata Gibran)

__ADS_1


Zayn hanya tersenyum menggelengkan kepalanya karena keisengan dua sepupunya tersebut, Rindu lagi-lagi menatap Zayn dengan wajah was-was, melihat itu Zayn akhirnya mengeluarkan suara juga agar Rindu tak was-was dengannya.


" lo pikir gue kaya gitu apa? " (kata Zayn)


" jangan percaya mulut manisnya laki-laki Rin " (kata Faiz)


" lo laki juga kali bang " (kata Gibran)


" ya karena gue laki makanya gue paham gimana pikiran sebagai sesama laki-laki " (kata Faiz)


" hahahaha, sorry bang " (kata Gibran)


" emang semua laki-laki kaya gitu? " (kata Rindu)


" oh jelas, Laki-laki itu habis manis sepah dibuang " (kata Faiz)


" lo banget ya itu bang, hahahah " (kata Gibran)


" emang iya ya? " (kata Rindu)


" percaya ama mereka berdua, lagian kalo gue gak mungkin mau begitu, kita juga bakal dinikahin, jadi bagaimana mau sepah dibuang " (kata Zayn)


" lah tuh Rin udah punya niat tuh sih Zayn berati nyelinap ke kamar lo " (kata Faiz)


" kampret lo " (kata Zayn)


Rindu menatap kearahnya kembali mencoba meyakinkan diri bahwa Zayn takan melakukan hal-hal yang seperti sepupunya katakan, Gibran & Faiz berhasil membuat Rindu berpikir yang tidak-tidak padanya.


" kalo mereka begitu otaknya wajar, tapi masa lo gak percaya ama gue? , lagian kalo emang gue mesum gak sekarang aja gue bakal lakuin, mungkin udah lama bakal gue lakuin " (kata Zayn)


" hem, mulai agak panas nih, kabur ah " (kata Gibran)


" hahaha, gue juga kabur lah, Hati-hati ya Rin, gue takut lo gak bisa nolak juga soalnya " (kata Faiz)


" kampret lo berdua " (kata Zayn)


Kedua sepupunya telah naik kedalam kamar Gibran, Zayn benar-benar tak menyangka kedua sepupunya tersebut benar-benar membuatnya dalam masalah.


" ayo gue anter kekamar " (kata Zayn)


" tapi kakak gak bakal nyelinap masuk kekamar kan nanti? " (kata Rindu)


" astaghfirullah, lo percaya ama omongan mereka? , lo gak percaya apa ama gue?, ya udah kalo lo gak percaya ama gue mending gue lakuin aja sekalian, ayo masuk bareng kekamar " (kata Zayn)


" enggak-enggak, aku percaya kok sama kamu Zayn, jadi gak perlu masuk kamar bareng cukup anter aku kekamar aja udah " (kata Rindu)


Zayn tersenyum mengelus-ngelus puncak Kepala Rindu, calon istrinya ini sangat imut sekali pikirnya, apapun yang berkaitan dengan Rindu terasa menggemaskan baginya bahkan saat dalam kecemasan yang berlebihan seperti saat ini.


" ya udah yuk, lo juga pasti capek, besok juga harus kuliah, jangan ampek bangkong " (kata Zayn)


" iya " (kata Rindu)


" besok gue anter ke kost lo dulu baru gue anter ke kampus ya " (kata Zayn)


" tapi gak ngerepotin kakak kan? " (kata Rindu)


" mulai sekarang jangan sungkan-sungkan buat ngerepotin gue, lagian gue kan tunangan lo, gak lama juga gue bakal jadi suami lo " (kata Zayn)


" iya kak, maaf ya kalo aku ngerepotin " (kata Rindu)


" iya, lagian gue seneng kok udah lo repotin " (kata Zayn)


Setelah mengantarkan Rindu ke kamar Huma Zayn segera mempersilahkan Rindu untuk masuk kedalam kamar tersebut untuk beristirahat.


" langsung tidur ya, jangan begadang jangan mikir yang aneh-aneh " (kata Zayn)


" iya kak " (kata Rindu)


" good night, heppy nice dreams " (kata Zayn)


" thanks " (kata Rindu tersenyum)



Rindu

__ADS_1



Zayn


__ADS_2