
# Humaira Shakila Najma
Ini adalah hari ketiga ia mengikuti Ospek universitas, Ospek yang mencakup keseluruhan Maba yang masuk di UGM, masih dengan menggunakan seragam putih hitam & berkalungkan papan nama beserta topi petani Humaira beserta Maba lainnya kembali dikumpulkan di lapangan yang sama, Humaira masih berdiri ditempat yang sama tepat di sebelah Kevin tapi kali ini ia tak menundukkan kepalanya lagi karena ia telah terlanjur menjadi pusat perhatian selama dua hari saat acara ospek dimulai, kini para Maba beserta seniornya mengira dirinya kali ini patah hati karena cintanya pada Gibran bertepuk sebelah tangan, Humaira sedari pagi mendengar desas-desus tentang dirinya, padahal ia yakin sebenarnya pasti ada saja salah satu atau lebih dari surat-surat yang dibuat Maba kemaren yang termaksud surat cinta sama yang seperti ia buat hanya saja nasibnya terlalu sial kemarin sehingga surat cintanya lah yang menjadi tranding topik.
Banyak para senior BEM mengatakan bahwa dirinya terlalu lancang sebagai Maba memberikan surat cinta pada Wapres Gibran yang dijuluki sang Bad Boy dari jurusan kedokteran, bahkan pagi tadi sudah ada senior yang sengaja menabrak dirinya & menatapnya sinis, sudah pasti karena takut kalah saing dengannya untuk mendapatkan Gibran, seandainya mereka tau jika dirinya adalah saudara sepupu Gibran pasti para senior wanita akan sok baik padanya agar bisa lebih dekat dengan Gibran, tapi setelah acara ospek ini selesai Humaira berjanji tetap akan merahasiakan hubungan kekeluargaannya dengan Gibran.
" pagi semuanya " (kata Narendra presiden BEM)
" pagi " (kor Maba)
" kurang nyaring kurang semangat, sekali lagi, selamat pagi " (kata Narendra)
" pagi " (kor Maba lebih semangat)
Seperti biasanya para senior hari ini masih sama seperti hari kemarin dengan segala gaya sok seniornya, didepan lapangan berderetan para anggota BEM berdiri berdekatan, termaksud Gibran kakak sepupunya yang telah berada di samping Daus salah satu anggota BEM juga, saat fokus memperhatikan Gibran yang tengah mengobrol dengan Daus ternyata kakak sepupunya tersebut menyadari sedari tadi Humaira memperhatikan dirinya, Gibran tersenyum & memainkan matanya sebelah kepada Humaira, dengan ekspresi agak sebal Humaira memalingkan wajahnya.
" kenapa lo? " (kata Kevin)
" gak papa " (kata Humaira)
" lah itu kenapa tadi lo gitu-gitu nyengir " (kata Kevin)
" gak papa Kevin, udah diem-diem tar gue kena lagi gara-gara kita ngobrol " (kata Humaira)
Kevin hanya manggut-manggut saja, kembali lagi dengan aktivitas ospek kali ini, para Maba diberi tugas untuk mengumpulkan tanda tangan para anggota BEM termaksud presiden & wakil presiden, inilah yang paling Humaira tak suka dari acara seperti ini yaitu harus tatap muka & berhadapan langsung dengan para senior untuk meminta tanda tangan mereka.
" mulai dari sekarang ya, waktunya sampe jam 12, sekali lagi mohon perhatiannya, harus dapat semua TTD nya seluruh anggota BEM, terserah mau bagaimana caranya pokoknya harus semua, Maba yang TTD nya gak lengkap bakal dapat hukuman, sekali lagi Maba yang kurang TTD nya bakal dapat Hukuman, ok setelah saya bubarkan kegiatan boleh langsung dimulai " (kata Narendra selalu presiden BEM)
Setelah penjelasan dari presiden BEM panjang lebar akhirnya seluruh Maba segera dibubarkan memisahkan diri masing-masing, Humaira belum mengenal terlalu banyak Maba seangkatannya, ia hanya mengenal beberapa saja yang berada di jurusan yang sama dengannya, meskipun ia telah mengenal beberapa Maba di jurusan yang sama dengannya tetapi tak mudah baginya untuk secepat itu akrab dengan orang yang baru ia kenal sehingga sedari ia masuk menjadi Maba sampai hari ini ia hanya terus berdua dengan Kevin saja yang kebetulan sudah ia kenal lama.
Setelah membubarkan diri Humaira & Kevin mulai berburu tanda tangan para Anggota BEM, saat masih duduk disekolah menengah atas Humaira pernah menjadi anggota OSIS & pernah menyuruh para siswa baru untuk meminta tanda tangan seperti ini, agar para siswa baru kesulitan mendapatkan tanda tangan para anggota OSIS sengaja bersembunyi atau menghindar & inilah juga yang dilakukan anggota BEM.
" Gue males tau harus jalan keliling gini minta TTD, kampus ini gede tau, tuh anggota BEM kalo sembunyi di manapun pasti bakal sulit nemuinnya " (kata Humaira)
" ngapain mereka sembunyi? " (kata Kevin)
" ya supaya kita Maba susah dapetin TTD mereka terus kita dapat hukuman " (kata Humaira)
" su'udzon lo " (kata Kevin)
" gue gak su'udzon Kev, gue ngomong gitu karena gue dulu anggota OSIS, jadi gue tau otak-otak senior ginian " (kata Humaira)
" jadi ceritanya karma buat lo " (kata Kevin tersenyum)
" nji*r, kadang omongan lo suka bener tau, gue berasa karma pernah ngerjain murid baru " (kata Humaira)
" ya udah sih nikmati aja karma lo, hahahaha " (kata Kevin)
" nikmati gimana? " (kata Humaira)
Humaira mulai cemberut karena sampai detik ini bukunya masih saja kosong & belum mendapatkan satu TTD pun dari anggota BEM, Humaira sedikit memiliki ide untuk menghubungi kakak sepupunya dengan mengirimkan pesan WhatsApp agar kakak sepupunya membantu dirinya mendapatkan tanda tangan agar kali ini ia terlepas dari hukuman.
📩 pesan WhatsApp my Bro Gibran...
Humaira : help me pleaseee 🙏🙏🙏
Gibran : apa?
Humaira : bantu gue dapetin TTD kak
Humaira : pleaseee 😚😚😚
Gibran : sini buku lo
Gibran : biar gue yang mintain
Humaira : enggak gitu kak
Humaira: kasih tau aja dimana tuh temen lo ngumpet
Gibran : 🤣
Humaira : jangan ketawa lo
Gibran : ih songong, gak sopan
Gibran : gue wapres lo
Humaira : ya terus?
Humaira : lo utang kerugian ama gue kak
Gibran : hahaha masih yang kemaren?
Gibran : kan gue udah minta maaf
Humaira : maaf aja gak cukup
Humaira : buruan kasih tau gue dimana temen-temen lo pada ngumpet.
__ADS_1
Gibran : ok... ok...!
Gibran : lo ke ruang BEM ada gue disini
Humaira : lo doang gitu?
Gibran : ada presiden juga sama yang lainnya
Humaira : ok 😍
Humaira menarik tangan Kevin menuju ruang BEM untuk mendapatkan tanda tangan beberapa anggota BEM yang berada disana, saat sedang berjalan ada anggota BEM lainnya yang kebetulan selama berlangsungnya ospek tidak neko-neko dengan Maba, Humaira & Kevin menyempatkan untuk meminta tanda tangan, setelah mendapatkan tanda tangan ia & Kevin berjalan kembali.
" mau kemana sih Huma? " (kata Kevin)
" keruang BEM " (kata Humaira)
" lo yakin disana ada Anggota BEM? " (kata Kevin)
" menurut insting gue sih gitu " (kata Humaira), " tapi ngomong-ngomong ruang BEM mana Kev? " (kata Humaira)
Humaira agak kebingungan karena memang dirinya belum tau dimana letak ruang BEM sebenarnya, Humaira reflek menepuk jidatnya, mengapa ia bisa sebodoh ini sampai tak menanyakan pada kakak sepupunya dimana letak ruang BEM.
" ya udah lah kita keliling aja sambil cari ruang BEM " (kata Kevin)
Humaira masih berjalan bersama Kevin, dimana ada rombongan Maba berkumpul ia & Kevin akan ikut menghampiri gerombolan tersebut karena sudah pasti disana ada anggota BEM yang sedang dimintai tanda tangannya. Sudah lumayan banyak tanda tangan yang ia & Kevin dapatkan. Sampai saat ini Humaira belum menemukan ruang BEM padahal sudah sekitar satu jam setengah ia & Kevin berkeliling untuk mencari tanda tangan.
" ruang BEM dimana sih, ah capek gue " (kata Humaira)
" istirahat aja dulu deh, tar lagi dilanjutin " (kata Kevin)
" berapa jam lagi Kev? " (kata Humaira)
" dua jam lagi kok " (kata Kevin)
" ya Allah tinggal dua jam lagi tapi baru segini TTD nya, ya udah lah pasrah aja gue " (kata Humaira)
" tenang aja gue gak bakal biarin lo kena hukuman sendiri, gue juga bakal nemenin lo dihukum " (kata Kevin tersenyum)
" tapi tetep aja Kev pasti hukuman kita bakal beda & hukuman gue bakal yang aneh-aneh lagi " (kata Humaira)
Hukuman yang di terimanya memang terkesan aneh baginya, seperti kemaren setelah surat cintanya terungkap ia harus menjadi budak presiden dengan memijatnya seharian, setelah memijat ia disuruh bernyanyi satu album penuh seperti saat mengikuti audisi menyanyi disalah satu siaran televisi ajang pencarian bakat.
" eh itu lo liat deh, itu kayanya ruang BEM " (kata Kevin)
Humaira menyipitkan matanya mencoba membaca papan kecil yang tertera diatas pintu tersebut, ia mulai tersenyum sumringah karena benar itu adalah ruang BEM, ia lalu berjalan bersama Kevin menuju ruang BEM, setelah berada di depan ruang BEM Humaira menyuruh Kevin untuk mengetuk pintu yang kebetulan tertutup rapat.
" tok... tok... tok " (ketuk Kevin)
" kenapa? " (kata Judika)
" bang minta tanda tangan dong " (kata Humaira)
" siapa Ka? " (kata suara dari arah dalam)
Humaira sangat mengenal suara yang barusan bertanya pada Judika, suara tersebut adalah suara presiden BEM Narendra, ternyata Gibran benar jika diruang BEM banyak anggota BEM berkumpul.
" budak bersuara Merdu sama kutilang " (kata Judika)
Kutilang adalah nama julukan Kevin yang kebetulan perawakan Kevin memang tinggi kurus sehingga para senior memberinya nama alisnya adalah kutilang.
" suruh masuk " (kata Narendra)
" seriusan nih? " (kata Judika memastikan)
" iya " (kata Narendra)
" oke masuk " (kata Judika mempersilahkan masuk)
Humaira & Kevin akhirnya masuk kedalam ruang tersebut lalu Judika menutup kembali pintu ruang BEM kembali. Tak menyangka ternyata di ruang BEM memang banyak para anggota BEM tengah berkumpul, entah mengapa mereka bisa bersembunyi diruang mereka, tetapi ia tak menemukan Gibran diruang tersebut entah sedang kemana kakak sepupunya tersebut.
" lo cari siapa?, cari Gibran? " (kata Daus)
" siapa cari gue? " (kata Gibran yang baru keluar dari arah dalam)
Gibran tersenyum melihat kearah Humaira, saat ini dirinya & Kevin tengah berdiri di hadapan presiden BEM, rasanya suasana menjadi lebih dingin seperti saat akan mengikuti ujian kelulusan menghadapi presiden BEM cukup mendebarkan padahal ia hanya ingin meminta tanda tangan sebagai tugas yang barusan di berikan oleh presiden BEM.
" gila nih dua Maba berani masuk ruang BEM, punya nyali dia " (kata Firdaus)
" kenapa gak punya nyali?, kan memang tugas mereka buat cari kita " (kata Daus)
" kenapa diam aja, mau sampai kapan kalian diam berdua didepan situ? " (kata Judika)
Humaira menarik nafasnya panjang-panjang, apapun akan ia lakukan saat ini untuk mendapatkan tanda tangan para anggota BEM yang berada didalam ruang tersebut, Kira-kira sekitar ada sepuluh anggota BEM yang berada didalam ruangan tersebut.
" lo budak gue, kesini mau ngapain? " (kata Narendra)
" mau minta tanda tangan bang " (kata Humaira)
" apa yang lo bisa kasih ke gue? " (kata Narendra)
__ADS_1
" gak ada " (kata Humaira singkat)
Para anggota BEM yang berada diruang tersebut tertawa terbahak-bahak karena jawaban Humaira termaksud kakak sepupunya Gibran.
" lo berani keruang BEM nemuin presiden mau minta TTD tapi gak bawa apa-apa " (kata Narendra), " lo kutilang, bawa apa lo? " (kata Narendra)
" gak ada bang " (kata Kevin singkat)
" lo siapanya budak?, pacar? " (kata Narendra bertanya pada Kevin)
" temen bang " (kata Kevin singkat)
" beneran lo bukan pacarnya budak? " (kata Narendra)
" bukan bang, temen doang " (kata Kevin)
" tapi kayaknya lo suka ya sama budak? " (kata Narendra)
" suka bang tapi dianya gak suka sama saya " (kata Kevin)
" sian banget lo, terus lo masih deket sama budak lo masih PDKT lagi sama dia? " (kata Narendra)
" gak bang, kita temenan doang " (kata Kevin)
" ok guys, TTD punya sih kutilang " (kata Narendra)
Dengan semudah itu buku milik Kevin telah di tanda tangani oleh anggota BEM yang berada didalam ruangan tersebut, setelah ditanda tangani Kevin dipersilahkan untuk keluar dari ruang BEM, sedangkan Humaira masih tetap berdiri memegang bukunya. Ia merasa jika ia akan dikerjai lagi oleh Narendra, melihat Narendra tersenyum jahat membuat Humaira semakin yakin jika Narendra sedang berpikir untuk mengerjai dirinya.
" lo budak " (kata Narendra)
Semua mata para BEM yang berada didalam ruangan tersebut tertuju padanya, Humaira tiba-tiba merasa jika dirinya salah masuk untuk meminta tanda tangan karena bukannya ia mendapatkan tanda tangan justru dirinya tertahan sendiri disini untuk dikerjai oleh Narendra.
" lo mau TTD kita? " (kata Narendra)
" iya bang " (kata Humaira)
" gimana nih guys, kasih gak? " (kata Narendra bertanya pada yang lainnya)
" kasih aja, tapi suruh dulu dia bikinin kita kopi biar gak ngantuk " (kata Judika)
" tuh lo denger kan budak, Bang Judika minta bikinin kopi, ayo lo, bikin kopi sana " (kata Narendra)
" bikinnya dimana bang? " (kata Humaira)
" di dapur lah " (kata Judika)
" tapi saya belum pernah bikin kopi bang " (kata Humaira)
Humaira memang tak pernah membuat kopi, bahkan ia tak pernah meminum kopi buatannya sendiri, karena baginya membuat teh lebih mudah daripada membuat kopi karena membuat kopi itu rumit baginya.
" ya elah, lo cewek gak bisa bikin kopi, lo masak aer bisa gak? " (kata Daus)
" gak bang " (kata Humaira sambil menggeleng-gelengkan kepalanya)
Kata-kata Humaira sontak membuat mereka semua yang berada didalam ruangan tertawa kembali, Humaira memang tak pernah merebus air, tetapi sesekali ia membantu ibunya didapur hanya saja ia tak pernah memperhatikan hal-hal mendetail yang dilakukan didapur seperti masak air & yang lainnya.
" anak mami nih " (kata Judika)
" sini gue TTD aja " (kata Gibran menandatangani buku Humaira)
Humaira tersenyum karena akhirnya kakak sepupunya tersebut menandatangani bukunya, meskipun kakak sepupunya tersebut ditatap aneh oleh para anggota BEM lainnya yang ada disana.
" udah TTD aja, waktunya bentar lagi habis " (kata Gibran)
" gampang banget lo TTD, biasa lo yang paling susah, Jangan-jangan lo mulai suka ya sama budak " (kata Judika)
" ya gak lah, gue cuman kasian aja, dari kemaren dia kena hukuman terus " (kata Gibran)
Kakak sepupunya berusaha membujuk para anggota BEM untuk memberinya tanda tangan, tak disangka para anggota BEM yang berada diruang tersebut luluh & memberikannya tanda tangan tanpa syarat kecuali presiden BEM yang mau memberinya tanda tangan dengan sebuah syarat.
" gue tanda tangan asal lo kipasin gue, kemana gue pergi lo harus ikut gue karena lo budak gue, apapun yang gue suruh lo harus turuti " (kata Narendra)
" tapi bang ini tanda tangan saya belum semua " (kata Humaira)
" udah itu gampang, tar biar gue suruh yang lainnya tanda tangan yang penting lo tetep di sebelah gue " (kata Narendra)
Humaira hanya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Narendra, setidaknya ia tak susah-susah berhadapan dengan para anggota BEM wanita yang jelas akan mempersulit dirinya saat meminta tanda tangan.
Gibran
Humaira
__ADS_1
Narendra