Polwan Cantik

Polwan Cantik
#99


__ADS_3

Malam ini adalah malam perpisahan di asrama SPN karena besok Safitri & bintara polwan lainnya akan kembali kekota masing-masing untuk bertugas, di asrama telah banyak para orangtua & para tamu undangan, meskipun begitu ramai tetapi Safitri tetap saja merasakan kedukaan yang mendalam, pikirannya hanya tertuju kepada ayahnya yang telah tiada, ia begitu kehilangan tapi ia yakin ibunya lebih sangat kehilangan apalagi ia tidak berada bersama ibunya untuk saling menguatkan.


" *ibu pasti sedih banget, selama aku disini ibu cuman berdua sama ayah, dibandingkan aku ibu pasti lebih merasa kehilangan " (gumam Safitri dalam hati)


" ya allah aku sudah iklasin kepergian ayah, tempatkan ayah disyurgamu ya allah, cintailah & sayangilah dia seperti dia mencintaiku " (gumam Safitri dalam hati*)


Tanpa terasa air matanya meleleh jatuh membasahi pipinya, hatinya sesak panas sakit, patah hati putus cinta saja tak sebanding rasanya dengan ditinggalkan seorang ayah untuk selamanya. Perasaan kehilangan seperti ini akan ia selalu ingat sepanjang masa selama ia masih hidup didunia bahkan saat ia menuapun ia akan selalu mengingat kesedihan ini. Safitri menenggelamkan kepalanya dilipatan tangannya diatas meja, ia berusaha menutupi kesedihannya diantara kebahagiaan para bintara polwan yang tengah bersuka cita merayakan momen-momen yang ditunggu selama tujuh bulan ini, seharusnya pada hari ini ia juga turut bahagia tetapi kebahagian itu tidak cukup untuk mengusir dukanya. Safitri saat ini masih ditemani oleh kedua orangtua bripka abimana, Bara , Bripda Alin & Widia. Sampai saat ini Widia selalu setia menemaninya, Widia adalah teman yang baik suka dukanya selama tujuh bulan ia lalui bersama widia.


" Fit, lo jangan sedih terus ya " (kata Widia yang ikut menetes kan air mata)


" sayang, jangan tangisi ayah kamu terus kaya gini, kasian ayah disana pasti sedih liat kamu begini " (kata mama)


" Fit, yang dibilang tante bener Fit, lo gak boleh sedih terus-terusan, pasti ayah lo sedih kalau liat lo begini " (kata Widia)


Safitri lalu menegakan kepalanya kembali menatap Widia lalu menatap mama Bripka Abimana, jika ia bisa bertanya siapa sih orang yang tidak akan bersedih ditinggalkan seorang ayah pada saat begini, disaat ia tidak bisa bersama & menemui ayahnya. Mungkin matanya telah bengkak saat ini, ia lalu memeluk mama Bripka Abimana & menangis dipelukan calon mertuanya sedangkan Widia hanya mengelus-elus punggungnya.


" mama tau kesedihanmu sayang, tapi dengan menangis ayah gak akan pernah kembali & itu cuman bakal ngebuat ayah kamu sedih disana " (kata mama mengelus kepala Safitri)


" ma,....apa mama masih punya orangtua?, apa mama pernah ngerasain ditinggal kaya Safitri? " (kata Safitri bertanya)

__ADS_1


" mama sudah gak punya ibu sayang, dulu mama ditinggal oma waktu mama masih duduk dikelas dua sekolah menengah pertama, waktu itu mamanya Alin masih kelas 6SD, kamu bisa bayangin gak bagaimana beratnya seorang gadis kecil hidup tanpa seorang ibu? " (kata mama)


" mama pasti sangat sedih ya? " (kat Safitri)


" awalnya mama gak bisa nerima takdir, mama nangis sepanjang hari, mama gak makan, mengurung diri dikamar, tapi lama-lama mama sadar, kesedihan mama itu mungkin gak sebanding sama kesedihan adik mama yaitu mamanya Alin karena dia lebih muda dari mama, mama berusaha menguatkan diri mama berusaha menjadi pengganti ibu buat adik mama satu-satunya, mama berusaha menjadi tegar " (kata mama)


Mendengar cerita mama Safitri melepaskan pelukannya lalu menatap mama, ia menghapus air matanya, ia berfikir mungkin saja dirinya lebih beruntung dibandingkan orang lain bahkan ia masih bisa bersama ayahnya saat tumbuh dewasa.


" waktu itu opa harus kelimpungan sendiri nyiapkan segala sesuatu buat mama & adik mama, jadi mama memutuskan buat nyuruh opa cari pengganti oma karena papa masih muda kan, tapi opa gak mau nikah lagi, sampai sekarang, hahahahha opa cinta banget sama oma rupanya " (kata mama)


" terus dimana opa tinggal oma? " (kata Safitri)


" mama lebih kecil dibanding Safitri waktu ditinggal oma tapi mama jadi pribadi yang sangat luar biasa, Safitri sudah mengikhlaskan ayah tapi Safitri masih terus nangisin ayah, mungkin ayah juga sedih liat Safitri begini padahal ibu pasti lebih sedih dari Safitri soalnya selama Safitri disini mereka cuman tinggal berdua, Safitri janji Safitri bakal lebih tegar supaya ibu gak ngerasa sedih lagi & ayah disana bakal tenang, terimakasih ya ma " (kata Safitri)


" sayang kamu harus lebih dewasa, kamukan kebanggaan kedua orangtuamu, jangan salahkan pendidikanmu disini yang ngebuat kamu gak bisa ketemu ayahmu buat yang terakhir kali, ayahmu juga pasti disana bakal selalu bangga sama kamu " (kata mama tersenyum)


" hmmm " (kata Safitri tersenyum kepada mama), " terimakasih ya Wid, gue sudah nyusahin lo, sudah bikin lo ikut-ikutan nangis kaya gue, harusnya lo sekarang seneng kaya yang lainnya " (kata Safitri memeluk Widia)


" gue gak bisa biarin lo sendirian Fit, lo temen gue, kita disini sudah kaya saudara dimana ada lo pasti ada gue, lo kehilangan ayah lo waktu lo disini gimana gue mau seneng-seneng sendiri sementara keadaan lo begini, gue bakal selalu ada buat lo, gue janji " (kata Widia)

__ADS_1


" lo memang teman terbaik gue Wid " (kata Safitri)


" lo jangan sedih lagi ya, banyak orang yang sayang sama lo ikut sedih " (kata Widia)


" Widia bener Fit, kamu jangan sedih lagi ya, terima dengan lapang dada, kalau kamu sudah mengiklaskan ayahmu jangan tangisi dia lagi, papa tau kamu sedih tapi kesedihanmu bakal ngebuat ayahmu ikut sedih " (kata papa)


" iya pa, terima kasih ya pa, sudah ada disini buat ngewakili orangtua Safitri " (kata Safitri,)


" iya Fit, papakan juga orangtua kamu nak jangan sungkan, besok papa sama mama juga Alin sama Bara bakal antar kamu pulang " (kata papa)


" apa gak ngerepotin pa, ka Alin apa gak tugas?, Bara kan juga sekolah? " (kata Safitri)


" gue udah ijin de, bang Sofiyan juga ikut kok, lo gak usah kuatir, justru kita yang kuatir banget sama lo, lo memang kuat de " (kata Bripda Alin)


" iya kak " (kata Safitri)


" papa sudah ijinin Bara dari sekolah nak, jadi dia bisa ikut besok " (kata papa)


" gue cukup pinter kok, jadi lo gak usah khawatir sehari gue gak sekolah gak bikin gue bakal gak lulus ujian kelulusan " (kata bara)

__ADS_1


Safitri sangat beruntung calon mertuanya & keluarganya begitu perhatian kepadanya, menyayanginya seperti halnya anak sendiri.


__ADS_2