Polwan Cantik

Polwan Cantik
#17 SEASON 2


__ADS_3

" Pi Zayn berangkat dulu ya, papi jaga kesehatan jangan terlalu capek ya, papi harus tetep sehat " (kata Zayn kepada Abimana)


" iya kak, pasti papi bakal jaga kesehatan " (kata Abimana tersenyum)


" mi Zayn berangkat " (kata Zayn memeluk Safitri)


" hati-hati ya Zayn, kakak jangan terus-terusan mikirin papi, kamu fokus bawa pesawat jangan mikir aneh-aneh, kamu bukan cuma bawa nyawa kamu loh kak " (kata Safitri)


" iya mi Zayn ingat kok " (kata Zayn), " dek kakak berangkat ya, tolong jaga papi ya " (kata Zayn kepada Huma sambil memeluknya)


" iya kak, Lo hati-hati ya, Lo harus tetap semangat kerjanya, jangan Meleng bawa pesawatnya, Lo harus tetep bisa pulang kumpul lagi bareng kita " (kata Humaira)


" iya dek, gue pasti bakal pulang kok " (kata Zayn)


Mengingat profesinya sebagai seorang pilot sangat banyak kemungkinan yang akan terjadi, selama ini ia hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi tetapi ia tetap berdoa & berusaha dengan sebaik mungkin agar tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan.


" uncle,..aunty,...Zayn pamit ya " (kata Zayn juga berpamitan kepada Bara & Widia)


" iya Zayn, jaga kesehatan ya, pola makan dijaga biar gak sakit " (kata Bara)


" siap uncle " (kata Zayn)


" kamu diantar sama Gibran kan bang? " (kata Widia)


" iya mi Abang aku yang antar " (kata Gibran)


" Gibran bawa SIM emang? " (kata Bara)


" bawa lah Ded " (kata Gibran tersenyum)


" ya udah hati-hati " (kata Bara)


Mobilnya telah melesat menjauh dari pekarangan rumahnya setelah berpamitan, meskipun ia cukup cemas dengan keadaan ayahnya tapi ia juga harus tetap fokus menjalani pekerjaan, inilah kewajiban yang harus ia jalani.


" Lo lama Gib disini? " (kata Zayn)


" dua harian kayanya bang " (kata Gibran yang saat ini duduk disebelah Zayn yang sedang mengemudi)


Jam telah menunjukkan pukul 02.00siang, setelah sampai ia akan segera menuju hotel tempat persinggahannya sementara, selama menjadi seorang pilot ia kerap tinggal berpindah-pindah dari hotel satu ke hotel yang lain, seorang pilot memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, bisa saja dia sarapan di kota C pada pagi hari, lalu bermalam di daerah lain atau bahkan negara lain dimalam hari.


Walau pun cepat berpindah lokasi, tapi tak sembarang hotel bisa jadi tempat persinggahan pilot. Ada standar khusus yang juga berpengaruh dengan kondisi pilot saat nantinya akan bertugas kembali, seorang pilot biasanya memilih hotel yang terbaik bukan hotel yang termewah, tetapi umumnya mereka akan menginap di hotel bintang 4 tergantung kebijakan perusahaan masing-masing.


" Lo kabarin aja gue bang kalo Lo di kota C, jadi gue bisa nyamperin Lo ke hotel tempat Lo nginep " (kata Gibran)


" gampang Gib, lagian Lo juga belum balik " (kata Zayn)


" mau terbang kemana Lo besok bang? " (kata Gibran)


" kota D " (kata Zayn)


" jadi Lo terbang kesana siang ini bang? " (kata Gibran)


" ya gitu lah " (kata Zayn)


Setelah berkendara beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di bandara, Zayn segera turun membawa travelbag miliknya.


" Lo gak usah anter gue kesana lah Gib, balik aja Lo " (kata Zayn)


" ok bang " (kata Gibran)


" ya udah Sono Lo balik " (kata Zayn)


" siap, gue balik ya kalo gitu, see you next time bang, jangan lupa kabarin gue " (kata Gibran)


Zayn hanya mengacungkan jempolnya kearah Gibran sambil berjalan menjauh dari parkiran menuju lobi. Di lobi sudah ada beberapa Airport Helper & Aviation Security yang menyapanya, siapa yang tak mengenal Zayn di bandara tersebut, ia adalah Kapten Pilot penerbang pesawat Boeing 757-*** Garuda Indonesia. Tanpa menunggu lama ia lalu check in di konter maskapai penerbangan, setelah mendapatkan boarding pass ia lalu masuk kedalam boarding room. Meskipun dirinya seorang Kapten Pilot ia juga tetap harus mematuhi standar-standar pemeriksaan sebelum menaiki pesawat.


" hai " (kata seorang wanita yang baru saja duduk disebelahnya)


Zayn hanya tersenyum sambil mengangguk kearahnya, lalu fokus kembali dengan ponselnya, wanita tersebut adalah Indara Maura Hasel seorang pramugari yang bertugas di awak pesawat yang ia bawa.


" untung bisa bareng, tadinya gue kira gak bakal ketemu Lo disini " (kata Maura), " Lo kenapa sih diem aja, gue ngajak ngomong loh " (kata Maura)


Zayn masih tetap diam membiarkan Maura berbicara sendiri, menurut berita yang ia dengar dari beberapa copilot yang cukup dekat dengannya Maura adalah salah satu dari pramugari yang sedang berusaha ingin mendekatinya, meskipun Maura terlihat lumayan cantik tapi Zayn tidak pernah tertarik dengan Maura.


# Andriawan Abara Brilian


Bara masih asik duduk mengobrol dengan kakaknya sambil menikmati secangkir kopi, sudah sekian lama ia tak menikmati waktu bersama kakaknya selama beberapa bulan belakangan ini karena mereka tinggal di kota berbeda, tetapi Bara lebih sering bertemu dengan keponakannya yaitu Zayn karena kebetulan Zayn sering menerbangkan pesawat dengan rute di tempat ia tinggal sekarang.


Bara memutuskan untuk segera terbang mendatangi kakaknya karena kakakanya ini ingin meminta bantuannya, kakaknya berniat menjodohkan keponakannya dengan anak dari Aidan, khawatir jika Zayn akan menolak ia lalu bersandiwara, untuk membuat Zayn percaya kakaknya menyuruhnya segera terbang ke kota xxx dengan memboyong istri beserta anak mereka.


" bang Lo gak mungkinkan gak bongkar kebohongan Lo " (kata Bara)

__ADS_1


" nanti gue bongkar tunggu mereka nikah, setelah itu gue bakal ngomong " (kata Abimana)


" Lo gak takut Zayn kecewa sama Lo? " (kata Bara)


" gak papa lah kecewa demi kebaikan " (kata Abimana)


" ah kacau Lo bang " (kata Bara)


" lama-lama Zayn bakal ngerti kenapa itu gue lakuin " (kata Abimana)


" ya...ya...semoga aja, tapi Lo sama aja maksain kehendak Lo bang " (kaya Bara)


" tapi Zayn keliatan gak terpaksa tuh " (kata Abimana)


" ya karna dia mikir Lo sakit, bener-benar Lo bang " (kata Bara)


Bara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar setiap jawaban yang diberikan Abimana. Bara berharap suatu saat jika Zayn mengetahui kebohongan Abimana ia tak akan membenci Abimana sebagai orang tuanya & tetap menjalani rumah tangganya dengan baik.


" Huma lulus sekolah kuliah dimana bang? " (kata Bara)


" belum tau dia Bar, gue maunya sih Deket sama Lo, jadi bisa bareng Gibran, bisa sering ketemu Zayn, ya Lo kan tau anak gadis mana bisa gitu aja gue lepas hidup sendiri " (kata Abimana)


" emang sampe sekarang Huma belum tau mau kuliah ambil jurusan apa bang?, bagus juga kalo tinggal sama gue bang, jadi Gibran gak kelayapan terus " (kata Bara)


" belum Bar, ditanya sama maminya katanya masih mikir dia " (kata Abimana)


" tapi dia ada niat buat lanjut kan bang? " (kata Bara)


" harus lanjut lah, diluar sana banyak yang gak punya biaya pengen lanjutkan, kalo memang Huma gak pengen lanjut dia harus punya alasan yang tepat, lagian gue mampu biayain dia kuliah mau kemana aja " (kata Abimana)


" alasan, maksudnya bang? " (kata Bara)


" ya misalnya pengen masuk polwan, tentara atau pengen jadi pilot kaya Zayn " (kata Abimana)


" tapi Lo ijinin tuh anak Lo daftar gituan " (kata Bara)


" kalo dia mau silahkan, tapi gue tau anak gue gak bakal daftar gituan Bar " (kata Abimana)


Membahas persoalan anak seperti ini memang tak akan ada habisnya apalagi menyangkut persoalan pendidikan untuk masa depan anak-anak mereka.


# Humaira Shakila Najma


" dek udah punya pacar belum? " (kata Widia)


" aih aunty pake tanya begituan lagi, hahahah " (kata Humaira)


" kenapa dek?, jangan malu lah sama aunty " (kata Widia)


Humaira hanya tersenyum karena pertanyaan dari tantenya, ia memang saat ini belum boleh mempunyai pacar karena ayahnya tidak ingin dirinya tidak fokus sekolah jika mempunyai pacar, ia tak pernah keberatan dengan aturan dari ayahnya jika itu terbaik untuknya.


" Huma belum boleh pacaran lah beb sama Papinya " (kata Safitri)


" lah kenapa Fit?, tuh Huma udah gede loh " (kata Widia)


" tunggu lulus dulu dari SMA kata papi sih " (kata Humaira)


" hihihi, Lo bocil masih dek " (kata Gibran)


" biarin gue bocil, kaya Lo udah punya pacar aja kak " (kata Humaira)


" Gibran lagi jomblo tuh dek, baru diputusin ceweknya dia " (kata Widia,)


" hahahahah, posesif sih Lo makanya diputusin " (kata Humaira)


" sok tau Lo " (kata Gibran)


Humaira cukup akrab dengan Gibran karena sesekali mereka berdua melakukan panggilan video call untuk mengobrol.


" bude boleh gak Gibran minta temenin Huma jalan? " (kata Gibran kepada Safitri)


" emang mau kemana kak? " (kata Widia)


" pengen jalan aja mi mumpung lagi disini " (kata Gibran)


" boleh aja kok, tapi inget hati-hati " (kata Safitri)


# Bumi Samudera


Masih didalam kamarnya Bumi saat ini sedang sibuk mencari jurusan untuk melanjutkan pendidikannya, awalnya ia sangat ingin menjadi seorang polisi, tetapi ia mengurungkan niatnya tersebut, Bumi akan melanjutkan studinya di luar negeri agar bisa jauh dari Humaira, ia berfikir jika ia terus dekat dengan Humaira pastinya akan membuat dirinya semakin sulit untuk move on dari Humaira.


Bumi sudah mendapatkan beberapa rekomendasi universitas terbaik, tetapi ia sepertinya menjatuhkan pilihannya ke London, ia akan melanjutkan pendidikannya di London Business School dengan program MBA terbaik, ia akan mengambil jurusan bisnis disana. Kedua orangtuanya tak akan pernah menentang tentang keputusannya soal pendidikan, sama seperti saat kakakanya Rindu memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan pariwisata.

__ADS_1


" kalo gue disini aja pasti ujung-ujungnya gue bakal ketemu Huma lagi, terus gue gak bakal bisa move on dari dia, kalo gue jauh otomatis gue bakal pulang setahun sekali lama-lama gue bisa move on dari Huma, ok lah " (kata Bumi berbicara sendiri)


Setelah mantap dengan pilihannya ia keluar dari kamarnya untuk menghampiri kedua orangtuanya, Bumi akan segera memberi tahu kedua orangtuanya tentang pilihannya setelah lulus sekolah. Dilihatnya kedua orangtuanya telah duduk bersantai sambil menonton televisi.


" pa,...ma " (kata Bumi)


" em,..." (kata Risya)


" kak Rindu mana? " (kata Bumi)


" kak Rindu dikamarnya Bum " (kata Aidan)


" oh " (kata Bumi tersenyum sambil menggaruk kepalanya)


" kenapa Bum? " (kata Aidan)


" gak papa pa, oh iya pa Bumi udah tau nih mau lanjut kemana " (kata Bumi)


Kedua orangtuanya menatap kearahnya, memang selama ini kedua orangtuanya sering menanyakan perihal pendidikannya setelah lulus sekolah tetapi ia belum pernah sama sekali memutuskan akan kemana ia akan melanjutkan kuliahnya.


" ma, pa, boleh gak kalo Bumi lanjut keluar negeri? " (kata Bumi)


" emang kamu mau kuliah jurusan apa dek? (kata Risya)


" Bumi mau kuliah MBA ma, Bumi juga udah cek sih, Bumi mau kuliah di London " (kata Bumi)


" kamu serius mau lanjut ke London? " (kata Aidan)


" iya pa " (kata Bumi)


" papa sih setuju aja, asal kamu sekolah yang benar-bener disana " (kata Aidan)


" iya mama juga terserah kamu dek, gimana yang baik buat kamu aja, ya tapi tetep sama kaya papa kamu yang bener kalo sekolah jangan main-main " (kata Risya)


Bumi cukup lega karena kedua orangtuanya mendukung keputusannya, ia yakin jika kedua orangtuanya selalu mendukung apapun itu jika untuk pendidikan.


" pa, ma, boleh minta tolong gak " (kata Bumi)


Kedua orangtuanya kembali menatap kearahnya, kali ini ia akan meminta agar kedua orangtuanya merahasiakan ini untuk sementara.


" apa dek? " (kata Risya)


" bisa gak papa sama Mama rahasiain ini dulu, soalnya Bumi juga belum tentu lulus tes di londen kan " (kata Bumi)


" iya dek " (kata Risya)


" tapi papa yakin kamu pasti lulus " (kata Aidan menepuk bahu anaknya)


# Abdul Zayn Mikail


Zayn telah berada didalam hotel bintang 4 di kota D, ia telah menghubungi kakak dari ayahnya karena berada di kota di mana budenya tinggal, saat ini ia telah bersama dengan Faiz Fahrul Al-fatah anak kedua dari Budenya yang kebetulan seumuran dengannya, Faiz saat ini bekerja sebagai seorang angkatan laut, sangat jarang ia bisa bertemu Faiz saat bertugas di kota D, ini sangat kebetulan karena Faiz saat ini sedang mengambil cuti bekerja.


" Lo gak ngabarin gue sih kalo Lo lagi cuti? " (kata Zayn)


" ah males gue sama Lo, kalo diajak ke club banyak alasan " (kata Faiz)


" hahahahah, gila Lo masih aja rajin ke club, bukan ABG lagi kita " (kata Zayn)


" hiburan bro, tapi kalo sekarang gue gak bakal ajak lo clubbing, bisa mati gue di omelin bokap nyokap gue kalo ketauan " (kata Faiz)


" ya gue juga gak mau kali, besok gue bawa pesawat mau mab*k-mab*kan malamnya bisa dipecat gue, lagian gue juga udah berenti minum-minuman keras " (kata Zayn)


" hebat Lo, hahahah, gue malah belum bisa " (kata Faiz), " rokok " (kata Faiz memberikan sebungkus rokok kepada Zayn)


Zayn menerima sebungkus rokok yang diberikan Faiz, diambilnya sebatang lalu ia nyalakan, sebenarnya Zayn bukanlah tipe perokok aktif hanya saja saat ia merasakan stress berlebihan seperti ini ia akan merokok.


" lagi banyak pikiran Lo? " (kata Faiz)


Sepupunya ini memang sangat dekat dengannya sehingga dia sangat hapal bagaimana dirinya, Zayn hanya menyunggingkan senyumnya sambil memalingkan pandangannya.


" punya masalah ya Lo? " (kata Faiz)


" gue mau nikah " (kata Zayn)


" ya bagus dong " (kata Faiz), " eh tunggu dulu, setau gue Lo gak punya cewek, jangan-jangan Lo dijebak sama cewek bunting ya? " (kata Faiz)


" anjie*r Lo, gue dijodohin sama papi " (kata Zayn)


" ah gila gue pikir, terus Lo terima? " (kata Faiz)


Iya hanya menganggukkan kepalanya sambil terus menikmati sepuntung rokok yang ada ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2