
Zayn memeluk istrinya erat sambil sesekali mencium kening istrinya, mereka berdua terpaksa bergelap-gelapan malam ini karena listrik di apartemennya padam, untung malam ini ia bisa pulang & menemani istrinya, Zayn mengingat betapa takutnya Rindu saat berada dalam ruangan gelap. Zayn mengelus-ngelus rambut Rindu lembut sambil tersenyum, ia agak lega karena bisa bersama untuk malam hari ini.
" kak " (kata Rindu)
" hem " (kata Zayn)
" aku laper " (kata Rindu)
Zayn agak terkejut mendengar kata-kata istrinya, mengingat istrinya memiliki riwayat maag akut, ia langsung bangkit & menatap istrinya, meskipun hanya disinari oleh pencahayaan seadanya namun wajah istrinya masih nampak terlihat jelas.
" kamu belum makan? " (kata Zayn)
Istrinya hanya menganggukan kepalanya saja, Zayn langsung mengajak Rindu turun dari tempat tidur & menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum mereka berdua keluar.
" kakak ngadep sana ya " (kata Rindu sebelum melepaskan pakaiannya)
" astagfirullah buat apa? " (kata Zayn)
" aku kan mau ganti baju " (kata Rindu)
" masya allah sayang, kita kan udah sah emang kenapa sih kalo aku liat kamu ganti baju " (kata Zayn)
" malu kali kak, hadap sana please " (kata Rindu memohon)
" ogah " (kata Zayn)
" kak " (kata Rindu merengek)
" ya udah sih ganti aja, lagian remang-remang ini gak seberapa keliatan " (kata Zayn mencari alasan)
Istrinya kemudian mulai berganti baju, Zayn hanya tersenyum-senyum sendiri melihat istrinya akhirnya Rindu berganti pakaiannya di hadapannya.
" udah siap? " (kata Zayn)
" udah kak " (kata Rindu)
" ya udah yuk " (kata Zayn)
Mereka berdua menuju arah luar dengan bergandengan tangan, Zayn masih terus tersenyum bahagia akhirnya saat ini bisa bersama dengan istrinya.
" kamu kenapa baru ngomong kalo belum makan sih? " (kata Zayn)
" gak enak soalnya kan kakak baru sampek " (kata Rindu)
" lain kali jangan gitu ya, aku gak mau loh kamu sakit " (kata Zayn agak cemas)
" tadi aku sebenernya mau masak kak, tapi berhubung mati lampu jadi aku gak jadi masak, maaf ya kak udah ngerepotin kakak " (kata Rindu)
Rindu menatap kearah Zayn dengan melas, Zayn jadi merasa bersalah, ia jadi tak tenang jika harus meninggalkan Rindu kembali di apartemen mereka saat ia bertugas kembali.
" sayang jangan minta maaf ya, salah aku ninggalin kami sendiri di apartemen, kamu pasti tadi takut banget ya, gak tau deh apa jadinya tadi kalo aku gak datang " (kata Zayn)
Zayn merangkul istrinya sambil mengelus-ngelus bahu Rindu & mencium puncak kepala istrinya tersebut. Setelah berada di bawah mereka berdua langsung naik kedalam mobil. Zayn mengemudikan mobil menjauh menuju jalan raya.
" kakak besok berangkat jam berapa? " (kata Rindu)
" jam 8 " (jawab Zayn singkat)
" pagi bener kak " (kata Rindu)
" iya ada jadwal penerbangan pagi soalnya, kenapa? " (kata Zayn melihat kearah Rindu)
" kakak besok stay dimana? " (kata Rindu bertanya lagi)
" kota xxx sayang " (kata Zayn lagi)
" ya gak balik lagi dong besok malem " (kata Rindu)
" iya sayang, aku juga gak enak kalo mau tukaran lagi sama kapten Joni, kamu yang sabar ya kan tinggal semalem besok aja kita pisah " (kata Zayn memegang pipi istrinya)
Istrinya hanya mengangguk sambil tersenyum, setelah beberapa menit akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai juga di sebuah restoran, mereka berdua segera turun dari mobil & berjalan menuju restoran tersebut.
Setelah beberapa saat memesan beberapa menu makanan serta minuman mereka berdua kembali mengobrol sambil menunggu pesanan mereka berdua, Rindu duduk disebelahnya terus menyenderkan tubuhnya di dada Zayn, ia hanya tersenyum mendapati tingkah manja istrinya.
" pasti kangen banget ya sama aku? " (kata Zayn sambil tersenyum)
" tau dari mana? " (kata Rindu sambil tersenyum)
" ini nempel mulu " (kata Zayn)
__ADS_1
" gak boleh? " (kata Rindu)
" boleh lah, aku seneng malah kamu begini " (kata Zayn)
Zayn tersenyum sambil membelai rambut istrinya kembali, meskipun istrinya tak pernah mengucapkan secara langsung tentang isi hatinya tetapi Zayn tau jika istrinya juga sangat mencintainya sama seperti dirinya yang sangat mencintai istrinya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan mereka tiba juga dengan diantar oleh seorang pelayan. Mereka mulai menyantap makanan yang sudah berada didepan meja mereka.
" makan yang banyak ya, kan habis ini kita mau tempur " (kata Zayn tersenyum)
" ih apaan sih " (kata Rindu malu-malu sambil mencubit pelan Zayn)
Zayn ikut tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat nampak manis, membuat dirinya tak sabar untuk pulang, jika melihat tingkah manis istrinya tersebut Zayn yakin jika dirinya tak akan sanggup berlama-lama tugas diluar kota.
" pelan-pelan aja kak makannya, kok ngebut gitu sih kayaknya, tar sakit lo perutnya " (kata Rindu)
" gak papa, biar cepet habisnya, biar cepet balik kita " (kata Zayn tersnyum)
Zayn telah menghabiskan makanan yang berada didepan mejanya saat ini, sambil tersenyum ia melihat kearah Rindu yang nampak keheranan melihat dirinya saat ini yang memang sangat terburu-buru menghabiskan makanannya.
" kak Zayn laper banget ya kayanya? " (kata Rindu)
Zayn tersenyum mendengar kata-kata istrinya, ia saat ini memang sudah sangat ingin kelaparan batinnya karena tak sabar ingin memakan istrinya cepat-cepat.
" maaf ya kak jadi makan diluar nih, harusnya tadi kita makan di rumah " (kata Rindu)
" gak papa sayang, namanya juga ada kendala di rumah, aku malah bersyukur kamu gak masak tadi jadi gak kecapean kamunya " (kata Zayn tersenyum)
" aku kan gak bakal capek kalo cuman masak doang kak " (kata Rindu)
" iya sayang kamu gak bakal capek, cuman aku aja yang bisa bikin kamu capek olahraga malam " (kata Zayn tersenyum)
" is kakak nih, malu tau di denger orang " (kata Rindu)
Wajah istrinya saat ini sudah merah merona bak tomat masak, Zayn tersenyum karena berhasil menggoda istrinya. Setelah menyelesaikan makan mereka segera meninggalkan restoran setelah membayar bill, mobil menjauh dari restoran tersebut menuju jalam raya.
# Humaira Shakila Najma
Malam ini ia mendapatkan kabar dari kakaknya jika rute penerbangannya berubah & tak jadi stay di kota C seperti yang ia katakan kemarin, padahal Humaira sangat merasa senang jika ia bisa bertemu dengan kakaknya kembali, tetapi ia sangat mengerti mengapa ia merubah rute penerbangannya, mengingat kakak iparnya saat ini hanya seorang diri di kota D.
Humaira masih duduk di sebuah ayunan besi di taman yang berada di sebelah rumah pamannya sendiri, kali ini Gibran sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya sehingga tak bisa menemani dirinya saat ini.
📞 panggilan masuk kak Mauren.....
" Assalamuallaikum kak " (kata Humaira menjawab telepon tersebut)
" waallaikumsalam, lagi apa dek? " (kata Mauren)
" lagi santai aja sambil dengerin musik, kakak lagi apa? " (kata Humaira)
" lagi istirahat, oh iya dek kakak mau nanya nih, boleh gak? " (kata Mauren)
" oh silahkan kak, mau nanya apa nih? " (kata Humaira)
" mau nanya soal Zayn " (kata Mauren)
Humaira terdiam mendengar kata-kata Mauren, ia merasa saat ini Mauren menyukai Zayn sehingga Mauren mendekati dirinya, ia merasa telah salah dekat dengan Mauren terlebih lagi kakaknya saat ini telah menikah dengan Rindu, ia berusaha berpikir positif untuk menenangkan dirinya, mungkin saja saat ini Mauren sedang ingin bertanya sesuatu hal yang yang lain tentang kakaknya pikirnya.
" dek " (kata Maura)
" oh iya kak, apa yang mau di tanya? " (Humaira terkejut)
Humaira sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga melupakan Mauren yang sedang menelpon dirinya untuk menanyakan tentang Zayn.
" Zayn emang beneran udah nikah ya? " (kata Mauren)
Untuk yang ini Humaira harus mengatakan yang sebenarnya karena ia tak ingin ada seorang pelakor pun diantara Zayn & Rindu, melihat saat ini kakaknya terlihat sangat bahagia dengan Rindu ia tak akan membiarkan pihak mana pun berani mengganggu kebahagiaan kakaknya.
" iya emang udah kak, kalo boleh tau kenapa ya? " (kata Humaira)
" Zayn emang pacaran udah lama ya sama istrinya " (kata Mauren)
" mereka gak pacaran kak, mereka di jodohkan " (kata Humaira)
" kenapa Zayn mau nikah padahal di jodohin? " (kata Mauren)
" ya karena kak Zayn cinta sama istrinya, makanya dia mau di jodohin " (kata Humaira)
Saat ini kakaknya & kakak iparnya memang telah menjadi pasangan yang saling mencintai & ia yakin mereka berdua akan hidup bahagia selamanya.
__ADS_1
" emang udah seberapa lama mereka deket? " (kata Mauren)
" kalo kenalnya sih dari kecil karena anak sahabat mami sama papi, kalo deketnya baru dua bulan terus dinikahin " (kata Humaira)
" dua bulan doang deket Zayn bisa cinta, mustahil banget " (kata Mauren)
Mendengar kata-kata Mauren lagi-lagi ia terdiam, kakaknya selama ini tak pernah dengan siapapun, jika pun ia dekat dengan Rindu dalam waktu dua bulan & langsung cinta tak ada yang salah, apalagi Rindu adalah tipe wanita yang baik serta humble & friendly.
" kak, maaf ya udah dulu, kayaknya huma dipanggil ama onty " (kata Humaira beralasan)
" oke " (kata Mauren)
Humaira menutup panggilan telepon dari Mauren & mulai menyalakan musiknya kembali, Humaira menggelengkan kepalanya merasa bodoh dengan dirinya sendiri, selama ini ia selalu menghindari wanita yang mencoba medekati kakaknya yang pastinya akan memanfaatkan dirinya tetapi kali ini justru saat kakaknya telah menikah ada seorang wanita yang ingin mengorek informasi tentang kakaknya darinya.
" kenapa lo?, dari tadi geleng-geleng mulu " (kata seseorang sambil,menyentuh bahunya)
Humaira menoleh kearah sampingnya, Gibran yang baru saja datang cukup mengagetkannya, ia mulai melepaskan earphone yang menempel di telinganya, dengan tatapan agak jengkel ia terus melihat Gibran yang saat ini telah duduk dihadapannya sambil cengengesan.
" kenapa sih lo?, ngeliatin gue gitu banget " (kata Gibran masih cengengesan)
" lo gak bisa ya kalo gak ngagetin gitu kalo datang " (kata Humaira)
" emangnya kenapa sih? " (kata Gibran)
" gue kaget tau " (kata Humaira makin kesal)
" hahahahah, apa sih kok malah marah, ya lo suruh sapa sendirian tapi geleng-geleng muluk, belajar dugem lo " (kata Gibran)
" brengs*k, emangnya gue lo apa, gue gak minat dugem-dugeman " (kata Humaira)
" eh ngomong-ngomong serius gue nanya lo kenapa? " (kata Gibran)
Humaira membuang nafas kasarnya sambil melihat kearah Gibran, ia mencoba menceritakan semuanya pada Gibran.
" lo inget gak Mauren, pramugari yang ketemu kita pas di bandara? " (kata Humaira)
" iya inget, kenapa? " (kata Gibran)
" baru aja nanya-nanya soal kak Zayn, kayaknya dia suka deh sama kak Zayn " (kata Humaira)
" terus? " (kata Gibran)
" ya gue gak mau ada pelakor diantara kak Zayn sama kak Rindu, gak rela gue " (kata Humaira)
" ya udah mending lo hapus aja nomernya atau gak lo blok " (kata Gibran)
Humaira agak berpikir yang dikatakan kakak sepupunya tersebut memang ada benarnya, mungkin seharusnya ia menghapus nomer tak penting tersebut.
# Rindu Mentari
Baru saja mereka sampai di apartemennya, dengan suasana remang-remang suaminya terus menatap kearahnya. Mereka berdua saat ini telah berada didalam kamar tepatnya sudah berada di atas tempat tidur. Karena terus-terusan ditatap suaminya Rindu sesekali menunduk malu, suasana romantis sangat terasa malam ini dengan nyala lilin di atas meja riasnya.
" kamu cantik " (kata Zayn sambil tersenyum)
Zayn memegang dua tangannya sambil menciumi punggung tangannya berkali-kali, mendapati perlakuan yang seperti ini Rindu tersenyum malu.
" aku sayang banget sama kamu, rasanya gak pengen jauh-jauh sama kamu " (kata Zayn)
" aku juga, aku gak mau jauh-jauh dari kakak, makanya aku pingin cuti dulu " (kata Rindu)
Ia memang sangat ingin sekali mengambil cuti agar bisa ikut kemanapun suaminya pergi, ia ingin terus bersama dengan Zayn & menemani suaminya di manapun berada.
" aku gak ah kamu cuti, nanti apa lagi kata mama papa masa gara-gara kamu nikah sama aku kuliah jadi terbengkalai, kalo kamu kuliahnya bagus kan aku juga bangga sebagai suami kamu " (kata Zayn)
" tapi aku jadi gak bisa nemanin kakak kemana-mana kayak gini " (kata Rindu)
" sabar ya, maafin aku harus ninggalin kamu " (kata Zayn)
Resiko menjadi istri seorang pilot adalah harus rela ditinggal kemanapun suaminya pergi seperti yang saat ini ia rasakan.
" aku kerja cuman dua minggu kok sayang satu minggu aku stay di rumah, jadi selama bolak balik kayak gini kamu harus sabar nunggu aku ya " (kata Zayn)
" iya kak " (kata Rindu)
Zayn memeluk tubuhnya erat lalu mencium keningnya lembut, jantungnya berdegum sangat kencang mendapatkan perlakuan manis suaminya, wajah suaminya mendekat ke wajahnya & menempelkan bibirnya tepat dibibir Rindu, setelah berhari-hati berpisah Rindu akan menyerahkan dirinya kembali dengan pasrah kepada suaminya, belaian demi belaian ia rasakan ditubuhnya membuatnya mulai terangsang. Nafas mereka berdua saling memburu menjadi satu, tubuhnya saat ini telah ditindih oleh suaminya.
" sudah siap? " (kata Zayn berbisik sambil tersenyum)
Rindu hanya menganggukan kepalanya merasa sudah sangat siap seolah-olah ia juga sudah sangat menantikan ini, Rindu sangat merindukan setiap belaian Zayn selama beberapa hari ini sebenarnya sehingga tubuhnya tak sedikit pun menolak sentuhan dari Zayn.
__ADS_1