Polwan Cantik

Polwan Cantik
#110 SEASON 2


__ADS_3

# Humaira shakila Najma


Humaira berjalan kearah bawah bersama Rindu, mereka berdua akan berangkat ke kampus berdua hari ini, ia tersenyum melihat kearah paman & tante serta Gibran yang telah duduk di meja makan yang saat ini sedang menoleh kearah ia & kakak iparnya yang baru saja turun.


Tante & pamannya terlihat membalas senyumnya & Rindu tetapi tidak dengan Gibran yang hanya menggelengkan kepalanya, Humaira memicingkan satu matanya menatap kearah Gibran yang saat ini masih sibuk menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


" pagi onty, uncle " (sapa Humaira)


" pagi sayang, sarapan dulu ya " (kata Widia), " ayo Rindu sarapan " (kata Widia)


" iya onty " (kata Rindu)


Humaira duduk diantara tantenya & Rindu berhadapan dengan Gibran, sedang pamannya duduk sendiri, sekilas ia melihat Gibran yang menoleh ke kursi di sebelahnya lalu melihat kearah Humaira lagi.


" gak ada yang mau duduk di sebelah gue nih " (kata Gibran yang akhirnya mengeluarkan suara sambil mengunyah makanan)


Humaira melihat kearah Gibran lalu melihat kearah Rindu serta tante & pamannya secara bergantian, ia menunduk sambil tersenyum menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


" ya udah sih bang, duduk aja sendiri disitu " (kata Widia)


" biasa juga sendiri kak, kenapa tiba-tiba nanya gak ada yang mau duduk di sebelah lo? " (kata Humaira)


Kakak sepupunya tersebut hanya diam & menggelengkan kepalanya saja tak menjawab sepatah katapun. Setelah selesai sarapan ia & Rindu segera membersihkan piring kotor & gelas kotor.


" kakak kalo nginep disini jangan heran ya kalo liat kak Gibran mukanya jelek kaya tadi, hahahaha " (kata Humaira)


" emang kenapa dek? " (kata Rindu bertanya)


" paling juga galau, baper jomblo kelamaan, hahaha " (kata Humaira sambil tertawa lagi)


Kakak iparnya hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata-katanya, saat ini ia & Rindu sedang mencuci piring serta gelas & sendok bekas mereka makan tadi.


" baru kali ini loh dia sensi banget kak " (kata Humaira)


" emang iya? " (tanya Rindu)


" iya, gak tau lagi mikir apa dia, biasa sih cerita sama gue " (kata Humaira)


" hmmmmm " (suara deheman seseorang dari arah belakangnya)


Humaira lalu menoleh melihat kearah suar tersebut, sudah ada Gibran berdiri bersandar di dinding dengan menaikan satu kakinya & melipat tangannya melihat kearahnya.


" ah gila, ada orangnya di belakang " (kata Humaira seraya berbisik kepada Rindu)


Ia kembali menoleh kearah Gibran yang masih melihat kearahnya dengan posisi yang masih sama seperti yang tadi & tak berubah, Humaira pun hanya meringis karena terus-terusan ditatap oleh Gibran.


" apa lo? " (kata Gibran galak)


" idih galak bener, gak cocok tau " (kata Humaira)


" biarin " (kata Gibran)


Setelah selesai mencuci piring ia & Rindu segera berjalan kearah ruang tamu, ia menggandeng Gibran yang sedari tadi cemberut karenanya.


" lo pagi-pagi sensi amat sih kak " (kata Humaira)


" ya lo pagi-pagi gosipin gue " (kata Gibran)


Humaira melihat kearah Rindu yang berada di sebelahnya lalu melihat ke arah Gibran kembali, sontak Humaira terpingkal mendengar kata-kata kakak sepupunya tersebut.


" jangan ketawain gue, gue sumpahin lo bakal jadi jomblo juga tar ditinggalin sama Desta " (kata Gibran)


" coy, amit-amit, jahat banget sih sumpah lo kak " (kata Humaira)


" biarin " (kata Gibran)


" males ah gue ama lo, jahat banget mulutnya " (kata Humaira gantian cemberut)


" uluh, uluh, sini sayang, kan gue cuman main-main, gitu aja ngambek " (kata Gibran memeluk Humaira), " tenang aja lo dek, tar kalo Desta ninggalin lo gue yang kasih pelajaran ke dia, biar dia gak berani ninggalin lo " (kata Gibran lagi)


Humaira tersenyum mendapati perlakuan sayang dari kakak sepupunya tersebut yang seperti kakaknya Zayn yang sangat menyayangi dirinya.


# Rindu Mentari


Melihat kelucuan Humaira & Gibran ia hanya mampu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dua remaja yang berdiri sambil berpelukan setelah ribut-ribut kecil & berbaikan.


" sudah belum nih pelukannya?, atau mau jalan sambil pelukan gitu?, tar kita telat lo " (kata Rindu yang akhirnya membuka suara sambil tersenyum)


" hehehe, ayo cus " (kata Humaira yang melepaskan pelukannya)


Rindu hanya menganggukkan kepalanya melihat kearah Humaira, mereka berdua akan berangkat ke kampus bersama dengan menggunakan mobil milik suaminya.

__ADS_1


" kalian berangkat berdua dek? " (kata Gibran)


" iya kak, kenapa? " (kata Humaira)


" emang lo gak di jemput Desta? " (kata Gibran)


" gak lah, kan tadi malam gue udah hubungin bang Desta duluan, buat kasih tau kalo gue mau berangkat ama kak Rindu pagi ini " (kata Humaira)


" oh gitu, kalo gitu hati-hati ya kalian " (kata Gibran)


Rindu hanya tersenyum sambil mengangguk melihat kearah Gibran, sebelum berangkat mereka berdua pamit terlebih dahulu kepada paman & tantenya, setelah berpamitan mereka berdua segera keluar & masuk kedalam mobil.


Mobil yang dikendarai Rindu mulai menjauh daru pekarangan rumah Gibran, dengan kecepatan sedang ia mengendarai mobil milik suaminya melewati jalanan pagi ini.


" kak tar kak Zayn jam berapa balik? " tanya Humaira)


" belum tau sih dek, paling siang kalo gak sore " (kata Rindu yang masih fokus melihat kearah depan), " kenapa dek?, mau ikut jemput ya? " (kata Rindu lagi)


" gak lah, tar ribet lagi pake anter Huma ke rumah lagi, kan malam ini kak Rindu udah gak nginep lagi di rumah uncle " (kata Humaira)


" Huma aja yang nginep di rumah kakak " (kata Rindu)


" gak deh tar Huma ganggu, hahaha " (kata Humaira sambil tertawa)


" hahahah, gak lah " (kata Rindu ikut tertawa)


Ia cukup senang bisa seakrap ini dengan Humaira yang sebenarnya adalah adik iparnya, Humaira sangat gampang bergaul & cukup asik saat bersama dengannya, bahkan adik iparnya tersebut juga pandai menempatkan diri, Rindu bahkan merasa Humaira seperti teman baiknya sendiri meskipun mereka tak seumuran.


" lagian tar Huma mau pulang bareng bang Desta kak " (kata Humaira tersenyum)


" bahagia banget, nyebut nama Desta sampe senyum-senyum gitu " (kata Rindu menggoda)


" ooo harus lah, hahahah " (kata Humaira)


" emang kamu sama Desta seserius apa sih?, sampe siap nikah gitu? " (kata Rindu bertanya)


Semalaman adik iparnya tersebut mengungkapkan jika ia ingin hubungannya dengan Desta melangkah lebih maju kejenjang keseriusan, Humaira ingin menikah dengan Desta karena Desta juga sudah sangat siap untuk menikah dengan Humaira.


" serius banget lah kak, lagian pacaran lama-lama buat apa sih kak kalo ujung-ujungnya gak jodoh " (kata Humaira)


Rindu hanya menganggukkan kepalanya mendengar kata-kata adik iparnya tersebut, yang dikatakan adik iparnya memang benar tetapi apakah adik iparnya bisa memegang komitmen pernikahan mengingat usianya masih belasan tahun.


" iya juga sih, tapi Huma yakin kok kalo Huma sama bang Desta mampu lewatin itu " (kata Humaira tersenyum)


Rindu hanya tersenyum sambil menoleh kearah Humaira, keyakinan diri Humaira untuk mengarungi bahtera rumah tangga sepertinya sudah sangat mantap saat ini. Setelah berkendara beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai juga di kampus mereka.


Setelah memarkirkan mobil mereka berdua segera keluar dari mobil & masih terus berjalan bersama menuju koridor kampus sambil berjalan beriringan. Rindu bukan lah mahasiswi terkenal di kampus tak seperti adik iparnya yang merupakan primadona kampus.


" beib " (kata suara seseorang yang berjalan kearahnya)


Rindu diam di tempat sambil tersenyum melihat Jiya teman dekatnya selama berada di fakultas pariwisata berjalan mendekat kearahnya.


" tumben udah sampe? " (kata Rindu bertanya)


" iya tadi diantar sama Rendi soalnya " (kata Jiya tersenyum)


" oh iya ngomong-ngomong kamu udah kenal belum sama Huma? " (kata Rindu bertanya pada Jiya)


" adek ipar kamu kan? " (kata Jiya tersenyum)


Rindu hanya manggut-manggut sambil tersenyum, tadinya ia akan mengenalkan Humaira dengan Jiya tetapi teman dekatnya tersebut telah mengenal Humaira rupanya.


" kak Huma duluan ya " (kata Humaira pamit)


" oh iya dek, daaaa " (kata Rindu)


" daaaa " (kata Humaira), " kak Jiya duluan ya " (kata Humaira pada Jiya juga)


" oke " (kata Jiya)


Ia masih terus memperhatikan kearah adik iparnya yang saat ini telah berjalan bersama dengan teman sekelasnya, setelah mereka memisahkan diri kini ia hanya berjalan bersama dengan Jiya berdua saja.


" beib kita ke kantin aja deh soalnya kata Aira dosennya gak ada " (kata Jiya)


" seriusan, kemana? " (kata Rindu)


" gak tau, yang jelas gak masuk " (kata Jiya)


" tau gitu mending pulang deh " (kata Rindu)


" jangan pulang lah, ke kantin aja temenin gue sarapan ya, gue belum makan nih " (kata Jiya)

__ADS_1


Rindu reflek menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teman baiknya tersebut belum sarapan pagi padahal pagi tadi Jiya berangkat dengan Rendi tunangannya.


Jiya tak pernah bisa menikmati makanan kesukaannya dengan leluasa saat bersama tunangannya karena tunangannya yang bernama Rendi selalu membatasi porsi makan Jiya, alasannya Rendi ingin jika Jiya terus terlihat kurus seperti saat ini, Rindu menggelengkan kepalanya merasa kasihan dengan Jiya.


" ya udah deh yuk " (kata Rindu)


Setelah berada di kantin mereka segera duduk, Jiya berdiri & memesan beberapa makanan & minuman untuknya, sedang dirinya hanya duduk menunggu Jiya sambil memainkan ponselnya.


" hallo Rindu, lama gak ketemu makin cantik deh " (sapa seorang pria teman seangkatannya tetapi beda fakultas)


" sama Jiya ya? " (kata satu pria lainnya)


" iya " (katanya singkat)


Dua teman satu angkatannya ini adalah kenalannya & Jiya saat baru masuk ke universitas tersebut, namanya adalah Angga & Radit, mereka cukup akrab meskipun tak satu jurusan.


" boleh gabung gak? " (kata Angga yang sudah membawa gitar)


Rindu menoleh kearah Jiya yang saat ini telah berjalan kearahnya, ia tak bisa memberi keputusan sendiri karena ia bersama dengan Jiya saat ini.


" boleh lah " (saut Jiya)


# Abdul Zayn Mikail


Baru saja ia sampai di bandara kota C pagi ini, ia berencana akan langsung pergi ke kampus untuk menemui istrinya karena ia sudah sangat merindukan istrinya. Zayn sengaja tak mengabari Rindu jika ia akan sampai di kota C pagi-pagi untuk memberinya kejutan.


Zayn tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi istrinya yang akan langsung memeluk dirinya saat melihat dirinya di kampus seperti adegan yang tayang di film-film FTV.


Beberapa saat lalu ia juga telah memesan taksi online untuk menjemputnya, setelah berjalan dari arah lobi menuju ruang tunggu ia segera berjalan ke arah luar bandara, sudah dilihatnya taksi yang ia pesan menunggunya di depan.


" hallo kapten, apa kabar? " (kata supir taksi tersebut)


" baik pak, bapak apa kabarnya? " (kata Zayn)


" baik kapten, ayo silahkan masuk kapten " (kata supir taksi tersebut)


Supir taksi online tersebut memang lah supir taksi langganannya saat tak ada yang menjemput dirinya seperti saat ini sehingga wajar saja jika mereka berdua saling mengenal & akrab satu sama lain.


" langsung jalan aja ya pak " (kata Zayn)


" ke hotel kapten atau ke rumah pamannya? " (kata supir tersebut)


" gak pak, ke kampus UGM " (kata Zayn tersenyum)


" ok " (kata supir tersebut)


Taksi tersebut segera berjalan menjauh dari bandara, Zayn menatap kearah luar jendela melihat jalanan pagi ini sambil tersenyum mengingat istrinya.


" kapten kalo boleh tau ada urusan apa ya ke UGM? " (kata supir tersebut akhirnya bertanya)


Zayn melihat kearah supir tersebut sambil tersenyum, ia menunduk lalu melihat kearah luar kembali belum menjawab pertanyaan supir tersebut karena malu.


" apa kapten mau kuliah lagi? " (tanya supir tersebut lagi)


" gak pak mau nemuin istri " (kata Zayn akhirnya menjawab)


" loh sudah nikah kapten?, masya allah lama gak ketemu tau-tau udah nikah aja " (kata supir taksi tersebut lagi)


" iya pak " (kata Zayn tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya)


Tak beberapa lama setelah berkendara beberapa puluh menit akhirnya taksi yang ia naiki sampai juga di depan kampus, ia segera membayar & segera keluar, sebelumnya ia menghubungi Humaira untuk menanyakan kepada adiknya dimana posisi istrinya saat ini, setelah mendapatkan informasi jika istrinya berada di kantin ia segera berjalan kearah kantin.


Saat berada di kantin ia melihat istrinya duduk bersama dengan dua pria yang memakai seragam sama seperti seragam yang dikenakan istrinya saat ini, seketika ia tertegun karena cemburu, ia lalu melangkahkan kakinya kembali untuk menghampiri istrinya.


Setelah berada di dekat meja istrinya ia segera duduk tanpa berbasa-basi meskipun saat itu juga kehadirannya cukup menjadi perhatian & membuat dua teman pria istrinya ikut terdiam melihat kearahnya.


" kak Zayn " (kata Rindu agak kaget)


Zayn masih saja diam melihat kearah dua pria yang duduk dihadapan istrinya yang saat ini masih asik mendendangkan sebuah lagu. Terlihat wajah istrinya sudah sangat khawatir jika dirinya akan salah faham, tetapi saat ini ia benar-benar telah salah faham dengan istrinya.


Ia masih membiarkan dua pria tersebut menyanyikan lagu untuk istrinya seolah-olah sedang merayu istrinya, ia mulai tak tahan mendengar suara gitar yang meskipun saat ini mengalun indah tetapi baginya sangat mengganggu di pikirannya & tak lama mereka berdua pun selesai dengan lagu mereka.


" hem, ngomong-ngomong masnya ini siapa ya, kok tiba-tiba duduk disini? " (tanya seorang teman pria Rindu)


Zayn tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya karena mendengar pertanyaan salah satu teman dari istrinya tersebut.




Zayn melihat kearaah dua teman Rindu

__ADS_1


__ADS_2