
Zayn telah tiba di kota xxx malam ini setelah dua kali penerbangan kota C ke D lalu ke kota xxx, malam ini ia akan pulang kerumahnya untuk beristirahat, saat ini ia telah berada didalam mobil yang dikirim ayahnya yang dikendarai oleh supir pribadi ayahnya yang bernama pak Agus.
" mas Zayn ini kita langsung pulang kerumah atau mas Zayn mau mampir dulu? " (kata supir ayahnya)
" pulang aja pak, saya juga kebetulan mau langsung istirahat, besok saya harus terbang pagi lagi " (kata Zayn)
" ok mas " (kata supirnya)
Jam telah menunjukkan pukul 09.00malam, meskipun saat ini jalan masih cukup ramai karena masih banyak kendaraan yang berlalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing. Sekilas Zayn mengingat tentang Jiya seorang wanita yang lumayan membuatnya tertarik, ia pun tersenyum mengingat setiap kejadian yang berhubungan dengan Jiya, ada rasa didalam dirinya yang ingin mengenal sosok Jiya lebih dekat lagi dari sekarang, tetapi seketika senyumnya luntur saat ia juga mengingat jika dirinya telah dijodohkan dengan Rindu.
Mengingat Rindu wanita yang akan menjadi istrinya dalam waktu dekat ini, ia juga mulai sedikit berfikir tentang Rindu, akankah dia bisa menjalani kehidupan bersama Rindu yang jelas-jelas saat ini juga menolak setiap perbuatannya yang mengatas namakan ayahnya. Rindu tidak mau merepotkan Zayn meskipun itu atas perintah ayahnya.
Sebenarnya Zayn juga yakin Rindu menerima perjodohan mereka atas dasar keterpaksaan semata juga,Rindu juga tak bisa menolak perjodohan ini sama halnya seperti dirinya, Zayn jadi merasa sangat bersalah dengan Rindu karena mungkin saja Rindu menerima perjodohan mereka karena tau jika ayah Zayn sedang sakit & umurnya tidak akan lama.
" pak saya boleh tanya gak? " (kata Zayn)
" silahkan mas, mau tanya apa? " (kata supirnya)
" bapak dulu nikah dijodohin atau karena bapak memang cinta sama istri bapak? " (kata Zayn)
" mas Zayn pasti tanya gitu karena mas Zayn sekarang lagi dijodohin ya sama mba Rindu?, mas Zayn gak suka sama mba Rindu mas? " (kata supir tersebut), " apa mbak Rindu kurang baik ya buat mas Zayn? " (kata supir itu lagi)
" Rindu baik sih pak, malah dia terlalu baik Sampe Nerima perjodohan ini, padahal saya tau pasti dia juga terpaksa karena tau papinya Zayn lagi sakit " (kata Zayn), " Zayn kaya ngerasa bersalah aja sama dia, jadi bingung harus gimana sama dia " (kata Zayn)
" ya dijalani aja mas, coba pikir mas, gak cinta aja mba Rindu bisa berkorban demi mas Zayn apa lagi kalo nantinya beneran cinta sama mas Zayn " (kata supir tersebut)
" tapi gimana kalo saya sama Rindu gak bisa saling cinta bahkan malah nemuin cinta yang lain? " (kata Zayn)
" maaf nih ya mas jangan tersinggung, emangnya mas Zayn lagi suka sama seseorang? " (kata supirnya lagi)
" gak tau pak, saya juga bingung " (kata Zayn singkat)
Dilihatnya pak Agus yang masih tetap fokus mengemudikan mobil itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sementara Zayn saat ini hanya memperhatikan pemandangan diluar kaca mobil sambil terus terpikirkan hidupnya yang terasa kacau. Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang mereka kendarai telah berada dipekarangan rumahnya, Zayn lalu turun dari mobilnya menuju pintu rumah.
" mas " (kata supir tersebut)
Zayn membalikan badannya karena pak Agus supir pribadi ayahnya memanggil namanya kembali, ia melihat kearah pak Agus yang sudah tersenyum padanya.
" Saya harap mas Zayn ikuti hati kecil mas Zayn, jangan terlalu banyak mikir mas, cinta bisa aja datang kalo sudah waktunya, ikuti aja alur yang ditakdirkan tuhan " (kata pak Agus)
Zayn hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum lalu berbalik & berjalan kembali kearah pintu rumahnya. Semua orang berkata sama seperti yang pak Agus katakan, seorang wanita yang mengorbankan hidupnya menerima perjodohan ini demi ayahnya yang umurnya entah akan bertahan sampai kapan. Zayn segera masuk kedalam rumahnya & menghampiri kedua orangtuanya yang saat ini masih berada diruang tengah menonton televisi.
Zayn duduk bersandar dengan ibunya saat ini, ia merasakan lelah yang luar biasa, bukan lelah karena pekerjaannya tetapi ia tampak gelisah menghadapi kehidupan yang harus ia jalani sebentar lagi bersama Rindu, berada disisi ibunya saat ini membuatnya menjadi sedikit tenang, Zayn sebenarnya sangat ingin mempunyai pasangan hidup yang sifatnya tak jauh seperti ibunya, karena ibunya adalah sosok wanita yang mengagumkan.
" capek kak? " (kata Safitri sambil mengelus tangan Zayn)
" banget mi " (kata Zayn)
" kerja itu dibuat santai aja kak, jangan dibik beban " (kata Abimana yang berada disisi lain Safitri)
" iya Pi, papi gimana keadaannya? " (kata Zayn)
" sejauh ini baik aja sih kak, kamu gak usah mikirin papi, papi disini bakal baik-baik aja kan ada mami kamu kak " (kata Abimana)
" tadi kamu pagi jadi antar Rindu kak? " (kata Safitri)
" jadi mii, oh iya itu mobil yang papi beli buat Zayn tar Zayn ganti ya, tunggu ada waktu senggang " (kata Zayn)
" gak usah kak, pake aja, lagian papi sengaja beli buat kamu sama Rindu kok, lagian kamu juga butuh buat jalan sama Rindu selama ada disana " (kata Abimana)
" Hem, makasih Pi, oh iya Huma udah tidur ya ini, kok tumben masih jam segini udah dikamar " (kata Zayn)
" habis makan malam tadi dia langsung masuk kamar kak, gak turun-turun, mungkin masih belajar dia, tar lagi kan mau ujian jadi fokus belajar Huma " (kata Safitri)
" Zayn naik ya mi, Pi, mau mandi gerah ini " (kata Zayn)
" kamu udah makan belum kak, makan dulu sana? " (kata Safitri)
" masih kenyang mi " (kata Zayn)
Zayn berjalan menuju kamarnya, sebelum masuk ke kamarnya ia sengaja melihat Humaira di dalam kamarnya, terlihat adiknya saat ini benar-benar sedang sibuk belajar untuk mempersiapkan ujian yang akan berlangsung sebentar lagi.
" belajar nih? " (kata Zayn yang sudah berada didalam kamar Humaira)
__ADS_1
" eh kakak " (kata Humaira memeluk kakaknya)
" aduh, main peluk aja lepas ah, kakak belum mandi nih gerah " (kata Zayn)
" hehehe, iya bau kecut pula " (kata Humaira yang telah melepaskan pelukannya)
" ih mana ada bau, gue mah selalu wangi, tuh belajar yang bener biar dapat nilai yang bagus " (kata Zayn)
" iya Lo wangi soalnya pake farfum satu botol sehari, boros mah lo, tenang aja pasti gue bakal dapat nilai bagus " (kata Humaira), " Lo baru sampe ya kak? " (kata Humaira lagi)
" mana ada satu botol, ngarang Lo, lumayan lama lah, ngobrol sama papi mami dulu di bawah " (kata Zayn)
" Huma denger, papi baru beliin Lo mobil baru ya di kota C?, enak banget sih lo kak udah kerja masih aja dibeliin mobil, pada hal Lo mah bisa beli sendiri pake duit lo " (kata Humaira)
Zayn hanya membuang nafas kasarnya, dirinya memang baru saja dibelikan mobil baru oleh ayahnya, ayahnya ingin supaya ia bisa dekat dengan Rindu sebelum mereka berdua menikah.
" Lo suka banget sih ngupingin orang tua ngomong dek, lagian papi gak mau digantikan duitnya katanya memang khusus papi beli buat gue jalan sama Rindu " (kata Zayn)
" dih sapa yang nguping, orang pas gue lewat gak sengaja denger " (kata Humaira)
" alasan " (kata Zayn mengacak-acak rambut adiknya)
" aaaaaa....beneran gue sumpah " (kata Humaira), " eh kak bantu gue bilang sama mami papi dong, weekend Minggu ini gue mau ke kota C " (kata Humaira)
" mau ngapay Lo?, mau touring sama Bumi? " (kata Zayn)
" apaan mau touring orang gue mau pergi liat kampus bareng kak Gibran " (kata Humaira), " oh iya Lo gak usah sebut-sebut nama Bumi lagi ya kak, gue sebel sama dia " (kata Humaira)
" kenapa?, Lo lagi ribut sama Bumi? " (kata Zayn)
" ribut sih enggak kak, tapi dia tega banget sampe sekarang gak ada ngabarin gue, mana nomernya gak aktif sekarang " (kata Humaira)
" emang Lo gak ketemu disekolah? " (kata Zayn)
" sudah beberapa hari gak sekolah dia kak " (kata Humaira), " tau deh tuh anak sudah tau mau ujian malah touring gak balik-balik " (kata Humaira)
" ih apaan sih Lo dek, kangen Lo sama Bumi? " (kata Zayn)
" ye sorry ya, orang gue sebel " (kata Humaira)
Zayn pergi kearah luar kamar adiknya setelah menggoda adiknya.
#Humaira Shakila Najma
" kangen? " (kata Humaira dalam hati & sedikit berfikir), " enggak-enggak, gue gak kangen Bumi " (kata Humaira lagi dalam hati)
" gue gak kangen ya kak sama Bumi, tarik kata-kata Lo, gue gak kangen Bumi " (kata Humaira)
Humaira sedikit berteriak dari dalam kamarnya agar kakaknya mendengar kata-katanya karena kakakanya sudah beranjak pergi dari kamarnya.
" ngaku aja deh " (kata Zayn dari luar)
Humaira hanya terdiam mendengarkan kata-kata kakaknya dari luar kamarnya yang samar-samar terdengar.
" ih apaan sih, nyebelin banget " (kata Humaira sendiri)
Humaira kembali fokus lagi dengan buku-buku yang ada dihadapannya, beberapa hari ini ia hanya fokus belajar untuk persiapan UN & US yang akan berlangsung dalam waktu dekat, Humaira berharap jika ia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
Matanya terfokus pada ponselnya yang berada didekat buku yang berada dihadapannya, tiba-tiba ia teringat lagi dengan Bumi yang pergi tanpa kabar, sudah beberapa hari tanpa Bumi ia cukup merasa kesepian.
" ah Bomat lah, lagian Lo juga gak mungkin kan gak balik ke sekolah, serah Lo aja deh gak ngabarin gue yang jelas kalo Lo balik habis Lo sama gue " (kata Humaira sendiri)
Ia letakan kembali ponsel miliknya, kembali lagi ia baca lembaran demi lembaran buku pelajaran yang ia pelajari malam ini, Humaira termaksud salah satu murid terpintar di sekolahnya, bahkan dirinya kerap menjadi salah satu wakil dari sekolah saat diadakan lomba cerdas cermat antar sekolah dari jurusan IPS, selain dirinya Bumi juga merupakan murid berprestasi seperti dirinya juga, sehingga tak jarang siswa-siswi disekolahnya memasang-masangkan dirinya dengan Bumi padahal Humaira & Bumi selama ini hanya bersahabat baik.
Humaira dengan Bumi memang sangat dekat bahkan Humaira tau sedetail-detailnya keburukan Bumi begitu juga dengan Bumi yang tau keburukan Humaira, mereka berdua selama ini tak pernah terpisahkan, sejak kecil mereka telah bersama hingga sampai saat ini sehingga ia tak terbiasa jika dirinya tanpa Bumi, sejauh ini ia berfikir jika perasaannya dengan Bumi hanya lah sebatas persahabatan semata meskipun terkadang ia bimbang dengan perasaannya tersebut.
# Abdul Zayn Mikail
Setelah membersihkan diri & berganti pakaian ia mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, besok pagi sekitar pukul 08.00 Zayn harus kembali ke bandara karena tepat pukul 10.00pagi ia akan ada jadwal penerbangan kembali ke kota C. Selama dua Minggu ini kemungkinan jadwal terbangnya hanya di sekitaran kota C saja tetapi itu belum final karena bisa saja jadwal akan berubah.
Zayn tersenyum mengingat tingkah adiknya yang selalu terlihat lucu saat dirinya menggoda membahas persoalan tentang hubungan Humaira dengan Bumi, adiknya selalu menyangkal mati-matian jika tidak akan pernah menyukai Bumi sedangkan Zayn tau betul jika Bumi sebenarnya sangat menyukai adiknya tersebut, sikap kekanak-kanakan Humaira membuat Zayn tidak bisa melepaskan adik semata wayangnya ini untuk pria yang tidak Zayn kenal, Zayn berharap jika sudah tiba waktunya nanti adiknya akan mendapatkan pasangan yang baik.
Zayn mengambil ponsel miliknya yang sudah ada diatas meja dekat ranjangnya, baru saja ia mengaktifkan ponselnya karena tak ingin fokusnya terganggu hari ini, baru beberapa menit aktif sudah ada pesan WhatsApp masuk dari sepupunya Faiz masuk, Zayn langsung membaca pesan dari Faiz.
__ADS_1
💬 pesan WhatsApp Faiz
Faiz : gue bawa Gina nginep di kamar Lo
Faiz : buat nemenin gue 🤣
Zayn menggelengkan kepalanya, dengan tak adanya Zayn di kota C menjadikan kesempatan untuk sepupunya membawa wanita ke kamar hotelnya.
💬 pesan WhatsApp Faiz
Zayn : anjie*r kesempatan banget lo
Zayn : Lo puas-puasin aja
Zayn : lagian gue balik sorean
Faiz : baru sampe Lo?
Faiz : gak jadi gue bawa Gina
Faiz : sore tadi terbang juga dia
Zayn : 🤣
Faiz : ah sial*n
Faiz : sakit kepala gue
Zayn : jadi Lo dimana?
Faiz : clubbing
Faiz : sama Gibran nih
Faiz : pake mobil Lo
Zayn : jangan terlalu mabok Lo bedua
Faiz : beres
Faiz : gue tadi jemput calon bini Lo pulng kampus
Faiz : sama temennya, Jiya
Mendengar nama Jiya Zayn mengingat kembali kesan pertama jumpa dengan Jiya yang lumayan membuatnya tak bisa lupa dengannya.
💬 pesan WhatsApp Faiz
Zayn : terus
Faiz : tenang aja Lo
Faiz : gue jaga baek-baek Rindu
Faiz : gue sama Jiya aja
Faiz : tapi kalo Lo ga mau Ama Rindu
Faiz : gue siap nampung
Zayn : Maruk Lo
Zayn : Lo sikat aja semua cewek didunia
Zayn : terus kita dapat sisa Lo gitu
Zayn : kampret emang Lo
Faiz : 🤣🤣🤣
Faiz : itu mah rejeki gue bro
Zayn : ya udah ah gue mau tidur
__ADS_1
Zayn meletakkan ponsel miliknya diatas meja kembali, ditatapnya langit-langit kamarnya, selama ini ia tumbuh dewasa dengan penuh kasih sayang, bahkan kedua orangtuanya selalu memberikan yang terbaik untuknya hingga tak kekurangan satu hal pun di sepanjang hidupnya di dunia ini, sampai detik ini ia berharap suatu saat ia juga bisa membuat kedua orangtuanya bahagia karenanya.