
Malam hari telah tiba jam telah menunjukan pukul 07.00malam, dua keluarga berada disatu meja yang sama untuk membicarakan rencana pernikahannya dengan Rindu, jantung Zayn berdegup sangat kencang gugup dengan keputusan yang akan mengubah masa depannya.
Terbesit dalam pikiran Zayn apakah ia bisa menjalani kehidupan bersama Rindu dengan baik, mampukah ia menjadi imam dalam keluarga kecilnya nantinya, tiba-tiba ia takut akan gagal dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Zayn melihat kearah Rindu yang nampak gelisah menanti keputusan seperti dirinya. Beberapa hari ini rasanya ia sangat santai menghadapi kenyataan jika ia akan segera dinikahkan dengan Rindu tetapi kali ini saat dua keluarga jadi satu ia justru seperti panas dingin.
" Dan sesuai sama yang apa yang sudah kita bicarakan beberapa minggu yang lalu, hari ini kita tentuin kapan anak-anak kita mau di sahin? " (kata Abimana)
" gue ngikut lo aja bang yang mana baiknya buat anak kita, tapi kalo gue pikir lebih cepat lebih baik, iya kan ma? " (kata Aidan)
" iya pa " (kata Risya tersenyum)
" gue juga mikirnya gitu Dan lebih cepat lebih baik, gimana kalo bulan depan?, gimana menurut mami? " (kata Abimana)
" mami terserah anak-anak aja pi siap atau enggak " (kata Safitri)
" gimana Zayn sama Rindu kalian setuju atau gak?, kalian kan yang bakal ngejalanin " (kata Aidan)
Waktu yang ditentukan saat ini Zayn rasa terlalu cepat jauh dari perkiraannya, jika bulan depan ia akan dinikahkan itu artinya saat libur bekerja dua minggu kedepan ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Rindu.
" pi tolong di undur dua bulan lagi gimana?, jadi tiga bulan lagi, kalo Zayn nikah bulan depan duit Zayn belum cukup buat beli rumah, Zayn pinginnya habis nikah langsung tinggal di rumah sendiri, jadi Rindu gak perlu ngekost lagi nantinya " (kata Zayn)
" kalo masalah beli rumah nanti papi tambahin duit kamu kak, yang penting kalian sah dulu " (kata Abimana)
" ya gak bisa gitu dong pi, kalo papi bantu Zayn buat beli rumah itu sama aja bikin harga diri Zayn rendah di depan Rindu, papi mau sebagai kepala keluarga Rindu anggap Zayn gak mandiri & selalu dibantu papi, gengsi lah Zayn pi, ya walaupun Zayn pikir Rindu gak bakal mikir gitu ke Zayn " (kata Zayn berkilah)
" hahahahah, oke-oke papi ngerti, tapi papi kasih kamu waktu dua bulan lagi ya kak gak tiga bulan, jadi dua bulan lagi kamu harus bisa beli rumah buat kalian " (kata Zayn)
" siapa pi " (kata Zayn)
" jadi sepakat ya dua bulan lagi Rindu sama Zayn, jadi gini ajalah berhubung kalian nikahnya dua bulan lagi mendingan minggu-minggu ini kalian tukar cincin dulu " (kata Abimana)
" buat apa pi? " (kata Zayn)
" buat ngikat, jadi kamu sama Rindu punya status yang jelas sebelum nikah, ya walaupun baru tunangan " (kata Zayn)
" serah papi aja lah " (kata Zayn)
Karena pernikahannya ditunda sampai dua bulan lagi ia & Rindu harus bertunangan terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka benar-benar menikah dua bulan lagi.
" Kalau gitu besok Zayn sama Rindu pergi berdua cari cincin " (kata Safitri)
" buat apa mi? " (kata Zayn)
" buat cincin tunangan kalian berdua kak, kan tadi kamu denger sendiri kalian berdua tunangan dulu sebelum nikah " (kata Safitri)
" kenapa gak mami aja yang pilihin? " (kata Zayn)
" kamu nih gimana sih kak, yang mau make kan kamu sama Rindu bukan mami sama papi atau tante Risya sama om Aidan " (kata Safitri), " Rindu besok mau kan pergi sama Zayn cari cincin buat kalian berdua? " (kata Safitri)
" iya tante " (kata Rindu)
Tentu saja sebenarnya Zayn sangat suka bisa menghabiskan waktu bersama dengan Rindu lagi, meskipun kali ini mereka pergi berdua untuk persiapan pertunangan mereka berdua pastilah suasananya sedikit berbeda nantinya.
" ok masalah pertunangan udah ya, jadi kita tentuin tepatnya tanggal sama bulan berapa Zayn sama Rindu bakal nikahnya? , kalo dua bulan lagi berati bulan September ya?, Kira-kira tanggal berapa Dan? " (kata Abimana)
" ya udah bang tanggal 25 aja pas tanggal lahirnya Rindu " (kata Aidan)
" wah ide bagus Dan, ok jadi acaranya pas ulang tahunnya Rindu ya " (kata Abimana)
__ADS_1
Akhirnya kesepakatan dua keluarga sudah dibuat, dua bulan lagi tepat pada saat Rindu berulang tahun pernikahannya akan berlangsung.
# Rindu Mentari
Tepat pada saat bertambahnya usianya tahun ini akan dilangsungkan acara pernikahannya dengan Zayn, Rindu tak menyangka kado ulang tahunnya tahun ini adalah sebuah pernikahan berdasarkan perjodohan, betapa buruk nasib yang ia terima pikirnya, disaat orang lain dengan senang hati menerima hadiah & kado dari sanak keluarga ia malah harus bersedih karena akan melepaskan masa lajangnya.
Mau tidak mau ia harus jalani sekuat kemampuannya, ia tak bisa memilih untuk cintanya tapi setidaknya dengan begini ia bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya, selama ini Zayn selalu berjanji padanya akan membahagiakan dirinya & tak akan menyia-nyiakan dirinya meskipun mereka berdua akan menikah tanpa di dasari rasa cinta, Rindu hanya berharap semua yang Zayn katakan benar.
" semoga semuanya berjalan lancar ya bang " (kata Aidan tersenyum pada Abimana)
Dulu ayahnya sering bercerita tentang kisah hidupnya, ayahnya menjadi seorang yatim piatu & tinggal bersama keluarga dari ayah Zayn, semua keluarga Zayn menganggap ayahnya seperti keluarga sendiri bahkan kakek & nenek Zayn menganggap ayahnya seperti anak mereka. Ayahnya ikut menjadi seorang polisi karena terinspirasi dari ayah Zayn, saat mendaftarkan diri kebetulan ayahnya lolos seleksi & menjadi seorang polisi, karena jasa keluarga Zayn termasuk salah satu alasan Rindu menerima perjodohan.
" harus lah Dan " (kata Abimana tersenyum pada Aidan)
" akhirnya kita bakal jadi keluarga beneran bang " (kata Aidan)
" ah lo Dan, kita kan memang keluarga, lo adek gue " (kata Abimana sambil merangkul bahu Aidan)
Rindu sangat bahagia melihat ayahnya begitu bahagia saat ini, ayahnya begitu mengharapkan pernikahan ini akan berlangsung dengan baik, mana mungkin ia bisa menyakiti hati ayahnya jika sudah begini.
# Faiz Fahrul Al-fatah
Faiz duduk di taman belakang bersama Humaira, hatinya yang kacau membuatnya tak mod untuk pergi kemanapun malam ini, terlebih Zayn pergi bersama kedua orangtuanya untuk menentukan tanggal pernikahannya. Faiz menenggak minuman kaleng bersoda ditangannya, langit malam ini cerah tapi tak secerah hatinya pikirnya.
" kak lo kenapa sih?, perasaan dari tadi lo tuh ngelamun mulu, biasa lo banyak omong tau, sakit gigi lo?, atau patah hati?, galau ya?, oh jangan-jangan lo ditolak cewek ya? " (kata Humaira)
Faiz tersedak karena pertanyaan Humaira, terlalu banyak pertanyaan yang dilontarkannya.
" uhuk... uhuk " (kata Faiz tersedak)
Punggungnya ditepuk-tepuk Humaira pelan, Faiz berhenti batuk sambil menundukkan bahunya.
" hahaha, asem lo dek, hampir gue mati " (kata Faiz)
" ya habis, minum gituan aja kesepakatan " (kata Humaira)
" bukan gara-gara minumannya dek tapi gara-gara lo nanya kebanyakan " (kata Faiz)
" hahaha, makanya lo itu jangan kaya orang galau ditinggal bini kak " (kata Humaira)
" astaga, sapa pula yang galau " (kata Faiz)
" ngaku aja lo kak? " (kata Humaira)
Faiz terdiam sejenak melihat Humaira, seperti nya tak buruk jika menceritakan permasalahannya dengan adik sepupunya tersebut karena sebenarnya ia memang sangat membutuhkan teman berbagi.
" hem, tapi lo janji jangan ngetawain gue " (kata Faiz)
" iya janji, kenapa sih kak? " (kata Humaira)
" gini dek, kan gue beberapa hari ini dekat sama temennya Rindu, udah PDKT, kemana-mana sama-sama sekitar semingguan lah, ya awalnya pengen main-main aja, tapi pas tau dari Rindu kalo temennya itu udah punya tunangan kok rasanya ati gue sakit banget ya, pengen marah tapi mau marah sama sapa, soalnya selama ini memang gue gak pernah nanya ke Jiya apa dia udah punya pacar apa belum, gue main PDKT aja gitu, gue pikir ini juga bukan salahnya Jiya " (kata Faiz)
" Jiya?, temennya kak Rindu yang namanya Jiya?, huft " (kata Humaira)
" kenapa dek? " (kata Faiz)
" gak papa kak, jadi kak Faiz ceritanya sekarang beneran galau gitu? , mau bikin anak orang baper malah kak Faiz yang baper, maaf nih kak menurut kakak ini bisa disebut karma gak?, soalnya selama ini kakak terlalu sering gak serius, nah sekarang justru lo mau serius malah lo yang dicampakin " (kata Humaira)
" gue bukan mau serius dek sama dia " (kata Faiz)
__ADS_1
" tapi intinya kakak ngerasa hati kakak sakit gak? " (kata Humaira)
Faiz hanya mengangguk membenarkan kata-kata Humaira, saat ini hatinya sangat terasa sakit, baru kali ini ia tak bisa mendapatkan wanita yang ia inginkan, mungkinkah Faiz mulai jatuh cinta dengan Jiya.
# Humaira Shakila Najma
Humaira tak ikut kedua orangtuanya bersama kakaknya yang pergi makan malam bersama keluarga Bumi malam ini untuk membicarakan perihal pernikahan kakaknya, saat ini Humaira duduk ditaman belakang bersama kakak sepupunya Faiz, sedari tadi Humaira merasa Faiz sedikit lebih diam dari biasanya.
Kakak sepupunya tak seperti biasanya yang selalu banyak omong & songong, setelah berkali-kali ia berusaha memancing pertanyaan akhirnya Faiz menceritakan semua padanya, Faiz sepertinya patah hati dengan teman baik Rindu yaitu Jiya seorang wanita yang pernah ditaksir oleh kakaknya juga, Humaira sempat terdiam saat mendengar nama Jiya, mungkin saja saat ini Zayn tak lagi mempunyai perasaan dengan Jiya melihat bagaimana sikap konyol Zayn jika bersama Rindu.
Faiz bersih keras menyangkal dirinya mencintai Jiya tetapi meskipun Faiz menyangkalnya Humaira tetapi tau sebenarnya kakak sepupunya tersebut memang sedang jatuh cinta dengan Jiya.
" sabar ya kak, Semoga aja kakak cepet dapat pengganti Jiya, hmmmm cinta itu memang aneh, kalo dekat kita gak paham sama perasaan kita, kita cuman berfikir kita nyaman bisa deket sama dia, kita happy, asal bisa sama-sama udah cukup, tapi waktu orang itu udah pergi kita baru sadar kalo sebenarnya kita butuh dia karna cinta " (kata Humaira)
Seperti yang ia rasakan saat ini, setelah mengetahui Bumi tak akan pernah kembali ke sekolah & tak akan pernah ia temui lagi, Humaira baru menyadari bahwa sebenarnya ia mencintai Bumi, bahkan mungkin saat ini telah terlambat untuknya, sampai saat ini Humaira tak pernah habis pikir dengan jalan cerita hidupnya mengapa ia begitu terlambat menyadari perasaannya.
" dalem banget sih omongan lo anak kecil, yang kaya udah tau cinta aja, pacaran aja gak pernah lo " (kata Faiz)
" hehehe, emang gak pernah pacaran gue " (kata Humaira sambil meng garuk-garuk kepalanya)
Saat ini ia hanya berusaha menyibukan dirinya dengan belajar agar bisa melupakan perasaannya pada Bumi karena dari awal memang dirinya lah yang salah selalu berusaha membohongi diri sendiri.
# Abdul Zayn Mikail
Angin semilir berhembus dari jendela, setelah pertemuan penetapan tanggal pernikahannya akhirnya ia & kedua orangtuanya kini sudah berada di dalam mobil dengan di supiri oleh supir pribadi ayahnya menuju rumah. Terlihat dari kaca Spion depan kedua orangtuanya sangat berseri-seri malam ini, kedua orangtuanya sangat bahagia karena akhirnya ia akan menikah juga tak lama lagi.
" kak jadi kamu mau beli rumah di kota C ya? " (kata Safitri)
" baru rencana mi, soalnya Zayn pikir kasian disana Rindu ngekost sendiri mana dia kuliah, jadi kalo beli rumah disana Rindu gak perlu ngekost lagi kan mi " (kata Zayn)
" bener juga Zayn mi, beli rumah disana biar Rindu kuliahnya gak tinggal di kost-kostan " (kata Abimana)
" nantikan Huma juga kuliah disana pi bisa ikut tinggal sama Zayn adek " (kata Zayn)
" adek kamu biar aja tinggal sama uncle Zayn gak usah tinggal sama kamu, lagian tar Hum ganggu kamu kasian kalian kan pengantin baru " (kata Abimana)
" iya kalian berdua jangan ajak adek tinggal bareng lagian karena juga perlu penyesuaian diri " (kata Safitri)
Zayn sedikit mengerti dengan apa yang disampaikan kedua orangtuanya, orangtuanya tak ingin proses pendekatannya dengan Rindu setelah berumah tangga terganggu karena bagaimanapun juga ia & Rindu butuh proses. Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang mereka naiki sampai didepan pekarangan rumahnya, Zayn & kedua orangtuanya segera keluar lalu masuk kedalam rumah.
Rumah sangat sepi Zayn melihat Faiz &Humaira duduk di ayunan taman belakang rumahnya, Zayn pergi menghampiri kearah dimana adik & sepupunya berada. Terlihat mereka berdua sangat asik mengobrol serius tak seperti biasanya, biasanya Faiz lebih dengan kebanyolannya saat berbicara sedang Humaira biasanya dengan celoteh cerewetnya yang tak ada hentinya.
" ehem, ngomongin apaan sih serius amat? " (kata Zayn)
" lah udah pulang calon manten " (kata Humaira tersenyum)
Bahunya ditepuk-tepuk oleh ayahnya yang kini telah berada di sampingnya entah sejak kapan ayahnya mengikuti dirinya.
" kalian udah makan belum?, malah duduk di taman malam-malam gini " (kata Abimana)
" sudah lah pi " (kata Humaira)
" cari angin om, sambil nungguin berita baik " (kata Faiz)
" kamu juga dong buru-buru kasih om berita baik Fa, cepet-cepet cari calon, nikah pumpung masih muda, biar ada yang ngurusin kamu kalo pulang kerja " (kata Abimana)
" eh, hehehe iya om, doain aja Faiz cepet ketemu jodohnya Faiz ya " (kata Faiz cengengesan sambil mengelus-ngelus tengkuknya)
Zayn melotot karena kata-kata yang barusan Faiz lontarkan, biasanya Faiz akan mengindar jika ditanya persoalan jodoh.
__ADS_1