
Mobilnya telah menepi didepan kampus Rindu, sesuai dengan janjinya semalam hari ini ia mengantarkan Rindu pulang ke kostnya terlebih dahulu untuk bersiap-siap lalu mengantarkan Rindu ke kampusnya. Zayn membukakan pintu mobil untuk Rindu sambil tersenyum. Banyak mata-mata melihat kearah mereka berdua tetapi Zayn tak memperdulikan itu selama hidupnya tak terusik diperhatikan seperti ini oleh mata-mata tersebut tak masalah baginya.
" tar balik jam berapa? " (kata Zayn)
" siang kak " (kata Rindu)
" tar hubungi gue kalo udah pulang " (kata Zayn)
" iya kak " (kata Rindu)
" ya udah sana gih " (kata Zayn)
Setelah Rindu menyalami tangannya seperti biasa untuk berpamitan ia langsung masuk kedalam mobilnya sambil memperhatikan Rindu yang berjalan menjauh darinya, setelah Rindu tak terlihat lagi ia segera menyalakan mesin mobilnya & menjauh dari kampus Rindu.
Bagi Zayn saat ini menjadi kebiasaan baru untuk mengantar jemput Rindu seperti ini, kini untuk pertama kalinya saat sedang libur bekerja ia tak hanya diam dirumah seperti biasanya, bahkan minggu ini ia justru tak berada dirumah meskipun sedang berlibur, ia justru berada di kota C untuk menghabiskan masa liburnya bersama dengan Rindu.
kring.....
Diambilnya ponselnya yang berada didalam saku celananya, dilihat dilayar ponselnya panggilan masuk dari Faiz, tanpa menunggu lama ia segera mengangkat telepon tersebut.
📞 panggilan masuk My brothers Faiz...
" hallo Assalamu'alaikum Fa " (kata Zayn)
" waalaikumsalam, bro lo udah mau balik belum? " (kata Faiz)
" udah ni bentar lagi sampe, kenapa bro? " (kata Zayn)
" lo jangan lama-lama lah gabut gue, buruan " (kata Faiz)
" bukannya ada Gibran? " (kata Zayn)
" ada nih, gue tahan-tahan dia biar gak berangkat kuliah " (kata Faiz)
" lo tadi gue ajak sok-sokan gak mau sih " (kata Zayn)
" apaan jadi obat nyamuk lo mulu, males gue " (kata Faiz)
" obat nyamuk ama sopir gue, hahahaha " (kata Zayn)
" kambing lo " (kata Faiz)
" ya udah lah, gue udah didepan nih " (kata Zayn)
Panggilan telepon segera ia matikan, saat ini ia sudah berada didepan rumah pamannya, ia segera masuk kedalam rumah, di ruang keluarga sudah duduk Faiz bersama Gibran, pada saat jam pagi seperti ini anggota keluarga di rumah Gibran telah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing seperti halnya dirumahnya juga yang setiap anggota keluarganya memiliki kegiatan masing-masing.
" berangkat sana lo Gibran, telat lo tar " (kata Zayn)
" ah kepalang males gue bang, gara-gara bang Faiz nih " (kata Gibran)
" alah ngomong aja lo emang mau bolos, alesan lo " (kata Faiz)
" hahahahah, emang " (kata Gibran)
" males banget lo kuliah Gib, tar lo lama lulusnya kalo males-males " (kata Zayn)
" gak papa lama yang penting gue lulus " (kata Gibran)
" dasar curut, bikin abis duit org tua aja lo " (kata Faiz)
" hahahahah, anak Sultan mah bebas " (kata Gibran)
" anjie*r songong amat nih bocah " (kata Faiz)
" suka-suka dia ajalah bro, biarin " (kata Zayn)
" hahahah, yang tua ngalah ajalah " (kata Faiz)
Gibran memang terkesan santai untuk masalah kuliah, bahkan ia tak punya target untuk segera lulus dari kuliahnya & segera menjadi seorang dokter, padahal jika bersungguh-sungguh Zayn yakin Gibran sangat mampu karena adik sepupunya tersebut sebenarnya memiliki otak yang lumayan sangat cerdas.
" nongkrong diluar aja yuk, sekalian cuci mata " (kata Gibran)
" ide bagus, yuk Zayn " (kata Faiz)
" kemana? " (kata Zayn)
" kemana kek " (kata Gibran)
" tempat yang bisa liat cewek yang jelas " (kata Faiz)
" cewek mulu lo Fa " (kata Zayn)
" hahahaha, kebutuhan bro " (kata Gibran)
" kebutuhan lo terlalu sering bang, gak takut impot*n lo " (kata Gibran)
" anjie*r nyumpahin ya lo? " (kata Faiz)
" enggak, hahahaha " (kata Gibran)
" ya udah yuk cabut " (kata Faiz)
Zayn mengikuti dua sepupunya yang berjalan kearah luar rumah, kali ini mereka akan pergi dengan menggunakan mobil milik Gibran.
" karena dia hari lagi gue bakal balik, jadi dari hari ini sampe dia hari kedepan gue yang traktir " (kata Faiz)
" wih percaya gue ama lo bang " (kata Gibran)
__ADS_1
" tau aja lo gue harus ngirit " (kata Zayn)
" hahaha, gue cukup pengertian bro, lo mau beli rumah soalnya, oh iya kalo duit lo gak cukup bisa minjem gue dulu lah " (kata Faiz)
" gak lah bro, dua bulan kerja bisalah nutupin kekurangan " (kata Zayn)
" sadap, dua cowok ganteng yang kerjaannya mapan gajihnya gede, apa daya gue yang masih minta ama nyokap bokap " (kata Gibran)
" ya lo aja gak mau cepet-cepet lulus biar bisa cari duit sendiri songong " (kata Faiz)
" hahaha nyantai bro, jangan ngegas dong, tar ada juga waktunya gue cari duit sendiri tenang aja, ok " (kata Gibran)
Zayn hanya menggelengkan kepalanya mendengar perbincangan Faiz & Gibran.
# Rindu Mentari
Kini ia berada di dalam kelas duduk di samping Jiya masih memperhatikan pelajaran yang di sampaikan oleh dosen yang berada didepan kelas, beberapa bulan lagi ia akan mengikuti KKN ia berharap dengan mengikuti pelajaran dengan baik selama beberapa bulan sebelum KKN dimulai akan menjadikan bekal untuknya. Tak terasa jam mata kuliah nya telah berakhir, setelah dosen mengakhiri pelajaran & memberi salam mereka semua segera bubar untuk keluar dari kelas.
" kamu pake cincin? " (kata Jiya)
Rindu menarik tangannya untuk menyembunyikan jarinya agar tak terlihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
" ada yang kamu sembunyiin ya dari aku?, tiga hari gak masuk kemana coba? " (kata Jiya)
" pulang " (kata Rindu)
" ngapain? " (kata Jiya)
" ada urusan keluarga " (kata Rindu)
" apa? " (kata Jiya)
" ya pokonya ada lah, ya udah yuk kantin haus nih " (kata Rindu menggandeng Jiya)
Bukan maksud ingin menyembunyikan masalah pertunangannya dengan Zayn hanya saja Rindu belum siap untuk bercerita dengan Jiya perihal perjodohannya dengan Zayn. Ia yakin jika Jiya pasti takan habis pikir mengapa dirinya menerima perjodohannya dengan Zayn.
" kamu sering jalan ama kak Faiz? " (kata Rindu)
" iya, baik loh dia, gak nyebelin kaya Zayn " (kata Jiya)
" iya baik memang kok kak Faiz, kamu jalan ama kak Faiz Rendi gak marah tuh? " (kata Rindu)
" Rendi gak ada beib, tenang aja dia lagi diluar kota " (kata Jiya)
" kamu yakin gak bakal ada yang lapor aneh-aneh ke Rendi, kamu tau gimana pacar kamu itu Jiy, aku gak mau kamu kena masalah lagi sama dia " (kata Rindu)
" semoga aja gak ada yang lapor aneh-aneh ke Rendi, makasih ya beib udah khawatirin aku " (kata Jiya)
Rindu hanya mengangguk sambil tersenyum, bagaimanapun juga jika Jiya terkena masalah dengan tunangannya Rindu juga akan bersedih, Rindu sangat kasihan dengan Jiya yang terlalu mencintai seorang pria yang sifatnya seperti psikopat, terkadang Rendi memang baik tapi dalam seketika Rendi bisa saja menjadi moster membabi buta kepada Jiya.
" kayanya kamu jauh-jauh aja deh dari kak Faiz mulai sekarang, aku gak mau kamu sampe kenap-napa " (kata Rindu)
Jiya hanya menganggap Faiz teman biasa seperti yang ia pikirkan sebelumnya tetapi Faiz sepertinya sangat berharap dengan Jiya.
# Humaira Shakila Najma
" Huma ada yang nungguin lo tuh didepan pagar " (kata seorang siswa bernama Lando)
" siapa? " (kata Humaira)
" cowok yang jelas, pake baju item naik mobil honda jazz merah " (kata Lando lagi)
Humaira sedikit berfikir siapa seorang pria yang telah menunggunya didepan pintu gerbang, ia masih terus berjalan menuju arah luar pintu gerbang bersama Kevin & Desi, kebetulan jam telah menunjukkan pukul 01.00siang jam, para siswa-siswi telah membubarkan diri untuk pulang kerumahnya masing-masing, setelah berada didepan Humaira melihat kesegala arah untuk mencari seseorang yang dimaksud siswa tadi. Seorang pria dengan ciri-ciri yang disampaikan siswa tadi melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum, ia sedikit memicingkan matanya berusaha mengenali pria tersebut.
" lo kenal dia?, lumayan ganteng lo mak " (kata Desi)
" siapa tuh Huma? " (kata Kevin)
" Desta " (kata Humaira mengingat)
" Desta? " (kata Kevin & Desi)
Humaira tiba-tiba diam melihat Desta berada di depan gerbang sekolahnya untuk menemuinya, padahal sebelumnya ia tak pernah seakrab itu dengan Desta. Terlihat Desta berjalan menuju ke arahnya karena kebetulan mobil Desta terparkir disebrang jalan cukup jauh dari tempat Humaira berdiri bersama kedua temannya saat ini.
" temen lo Mak? " (kata Desi)
" anak temen sahabat mami " (kata Humaira)
" pantesan bisa jemput lo " (kata Kevin)
" cemburu lo Kev? " (kata Desi)
" ngapain gue cemburu, masih ganteng gue kemana-mana kali " (kata Kevin)
" pede lo " (kata Desi)
" malah ribut lagi nih bedua, sssttt diem-diem deh " (kata Humaira)
Kini pria yang berprofesi sebagai seorang polisi yang postur tubuhnya tinggi dengan kulit putih tersebut telah berada didepannya masih dengan senyumnya.
" Hai " (kata Desta)
" bang Desta cari Huma? " (kata Humaira)
" iya " (kata Desta)
" kenapa bang? " (kata Humaira)
__ADS_1
" gue mau nge jemput lo " (kata Desta)
" disuruh tante Ega ya? " (kata Humaira)
" enggak, kebetulan lewat tadi terus inget kalo ini sekolahnya Humaira, mau gak pulang ama gue? " (kata Desta)
Humaira menoleh kearah dua temannya yaitu Kevin & Desi, wajah dua temannya tersebut seakan penuh tanya meskipun tak diungkapkan oleh mereka.
" boleh deh " (kata Humaira)
" ayo " (kata Desta)
" bang Desta duluan aja ke mobil, gue mau ngomong dulu ama dua temen gue " (kata Humaira)
" ok, gue tunggu disana ya " (kata Desta sambil tersenyum)
Humaira hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya, setelah Desta berada di mobilnya Humaira dicecar dengan seribu pertanyaan dari Kevin & Desi.
" lo kenapa mau sih pulang bareng dia? " (kata Kevin)
" lo pulang bareng dia kenapa gak ngajak-ngajak gue sih mak, tuh cowok ganteng maksimal tau bikin gue klepek-klepek " (kata Desi)
" eh buta ya mata lo, masih ganteng gue kali ya meskipun dia juga ganteng " (kata Kevin menoyor kepala Desi pelan)
" stop deh ah, ribut-ribut bae, gue bingung tau kenapa tuh nang Desta tiba-tiba nge jemput gue, padahal gue gak akrab-akrab banget tau ama dia, kenal sih kenal tapi ya kenal gitu-gitu aja " (kata Humaira)
" ya terus kenapa lo mau balik ama dia " (kata Kevin mengulang pertanyaan yang sama)
" kalo gue tolak kesannya gue gak sopan Kevin, mana tuh cowok anak sahabat mami gue pula " (kata Humaira)
" Jangan-jangan ada niat terselubung mak " (kata Desi)
" apaan tuh " (kata Humaira)
" ya lo kan bilang kalo kakak lo yang gantengnya kaya artis Korea itu yang selama ini kita kira cowok lo itu dijodohin ama anak sahabat mami lo, ama kakaknya Bumi " (kata Desi)
" ya terus apa hubungannya ama gue? " (kata Humaira)
" astaga mas lo gak ngerti sih maksud gue mak, maksud gue jangan-jangan lo juga mau dijodohin ama cowok ganteng tadi " (kata Desi)
" eh buset, enggak deh, enggak mungkin, lagian gue baru 16tahun Desi, masa iya bokap nyokap tega mau ngawinin gue yang masih belasan tahun ama bang Desta " (kata Humaira)
" mungkin aja tau, tapi kalo lo seandainya gak mau ama tuh cowok, comblangin aja ya ke gue mak, mayan tuh ganteng bisa merubah keturunan, bibirnya aja bagus kaya gitu pasti anaknya tar juga bagus ke gitu " (kata Desi)
" apaan sih lo Des, ngaco banget " (kata Kevin)
" tau nih masih kecil udah mikirin bibit, ya udah deh gue duluan, daaaa " (kata Humaira)
Humaira berjalan meninggalkan dua temannya menuju arah mobil Desta yang berada di sebrang jalan.
# Abdul Zayn Mikail
Zayn beserta Gibran & Faiz sedang menunggu Rindu di parkiran kampusnya setelah seharian menghabiskan waktu di sebuah kafe sambil mengobrol bebas layaknya pria pada umumnya saat sedang bersama yang diobrolkan hanya lah seputaran wanita & pekerjaannya. Tak selang beberapa lama akhirnya terlihat Rindu berjalan bersama Jiya keluar dari arah koridor dalam, Zayn langsung keluar dari mobilnya untuk menemui Rindu, Zayn tersenyum kearah Rindu begitupun Rindu membalas senyumnya.
" balik sekarang aja ya " (kata Zayn)
" kamu dijemput dia beib? " (kata Jiya)
" iya beib " (kata Rindu)
" gak salah beib? " (kata Jiya)
" kenapa emangnya? " (kata Zayn yang agak tersinggung)
" ya gue heran aja sih Rindu mau balik ama cowok songong kaya lo " (kata Jiya)
Zayn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena kata-kata Jiya yang dianggapnya tidak sopan.
" Jiy jangan gitu lah ama kak Zayn, dia baik kok " (kata Rindu)
" tunggu dulu " (kata Jiya memperhatikan jari Zayn & Rindunya), " kalian pake cincin yang sama? " (kata jiya)
Zayn melihat kearah Rindu yang terkejut karena teman baiknya melihat cincin pertunangan mereka yang melingkar dijari mereka masing-masing, Zayn rupanya mengerti sebenarnya Rindu belum menceritakan perihal pertunangan mereka dengan Jiya.
" kalian pacaran atau gimana? " (kata Jiya)
" kita udah tunangan, bentar lagi kita berdua bakal nikah " (kata Zayn)
" what? " (kata Jiya yang langsung dibekap oleh Rindu)
" Jiya kalo ngomong itu gak usah pake teriak gitu dong, kamu mau satu kampus tau soal aku " (kata Rindu)
" sorry beib gue kelepasan " (kata Jiya)
" emang kenapa kalo satu kampus lo tau kalo kita udah tunangan terus mau nikah? " (kata Zayn menatap serius)
Zayn agak kecewa karena Rindu berusaha menutupi identitasnya yang sebentar lagi akan menikah dengannya.
Rindu
Zayn
__ADS_1
Desta