
# Humaira Shakila Najma
Beberapa bulan kemudian...
Humaira bersama dengan kakak iparnya yaitu Rindu sedang berjalan bersama menuju arah pintu lobi bandara, mereka berdua akan terbang menuju kota xxx untuk pulang ke rumah orang tua mereka karena kebetulan libur semester telah tiba.
Ini merupakan hari yang dinanti-nanti Humaira selama beberapa bulan belakangan ini, saat libur semester ini Desta akan secara langsung kepada kedua orang tua Humaira tentang niat serius mereka berdua untuk segera menikah.
Sambil menunggu Desta mendapatkan libur Humaira memutuskan untuk pulang ke kota xxx bersama kakak iparnya duluan, mengingat pekerjaan Desta sebagai seorang polisi lumayan padat.
Saat ini Humaira tepat duduk di dekat kaca jendela pesawat, ini lah tempat favoritnya ketika berad di sebuah pesawat, terbang dengan menaiki Pesawat ia bisa melihat ternyata dunia terlalu kecil jika dilihat dari atas.
Humaira menghembuskan nafasnya dari hidung sambil tersenyum, kini dirinya telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa meskipun ia masih sering diperlakukan seperti anak kecil oleh kakaknya Zayn.
" bahagia banget kayaknya " (kata Rindu yang akhirnya bersuara)
Humaira lantas menoleh kearah kakak iparnya yang saat ini telah tersenyum kearahnya setelah mengatakan sesuatu.
" bahagia lah kak, orang mau ketemu mami papi gimana gak bahagia " (kata Humaira balik tersenyum)
" mau ketemu mami papi sekalian ada niat lain ya? " (kata Rindu menggoda)
" insyallah doain aja ya kak, niatnya bakal berjalan sesuai rencana, aamiin " (kata Humaira)
" aamiin " (kata Rindu)
Humaira kembali menoleh kearah kaca jendela pesawat, ia memang sangat berharap kedua orangtuanya serta kakaknya memberikan restu & mengijinkan dirinya untuk menikah dengan Desta.
Mengingat Desta juga telah memiliki pekerjaan ia yakin jika pacarnya tersebut mampu bertanggung jawab akan dirinya setelah menjadi sepasang suami istri nantinya.
Meskipun usianya masih sangat muda tetapi ia yakin bisa menjalankan komitmennya dalam berumah tangga dengan baik, ia yakin ia bisa menjadi seorang istri yang baik.
Humaira tersenyum sambil terus memperhatikan awan yang berarak di langit luas, beberapa saat lalu pesawat yang ia naiki telah terbang setinggi 3500 kaki, ia mulai mendengar suara kakaknya yang saat ini telah menjadi kapten pilot pesawat yang ia & kakak iparnya naiki.
Saat berada di dalam pesawat yang dikendalikan oleh kakaknya Humaira merasa ada kebanggaan tersendiri, ia terus membayangkan betapa kerennya kakaknya berada di dalam kokpitnya sambil terus memperhatikan rute perjalanan dari layar monitor.
Sekilas ia menoleh kearah arah kakak iparnya yang terlihat nampak tersenyum mendengarkan suara Zayn, ia berharap ia & Desta akan seperti Zayn & Rindu yang saat ini nampak sangat bahagia menjalani bahtera rumah tangganya.
" cieh yang senyum-senyum denger suara pilotnya " (kata Humaira gantian menggoda sambil menyenggol bahu kakak iparnya), " kak Zayn keren ya kak, Huma bangga deh tiap naik pesawat yang di bawa sama kak Zayn " (kata Humaira)
" iya dek, keren banget " (kata Rindu tersenyum kembali)
Wajah kakak iparnya nampak merah merona malu-malu sambil tersenyum, rona kebahagian sangat nampak di wajah kakak iparnya saat ini.
Pesawat telah terbang tinggi beberapa ribu kaki dari permukaan bumi, waktu perjalanan masih sangat lama sekitar satu jam lebih lagi karena jarak tempuh dari kota C ke kota xxx adalah sekitar dua jam.
Saat ini jam telah menunjukan pukul 10.00pagi, ia & kakak iparnya sengaja mengambil penerbangan pagi ini agar bisa cepat sampai & cepat beristirahat.
# Aryan Gibran Alaric
Gibran membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu sambil terus memegang ponsel miliknya, sibuk dengan game online yang saat ini telah ia mainkan, bermain game seperti ini hanya untuk mengisi waktu luangnya saat sedang merasakan kebosanan.
Di hari pertama libur semesternya Gibran hanya sendiri di rumah setelah beberapa saat lalu Humaira beserta Zayn & istrinya terbang ke kota xxx. Ia sangat merasakan kesepian hari ini karena biasanya adik sepupunya Humaira lah temannya mengobrol saat libur tak ada jam kuliahnya.
Gibran mulai bosan memainkan ponselnya, ia lalu berdiri menuju ruang keluarga, diambilnya remote televisi & dinyalakan televisinya, Gibran kemudian duduk dengan agak lemas.
" ah sepi banget ya, sih Huma pake acara pulang pula, gue jadi sepi kan gak ada biang rusuh, kaya gini gue malah kangen di bawelin sama sama Huma " (kata Gibran berbicara sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya)
" tau gitu mending gue ikut liburan ke sana, mana tau dapat cewek gua, dari pada di rumah aja gini bikin gue bosen " (kata Gibran lagi)
Sebenarnya Humaira telah mengajak dirinya dari jauh-jauh hari sebelum akhirnya Humaira berangkat ke kota xxx bersama dengan Zayn & istrinya pagi tadi.
" liburan gini bukannya seneng malah boring, gak ada temen ngobrol gak ada temen ribut, gak ada yang ngajak gelut, biang rusuhnya pulang kampung, haaaaahhhh nasib-nasib anak tunggal " (kata Gibran sendiri)
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal, libur semester cukup lumayan lama jika selama libur ia hanya di rumah seperti ini sudah pasti ia tak akan betah.
Padahal sebelumnya saat belun ada Humaira ia telah terbiasa sendiri saat libur seperti ini tetapi semenjak ada Humaira ia jadi terbiasa dengan kehadiran adik sepupunya yang berisik.
__ADS_1
" berisik kalo ada, kalo gak ada dicari juga, tiba-tiba sepi gini rumah kaya gak berpenghuni " (kata Gibran sendiri lagi)
Ia hanya bisa menggerutu sendiri dalam kesunyiannya, meskipun saat ini ia berteriak tak akan ada satu pun orang yang akan mendengarnya karena pada saat jam segini ART dirumahnya akan pulang karena tugas pagi telah selesai.
# Rindu Mentari
Sudah beberapa jam ia berada di dalam pesawat bersama dengan adik iparnya Humaira, sebentar lagi pesawat yang ia naiki akan segera mendarat tepat di bandara kota xxx.
Karena saat ini sedang libur semesternya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya tentu saja dengan persetujuan& ijin suaminya.
Dari jauh hari Rindu telah membicarakan perihal liburnya kepada suaminya, ia bersyukur suaminya memberikan respon baik & mengijinkannya untuk berlibur di rumah orangtuanya.
Setelah beberapa puluh menit pesawat mendarat & para penumpang diperbolehkan turun dari pesawat, ia & Humaira segera turun dengan membawa koper mereka masing-masing dengan berjalan beriringan.
Setelah berada diruang tunggu ia & Humaira duduk sejenak untuk menunggu Zayn, sesuai dengan yang dikatakan suaminya ia hanya menurut menunggu suaminya setelah mendarat.
" kakak sudah hubungin kak Zayn? " (kata Humaira)
" udah dek, barusan kakak wa, katanya bentar dia keluar kita suruh nunggu dulu " (kata Rindu)
Saat masih asik duduk sambil mengobrol di ruang tunggu ada seorang wanita datang menghampiri kearah mereka berdua dengan menggunakan baju pramugari.
" Huma " (kata wanita tersebut menegur)
Humaira pun memperhatikan wanita tersebut seolah mengenalnya Rindu hanya diam memperhatikan adik iparnya & wanita cantik yang berdiri dihadapannya tersebut.
" kak Mauren " (kata Humaira sambil tersenyum)
Adik iparnya nampak terlihat akrab dengan wanita berpakaian pramugari tersebut, ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menyapa berusaha bersikap ramah meskipun tak kenal.
" lo apa kabar dek?, lama loh kita gak pernah ketemu, eh ketemu disini " (kata Mauren ramah)
" Huma baik sih kak, iya ya lama kita gak ketemu " (kata Humaira)
" sendiri nih? " (kata Mauren bertanya)
Rindu tersenyum sambil menjabat tangan Mauren, sepertinya wanita tersebut cukup baik terlihat dari sikapnya yang ramah.
" Mauren " (kata Mauren)
" Rindu " (kata Rindu)
" oh iya kalo gitu ke sana dulu ya, mau siap-siap " (kata Mauren tersenyum)
" sampe ketemu lagi ya kak " (kata Humaira)
" ok, see u " (kata Mauren sambil melenggang pergi)
Rindu masih terus menatap kepergian Mauren, sebagai seorang pramugari wajar saja Mauren sangat ramah & murah senyum.
# Maura Aradin Mauren
" oh jadi ini istri Zayn, gak sebanding sama gue " (kata Mauren dalam hati)
Mauren berpamitan kepada Humaira karena sebentar lagi ia akan ada jadwal penerbangan kembali.
" oh iya kalo gitu ke sana dulu ya, mau siap-siap " (kata Mauren tersenyum)
" sampe ketemu lagi ya kak " (kata Humaira)
" ok, see u " (kata Mauren sambil melenggang pergi)
Maura bergegas pergi meninggalkan Humaira yang duduk bersama istri Zayn saat ini di tempat, akhirnya ia kini bertemu juga dengan istri dari pria idamannya.
Wanita bernama Rindu tersebut telah merebut pria yang sangat ia cinta, ia akan menghancurkan hidupnya karena berani-berani merebut Zayn dari hidupnya.
Ia berhenti & memperhatikan Humaira serta Rindu yang saat ini telah tak memperhatikan dirinya, tangannya mengepal matanya merah memancarkan amarahnya.
__ADS_1
" *dasar perempuan sunda*l, liat aja entar gue bakal rebut lagi Zayn dari lo, Zayn cuman milik gue & gak bisa dimiliki siapapun " (kata Maura dalam hati)
" Gue gak akan biarin lo bertahan lama disisi Zayn, itu sumpah gue " (kata Maura lagi dalam hati*)
Ia mulai lagi berjalan kembali menuju arah lobi, untuk berkumpul bersama teman-teman seprofesinya, ia berusaha tersenyum menahan amarahnya.
# Abdul Zayn Mikail
Ia terus berjalan sambil tersenyum menghampiri arah istrinya & adiknya yang saat ini masih setia menunggunya sambil asik mengobrol berdua.
Siang ini ia akan ikut pulang ke rumah orangtuanya untuk mengantarkan adiknya lalu ke rumah mertuanya untuk beristirahat sejenak di sana sebelum jadwal penerbangannya selanjutnya siang ini.
Dua wanita yang ia cintai tersebut kini telah melihat kearahnya sambil tersenyum, ia sangat senang melihat kedekatan keduanya yang seolah tak sedikitpun ada jarak & perbedaan.
" kelamaan ya nunggunya? " (tanya Zayn sambil tersenyum)
" gak lama lagi, untung tempatnya adem coba panas jadi ikan kering kali kita berdua " (kata Humaira)
" lebay lo, ya udah yu " (kata Zayn mengajak keduanya pergi dari ruang tunggu)
Zayn membawakan koper milik istrinya serta milik adiknya, Humaira & Rindu nampak terlihat tertawa melihat dirinya membawa dua koper milik mereka. Seolah sengaja istrinya serta adiknya mengerjai dirinya saat ini.
" ini sumpah lo ya kalian niat banget ngerjainnya " (kata Zayn)
" ya masa kakak tega punya kak Rindu kakak bawain punya Huma enggak, kan harus adil kak " (kata Humaira)
Zayn hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum seolah pasrah. Ia melakukan hal ini agar tak ada kecemburuan diantara adiknya & istrinya. Apa lagi mengingat selama ini sebelum menikah ia & Humaira sangat dekat.
Mereka bertiga langsung menuju arah parkiran, diparkiran sudah ada mobil Zayn yang beberapa hari lalu ia sengaja tinggal di sana, setelah berada di parkiran tak menunggu lama mereka segera naik kedalam mobil.
Mobil segera melaju menjauh dari arah parkiran menuju arah luar bandara, angin sepoi-sepoi bertiup dari kaca jendela yang sudah setengah terbuka, sekilas ia melihat Rindu yang saat ini seolah tak sabar ingin bertemu dengan orangtuanya.
Senyumnya terus melukis diwajahnya, Zayn senang bisa membuat istrinya bahagia dengan memberikannya ijin untuk berlibur ke rumah orangtuanya, baginya apapun itu asalkan bisa membuat Rindu bahagia ia juga akan sangat bahagia.
" dek ini kan di rumah masih sepi, mami sama papi juga belum pulang, kamu ikut ke rumah papa mama kakak aja ya? " (kata Rindu yang akhirnya membuka suara sambil melihat kearah Humaira)
Zayn juga ikut melihat kearah adiknya dari arah kaca spionnya sekilas, ia berpikir jika istrinya ada benarnya juga, apalagi kedua orangtuanya saat ini masih berada di kantor.
" iya dek ikut aja ya? " (kata Zayn)
" emang gak papa kak Huma ikut ke rumah?, gak ganggu nih? " (kata Humaira)
" ganggu gimana?, ya engga lah dek " (kata Rindu)
" ok deh " (kata Humaira)
Setelah mendapatkan persetujuan Humaira mereka bertiga akan segera pulang ke rumah orang tua istrinya yang tak lain adalah mertuanya, selama ini sebelumnya adiknya sudah sangat akrab dengan orang tua istrinya mengingat Humaira adalah sahabat Bumi, mereka berdua sudah sangat lama bersahabat.
Setelah berkendara beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai juga di pekarangan rumah mertuanya, mobil segera ia parkirakan, meraka segera turun dari mobil menuju pintu rumah, Zayn membawa koper istrinya turun sedang koper adiknya masih tetap berada di dalam mobilnya.
" Jangan sungkan-sungkan ya, anggap aja rumah sendiri kaya biasa " (kata Rindu tersenyum)
" iya dek anggap aja rumah sendiri, nyapu, ngepel, cuci piring " (kata Zayn bercanda)
" is kakak nih, yang boneng aja Huma suruh gitu-gitu, sendirinya kan tau Huma gak pernah kerja di rumah " (kata Humaira)
" hahaha, makanya belajar, tuh belajar dari istri kakak, cantik pinter segala-galanya lagi, termaksud kasih seneng kakak " (kata Zayn tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya)
Istrinya memang sangat pandai dalam mengurus rumah, bahakan untuk urusan dapur ia selalu turun tangan sendiri untuk menyiapkan makanan untuk mereka makan.
" aduh GR nih aku kak, berlebihan mah itu dek " (kata Rindu tersenyum)
" Huma mah percaya kalo kakak jago ngurus rumah apa lagi kakak udah lama biasa hidup mandiri kan kak " (kata Humaira)
" iya dek udah lama emang hidup mandiri semenjak kuliah " (kata Rindu)
Zayn cukup bangga dengan istrinya yang berani mengambil keputusan untuk hidup mandiri saat pertama berkuliah. Setelah berada di dalam rumah mereka lalu duduk di ruang tamu, Rindu segera pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu, rumah saat ini terlihat sangat sepi karena kedua mertuanya saat ini sedang berada di kantornya sama seperti kedua orangtuanya di jam segini juga masih berada di kantornya.
__ADS_1