
Sinar matahari tetap membuatku bergeming. Aku selalu menikmatinya meskipun menyilaukan penglihatanku. Aku sangat menyukai matahari. Senang sekali rasanya aku bisa menikmati sinarnya. Rasanya... aku hidup. Hanya dengan melihat matahari aku akan merasa tenang dan mengingatkan aku untuk terus semangat dalam menjalani kehidupanku. Seperti bunga yang sedang layu dan akan mulai hidup kembali setelah terpapar sinar matahari, aku juga seperti itu.
Saat ini aku sedang berada di ruang meeting kantor. Ini adalah tempat kesukaanku. Aku dapat melihat langit dengan jelas dari sini. Langit biru yang selalu menjadi tempat keluh kesahku karena aku tidak tahu kemana lagi aku berkeluh kesah. Ruang meeting ini berada di lantai 3 kantor. Ruangannya tidak terlalu luas tetapi cukup untuk menampung 50 pegawai. Terdapat juga dua lemari buku yang cukup besar. Di sana terdapat buku-buku editing dan kesehatan. Aku bekerja di sebuah perusahaan aplikasi kesehatan online di Depok. Perusahaan ini termasuk perusahaan yang sedang berkembang. Aku bekerja sebagai Content Writer. Aku bertanggungjawab untuk menulis minimal artikel kesehatan setiap harinya, melakukan wawancara dengan beberapa dokter, dan berdiskusi dengan dokter tentang artikel yang kutulis. Aku sebenarnya sangat menikmati pekerjaan ini karena pada dasarnya aku memang suka menulis. Selain itu, aku juga menjadi lebih tahu masalah kesehatan.
Sudah berapa lama ya aku bekerja di perusahaan ini? Aku mulai menghitungnya dengan tanganku. Sudah 2 tahun aku bekerja di sini. Sudah 2 tahun juga aku tidak pulang ke rumah. Sebenarnya, aku rindu dengan ayah, ibu, dan adik-adikku di Medan. Aku juga rindu makanan-makanan Medan, seperti sayur daun ubi, sambal ikan teri, lontong medan, dan makanan kesukaanku, Toge Panyabungan. Memikirkannya saja sudah membuat perutku berbunyi. Padahal aku sudah makan siang dengan nasi Padang tadi. Aku juga merindukan sekolah SMA-ku. Aku banyak tertawa saat itu, tetapi aku juga banyak menangis. Kenangan-kenangan itu masih sering aku ingat. Aku menuliskannya di buku diariku karena aku takut aku akan lupa. Aku tidak ingin melupakannya, kenangan-kenangan itu. Karena dengan kenangan itu, aku merasa bahagia meskipun aku akan menangis pada akhirnya. Karena dengan pesannya, aku menjadi kuat. Dan jika aku kembali ke sana, aku yakin aku tidak akan baik-baik saja.
Sudahlah. Mengapa aku menjadi memikirkannya. Aku sudah berjanji untuk mencoba berhenti memikirkannya dan mencoba untuk membuka hatiku. 10 tahun memberikan hatiku padanya sudah cukup. Sudah saatnya aku berhenti. Iya, bukan?
Aku mengeluarkan ponsel dari saku blazerku dan memotret cahaya matahari yang indah ini. Aku mengulurkan tanganku di depan kamera menghalau sinar matahari yang menyilaukan mataku. Aku sangat menyukai potret seperti itu. Seolah-olah aku mampu mencapai matahari tersebut. Sudah. Aku memasukkan kembali ponselku ke saku blazer. Aku harus segera kembali bekerja. Mba Sarah, senior content writer, akan mengomel jika aku terlalu lama di sini.
“Dari ruang meeting, Ra?” tanya Mba Sarah padaku. Aku bahkan baru saja duduk di cubicle-ku.
“Iya, Mba. Kepala penuh banget rasanya,” jawabku.
“Besok kamu ya yang interview Dokter Fani.”
Apa? Aku nggak salah dengar kan ya? Dokter Fani dan aku sangat tidak cocok. Aku selalu mengelus dada setiap wawancara dengannya. Dia akan mengomentari pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan. Dia juga akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kesehatan kepadaku padahal aku bukan anak kesehatan. Dia juga akan mengomentari selera pakaianku yang terkesan monoton karena aku hanya menyukai warna gelap dan polos. Sedangkan, Dokter Fani sangatlah feminin dan menyukai pakaian yang penuh warna dan juga bunga-bunga. Dia juga akan menanyakan pengetahuanku tentang Sasra Inggris karena aku lulusan Sastra Inggris. Dia cukup banyak tahu tentang Sastra Inggris karena beliau sangat menyukai novel-novel klasik. Wawancara yang seharusnya berakhir selama 1 jam akan berakhir selama 3 jam. Pada akhirnya, aku harus lembur karena harus menulis hasil wawancara dan juga beberapa artikel. Itu semua hanya terjadi pada aku saja. Dia akan bersikap ramah dengan content writer yang lain.
“ Yah, Mba. Jangan sama Aira lah wawancaranya. Mba kan tahu Dokter Fani tidak suka sama saya. Yang ada Dokter Fani bakalan mencak-mencak mendengar pertanyaan saya. Padahal mah menurut saya sudah bagus pertanyaannya,” tolakku berharap Mba Sarah setuju dengan pernyataanku ini.
“Mba udah ngehubungin Dokter Fani, kok. Beliau bilang OK tuh wawancara sama kamu. Katanya udah lama nggak ketemu Aira.”
“Sama Tari aja, Mba. Tari kan baru beberapa kali wawancara sama Dokter Fani. Bilangin aja Aira lagi sibuk. Kan emang lagi sibuk, Mba.” Aku membuat suaraku sememelas mungkin agar Mba Sarah sedikitnya merasa ibalah sama juniornya ini.
“Sibuk dari mananya? Hasil wawancara dengan Dokter Farhan kan sudah dipublish kemaren. Udah nggak apa apa, Aira. Nggak enak juga sama Dokter Fani kalau tiba-tiba harus ganti pewawancara. OK ya. Besok, pukul 1 siang di rumahnya. Kamu tahu kan rumahnya?” ucap Mba Sarah panjang.
Ini mah gagal ngebujuk Mba Sarahnya. “Iya, Mba. Aira tahu. Tapi kok di rumahnya ya, Mba? Biasanya kan di kliniknya?” tanyaku.
“Nggak tau tuh. Bagus dong Ra di rumahnya. Kan nggak jauh dari kantor. Jangan lupa ya besok,” jawab Mba Sarah.
“Iya deh, Mba.”
Berdoa saja supaya wawancaranya nggak selesai sampai Maghrib. Yang ada besoknya aku juga harus lembur. Terima sajalah. Namanya juga Rakjel (Rakyat Jelata). Tugasnya menerima perintah dan melaksanakannya. Mudah-mudahan aja besok mood Dokter Fani sedang bagus.
*****
__ADS_1
Aku langsung menuju kasur kesayanganku sesampainya di rumah kontrakanku. Aku sudah tinggal di sini dari awal bekerja di Depok. Rumah petak 3 sekat yang terdiri dari ruang depan, kamar, dapur, dan kamar mandi. Cukup luas jika ditempati sendiri. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kantor. Cukup 10 menit dengan naik aplikasi ojek online.
Aku membuka media sosialku dan banyak Direct Message yang masuk. Ah iya. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Kenapa aku bisa lupa padahal aku merayakannya dengan teman-teman kantorku tadi siang. Mungkin karena tidak ada yang spesial. Setiap tahun hari ulang tahun selalu sama. Ucapan selamat dan makan-makan. Ucapannya juga setiap tahun hampir sama. Doa diberi kesehatan, kebahagiaan, kelancaran, dan terakhir pasti jodoh. Tidak hanya teman-teman kantor, keluarga, teman-teman sekolah dan kuliah, dan teman-teman online juga. Kenapa selalu sama? Seharusnya aku lebih bersyukur karena masih ada yang mengingatnya. Terima kasih, Tuhan.
Aku membuka aplikasi WhatsApp dan benar saja, sudah ada pesan dari 2 sahabatku. Mereka adalah May dan Ami. Sahabatku waktu SMA dan sampai sekarang. Sebenarnya kami bersahabat berlima, tetapi 2 sahabatku lainnya sudah meninggalkan kami dan tak akan pernah kembali lagi. Jadilah hanya kami bertiga. Aku membuka pesan tersebut dan membalasnya.
Ami:
Selamat ulang tahun, Rara. Do’anya masih sama dengan tahun-tahun kemaren hehe. Umurnya berkah, diberikan kesehatan, umur yang panjang, kebahagiaan, dan segala urusan dilancarkan. Daan do’a yang terakhir adalah semoga jodohnya dipercepat ya jalannya sama Allah. I miss youu. Kapan balik kau?
Aku senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Ami. Ya kali jalannya jodohku dipercepat. Ada – ada saja.
*Aku:
Aamiin. Thank you so much do’anya. Biar ke kondangan nggak sendiri ya aku? Hihi. Balik? Lebaran, Mi.
Ami:
Lebaran? Lama kali. Kemaren-kemaren kau juga bilangnya lebaran tapi nggak balik juga. Udah nggak pengen pulang ya kau?
Aku:
Ami:
Sibuk liburan di negara orang tapinya ya. Pulanglah lebaran ini. Aku udah mau lahiran ini. Kemaren juga waktu aku nikah kau nggak pulang. Pokoknya harus pulang kau tahun ini ya. Awas aja. Sekalian ziarah juga. Kau nggak pernah ziarah lagi setelah lulus SMA*.
Ziarah? Aku sering ingin melakukannya jika aku pulang, tetapi pada akhirnya aku tidak akan melakukannya. Aku takut aku akan semakin susah untuk melupakannya. Aku takut aku mempertanyakan takdir kembali.
*Aku:
Ziarah?
Ami:
Iya. Setiap pulang ke kampung, kau pasti nggak akan ziarah. Di kampung juga cuman 2 minggu. Dia juga pasti rindu samamu.
__ADS_1
Aku:
2 minggu itu udah lama ya. Haha rindu? Iya kali. Dia ngomong ke kau emangnya?
Ami:
2 minggu selama setahun itu sedikit cuy. Dia rindu. Dia pasti rindu.
Aku:
Tau dari mana?
Ami:
Tau aja. Pokoknya harus balik dan kita harus ziarah. Ajak May juga.
Aku:
Ummm kau tau kan rahasia dia? Apa sebenarnya rahasianya, Mi?
Ami:
Umm iya. Tapi kau tau juga kan kalau aku nggak bakalan ngasih tau kau. Karena...
Aku:
Karena kau sudah janji samanya. Okelah. Lagian nggak ada gunanya juga sih ya dibahas. Nggak akan bisa mengubah kenyataan lagi.
Ami:
Iya... Nggak akan mengubah kenyataan. Btw, kau harus balik pokoknya.
Aku:
Iya, iya, Insya Allah*.
__ADS_1
Apakah aku yakin untuk kembali lagi ke tempat itu? Tempat di mana semua kenangan yang ingin aku lupakan berada. Apa sih rahasianya? Sebenarnya, aku masih penasaran. Sudah 10 tahun aku ingin mengetahui rahasia itu. Rahasia yang kata Ami adalah tentang wanita yang benar-benar dicintai oleh laki-laki itu. Laki-laki yang menciptakan kenangan-kenangan yang ingin aku lupakan. Cerita yang ingin aku ubah akhirnya. Namun, aku tahu seberapa besar usahaku, akhirnya tidak akan berubah. Tidak akan bisa.
Aku mengambil handukku. Aku harus menjernihkan pikiranku dan rasa penat ini dengan mandi. Dan drama korea tentu saja. Dalam hati aku berdoa, semoga aku bisa menjadikan kenangan-kenangan itu menjadi memori dan menyimpannya di sebuah folder. Lalu, aku akan menciptakan kenangan-kenangan yang baru dengan laki-laki yang bisa kugapai. Can I meet that person this year, God?