Pulang

Pulang
BAB 4 Kembali ke Masa Lalu


__ADS_3

Suara\-suara yang berasal dari dapur dan ruang tamu membangunkanku. Rasanya aku masih belum ingin bangun. Aku masih ingin tidur dan melupakan sejenak kejadian semalam. Aku masih belum bisa diajak untuk berpikir jernih. Biarkanlah aku mengistirahatkan otakku lebih lama. Aku juga sudah cukup lama memakainya.


Semakin lama, suara itu semakin jelas dan dekat. Itu bukan suara tetanggaku, bukan suara ibu kontrakan juga. Lalu, itu suara siapa? Tetapi suaranya juga tidak asing. Aku mencoba membuka mataku dan menemukan hal-hal yang aneh di kamar. Lemari yang tidak aku kenal. Bantal yang tidak aku kenal. Selimut yang juga tidak aku kenal. Cat dinding kamar yang juga tidak aku kenal. Aku di mana sekarang? Aku mulai panik. Aku tidak masuk rumah orang kan semalam? Seingatku aku pulang ke kontrakanku. Atau itu hanya halusinasi?


Aku segera berdiri dari tempat tidur dan tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tunggu. Dia adalah Farah, adik Ami. Kenapa dia ada di sini? Dia kan tinggal di Medan. Ini semakin aneh. Aku kembali lagi ke kasur dan menutup tubuhku dengan selimut. Aku sepertinya sedang bermimpi. Aku harus tidur lagi dan bangun.


“Kaaak, niat sekolah nggak sih kau? Udah jam 6 ini. Kalau udah bangun jangan tidur lagi. Gimana sih kau, Kak? Cepet mandi sana!” bentak Farah.


Aku tidak menjawab dan mengatakan apapun karena ini pasti mimpi. Aku hanya harus tidur lagi dan bangun. Aku semakin merapatkan selimut.


“Astaga... Malah dirapetin. Ya udah. Aku bilang mama kalau kakak ngga mau sekolah,” ucap Farah dan pergi meninggalkan kamar ini.


Aku merapatkan mataku erat-erat dan mencoba membayangkan yang indah-indah agar aku bisa tertidur lagi, seperti membayangkan bertemu oppa misalnya. Sudah 10 menit dan tetap tidak berhasil. Aku menyibakkan selimut dari atas tubuhku dan mencoba melihat sekeliling. Ini adalah kamar Ami karena foto-foto yang terpajang adalah dirinya. Aku berdiri dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Aku harus mencuci wajahku.


Aku hampir terjungkal ke lantai ketika melihat tampilanku di cermin. Berantakan? Iya. Tetapi ini bukan wajahku. Ini wajah Ami. Kenapa aku ada ditubuh Ami? Kepalaku yang pusing karena kejadian semalam, semakin pusing. Anehnya aku tidak mual. Biasanya aku akan merasa mual setiap aku sakit kepala. Ya Tuhan. Kenapa aku ada di tubuh Ami? Aku segera keluar dari kamar mandi dan melihat kalender. Tidak mungkin Tuhan mengabulkan doaku untuk kembali ke masa lalu, kan? Kejadian seperti itu tidak pernah terjadi dan aku juga tidak pernah percaya. Time Traveller tidak mungkin terjadi. April 2009. Aku mengucek mataku beberapa kali. Siapa tahu angka 2009 berubah menjadi 2020. Tetapi hasilnya nihil. Aku benar-benar kembali ke masa lalu. Bukan sebagai Aira, tetapi sebagai Ami.


Aku tidak sadar aku sudah terduduk lemas di lantai kamar Ami. Aku memikirkan bagaimana caranya kembali ke masa sekarang. Apa yang harus aku katakan ke keluarga Ami? Atau apakah aku harus berpura-pura jadi Ami saja? Suara pintu kamar yang dibuka mengejutkanku. Ternyata ibunya Ami.


“Kau nggak sekolah, Mi? Lagi nggak enak badan? Ngapain duduk di lantai gitu kau?” tanya ibu Ami.


“Umm aku tadi terpeleset, Ma. Iya, aku nggak enak badan. Pusing kali kepalaku,”jawabku. Dan pada akhirnya aku pilih opsi terakhir. Aku berpura-pura menjadi Ami sambil memikirkan bagaimana caranya kembali ke masa sekarang.


“Berobat ajalah kita kalau gitu.”


“Nggak usah, Ma. Tidur dan minum obat warung aja juga sembuh ini,” tolakku.


“Ya udah. Istirahat aja. Nanti sarapan ya. Mama dan Bapak harus cepat-cepat berangkat ke sekolah. Jangan lupa minum obat.”


“Iya.”

__ADS_1


Aku menarik nafas lega ketika ibu Ami sudah pergi dari kamar. Mudah-mudahan keluarganya tidak curiga. Aku harus memakai aksen Medan karena saat ini aku berada di Medan dan orang-orang pasti curiga kalau aku memakai aksen Jakarta. Masalahnya, Ami belum pernah ke Jakarta bahkan sampai 2020. Tunggu. Aku tidak boleh lengah. Aku harus memikirkan cara kembali ke masa sekarang. Aku harus googling. Aku mencari-cari ponsel Ami dan menemukannya di dalam tas sekolah.


Ahh bener. Zaman dulu kan belum ada Smartphone. Ponselnya saja masih Nokia dan memakai tombol. Layarnya juga hitam putih. Gimana mau googling? Percuma juga ada laptop, tetapi tidak ada WIFI. Modem juga tidak punya. Tersesat sudah tersesat. Aku sudah terjebak di masa lalu. Aku sepertinya harus tidur lagi. Siapa tahu aku berada di masa depan ketika bangun.


*****


Aku berjalan menuju kasur Ami dan bersiap-siap untuk tidur kembali. Aku berdoa aku akan berada di masa depan ketika bangun. Aku takut tidak akan ingin kembali lagi ke masa depan jika aku sudah sampai di sekolah besok.


Saat ini, aku sedang berada di dapur dan sangat kelaparan. Aku melewatkan makan malam semalam. Aku sudah menghabiskan satu piring dan masih ingin nambah. Aku kelaparan atau kerasukan ini? Masakan ibu Ami hari ini adalah sambal ikan teri dicampur dengan kentang dan kacang tanah. Gulainya adalah tumis toge dan wortel dengan kuah santan. Ini adalah makanan kesukaanku. Aku sudah lama tidak menyantap makanan khas Medan begini. Tidak ada yang bisa menandingi ikan teri, kecuali ikan mas bakar.


Kepalaku sudah tidak sakit lagi meskipun aku selalu terkejut setiap terbangun. Karena aku masih di kamar yang sama, aku memang sudah terjebak di sini. Ya sudahlah. Prinsipku sedari dahulu adalah terima dan hadapi. Bersahabat dengan semua rasa. Hari ini bersedih. Besok akan tertawa. Tidak ada yang permanen. Semuanya temporari. Dan aku yakin, aku di sini juga hanya temporari. Aku akan kembali meski tidak tahu kapan. Terima dan hadapi saja.


Setelah selesai makan, aku mencuci piring dan kembali ke kamar Ami. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak bisa buka instagram dan youtube juga. Aku melihat sekeliling kamar dan menemukan rak buku Ami. Semuanya adalah buku pelajaran, tidak ada novel. Dia memang tidak suka membaca novel. Setidaknya aku menemukan buku diari gitu? Dan tidak ada juga.


Aku melirik ponsel yang berada di atas meja belajar. Aku menghidupkannya. Satu per satu pesan pun bermunculan. Ada 5 pesan yang masuk.


Dari Fadli


Aku tahu Fadli. Dia adalah teman sekelasku. Dia sudah suka dengan Ami sejak awal sekolah, tetapi Ami tidak menanggapinya. Dia hanya menganggapnya teman. Fadli juga akrab dengan Putra. Mereka sama-sama anak pramuka.


Aku membuka pesan kedua.


Dari Asman


Hari ini nggak masuk sekolah? Kenapa? Adek sakit?


Dan aku juga tahu siapa Asman. Kakak kelas 12 dan anak pramuka juga. Tunggu. Berarti aku kembali ke masa kelas 1 SMA dong? Kakak kelas ini selalu datang ke kelas untuk melihat Ami dan tidak ditanggapi juga oleh Ami. Mukanya garang sih dan marah-marah terus.


Aku membuka lagi pesan selanjutnya.

__ADS_1


Dari Affan


Hai, Ami. Aku tadi ke kelasmu. Katanya kau sakit. Sakit apa? Cepat sembuh ya dan banyak istirahat. Awalnya, aku mau jenguk kau, tetapi aku ada rapat osis pulang sekolah. Sorry. Get Well soon.


Ini Affan yang di samping kanan kelasku dulu kan? Kelas X IPA 3. Dia anaknya pendiam dan bicara seadanya saja. Sama teman-teman sekelasnya juga tidak terlalu akrab. Hanya akrab dengan 2 orang saja. Waah. Aku kira dia tidak akan bisa menulis pesan kayak gini atau naksir seseorang. Waah, pesona Ami memang tidak terkalahkan.


Aku membuka pesan selanjutnya.


Dari Rizky


Assalamualaikum, Ami. Kau lagi sakit ya? Sakit apa kalau kakak boleh tau? Cepat sembuh ya.


Aku mengingat-ngingat kembali siapa Rizky. Kakak? Rizky? Aku menepuk tanganku karena aku sudah mengingat siapa Rizky yang mengirim pesan ini. Dia kan ketua OSIS. Aku menepuk tanganku antara kagum dan juga terkejut. Kenapa Ami dulu tidak terima Kak Rizky ini saja ya? Dia tampan, tinggi, pintar, ketua OSIS, anak basket juga, dan disayang sama guru-guru. Banyak cewek-cewek yang suka sama kakak ini, termasuk angkatan aku juga. Dan aku juga. Dia adalah mantan gebetanku dulu. Astaga. Kakak itu dulu naksir Ami dan tidak ada yang tahu? Amazing!


Aku membuka pesan terakhir.


Dari Heri


Ami cantik sakit apa? Banyak istirahat ya, say. Cepat sembuh. I miss you.


Aku mual setelah membaca pesan Heri. Dia satu angkatan denganku. Kelasnya berada di samping kiri kelasku. Dia kelas X IPA 1. Dia selalu menganggap bahwa dirinya dicintai dan dikagumi semua cewek-cewek di sekolah. Jika dia disapa oleh cewek, dia merasa cewek tersebut suka padanya. Tingkat kenarsisannya di atas rata-rata. Dia selalu menganggap dirinya siswa tertampan di sekolah. Dan aku sebisa mungkin tidak ingin menyapanya dulu. Ogah. Anak ini juga mengincar Ami ckckck. Sok playboy padahal tidak ada yang suka. Sekarang dia di mana ya? Aku penasaran apakah sikapnya sudah berubah. Mudah-mudahan saja sudah tobat.


Ami benar-benar menakjubkan. Dari ketua OSIS sampai anak paling cupu suka padanya. Ami memang cantik. Dia putih, tinggi, dan kurus. Pipinya sedikit chubby dan memerah. Aku sering memanggilnya peach dulu. Rambutnya juga hitam dan lurus sepunggung. Dia sering membiarkannya tergerai. Dia juga lembut, suaranya halus, dan sopan. Dia rajin beribadah, pintar, dan disukai oleh guru-guru. Dia termasuk salah satu sainganku untuk merebut juara 1. Dia ramah dan pintar bergaul juga. Pokoknya, Ami itu sempurna. Pantas saja banyak yang suka. Aku tahu banyak yang suka dengan Ami, tetapi aku terkejut melihat orang-orang yang suka padanya. Namun sayang, tidak ada yang berjodoh dengannya. Suaminya bukan satu alumni dan lebih baik dari mereka semua. Itu menurutku. Aku tersenyum mengingat masa-masa SMA kami.


Waah Kak Rizky. Aku kira dulu kakak suka sama May karena sering diajak ngobrol. Ternyata naksirnya sama Ami. Dan aku kentang hanya bisa diam. Tetapi ada yang aneh juga sih. Waktu reuni sekolah dia tahu namaku, tempatku kuliah, dan jurusanku. Dia juga tahu aku tinggal dengan salah satu teman sekelasnya. Jangan-jangan Kak Rizky ini memang playboy. Aihh.


Aku sedang sibuk dengan pikiranku dan sebuah pesan muncul. Aku pun membukanya. Nafasku tiba-tiba terhenti. Aah dia.


Dari Putra

__ADS_1


Sakit apaan kau? Kemaren sehat-sehat aja.


Hanya beberapa kata, tetapi efeknya membuatku sulit bernafas dan mual. Aku tahu mereka memang teman akrab. Tidak hanya mereka, tetapi Aku, Ami, May, Putra, dan Malik. Awalnya hanya Ami, Putra, dan Malik yang akrab. Sedangkan, aku akrab dengan May. May akrab dengan Malik. Jadilah, kami jadi berteman. May dan Ami lebih akrab dengan Putra. Sedangkan, aku lebih akrab dengan Malik. Tetapi aku lebih akrab dengan May dari semuanya. Dia adalah my bestfriend sejak awal sekolah sampai sekarang. Kami berlima tidak seakrab itu waktu kelas X. Kami akrab sejak kelas XI. Aku bahkan jarang mengobrol dengan Ami waktu kelas X karena ada aura persaingan di antara kami. Tetapi kami masih saling menyapa dan bercanda. Apa aku mungkin yang terlalu kaku? Apa yang harus aku lakukan besok? Aku tidak bisa terus menghindar, kan?


__ADS_2