Pulang

Pulang
Ajakan


__ADS_3

Renjana Kanya


"Woi gila, dari mana aja sih lo, gue teleponin, chat, nggak ada satu pun yang bales. Nomor lo juga nggak aktif. Mau main ngilang-ngilangan lagi?" Suara Putra terdengar kesal dari seberang telepon.


Aku baru saja menyelesaikan makan siang saat lelaki itu meneleponku. Sesaat sebelum aku sempat mengiriminya pesan.


"Coba jawab, dari mana kamu nggak ada kabar dari Sabtu lalu?"


Aku hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Putra dan membuat lelaki itu semakin memperpanjang omelannya. Tidak saat masih menjadi pacar, tidak sejak jadi kakak, tetap saja dia masih posesif. Bedanya, dia tidak sungkan lagi meneriakiku dengan sebutan gila. Tanpa sadar tawaku semakin berderai saat membayangkan bagaimana wajah kesal Putra.


"Sori Kak, gue ada urusan ke Bandung akhir pekan lalu."


"Ya 'kan kamu bisa bilang dulu sebelumnya, Anya. Apa susahnya sih tinggal telepon atau seenggaknya kirim chat?"


"Sori, buru-buru Kak, nggak sempet kasih kabar. Lagian emang penting ya izin lo segala?" tanyaku iseng membuat sosok di seberang sana semakin meninggikan suaranya.


Lalu merendah saat bilang,"Ya, aku cuma pengen jadi kakak yang perhatian aja sih. Sori deh, kalau udah bikin kamu nggak nyaman."


"Eh, eh, bukan gitu juga maksud gue Kak. Yah, baperan banget sih lo."


"Ya gimana nggak baper, kalau ada yang sengaja ngilang," sindir Putra membuatku terkekeh. "Aku yakin, kalau aku nggak telepon duluan, kamu juga nggak bakal kasih kabar 'kan?"


"Udah ada rencana kok, sialnya gue lupa mulu tiap kali mau bilang."


"Kambing emang. Padahal aku mau kasih tahu kamu, kalau aku udah pindahan ke apartemen. Rencananya mau ngajakin syukuran bareng anak-anak Nada Sumbang. Eh ini main ngilang tanpa kabar."


Cerita Putra membuatku menyadari satu hal. Jika apartemen Araz sudah berpindah kepemilikan menjadi milik Putra, lantas di mana lelaki itu akan tinggal? Apa mungkin dia akan pulang ke tempat orang tuanya? Jika memang iya, berarti aku sama dia bakalan LDR-an dong?


Duh, membayangkan opsi terakhir entah mengapa sudah membuatku susah bernapas. Apalagi saat menyadari jika aku dan Araz baru saja resmi berpacaran. Masa iya harus sudah berjauh-jauhan?

__ADS_1


Hemm, sepertinya aku harus menanyakan hal itu pada Araz saat pulang nanti. Sebab, demi memburu waktu sarapan, dia memaksa mengantarku ke kantor tadi pagi. Alhasil, pulang pun nanti, aku akan bergantung padanya.


"Nya, gimana, lusa bisa 'kan kamu ikutan acara sama anak-anak?" Pertanyaan Putra memangkas lamunanku tentang Araz.


"Eh, iya. Gimana, Kak?"


"Wah, kebangetan emang kamu tuh, Nya. Dari tadi aku ngomong nggak kamu dengerin?"


"Hehehe... sori, cuma bagian akhir doang kok. Jadi, ngomongin apa lo barusan?"


"Astaga Tuhan, kenapa punya adek begini amat yak."


"Oh, nyesel nih ceritanya?"


"Iya, kenapa aku nggak ada di samping kamu biar bisa jitak tuh kepala."


"Elah, tinggal ngulang aja apa susahnya sih."


"Oh... Bilang dong dari tadi. Gitu aja pake acara muter-muter dulu."


"Eh, situ yang nggak dengerin ya."


"Hahaha... Ya maap, 'kan bengong tuh nggak sengaja, Kak. Jam berapa sih?"


"Ya kamu langsung mampir sini lah sepulang kerja. Bantuin aku siapin semua keperluannya. Rencana aku mau bikin BBQ, tapi 'kan nggak mungkin di dalam apartemen. Gila aja, bau asap dong nanti."


"Elah, 'kan bisa pake pemanggang listrik Kakakku tersayang. Gimana sih lo, zaman udah serba modern juga. Masih bingung mau bikin BBQ."


"Eh iya juga ya. Ya sori lah, udah lama 'kan nggak tinggal di kota besar, demi nungguin seseorang yang nggak mau juga pulang," sindir Putra semakin lama semakin membuatku ingin mencekik leher lelaki itu. Sebab siapa pula aku tidak pulang selama ini? Apa dia lupa jika dia penyebab utamanya?

__ADS_1


"Terus, sindir aja terus sampai keriting tuh mulut. Heran gue sama lo, Kak. Enteng banget sih ngungkit aib gue."


Suara tawa Putra terdengar renyah di telingaku. Begitu riang dan tulus. Tawa itu ikut memancing senyum di sudut bibirku. Mendengar tawa Putra membuatku bersyukur. Sepertinya kami memang sudah benar-benar saling memaafkan masa lalu.


"Nya, kamu masih di sana 'kan?"


"Iya bawel. Ada apalagi sih?"


"Ehm, aku memang belum bisa terima sepenuhnya keputusan Papa sama... Mama Sukma, tapi kamu mau nggak, kapan-kapan kita jenguk mereka bareng?"


Aku tak langsung menjawab pertanyaan Putra. Meski aku sudah mencoba berdamai dengan Putra, bukan berarti aku bisa menerima keputusan... mama untuk menikah lagi. Masih ada perasaan nyeri yang diam-diam menyusup dalam hati saat mengingat dia dengan mudahnya melupakan cinta ayah.


Setelah bertahun memikirkannya, kini aku menyadari satu hal. Jika dulu orang lain dan bukan Om Eka yang menikahi mama, aku pun pasti akan melakukan perbuatan yang sama. Ternyata bukan siapa orang yang menikahi wanita itu, tapi keputusan apa yang telah diambil olehnya. Dan hal itu diperparah dengan keberadaan Om Eka yang kuharapkan akan menjadi ayah mertuaku saat itu.


Tanpa sadar, aku menghela napas panjang. Teringat lagi masa-masa sulit setelah kepergian Ayah. Dibandingkan dengan Mama, aku memang lebih dekat dengan pria yang menjadikanku ada di dunia ini. Satu minggu aku mengurung diri di kamar. Menangisi kepergian Ayah yang begitu tiba-tiba, hingga rasanya seperti membawa separuh nyawaku pergi. Melewatkan semua panggilan, chat, hingga kunjungan siapa pun yang mencariku.


Namun, suatu malam, aku mendengar Mama terisak lebih pilu dari yang pernah kulihat sebelumnya. Aku bahkan masih ingat betul apa yang diucapkan wanita itu pada saat malam aku melihatnya tersedu.


"Bagaimana aku sanggup melanjutkan hidup tanpa kamu, Mas? Bagaimana aku sanggup membesarkan Anya seorang diri. Sementara dia masih butuh kamu. Dia cuma mau nurut sama kamu. Bagaimana aku sanggup jadi ibu yang baik untuk anak kita. Bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpa kamu? Bagaimana caraku?"


Suara itu kini bahkan mengetuk-ngetuk tempurung kepalaku. Begitu lirih. Hingga membuat air mataku yang rapuh, kembali tumpah membasahi pipi. Sejak saat itu aku berjanji, bertekad dalam hati jika aku akan menjadi anak penurut bagi Mama. Kami sanggup melewati ujian yang diberikan Tuhan dengan mengambil lagi yang memang menjadi milikNya. Kami saling berangkulan. Berbagi kekuatan yang jarang kami lakukan sebelumnya.


Genap satu tahun kepergian Ayah, prahara itu terjadi. Memporakporandakan tekad serta janji yang kupahatkan dalam hati. Bahwa aku akan menjadi anak yang baik dan penurut bagi Mama. Semua isak tangis dan keluhnya pada malam itu, seakan menguap begitu saja. Apalagi saat aku mengetahui jika dia dengan mudahnya menerima benih dari lelaki yang bahkan belum menjadi suaminya.


Aku merasa dikhianati. Oleh orang yang selama ini telah kuberikan seluruh cinta dan pengabdianku sebagai seorang anak. Hatiku tercabik. Sakit. Bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya melupakan segala hal yang telah terjadi? Satu tahun bukanlah waktu yang lama. Bahkan aku menganggap satu tahun tanpa kehadiran Ayah begitu cepat berlalu. Sementara wanita itu... huft...


Dadaku terasa sesak saat mengingat semua kenangan yang menyiksa. Aku belum sanggup jika harus pulang dan bertemu dengan wanita itu. Sekalipun aku telah berutang nyawa ketika dia melahirkanku ke dunia.


"Nya, are you okay?" Suara Putra menginterupsi lamunanku. "Kalau kamu keberatan, kita bisa tunda sampai kamu memang benar-benar ingin pulang."

__ADS_1


"Sori Put, mungkin emang nggak dalam waktu dekat," kataku pada akhirnya sebelum menutup sambungan telepon.


Mataku terasa panas. Pelan-pelan, air mata mulai jatuh membasahi pipi. Aku terisak. Beban yang kurasakan masih terasa sesak. Bahkan aku tak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikanku dalam diam. Aku terkejut saat dia menyentuh pundakku dan mengulurkan saputangan beraroma mint yang begitu kuhafal. Araz. Sejak kapan dia memperhatikanku menangis?


__ADS_2