Pulang

Pulang
Bersandarlah, Aku Rumah Bagimu


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Jika ada hal paling menakutkan di dunia, maka melihat kesedihan di wajah Kanyalah yang membuatku takut. Apalagi saat mendengar kabar jika kondisi Tante Sukma semakin menurun dan harus dilakukan tindakan segera. Perempuan itu terlihat begitu menderita. Wajahnya kembali mendung. Hujan seperti tidak habis-habis turun dari telaga mata perempuanku itu.


Subuh belum sepenuhnya usai saat aku dan Kanya ditemani Damar menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi. Rasanya pun aku baru saja merebahkan badan dan sekejap saja memejamkan mata. Namun, ketukan di pintu dengan tergesa membawa kembali kesadaranku yang hampir hilang. Wajah pucat Kanya memberitahuku lebih dari apa pun tanpa dia perlu mengucap kata.


Langkah kami panjang dan tergesa. Terutama Kanya. Dia lebih dulu berlari dengan kondisi kalut yang tidak dapat tertahankan. Sementara Damar berusaha menjajari langkah kaki temannya itu. Kami sampai, tepat saat perawat mendorong brankar Tante Sukma memasuki ruang yang akan menjadi tempat wanita itu mempertaruhkan hidup dan matinya. Kanya seketika tidak sanggup membendung air mata. Dia menangis tanpa suara. Dan, aku tahu jika itu lebih menyakitkan dari semua bentuk tangis yang ada di muka bumi.


Aku merengkuhnya dalam pelukan. Memberikan rasa nyaman yang mungkin sanggup menepis sakit yang dia pendam. Aku hanya tidak mau Kanya semakin terluka. Aku tidak mau perempuanku itu merasakan sakit yang lebih parah dengan apa yang telah dia rasakan saat ini. Sementara laki-laki yang memiliki garis tulang pipi yang tegas serupa Putra, manatap kami dengan pandangan kecewa. Terutama pada Kanya. Aku bisa menebak jika laki-laki itu pasti Eka – ayah kandung Putra.


Sesaat aku memberi salam dengan anggukan kepala. Posisiku belum memungkinkan untuk menyapanya secara langsung. Kanya masih menangis dalam pelukanku. Menjaga perempuan itu agar tetap kuat adalah hal paling penting saat ini. Pun, aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan keluarga mereka jika Kanya tidak memintanya. Aku tidak ingin dianggap lancang.


“Kamu boleh menangis dengan kencang jika perlu. Nggak apa-apa, nggak akan ada yang melihatmu menangis selama kamu dalam pelukanku,” kataku berbisik di telinga Kanya. Perempuan itu menurut. Dia tidak lagi menahan air yang jatuh dari telaga matanya. Kanya terisak dalam pelukanku.


“Ingat satu hal Nya, dada ini akan selalu jadi tempat kamu bersandar. Saat sedih, susah, letih, bahkan ketika bahagia sekalipun. Kamu bisa bersandar padaku. Berbagi semua rasa yang mengganggu.”


“Kanya takut, Mas. Kanya takut.”


Aku mengelus rambut Kanya dan mengecup pucuk kepala perempuan itu. Aku tahu rasanya. Aku tahu rasanya bagaimana ketakutan itu menyergapku. Atas diriku sendiri maupun atas kehilangan orang lain. Bahkan hingga kini, masih ada sesal yang diam-diam sering kali mengganggu ketenanganku. Apalagi jika bukan perkara Adhyaksa. Kehilangannya merupakan penyesalan paling menyakitkan yang pernah aku rasanya. Sungguh, aku tidak mau Kanya juga merasakan hal yang sama.


“Aku tahu, perasaan itu nggak mungkin kamu abaikan. Ketakutan itu wajar, Kanya.”

__ADS_1


“Bagaimana jika Mama ... bagaimana jika ... .”


Kanya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dan aku hanya mampu memeluknya. Memberinya kekuatan lewat pelukan hanyalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan saat ini.


“Berdoalah, memohon agar Tante Sukma bisa melewati masa-masa kritis ini. Bukankah doa tulus seorang anak untuk orang tuanya akan selalu didengar Tuhan? Dia yang Maha Segalanya, nggak mungkin akan mengabaikan permohonan hambanya. Berdoalah agar semua baik-baik saja, Kanya. Semua pasti akan baik-baik saja.”


Aku pun bukan umat yang taat. Terkadang aku juga masih suka meninggalkan kewajiban lima waktuku. Tetapi aku tidak pernah meragukan kekuatan doa dan kasih sayang Tuhan yang melimpah. Aku tahu Sang Maha Mendengar itu tidak akan akan membiarkan hambanya menanggung suatu ujian di luar batas kemampuan mereka. Aku yakin, Kanya sanggup melewati ini semua dan akan baik-baik saja.


“Mas, bagaimana kalau Mama, benar-benar nggak bakalan bangun lagi? Aku sudah berdosa sama Mama. Aku sudah melukai hati Mama. Aku .... .”


“Ssttt ...  sudahlah, Kanya. Jangan biarkan pikiran buruk menguasaimu. Kalau kamu biarkan pikiran buruk itu menguasaimu, justru akan membuatmu semakin lemah. Kamu harus kuat. Kamu harus kuat untuk kesembuhan mama kamu. Percayalah semua akan baik-baik saja. Oke.”


Sebenarnya aku pun ragu saat mengucapkan pada Kanya jika semua akan baik-baik saja. Aku juga tidak tahu bagaimana kondisi Tante Sukma, selain wanita itu terjatuh dari tangga dan harus dilakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan salah satu dari mereka – sekalipun tidak menutup kemungkinan keduanya bisa diselamatkan. Pun aku bukan cenayang yang bisa membaca masa depan. Lagi-lagi aku hanya percaya pada kekuatan doa.


***


Menanti, menjadi hal paling menyebalkan bagi setiap orang. Tidak pernah benar-benar ada manusia yang bisa tulus menanti suatu hal. Apalagi jika itu sebuah ketidakpastian. Pun Kanya. Perempuan itu gelisah dalam penantiannya menerima kabar tentang ibunya.


Pintu ruang operasi masih saja tertutup meski kami sudah berjam-jam menunggu. Bahkan beberapa pasien yang masuk paling akhir ke dalam ruang operasi pun sudah didorong keluar. Tetapi masih juga belum ada kabar tentang Tante Sukma. Pintu ruangan itu seakan belum ingin terbuka untuk kami yang gelisah menunggu.


Terlebih Om Eka. Laki-laki itu tampak kusut. Wajahnya lelah. Aku tahu, selain Kanya, laki-laki itulah yang paling khawatir dengan keadaan Tante Sukma. Hanya saja, sosoknya sebagai laki-laki memaksanya bersikap tegar, sekalipun aku tahu dia berusaha mati-matian menahan air mata agar tidak menangis.

__ADS_1


Sesekali Damar mengajaknya mengobrol hanya demi mengusir gelisah yang mengambang di mata laki-laki itu. Rautnya melunak. Tidak lagi kaku seperti saat kami tiba. Aku pun paham, laki-laki itu juga pasti memiliki pemikirannya sendiri.


“Mas, aku benar-benar takut.”


Suara Kanya memecah keheningan. Perempuan itu masih bersandar dalam pelukanku. Tangisnya tidak lagi pecah, tetapi gelisah tidak juga hilang dari sorot matanya. Sebagaimana laki-laki yang duduk tidak jauh dari kami.


“Sudah, Nya. Tenangkan dirimu. Bersandarlah. Aku akan menjadi rumah yang akan selalu kamu tuju dalam keadaan apa pun itu. Tenangkan dirimu, Sayang.”


“Aku sungguh nggak bisa bayangkan akan gimana jadinya kalau Mama ... .”


“Kanya, aku tahu ini hanya akan membuatmu berharap pada hal yang belum pasti, tapi selama harapan itu masih ada, nggak masalah ‘kan? Maka jangan berhenti berharap jika semua akan baik-baik saja. Oke?”


Kanya mengangguk. Dia mengeratkan pelukannya. Sedangkan aku masih terus mengelus rambutnya.


“Makasih Mas, kalau nggak ada Mas Araz, aku nggak tahu akan bagaimana jadinya melewati ini semua. Makasih sudah menjadi rumah bagi segala resahku, Mas.”


Kanya masih terisak, tetapi suaranya semakin lembut. Napasnya pun tidak lagi tersengal. Aku tahu, perempuan itu mencoba tegar seperti biasa yang dia lakukan untuk menyembunyikan laranya.


“Keluarga, Ibu Sukma.”


Akhirnya panggilan itu terdengar juga. Sekalipun belum pasti kabar apa yang akan kami terima, setidaknya penantian kami selama berjam-jam mendapat jawaban.

__ADS_1


Tubuh Kanya gemetar. Aku menuntunnya mengikuti langkah Om Eka yang tidak kalah tergesa.


“Percayalah, semua akan baik-baik saja,” kataku memberi kekuatan pada Kanya. Perempuan itu tersenyum. Senyum pertama yang kulihat sejak kami menapaki koridor rumah sakit subuh tadi.


__ADS_2