Pulang

Pulang
Dia yang Bisa Tersipu Malu


__ADS_3

Renjana Kanya


Wajah Renata menegang saat aku menawarkan sebuah permintaan. Dia menatapku tajam. Perempuan itu serius mengamatiku. Seakan-akan mencari celah jikalau aku hanya bercanda dan tidak serius meminta bantuannya.


"Gue nggak yakin bisa bantu, Nya. Nggak main-main loh ini. Manajer Nada Sumbang. Mana bisa gue, Nya. Apalagi lo tahu sendiri, gue sekarang lagi fokus sama Arah Angin. Nggak mungkin dong mereka gue tinggalin begitu saja. Lebih nggak mungkin kalau gue mesti urus dua-duanya. Ya, memang Arah Angin cuma band indie, tapi job mereka juga cukup padat. Ini saja kalau mereka nggak hiatus sementara, mana bisa gue pulang."


"Ta, gue nggak tahu mesti minta tolong sama siapa. Gue juga nggak mungkin bantuin mereka. Gue sudah ketemu dan nyaman sama passion yang gue kejar sekarang. Ini dunia yang gue mimpikan sejak dulu."


"Kejar-kejaran sama deadline maksud lo?" tanya Renata sarkas.


Aku tahu dia masih kecewa denganku akibat pertemuan kami yang sering gagal karena alasan yang sama. Deadline. Almira juga sering mengeluhkan hal yang sama. Bahkan kata mereka, aku bisa jadi manusia paling menyebalkan jika itu sudah berurusan dengan tengang waktu.


"Ya, iya sih, tapi bukan itu saja. Dam, bantuin bujuk Tata, kek."


Kali ini aku meminta bantuan Damar yang asik menikmati martabak telur di hadapannya. Sedangkan Almira memilih membantu Tante Sari di ruangannya. Dia cukup paham jika kami sudah berkumpul, pasti obrolan kami tidak mungkin bisa dia ikuti. Bahkan kami sering menggodanya dan membuat Almira jengkel. Apalagi Damar sama sekali tidak pernah membelanya dan justru ikut menggodanya. Jadi sebelum hal itu terjadi, Almira memilih menyingkir terlebih dahulu.


"Gue nggak ikut-ikutlah. Urusan kalian berdua itu."


"Dam, ihh ... gitu amat sih. Ta, ya? Bantuin gue ya?"


"Nggak bisa semudah itu juga, Anya. Ini jadi manajer band yang lagi naik daun loh, Nya. Mesti siapin tour dan segala macam. Lo tahu artinya itu 'kan?"


"Iya, gue tahu banget, Ta. Makanya gue minta tolong sama lo. Kalau lo, gue yakin bisa."


Renata menghela napas panjang. Diamatinya wajahku yang memelas memohon.


"Iya, iya, bakal gue bantuin. Mana bisa sih gue menolak kalau lo pasang wajah kucing minta dikasihani gitu?"


"Serius nih?" tanyaku dengan mata berbinar. Kupeluk tubuh Renata yang duduk di sampingku.


"Misalkan nggak gue ambil sendiri nggak masalah ‘kan?"


"Yah ... kok gitu."


"Ya lo mau Nada Sumbang punya manajer nggak?"


"Ya mau sih, tapi gue maunya lo jadi manajer mereka."


Perempuan itu lagi-lagi menghela napas. Dia paling tidak sabar jika menghadapi sifat keras kepalaku. Kalau saja tidak di tempat umum, dia pasti sudah memiting leherku hingga aku memohon ampun dan menyetujui argumentasinya.


"Lo percaya sama gue deh. Dia bisa jadi manajer yang hebat buat Nada Sumbang. Gue juga sudah berbagi semua keahlian yang gue punya sama dia. Lagian kok mereka sampai nggak punya manajer sih. Label yang menaungi mereka gede loh. Harusnya ‘kan mereka punya manajer sendiri."


"Sampai beberapa hari yang lalu, mereka masih punya manajer sih, tapi sudah diberhentikan sama manajemen yang menaungi mereka."


"Jadi benar kabar yang beredar di kalangan artis kalau Putra nggak kecelakaan tunggal?"

__ADS_1


Aku hanya mengendikkan bahu. Bagaimanapun media membuat opini bayaran tentang Putra, tetap saja ada pihak-pihak yang tidak mungkin puas dengan pemberitaan yang beredar. Mereka pasti akan terus mencari-cari peristiwa yang sebenarnya terjadi.


"Gue nggak mau cerita ah. Yang namanya gosip tuh, nggak mungkin bakal berhenti cuma di satu orang saja."


"Dih, nggak percaya sama gue lo?"


"Sori Ta, tapi kalau urusan itu, gue nggak percaya sama lo. Nggak ingat lo, gimana gue mohon supaya Almira sama Damar jangan sampai tahu dulu sebelum gue siap cerita? Eh, belum genap dua jam, mereka justru sudah muncul dan ikutan nangis-nangis."


Renata tertawa menanggapi pernyataanku. Perempuan itu pasti ingat betul malam naas yang terjadi saat Ayah Eka mengumumkan jika ia dan Mama akan menikah. Peristiwa yang memutarbalikkan seluruh kehidupanku.


"Sori, gue nggak tega lihat lo menderita sendirian, Nya."


"Dih, jadi gimana nih soal Nada Sumbang?"


"Iya, gue bantuin. Sudah, nggak usah pasang tampang sok imut kayak kucing terlantar gitu deh."


"Dasar iblis. Pintar banget kalau disuruh pura-pura sok minta dikasihani."


Damar yang sebermula hanya menjadi penonton kini mulai berkomentar. Aku hanya menjulurkan lidah. Sebodo amat dengan ucapan Damar yang memang tidak pernah difilter itu. Toh, sudah hal biasa di antara kami saling menjuluki dengan panggilan paling kasar sekalipun.


"Biarin, suka-suka gue dong."


"Tapi lo lakuin ini bukan demi Putra, 'kan?"


"Nggaklah, gue lakuin buat Nada Sumbang kok. Nggak ada pengecualian."


"Ya dulu ‘kan lo jadi manajer Nada Sumbang karena pacaran sama Putra. Ya kali saja ‘kan sekarang juga karena alasan yang sama."


"Renata, ihh. Nggak gitu."


"Dia sudah punya pacar, Ta."


"Bukan berarti sudah lupa sama cinta yang sebelumnya, Dam."


"Serius gitu, Nya?"


Aku tak menanggapi perdebetan antara Renata dan Damar. Sungguh aku lelah terus terpaku pada sebuah nama yang membuatku terpasung. Aku sudah benar-benar memutuskan untuk melangkah. Menerima rasa sakit yang akan aku jadikan kekuatan bertahan.


"Sudah nggak penting itu sekarang. Gue hidup di masa kini, bukan masa lalu. Masa iya mau berkabung melulu," ucapku memancing senyum Renata.


"Eh, bayi rajawali gue sudah besar sekarang. Sudah bisa terbang tinggi tanpa takut jatuh lagi kayaknya."


"Ta ... ."


Renata tertawa. Tawa perempuan itu menular. Kami masih berbagi kehangatan di tempat yang sama.

__ADS_1


...***...


"Kak, gue sudah ada calon manajer buat Nada Sumbang. Kapan bisa ketemu sama yang lainnya juga?"


Putra baru saja selesai lari pagi saat aku mengajaknya berbicara. Laki-laki itu meneguk sebotol air mineral sebelum menyusulku duduk di depan televisi yang sedang menyiarkan berita pagi.


"Cepat amat. Teman kamu?"


"Iya, tapi bukan teman juga sih yang bakal jadi manajer kalian. Dia yang bantuin cari. Yah, gue kenal juga sama orangnya, cuma nggak kenal akrab. Beberapa kali pernah ketemu dan ngobrol sama dia. Kalau Renata yang rekomendasiin, aku sih percaya sama dia."


Dua hari setelah pertemuanku dengan Renata, perempuan itu memberi kabar jika seseorang yang dia obrolankan mau menerima tawaran untuk menjadi manajer Nada Sumbang. Dan, seperti yang aku bilang, aku kenal sama orang yang dimaksud Renata. Bahkan mereka masih sepupu.


"Renata, teman kamu itu, tahu nggak kalau kita ... ." Putra tidak melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu menatapku sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Renata, kenapa?"


"Hemm ... kalau kita sudah ... putus?"


"Oh ... tahulah. Dia bahkan orang pertama yang tahu kalau kita putus. Kenapa memang?"


Putra tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia justru merebahkan badannya di sofa dan merebut remote TV yang kupegang.


"Nggak, aku cuma penasaran saja. Beberapa hari lalu, aku ketemu sama perempuan yang ngaku teman kamu, tapi dia masih sebut aku sebagai ... pacar kamu."


Aku tertawa. "Dan, lo penasaran karena teman akrab gue nggak banyak?"


"Ya, gitulah."


Senyum masih mengembang di bibirku. Memang Putra benar jika teman akrabku tidak banyak kecuali Damar, Almira, Renata, Reni, Amelie, Audya dan Clarisa. Itu pun sekarang hanya Damar, Almira dan Renata yang masih sering bertukar kabar.


Meski begitu, sebenarnya lingkaran pertemananku lebih luas lagi. Hanya saja, aku memang pemilih soal siapa yang perlu tahu masalah pribadiku. Dan, sepertinya Putra yang paling tahu soal itu.


"Berarti sudah tahu juga 'kan kalau dia nggak mungkin teman akrab seperti yang lo bilang? Eh, tapi gue juga jadi penasaran nih. Pasti pertemuan kalian berkesan ya?"


Wajah Putra memerah. Laki-laki itu terlihat salah tingkah. Dia bahkan menghindari tatapanku.


"Benar nih dugaan gue. Pasti pertemuan kalian berkesan. Gimana, gimana, cerita dong!" godaku membuat wajah Putra semakin memerah.


"Nggak ada." Jawaban Putra yang menghindari pertanyaanku, membuatku semakin yakin jika telah terjadi sesuatu.


"Harusnya lo nggak perlu bohong sama gue, Kak. Lihat saja tuh, wajah lo merah banget sekarang. Sudah mirip tomat. Pasti ada yang terjadi 'kan? Ayo sini bilang."


"Nggak ada, Anya. Nggak kejadian apa-apa kok," kata Putra semakin menghindar membuatku gencar menggodanya. Sampai akhirnya dia memilih kabur dengan dalih ingin mandi agar segera bisa ke rumah sakit.


Aku tertawa. Meski masih ada sedikit nyeri yang tersisa, tetapi juga ada perasaan lega. Aku bisa melihat Putra tersipu malu lagi setelah sekian lama. Diam-diam aku berharap jika pertemuannya dengan perempuan itu - entah siapa pun dia - bisa menjadi awal yang baik bagi Putra.

__ADS_1


__ADS_2