
Kanya terlihat gelisah ketika makan siang berlangsung. Duduk perempuan itu tidak tenang. Bahkan Destia yang berada di sampingnya sampai menanyakan berulang-ulang tentang kondisi perempuan itu.
"Serius lo nggak apa-apa?" tanya Destia sekali lagi. Ini ketiga kalinya dia bertanya pada Kanya yang tampak tidak nyaman.
Padahal biasanya perempuan itu selalu bisa menceritakan apa pun pada Destia jika mereka sedang bersama. Obrolan mereka tidak pernah kering dan selalu saja ada topik yang dibicarakan.
Entah obrolan ringan atau mungkin sebuah kasus yang dijumpai Kanya saat sedang melakukan peliputan. Tidak jarang Destia menjadi teman diskusi perempuan itu.
Namun, kali ini Kanya lebih banyak diam dan terlihat sangat tidak nyaman. Lebih tepatnya, perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui oleh Destia.
"Beneran lo nggak apa-apa?" desak Destia sekali lagi.
"Iya, gue nggak apa-apa kok."
"Tapi wajah lo kayak bilang sebaliknya tuh. Beneran nggak apa-apa?" desak Destia setengah memaksa.
Kanya hanya menghela napas panjang dan mengangguk sebagai jawaban.
"Serius?"
Destia sengaja menggoda Kanya degan harapan Kanya bakal bersikap seperti biasa, tapi tanggapan perempuan itu benar-benar di luar dugaan.
Biasanya Kanya pasti bakal kesal jika terus-terusan didesak. Namun, kali ini perempuan itu hanya tersenyum masam dan tidak memberikan tanggapan.
Semakin membuat Destia yakin jika Kanya memang tidak baik-baik saja. Meski begitu, dia tidak ingin memaksa Kanya dan membiarkan perempuan itu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dengan keyakinan, jika Kanya sudah siap untuk berbagi, perempuan itu pasti akan membicarakannya dengan Destia.
Sebenarnya perempuan itu masih kepikiran dengan nasihat yang sebelumnya disampaikan oleh Hanung. Bahwa dia harus mengungkapkan kebenaran tentang hubungannya dengan Araz di depan semua orang.
"Apa itu memang pilihan terbaik?" tanya Kanya pada dirinya sendiri.
Bukan berarti dia tidak suka atau merasa tidak nyaman apabila hubungannya diketahui banyak orang. Kanya justru menginginkan hal tersebut.
Perempuan itu ingin mengumumkan pada semua orang bahwa COE MediaPena yang baru dirintis dalam beberapa bulan itu adalah sang kekasih. Ya, Alcatraz Algol Sirius, lelaki itu adalah kekasihnya.
Kanya ingin sekali mengucapkan dengan sangat percaya diri di hadapan semua orang.
Dia juga ingin merasakan diantar jemput oleh sang kekasih tanpa perlu kucing-kucingan dengan para karyawan MediaPena yang lain. Tanpa perlu khawatir mereka bakal ketahuan dan menimbulkan gosip di perusahaan.
__ADS_1
Perempuan itu juga ingin berbincang di saat jam istirahat tanpa perlu berkedok sebagai atasan dan bawahan. Dengan berpura-pura membawa dokumen yang sama sekali tidak perlu dan tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.
Namun, Kanya belum sepenuhnya siap menghadapi hujatan atau mungkin tanggapan miring orang-orang kepadanya. Kanya terlalu pengecut menghadapi kenyataan yang bahkan belum terjadi.
Paling penting, dia muak jika terus menerus jadi bahan obrolan lain.
Tidak masalah jika mereka membicarakan prestasi yang pernah diraih perempuan itu, tapi jika hal itu berkaitan dengan kehidupan pribadinya, Kanya sangat membencinya. Itulah mengapa dia selalu menghindari masalah yang bisa membuat orang lain membicarakan persoalan pribadinya.
"Elah, bengong mulu nih orang," bisik Destia tepat di telinga Kanya.
Perempuan itu tersentak. Dia menoleh ke arah Destia yang masih mendekatkan bibirnya di telinga Kanya.
"Ngapain sih lo?" tanya Kanya dengan nada kesal.
"Heh, Setan. Gue dari tadi panggil nama lo bolak-balik ya. Tapi sendirinya nggak ada nyaut. Eh, begitu nyaut malah gue jadi sasaran."
Pengakuan Destia membuat Kanya salah tingkah. Dia tampak cengo dan menggaruk bagian kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Iya, ya? Sori deh, gue nggak dengar kalo lo panggil."
"Nah, kan. Makanya, emosinya dulu yang dikedepanin sih," protes Destia.
Dia hanya tidak ingin semakin merasa pusing akibat perdebatan yang tidak penting dengan Destia.
"Ck, gue tuh mau kasih tunjuk ke elo, tuh di meja seberang. Si ganjen mulai beraksi. Nggak apa-apa tuh?" tunjuk Destia pada meja yang berjarak tidak cukup jauh dari tempat duduk mereka.
Akibat banyaknya personel yang mengikuti makan siang pada hari ini, Hanung sengaja memesan dua meja untuk mereka. Jadi, ada dua kubu yang terbentuk dengan sendirinya.
Meja utama terutama dipenuhi para petinggi perusahaan. Seperti Araz, Hanung, dan kepala bagian di masing-masing divisi. Sementara meja dua digunakan oleh karyawan rendahan seperti Kanya dan Destia.
Namun, yang menjadi persoalan, mengapa Carol dan Carmen ikut di meja satu dan sedang menggoda Araz?
Seketika, wajah Kanya semakin tampak kesal saat melihat pemandangan tersebut.
Terutama pada sikap Carol yang secara terang-terangan menggoda Alcatraz. Bahkan perempuan itu juga mengambilkan lauk dan menaruhnya di tempat makan sang kekasih Kanya itu.
"Nggak tahu malu," desis Kanya sambil mengaduk-aduk nasi dalam mangkuknya.
__ADS_1
Dia kehilangan selera dan ingin sekali menyingkirkan Carol dari samping Araz. Meskipun lelaki itu lebih asyik mengobrol dengan Hanung ketimbang memedulikan Carol yang terus mencoba mencari perhatian Alcatraz.
"Nah kan, elo kesel juga kan lihatnya."
Kanya menoleh pada Destia.
"Ck, udah sana. Ngapain lo masih diem aja di sini. Kalo kata gue, mending lo samperin gih. Kasih Pak Araz minum atau apa kek. Dia pasti lebih mentingin lo ketimbang si nenek lampir itu.
Biar malu tuh cewek karena udah dicuekin terang-terangan. Kalau kayak gitu aja sih masih kurang greget. Yang lain nggak sadar. Apalagi tahu kalau Carol dicuekin sama laki lo."
Kanya sempat terkejut saat Destia mengungkapkan pernyataan itu. Dia ingin bertanya bagaimana Destia bisa tahu? Apa mungkin hanya dengan obrolan tadi pagi, perempuan itu sudah bisa menyimpulkan jika hubungan Kanya dan Araz sudah sejauh itu?
Namun, sekarang bukan waktunya membahas hal itu. Kanya harus membuat gebrakan agar Carol menghentikan aksinya menggoda sang pimpinan perusahaan MediaPena.
"Harus ya gue bersikap kayak gitu?" ucap Kanya bertentangan dengan isi hatinya.
"Ish, lo tuh terlalu pemikir banget sih. Cinta kadang nggak perlu dipikir pake logika. Sekali-kali nunjukin sikap bar-bar tuh nggak masalah kali, Nya. Nggak enek lo liat Carol terus-terusan sok akrab gitu sama, Pak Araz?"
Ya, kalau Kanya boleh jujur, dia muak melihat sikap Carol. Namun, keraguan masih menahan dirinya untuk mengambil langkah.
Seperti bisa merasakan kebimbangan Kanya, Hanung menoleh ke arah perempuan itu. Energi negatif yang terlalu kuat terpancar dari Kanya tertangkap oleh Hanung yang bisa merasakannya. Sebab laki-laki itu memang seorang empath yang bisa merasakan energi yang terpancar dari orang lain.
Hanung memberi tanda agar Kanya bertindak sesuai dengan apa yang dirasakan perempuan itu.
"Mending lo akuin aja hubungan lo di depan banyak orang." Nasihat Hanung kembali terngiang.
"Apa memang bener itu pilihan yang tepat?" Sekali lagi Kanya membuat pertimbangan dalam hati sebelum benar-benar mengambil tindakan.
Dia tidak boleh gegabah dan justru akan merugikan banyak orang.
Namun, ketika Hanung memberinya tanda sekali lagi untuk bertindak, Kanya tak bisa tinggal diam.
"Gue bakal kasih pertunjukan gratis buat lo," bisiknya pada Destia sebelum bangkit dari kursi.
"Apa?" tanya Destia antusias.
Pada dasarnya setiap manusia memang menyukai drama. Apalagi jika diperagakan tepat di depan mata.
__ADS_1
"Liat aja. Lo pasti bakal suka," ucap Kanya dengan sungguh-sungguh.
Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja satu yang masih riuh dalam suasana makan siang.