
Mereka kembali ke kantor setelah Araz merasa lebih baik. Meski lelaki itu tidak mengatakan perbincangannya dengan sang kakek pada Kanya, tapi raut wajahnya tampak lebih baik.
Dan, seperti yang sudah Kanya yakini, dia tidak ingin bertanya pada Araz tentang percakapan laki-laki itu dengan sang kakek. Biarlah Araz bercerita dengan sendirinya. Yang penting sekarang, laki-laki itu sudah terlihat lebih baik, ketimbang saat menerima panggilan telepon dari kakeknya.
"Jadi, kita langsung balik ke kantor?" tanya Araz begitu mereka sampai mobil.
"Yah, kalau nggak ada hal lain yang mesti kita kerjakan di luar, mending balik kantor aja," ucap Kanya spontan.
"Bukannya apa-apa sih, Mas Araz kan juga harus lanjut kerja. Gitu juga sama aku," imbuh perempuan itu buru-buru saat menyadari jika ucapannya seperti orang yang sedang bosan atau justru merasa tidak nyaman.
Araz menahan tawa saat melihat reaksi Kanya yang buru-buru mengoreksi ucapannya. Laki-laki itu paham betul apa yang ada dalam benak Kanya ketika perempuan itu dengan cepat meralat kalimat yang sebelumnya dia ucapkan.
Perempuan itu merasa tidak enak mengajaknya kembali ke kantor lebih dulu. Seakan menghabiskan waktu bersama Araz bukanlah hal yang menyenangkan. Itulah mengapa Kanya dengan cepat mengoreksi ucapannya.
"Ish, kok ketawa?"
"Ya nggak, kamu lucu sih. Gemesin. Jadi pengen aku kantongin biar bisa dibawa ke mana-mana."
"Mas, plis deh. Aku kan bukan ganci," ucap Kanya dengan raut muka cemberut.
Ini bukan pertama kalinya Araz memiliki pikiran ingin mengantongi Kanya agar dia bisa dibawa ke mana-mana. Mungkin bagi Araz terdengar lucu, tapi perempuan itu memiliki pikiran tersendiri setelah mendengar pengakuan sang kekasih. Dia merasa itu sedikit menyeramkan.
"Haha...maaf, maaf. Tapi sumpah deh, Nya, kamu tuh lucu banget. Jadi gemes aja bawaannya kalau deket sama kamu."
Wajah Kanya semakin cemberut. Namun, dia tidak memberikan tanggapan apa pun selain mengajak sang kekasih untuk kembali ke kantor MediaPena.
"Udah deh yuk, balik. Aku masih harus bikin liputan hari ini nih, Mas," ucap Kanya sedikit merajuk.
"Haha...nggak apa-apa, Nya. Kan aku bosnya."
"Ish...Mas Araz memang bosnya, tapi aku kan cuma staf kelas bawah. Masa mau disamain kayak kerjaannya bos yang lebih banyak tanda tangan sama ketemu orang penting?" Kanya semakin ngedumel dan hal itu membuat Araz semakin merasa gemas.
"Ya nggak apa-apa dong. Kan kamu juga lagi nemenin si bos."
"Mas Araz ihh...."
"Haha...."
Tawa laki-laki itu merekah. Tatapannya tak lepas dari Kanya yang makin menggemaskan ketika ngambek.
Kalau saja tidak berada di tempat umum, ingin sekali rasanya Araz mencubit pipi Kanya. Sayangnya, mereka sedang berada di luar ruangan dan tidak mungkin rasanya bagi mereka untuk menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Itulah mengapa pada akhirnya, Araz mengajak Kanya untuk segera pergi dari taman tersebut.
"Dahlah, yuk balik," ajak laki-laki itu sambil menggandeng tangan Kanya.
Padahal jika dibandingkan yang lain, Kanya termasuk tinggi dan memiliki tubuh yang proposional. Namun, tetap saja tangan itu tampak mungil dalam genggaman Araz.
"Kenapa?" tanya laki-laki itu saat Kanya tak juga berjalan hingga membuat Araz urung meninggalkan taman.
"Hehe...nggak ada. Tanganku jadi keliatan mungil kalau digenggam, Mas Araz," ucap perempuan itu refleks membuat Araz mengacak-acak rambut sang kekasih.
"Bener-bener deh, Nya. Kamu kelewatan gemesinnya."
"Yah, berantakan kan jadinya," keluh perempuan itu saat Araz mengacak-acak rambutnya.
"Biarin ah. Salah siapa bikin orang gemes aja dari tadi."
Kanya tidak membantah. Kali ini dia memilih bungkam ketika Araz mengajaknya pergi dari taman. Daripada dia harus menerima perlakuan Araz yang membuatnya seperti anak kecil.
...***...
Seperti dugaan Kanya, ide untuk membongkar status hubungannya dengan Araz, bukanlah sepenuhnya hal baik. Suasana ganjil sangat terasa ketika mereka sampai Kantor.
Terutama tatapan para gadis yang mendeklarasikan diri sebagai penggemar Araz. Tidak sedikit dari gadis-gadis tersebut yang melirik Kanya dengan kesal ketika dia memasuki lobi kantor MediaPena.
Namun, tetap saja tatapan mereka tidak bisa berbohong. Mereka seakan menghakimi Kanya dan memandang perempuan itu dengan tatapan jijik. Hal itu pula yang membuat Kanya semakin merasa tidak nyaman.
Itulah yang tidak disukai Kanya jika harus mendeklarasikan hubungannya dengan Araz.
Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Dia harus menghadapi hal itu dengan berani. Kanya tidak boleh gentar untuk membuktikan bahwa dia memang perempuan yang pantas bagi sang CEO MediaPena.
Meski Kanya bisa menduga, jika mulai saat ini, dia akan menjalani kehidupan yang penuh drama selama berada di MediaPena.
Mungkin saat inilah dia menyesali keputusannya untuk menerima tawaran Hanung. Padahal dia tahu betul, menjalin hubungan dengan rekan satu kantor, sangatlah tidak nyaman.
Apalagi jika pasangan merupakan orang yang populer di suatu kalangan. Dalam kasus Kanya, bos pula. Pemilik perusahaan. Apa tidak membuatnya menjadi musuh publik dalam sekejap?
Lagipula, Kanya tidak tahu pasti apa yang terjadi selama makan siang setelah dia dan Araz meninggalkan restoran. Bisa saja orang-orang yang merasa tersaingi membuat opini publik dan mempengaruhi yang lain.
Yah, siapa yang tahu. Hanya saja Kanya bisa merasakan satu hal yang pasti. Bahwa kini pandangan orang-orang semakin tampak berbeda kepadanya.
"Hei, Nya. Gimana kencannya? Sukses kan?" bisik Destia yang tiba-tiba sudah merangkul perempuan itu dari belakang.
__ADS_1
Mereka berjalan di sepanjang lorong yang akan menuju ruang kerja Kanya.
"Ck, ketimbang bahas kencan gue, kenapa lo nggak cerita aja, apa yang terjadi begitu gue sama Pak Araz pergi?" Kanya memberikan tanggapan dengan malas.
"Memang paling jeli deh tuh mata."
"Iyalah, gimana nggak? Itu si Rani - resepsionis kita - udah kayak mau makan orang begitu liat gue. Biasanya juga dia yang nyapa duluan. Ini, boro-boro mau nyapa, liat gue aja dia buang muka.
Padahal dia bisa senyum centil gitu begitu Pak Araz lewat."
Destia seketika tertawa saat mendengar pernyataan Kanya.
"Kok lo ketawa sih?"
"Ya abis lo lucu sih. Tahu nggak sih, lo itu keliatan gemesin kalau lagi kesel."
Huft...
Kanya menghela napas panjang. Tidak Araz, tidak Destia, justru mengucapkan kalimat yang membuat Kanya merasa kesal.
"Tahu deh. Cepet atau lambat juga bakal ketahuan sendiri, apa yang udah mereka omongin begitu gue sama Pak Araz keluar dari restoran."
"Haha...kayaknya tanpa gue kasih tahu, lo udah tahu deh apa yang terjadi."
"Ha? Gue bukan cenayang, Nyet. Mana bisa gue tahulah."
"Masa sih? Kan biang keroknya udah jelas, Nya. Masa lo nggak tahu sih?" Bukannya memberikan jawaban, Destia justru main tebak-tebakan.
"Duh, kalau urusan biang kerok sih nggak usah ditanya. Tapi apa yang udah mereka lakuin?"
Kanya mengejar Destia agar mau menceritakan apa yang terjadi begitu dia pergi dari Sakura Sushi and Ramen. Namun, tetap saja perempuan itu berkelit.
Meski Kanya tahu jika hal itu dilakukan Destia bukan semata-mata untuk menghindari pertanyaan Kanya, tapi lebih pada menjaga diri agar sesuatu yang buruk tidak terjadi.
"Yang jelas, cuma satu jawabannya. Mereka cemburu."
"Duh, ribet udah kalau urusan itu."
"Nah, nanti gue bakal cerita, gimana ceritanya mereka bisa cemburu."
"Kenapa nggak sekarang?"
__ADS_1
"Ya kita beda divisi, Monyet. Masa gue ngerjain tugas di tempat lo? Dahlah sana, gue ada berkas yang mesti gue serahin ke Pak Hanung."