
Renjana Alcatraz
Obrolan kami tak juga terputus. Ada saja yang kami bicarakan meski suara Kanya terdengar serak menahan kantuk. Sesekali dia bahkan sudah tak bersuara sama sekali dan terdengar napasnya yang halus di ujung telepon. Lantas menanggapi pertanyaan maupun pernyataanku dengan kalimat yang sama sekali tak sesuai dengan apa yang aku bicarakan. Namun, saat aku memintanya untuk tidur, dia bersikeras mengatakan jika belum mengantuk dan masih ingin ngobrol denganku.
"Tidur, Kanya. Ini sudah tengah malam."
"Heemmm ... rasanya aku nggak ingin tidur. Jarang-jarang bisa ngobrol sama Mas Araz sampai selama ini."
"Hei, besok kamu mesti beraktivitas lagi loh."
"Iya, tapi 'kan sudah kubilang, aku mau ngobrol dulu sama Mas Araz. Plis ya, Mas."
Kanya tetap bersikeras dengan keinginannya dan aku hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan perempuan itu. Jarang sekali dia bersikap manja. Bahkan selama ini dia lebih sering bersikap canggung dan malu-malu setiap kali berdua denganku. Siapa yang tega mengabaikannya jika sudah begini?
"Ya sudah, aku temani sampai kamu tertidur," kataku pada akhirnya.
Tawa Kanya terdengar dari ujung telepon. Dia bersorak seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Sikapnya memancing derai tawa. Aku tak pernah tahu jika ada sosok anak kecil juga di dalam tubuh perempuan itu.
"Senang banget kayaknya?" tanyaku tak bisa menyembunyikan gelak tawa.
"Kan sudah kubilang, jarang-jarang bisa ngobrol sama Mas Araz sampai tengah malam tuh. Jadi bakal aku manfaatin dengan baik waktu ini."
"Iya, iya, asal Dinda senang, Kakanda pun ikut senang," kataku membuat Kanya tertawa.
"Apaan sih, Mas. Mas Araz nggak punya puisi buat dibacakan lagi gitu?"
"Wah, ada yang ketagihan dibacain puisi nih. Gimana kalau aku nyanyikan lagu, tapi kamu janji mesti tidur. Nggak ada alasan jarang-jarang bisa ngobrol sampai tengah malam. Gimana?"
"Memang Mas Araz bisa nyanyi?"
"Yah, walaupun nggak semerdu Putra, tapi bisalah bikin kamu berbunga-bunga."
Kanya menahan senyum. "Mas Araz nggak lagi unjuk bakat biar kelihatan lebih keren dibanding Putra, 'kan?"
Pertanyaan Kanya membuatku tertohok. Sejujurnya ada sedikit perasaan ingin menunjukkan pada perempuan itu, jika aku juga bisa lebih keren dari Putra. Namun, siapa yang mau mengakuinya? Aku terlalu gengsi untuk mengaku pada Kanya.
"Nggaklah. Nggak ada tuh ingin dianggap lebih keren dari siapa pun," kataku mengelak. Sepertinya Kanya tak percaya itu, jika melihat tanggapannya yang hanya menertawakanku. "Kok ketawa sih, kenapa?"
"Nggak, siapa tahu saja 'kan, Mas Araz ingin terlihat keren lebih dari siapa pun."
"Memang aku nggak kelihatan keren di mata kamu?"
Perempuan itu diam. Cukup lama sampai akhirnya dia berkata,"Nggak, Mas Araz tuh nggak keren, tapi berkharisma. Gimana ya, kalau keren 'kan cuma sebatas penampilannya doang, tapi kalau Mas Araz kerennya tuh memancar dari dalam. Semacam inner beauty gitu. Jadi lebih kelihatan berkharisma daripada cuma sekadar keren. Apalagi pas baca puisi, kayaknya meningkat dua kali lipat deh tingkat kharismanya."
Suara Kanya kembali jernih saat mengatakan hal itu kepadaku. Aku malah jadi curiga jika perempuan itu tertidur sambil bicara seperti biasanya.
"Nya, kamu nggak lagi tidur 'kan?"
"Yah, malah dikata tidur. Nggak Mas, aku malah baru saja tersadar 100 persen."
__ADS_1
"Wah, jadi besar kepala deh aku kalau dipuji macam begitu."
"Nggak pujian, Mas. Itu kenyataan. Tahu nggak sih, Mas Araz duduk diam di bangku taman saja, nggak sampai lima menit, pasti sudah banyak tuh yang terkagum-kagum."
"Serius?"
"Iya, harusnya yang cemburu tuh aku, karena Mas Araz lebih dicintai banyak orang."
"Eh, ini pengakuan?"
"Bukan, itu sambatan karena Mas Araz disukai banyak orang," kata Kanya terdengar sewot saat mengungkapkannya.
Senyummu merekah. Ternyata, diam-diam perempuan itu bisa cemburu juga. Pantas saja dia begitu kesal saat bertemu Bella. Padahal sudah kubilang jika aku dan dokter Bella tak ada hubungan apa pun kecuali hubungan profesional.
Yah, walaupun dulu aku pernah merasakan debar yang berbeda saat bersamanya. Hanya saja itu perasaan semu seorang bocah yang baru menginjak remaja. Toh, dokter Bella pun tak pernah menganggapku lebih dari seorang pasien dan anak kecil. Meski tinggi badanku semakin melebihinya setiap kali bertemu dengannya.
"Mas Araz kok diam? Nggak ketiduran 'kan?"
"Nggak, aku cuma lagi menafsirkan sambatan kamu saja. Kira-kira benar cuma sekadar sambat atau memang ada hal yang tersirat."
"Terus jawabannya?"
"Kayaknya nggak cuma sekadar sambat sih, tapi ada hal lain yang tersirat," kataku membuat Kanya mendengus kesal.
"Memang apa yang tersirat? Mesti sok tahu nih, Mas Araz."
"Ya kalau boleh sok tahu sih, aku menebaknya kamu cemburu."
Senyum lagi-lagi merekah di bibirku. Ternyata dia begitu menggemaskan jika membicarakan tentang bagaimana aku lebih dicintai banyak orang, menurutnya. Hatiku terasa hangat. Seperti inikah rasanya, jika ada yang cemburu saat kita dekat atau bahkan hanya dikagumi oleh orang lain? Ada sedikit rasa bangga dan bahagia yang tak sanggup aku jelaskan dengan kata-kata. Beginilah jika benar-benar awam soal cinta.
"Biarpun begitu, cuma kamu doang yang aku sayang, Kanya. Jadi nggak perlu khawatir aku bakal direbut sama orang lain."
"Hemmm ... baiklah, aku nggak bakal khawatir kalau Mas Araz direbut sama orang lain, tapi kadang cemburu suka ngasal dan nggak mau tahu tempat. Sukanya ngawur."
"Kok rasanya kayak lagi nyindir ya?" godaku mendadak membuat Kanya terdiam.
"Nggak nyindir juga sih, Mas. Mas Araz mungkin yang baper," kata Kanya kemudian membuatku tertawa. Rasanya jika bersama perempuan itu segala macam bentuk lara bisa menjadi tawa. "Tuh kan, kita keasikan ngobrol sampai Mas Araz nggak jadi nyanyikan lagu buat aku 'kan?"
Kalimat Kanya selalu memancing tawa. Kalau saja perempuan itu ada di depanku, pasti kucubit ujung hidungnya yang selalu membuatku gemas.
"Iya deh, memang kamu mau dinyanyikan lagu apa sih?"
"Hemmm ... yang menggambarkan aku di mata Mas Araz."
Aku sedikit merenung dengan pernyataan Kanya. Lagu yang menggambarkan tentang dia di mataku? Sebenarnya ada sebuah lagu. Bahkan begitu banyak lagu yang menggambarkan perempuan itu. Namun, bisakah lagu itu menyentuh hatinya sebagaimana menyentuh hatiku?
"Mas?"
"Oke, coba dengarkan lagu ini. Mungkin kamu sedikit asing, tapi mungkin juga sudah pernah dengar. Hemm ... tapi aku yakin kamu sudah pernah dengar sih."
__ADS_1
"Ya coba saja nyanyikan."
Aku meraih gitar milik Hanung yang sengaja dibawa laki-laki itu ke kantor untuk hiburan selama menyiapkan peluncuran awal pekan nanti. Jariku menekan senar gitar dan memetiknya lembut. Intro lagu Getir Menjadi Tawa Bila Kubersamanya milik The Rain kudendangkan sambil bergumam.
Aku tak pernah lupa
Saat kali pertama
Berjuang memilih kata
Hanya untuk menyapanya
Terekam di ingatan
Sore yang menyenangkan
Mendengar renyah tawanya
Menyelami hatinya
Dan tenggelam di sana
Untuknya
Untuknya aku rela menulis ulang mimpi-mimpiku
Getir menjadi tawa bila kubersamanya
Terekam di ingatan
Sore yang menyenangkan
Mendengar renyah tawanya
Menyelami hatinya
Dan tenggelam di sana
Untuknya
Untuknya aku rela menulis ulang mimpi-mimpiku
Getir menjadi tawa bila kubersamanya
Di ujung telepon suara napas Kanya mulai terdengar lembut. Dengkurannya yang halus menandakan jika dia mulai terlelap dalam tidurnya. Senyum mengembang di bibirku. Terbayang wajahnya yang damai dalam tidur perempuan itu.
"Selamat malam, Kanya. Semoga mimpi indah ya. I love you," ucapku sebelum mematikan panggilan telepon.
Selepas obrolanku dengan Kanya, aku merebahkan tubuh dan berbantal lengan sambil menatap langit-langit ruangan. Dari sekian peristiwa yang terjadi hari ini, hanya obrolanku dengan Kanya yang paling berkesan.
__ADS_1
Terlebih saat dia membacakan puisi milik Phutut EA yang entah dia tahu atau tidak, jika aku mengidolakannya. Buku yang dibacakan Kanya, sudah berpuluh kali aku membacanya sejak pertama kali membeli. Tak bosan-bosan dan tak pernah bosan. Dan rasanya semakin tak bisa bosan setelah mendengar Kanya membacakannya. Suara perempuan itu masih terekam dengan jelas di benakku.
Senyum masih merekah di bibirku meski obrolanku dengan Kanya sudah berakhir setengah jam lalu. Rasanya malam ini aku tak ingin terpejam. Menikmati rasa berbunga-bunga yang melayang di pelupuk mataku. Gagal sudah rencanaku mengecek proposal yang sudah dikirimkan Lea. Ah, biar saja. Hal lain masih bisa menunggu.