
Renjana Alcatraz
Kami memutuskan pulang ke apartemen Kanya setelah membahas tentang Dokter Bella. Meski raut wajah Kanya belum sepenuhnya ceria, setidaknya tak ada lagi gurat kemarahan. Sekalipun sesekali dia menyindir dengan bahasa sarkas yang membuatnya tampak lucu.
"Baru tahu loh, kalau ternyata dokter yang nanganin Mas Araz secantik itu. Pantes pasiennya betah lama-lama di RS."
"Ngaco, mana ada orang yang mau lama-lama di RS. Coba tanya Putra, aku jamin dia udah nggak betah dan pengen cepat pulang."
"Dih, ngalihin pembicaraan. Orang kita lagi bahas Mas Araz juga."
Aku tertawa menanggapi pernyataan Kanya. Kutatap wajahnya yang terlihat serius di belakang kemudi. Dia memaksa menyetir saat ingat kondisiku belum sepenuhnya pulih. Walaupun sebenarnya sudah kuat jika hanya sekadar menjalankan mobil. Toh, tadi pagi aku juga kuat membawa mobil sampai ke rumah sakit dengan selamat. Akhir pekan lalu juga. Bahkan sampai ke Bandung. Namun, Kanya memaksa dia yang akan mengemudi demi kesehatanku.
"Mas, mumpung nggak masuk kerja nih. Mau temenin aku ke suatu tempat nggak?" tanya Kanya membuatku menyadari satu hal, jika hari ini masih hari aktif kerja. Kapan perempuan itu mengajukan izin?
"Boleh aja, mumpung pengangguran nih, boleh deh kamu pekerjakan," kataku membuat Kanya refleks menoleh ke arahku.
"Ya nggak gitu juga Mas. Ihh ... apaan sih, bilang dipekerjakan."
"Iya kan memang pengangguran, Sayang. Memang mau ke mana sih?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, Kanya justru membelokkan mobilnya ke arah sebuah mall yang cukup besar. Setelah memarkirkan mobil, perempuan itu mengajakku ke sebuah toko furnitur. Tubuh Kanya yang tinggi kurus begitu enerjik di antara barang-barang yang dipajang mulai dari sofa hingga perlengkapan rumah lainnya. Entah apa yang perempuan itu cari.
"Memang mau cari apa sih?" tanyaku saat Kanya memilih berbagai jenis ayunan yang dijual.
"Menurut Mas Araz bagusan yang digantung atau yang di lantai?" Kanya justru balik bertanya kepadaku sambil menunjukkan ayunan yang dia maksud.
"Ya buat apa dulu, Nya?"
"Oke, jadi gini, rencananya aku mau atur ulang balkon apartemen aku biar lebih cozy aja. Rencananya mau aku kasih ayunan, meja-meja mungil gitu, beberapa tanaman, sama lampu hias gitu."
"Konsepnya kayak gimana tuh?"
__ADS_1
"Bohemian?"
Aku tersenyum mendengar jawaban Kanya. Penataan dekorasi yang sama muncul di benakku saat Kanya menceritakan dari awal tujuannya mengajakku ke tempat ini. Lantas dengan cekatan membantu perempuan itu memilih ayunan yang pas dengan konsep yang dia ... ehm, kami inginkan.
Kanya mengangguk setuju saat aku menunjukkan sebuah ayunan gantung berbentuk bulat warna putih tulang dari anyaman tali. Ukurannya tak terlalu besar. Cukup pas bila dipasang di balkon apartemen Kanya yang juga tidak terlalu besar maupun sempit.
"Kenapa tiba-tiba kepikiran pengen nata ulang balkon?" tanyaku saat membantu Kanya mencari kasur lantai dan meja yang pas untuk pojok ruangan.
"Bosan aja sih Mas, aktivitas di dalam ruangan mulu. Kalaupun ke balkon paling juga cuma liatin lalu-lalang kendaraan di bawah. Rencana juga mau cari rak mini buat tempat buku. Biar sekalian bisa baca sambil rebahan di balkon."
Aku hanya mengangguk paham menanggapi cerita Kanya. Lantas kembali membantu gadis itu memilih keperluan yang diinginkan. Hampir pukul dua siang saat kami selesai membayar semua barang yang dibeli Kanya. Kami memutuskan segera kembali ke apartemen sebab Kanya meminta barang dikirim saat itu juga. Setidaknya kami harus sudah ada di tempat sebelum kurir datang.
***
Kurir pengantar barang, datang tak lama setelah kami sampai apartemen Kanya. Tanpa mengenal lelah, gadis itu mengatur barang-barang yang ia pesan di balkon apartemennya, setelah meminta kurir sekaligus tukang memasang ayunan di langit-langit atap. Sementara aku hanya mengamatinya dari pintu, sebab Kanya benar-benar melarangku banyak bergerak. Padahal, jika hanya menggeser kursi, aku masih sanggup melakukannya.
"Mas, gimana kalau Mas Araz bikin omelette atau sesuatu yang segar gitu? Lumayan lapar sama haus yang numpuk jadi satu sih ini," kata Kanya sambil mengedipkan mata menggemaskan. Aku tertawa. Baru kali ini aku melihat ekspresi Kanya yang begitu lucu. Jika dia memasang wajah seperti anak kucing yang minta disayangi, mana bisa aku menolaknya.
"Lah, Mas Araz kenapa tersipu gitu?"
Pertanyaan Kanya justru membuatku semakin gemas. Sedikit terburu aku meraih tangan gadis itu dan mencubit pipinya. Lantas membawa tubuh Kanya dalam pelukanku sebelum akhirnya mendekatkan bibirku ke telinga perempuan itu.
"Kalau haus minum ini dulu ya. Bisa dimakan juga kok sekalipun nggak bikin kenyang, tapi sanggup bikin melayang. Mau coba?" bisikku.
Tanpa menunggu persetujuan Kanya, aku mencium bibir perempuan itu. Kecupan demi kecupan hangat semakin membuat kami menginginkan lebih. Hari ini tubuh Kanya beraroma manis vanila bercampur sedikit panas matahari yang membuatku semakin tergoda.
Aku mendorong tubuh Kanya hingga bersandar pada dinding pembatas balkon. Ciuman kami semakin dalam. Berbagi pagutan dan kiss mark di tempat-tempat yang tersembunyi. Bahkan sesekali ia juga ngambil kendali atas tubuhku. Jika saja gawai milik Kanya tak berdering, mungkin kami ... Ah, sial. Harusnya aku bisa menahan diri lagi.
Kuperhatikan wajah Kanya bersemu merah saat menjauh untuk menjawab telepon. Sepertinya perempuan itu tersipu atas apa yang baru saja terjadi.
Cukup lama, sampai akhirnya Kanya kembali ke beranda. Wajahnya tak lagi bersemu merah. Justru terlihat antara bingung, kalut, dan juga sedih. Namun, dia berusaha menyembunyikannya dengan senyum paksa yang semakin mempertegas kekalutan di wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Kanya justru memelukku dan menangis sesenggukan. "Hei, kenapa? Apa yang terjadi? Coba katakan pelan-pelan."
"Mama ... "
"Ya, kenapa Mama?"
"Mama ... masuk rumah sakit. Besok siang harus dioperasi jika kondisinya semakin memburuk."
Aku bisa memahami apa yang terjadi kini. Perempuan itu, meski menyimpan dendam begitu besar pada wanita yang telah melahirkannya, tetap saja menyimpan cinta untuknya. Aku tak tahu pasti bagaimana hubungan mereka saat ini, tetapi melihat Kanya begitu khawatir, aku tahu perempuan itu masih sangat peduli pada mamanya. Meski tak dapat kupungkiri, hatiku juga merasa nyeri saat mengetahui fakta bahwa Putra dan Kanya menjadi saudara tiri dengan kisah yang dramatis.
"Kandungannya terganggu. Kata Om Eka, harus salah satu yang diselamatkan. Ibunya atau ... " Tangis Kanya semakin keras. Perempuan itu mengencangkan pelukannya. "Mana bisa Mama mengambil keputusan tanpa bilang padaku."
"Kanya ... "
"Aku tahu, aku sudah durhaka. Aku tahu, tapi apa Mama juga berhak mengambil keputusan dengan mengorbankan nyawa tanpa bilang padaku? Apa dia berhak mengambil keputusan untuk meninggalkan aku? Ini nggak adil, Mas. Ini nggak adil buat aku. Apa ini cara Mama mau menghukumku?"
Tubuh Kanya gemetar dalam pelukanku. Perempuan itu benar-benar merasakan kecewa juga kesedihan yang luar biasa.
"Ayo, pulang! Ada hal yang nggak bisa kamu selesaikan jika masih terus di sini, Nya. Aku akan mengantarmu pulang!"
Kanya tak menanggapi pernyataanku. Meski begitu, aku merasa lega sebab ia mengangguk dalam pelukanku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hei, pembaca setia Pulang. Mohon maaf jika pada akhirnya cerita ini lama sekali updatenya. Apalah daya jika Yoru tak bisa membagi waktu dengan baik antara dunia MangaToon/NovelToon dan dunia nyata. Yoru nggak mau janji bakal update setiap hari, tapi bagaimanapun juga jika kondisi memungkinkan akan terus Yoru update sampai the end. Mohon maaf untuk kalian semua.
Ehmm, buat kalian pengguna Spotify, Google Podcast, ext bisa cari podcast Yoru dengan keyword "Semesta Yoru". Ada kisah yang tak kalah menarik dari Pulang.
Oh iya, ada juga isi hati Kanya dan Araz yang nggak ada dalam novel Pulang dan disimpan dalam jurnal pribadi mereka. Ssttt ... Yoru sudah minta izin sama mereka buat bikin podcast dari catatan mereka yang bakal tayang perdana hari ini, Jumat, 04 September 2020. Yuk, kunjungi rumah Yoru di Spotify.
Salam sayang buat kalian semua! 😊😊
__ADS_1