Pulang

Pulang
Season 2 #Janji Masa Lalu


__ADS_3

Lelaki itu terpaku ketika mendengar pengakuan Cassandra. Tubuh Araz membeku. Sesaat kemudian, dia merasa seperti ditarik paksa ke belakang dan seolah melewati lorong waktu ke masa puluhan tahun lalu.


Suatu sore di bulan Desember. Menjelang Natal.


Keluarga besar dari pihak ibu Araz sedang menyambut malam Natal dengan suasana hangat dan penuh kasih.


Laki-laki itu masih berusia dua belas tahun. Itu pertama kalinya dia bertemu keluarga besar dari pihak ibunya. Itu pula pertama kali bagi Araz terbang keluar negeri menggunakan pesawat dengan peralatan memenuhi seluruh tubuhnya. Hanya demi membuatnya tetap merasa aman dan nyaman.


Araz sendiri tidak pernah menyangka jika hari itu bakal terbang ke negera yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.


Bagi Araz, jarak terjauh yang bisa ditempuh dalam perjalanan hanyalah ke Jakarta. Namun, hari itu dia melintasi samudra, menembus awan, melewati batas negara, dan mendarat di negara berjuluk Negeri Ginseng itu.


"Ah, jagoan keluarga Lee," ucap seorang pria lewat paruh baya yang meminta Araz untuk memanggilnya dengan sebutan hal-abeoji.


Araz yang tidak terbiasa menggunakan bahasa yang digunakan oleh ibunya, mengikuti pria itu dengan raut muka takut. Lidahnya kelu. Ia tak bisa berkata-kata.


Sementara ibu dan ayahnya sedang tidak bersamanya saat itu. Mereka terlibat dalam pembicaraan hangat bersama saudara-saudara ibunya dan juga kerabat yang lain.


"Kamu tidak bisa Bahasa Korea? Apa ibumu tak mengajarimu cara menghormati leluhurmu?" ucap pria itu membuat Araz semakin bingung.


Namun, dari nada bicaranya, Araz tahu pasti bahwa pria itu sedang kesal. Dia marah karena Araz begitu berbeda dibandingkan yang lainnya.


Tidak lama, pria yang meminta Araz memanggilnya dengan sebutan hal-abeoji itu, meninggalkannya sendirian. Araz kembali sendirian. Dia merasa asing di tengah suasana meriah malam Natal.


Saat itulah, gadis berusia tujuh tahun berbalut dress natal warna merah yang imut dan lucu menghampiri Araz.


"Oppa," panggil gadis mungil itu dengan senyum membingkai wajahnya.

__ADS_1


Kening Araz berkerut. "Apa yang kamu katakan?" tanya lelaki kecil itu dengan sorot muka bingung.


"Ne? Kamu nggak bisa Bahasa Korea?" ucap gadis itu sama sekali tak dipahami oleh Araz.


"A, can you speak English?"


"Yes, I do."


"Perfect. Kalau gitu, kita ngobrol pakai Bahasa Inggris saja. Orang-orang tolol itu, tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Biar mereka tahu rasa, gimana nggak enaknya kalau nggak ngerti omongan orang lain," ucap gadis kecil itu dengan Bahasa Inggris yang fasih.


Araz sampai terbengong dibuatnya. Dia saja, baru lancar berbahasa Inggris setelah menginjak SMP. Itu artinya baru setahun lalu. Tapi, gadis kecil di hadapannya itu sudah lancar berbahasa Inggris bahkan belum genap delapan tahun.


Mendengar pernyataan si gadis kecil, Araz merasa terhibur. Senyum membingkai wajahnya yang selalu tampak pucat sebelum menjalani operasi pertama.


"Siapa namamu?" tanya Araz pada akhirnya. Setelah ia berhenti tertawa akibat ucapan gadis kecil itu.


"Oppa?"


"A, Oppa means...big brother in English."


"Oo..." Araz mengangguk-anggukan kepala setelah mendengar jawaban gadis kecil itu.


"My name is Alcatraz. But you can call me Araz."


"Wow... Amazing. Nama Oppa seperti penjara yang terkenal itu!" Cassandra kecil berseru dengan sepasang mata berbinar lucu.


"Haha...sepertinya memang itulah konsep yang diberikan Ayah."

__ADS_1


"Daebak! Samchon memang paling keren!"


Keakraban keduanya terus berlanjut. Selama Araz tinggal di rumah sang kakek, Cassandra lah yang menemani laki-laki kecil itu.


Mereka sering bermain bersama. Mengobrolkan banyak hal, termasuk tentang kondisi Araz yang tidak baik dan kenapa laki-laki itu harus menggenakan berbagai macam alat di tubuhnya.


"Apa itu sakit?" tanya Cassandra suatu hari.


"Ya, rasanya sangat sakit. Tapi, aku bisa menahan semua ini. Rasa sakitnya juga semakin berkurang kalau aku bermain denganmu."


"Oh benarkah? Kalau gitu, apa mungkin aku dewi penyembuh buat Oppa?"


Araz tertawa. Sejak kecil dia sudah diajarkan mengaji dan membaca Al Quran. Dia ragu bagaimana harus mengatakannya pada Cassandra tentang apa yang dia bicarakan.


Oleh sebab itu, Araz hanya tertawa dan menjawab singkat.


"Mungkin."


"Kalau gitu, kita harus menikah!"


"Eh? Menikah?" Araz bertanya akibat merasa tidak paham. Apa kaitan pertanyaan gadis itu dengan tiba-tiba menikah?


"Ya, tentu saja menikah. Orang yang membawa takdir baik dalam hidup kita, harus disatukan dalam janji pernikahan," ucap Cassandra begitu antusias.


Sedangkan Araz hanya tertawa. Karena merasa itu hanya permainan anak kecil saja, maka dia pun menyanggupi ucapan Cassandra.


"Ah ya, kalau gitu ayo kita menikah di masa depan." Araz mengucapkan kalimat itu dengan tujuan bercanda.

__ADS_1


Namun, siapa yang mengira jika kalimat itu justru menjadi bumerang di kehidupannya yang akan datang?!


__ADS_2