Pulang

Pulang
Yang Terbaik untuk Kamu


__ADS_3

Renjana Putra


Sepeninggalan Kanya, tak lama Arlan datang bersama Nando, Anggit, dan Danu. Melihat kondisi vokalis band mereka terbaring lemah, justru menjadikan Putra sebagai bahan candaan. Lelaki itu lagi-lagi menjadi sasaran empuk perundungan teman satu bandnya.


"Gue tahu sih ini bukan soal nasib kalian doang yang serupa. Pasti ada alasan lain. Lo udah mulai suka sama Vika ya?" kata Arlan membuat gerombolan Nada Sumbang semakin riuh.


Mereka sudah tahu alasan Putra terbaring di rumah sakit meski kesaksian di media mengatakan jika lelaki itu telah mengalami kecelakaan tunggal akibat mengantuk. Sekalipun tak mudah membungkam media, pada kenyataannya Semesta Production mampu melakukannya.


Putra hanya tertawa sinis menanggapi celetukan Arlan. Ia membetulkan letak bantal di bawah lehernya yang terasa tidak nyaman. Sementara Anggit, juga Danu dan Nando yang mendengar pernyataan Arlan, semakin penasaran, ada apa sebenarnya antara Putra dengan Vika - manajer mereka.


"Oh, jadi diem-diem kalian sudah jadian?" tanya Danu membuat Putra melempar bantal ke arahnya meski setelah itu meringis kesakitan. Luka lebam di tangan sang vokalis Nada Sumbang masih terasa nyeri jika digerakkan.


"Pantes, Kanya udh nggak jadi prioritas sekarang," goda Nando menambah suasana makin bising. Mereka tertawa melihat wajah Putra yang kini sudah bersemu merah. Bukan karena tersipu, tetapi karena marah.


"Bikin isu aja terus. Noh, sekalian bikin konferensi pers, biar makin tumpuk-tumpuk masalah gue," omel Putra setelah lama diam dan hanya mendengarkan candaan teman satu band-nya. Bukannya diam, yang lain justru semakin heboh saat Putra memberi ide untuk menggelar konferensi pers. "Sinting memang kalian tuh!"


"Ya kalau nggak sinting, mana bisa lo terhibur, Nyet." Anggit yang dari semula hanya menyumbang senyum dan tawa, juga ikut bersuara. Tepat saat pintu kamar rawat inap Putra diketuk seseorang dari luar.


Wajah Araz yang sebermula muncul dari balik pintu, lantas seluruh tubuhnya terlihat ketika ia masuk ke dalam ruangan. Atmosfir yang semula hangat, mendadak beku saat kemunculan sosok lelaki yang belum sepenuhnya mereka kenal.


"Maaf, sudah ganggu waktu kalian. Aku cuma mau cari, Kanya."


"Wah, episode makin seru nih kayaknya. Tiba-tiba ada pemeran baru muncul. Pantes Kanya nggak mau balikan sama lo. Yang ini lebih berkualitas, Man," komentar Danu saat Araz menyebut nama Kanya. Sedang Putra dengan wajah sok tegas, meminta temannya itu diam.

__ADS_1


"Bukannya dia lagi cari lo? Gimana ceritanya malah lo yang cari dia?" tanya Putra dengan nada dingin. Dia masih kesal dengan para personil Nada Sumbang. Selain itu, masih ada dendam masa lalu yang disimpan Putra untuk Araz. Mumpung kesempatan itu ada, Putra ingin memanfaatkannya dengan baik.


Sedang Araz berdiri kikuk. Dia menyadari sikap Putra tak menunjukkan sopan santun. Bagaimanapun dia lebih tua dari kakak sambung Kanya itu, tetapi dia tak bisa membalas bersikap seenaknya. Kelak, dia pun harus meminta restu Putra jika ingin menjalani komitmen yang lebih serius dengan Kanya.


"Sori, ada sedikit salah paham ... antara gue sama Kanya. Dia udah nutup telepon sebelum gue sempat jelasin," aku Araz merasa tidak nyaman. Apalagi di hadapan lima orang lelaki yang jauh lebih muda darinya dan menatapnya dengan pandangan menelisik. Masing-masing seperti mengukur kualitas yang ada dalam diri Araz.


Sementara Putra yang paling jelas menunjukkan sikap itu. Sifat protektifnya menjadi dominan saat mendengar penjelasan Araz. Padahal, sebelum keluar dari ruang tempatnya dirawat, Kanya terlihat begitu tersenyum cerah. Meski raut lelah itu tak bisa disembunyikannya dengan baik. Namun, sekarang Araz muncul dengan wajah tak kalah lelah dan mengatakan jika telah terjadi kesalahpahaman di antara Kanya dan lelaki itu.


"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Putra meminta persetujuan Araz. Sikapnya sedikit melunak meski raut tegas masih tercetak di wajah lelaki itu.


Menyadari atmosfir yang menegang antara Putra dan Araz, Arlan mengajak ketiga temannya yang lain untuk keluar ruangan.


"Stay cool, Man. Beneran nggak lucu kalau lo pakai otot dalam perkara ini. Lo yang lebih berhak atas Kanya sekarang. Sebagai saudara perempuan yang harus lo lindungi," bisik Arlan sebelum keluar dari ruangan.


"Duduk aja, lo tahu ini bukan obrolan yang sebentar," pinta Putra diikuti gerakan Araz duduk di kursi dekat ranjang pasien. "Sori, harusnya nggak dalam kondisi kayak gini kita ngobrolnya, tapi ada hal yang harus gue sampaikan sama lo tentang Kanya."


"Sori, sebagai mantan atau Abang?"


Pertanyaan terang-terangan dari Araz membuat Putra sedikit terkejut. Lantas tertawa saat menyadari ekspresi Araz yang terlihat ... sedikit menganggapnya saingan? Lelaki itu terlihat cemburu dengan Putra.


"Tergantung sih lo bakal anggap apa. Gue cuma mau tahu, seberapa penting Kanya dalam hidup lo?"


Araz tak langsung menjawab pertanyaan Putra. Lelaki itu menatap kakak tiri Kanya dengan tatapan seolah menilai, jawaban apa yang paling ingin didengar oleh lawan bicaranya.

__ADS_1


"Seandainya nggak ada Kanya sekalipun, gue akan tetap hidup. Menjalani hari-hari gue dengan biasa dan terasa hampa. Sayangnya, Kanya sudah menyita perhatian gue bahkan jauh sebelum kita saling kenal. Dan selama itu gue terus berpikir, apa pentingnya gadis yang bahkan kehadirannya pun nggak pernah nyata? Sampai gue menyadari satu hal, detak jantung gue lebih berirama saat mulai mengenal Kanya. Dan mungkin, Kanya benar-benar kesempatan kedua gue buat hidup."


Sesaat Putra tertegun. Pernyataan Araz terasa tak mampu ia nalar. Namun, sesaat itu pula, Putra merasa jika Araz berbicara juga mewakilkan orang lain. Terutama saat mengatakan tentang kesempatan hidup kedua. Orang lain dari masa lalu yang entah mengapa tiba-tiba menerobos masuk tanpa permisi dalam ingatan Putra.


"Arez?"


"Sori?"


"Nggak, lo ingetin gue sama seseorang," ucap Putra menghindari pembicaraan lebih panjang tentang Arez.


Meski dia pun tak tahu di mana Arez berada saat ini, dia bersyukur pernah bertemu dengan lelaki itu. Setidaknya, dialah yang selalu menjaga Kanya saat tak mampu melakukan tugasnya karena terbentang jarak. Sekalipun tak sepenuhnya percaya, Putra mengetahui satu hal, perasaan Arez yang ditunjukkan buat Kanya benar-benar tulus.


Itulah mengapa dia selalu tersulut amarah setiap kali Kanya dekat dengan Arez. Walau pada kenyataannya Kanya tak pernah benar-benar menganggap serius perasaan lelaki itu, kecuali sebagai sahabat. Dan kini, sekali lagi, Putra melihat perasaan yang sama dalam diri Araz.


"Gue tahu ini pasti udah lo lakuin, cuma gue mau mastiin aja, sekaligus minta sama lo buat janji, tolong jaga Kanya. Dia sudah terlalu lama menderita. Gue nggak tahu dia udah cerita sama lo atau belum, tapi bagaimanapun dia juga orang-orang yang sayang sama dia, pantas untuk berbahagia."


"Gue nggak bisa janjiin dia bakal selalu bahagia, tapi pasti bakal gue usahain agar senyum itu nggak pernah pudar dari wajahnya."


"Thanks. Btw, dia lagi di kantin sekarang. Barusan Arlan bilang liat Kanya sama seorang dokter lagi makan."


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Araz berdiri dari kursi dan segera keluar ruangan. Bahkan tanpa pamit.


Bibir Putra mengembang. Dia menyadari satu hal, Araz memang yang terbaik untuk Kanya. Kini, dia merasa benar-benar lega.

__ADS_1


__ADS_2