Pulang

Pulang
Back the Real World, Kanya


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku terbangun dengan mata bengkak setelah menangis semalaman. Ditambah tidak bisa tidur nyenyak, setelah obrolanku dengan Putra yang menguras emosi dan air mata. Hampir pukul 02.00 saat kami sepakat untuk tidak membahas lagi tentang perasaan kami. Menerima skenario yang sudah ditentukan oleh Sang Maha.


Sedangkan pagi ini, aku harus mengantar Araz ke bandara. Laki-laki itu harus kembali ke Jakarta demi menyelesaikan proyek pendirian media online yang dikerjakannya bersama Mas Hanung. Saat berada di rumah sakit, Araz banyak bercerita kepadaku. Tentang cita-citanya mendirikan perusahaan media bersama Hanung. Tidak lupa menawariku untuk bergabung dengan mereka. Aku tidak menolak, juga belum mengiyakan.


Tempatku berproses saat ini masih nyaman dan aku belum berniat pindah haluan. Maksudku, deadline media cetak tidak serapat media online yang harus update setiap jam. Menit bahkan. Aku belum sanggup mengejar deadline sesesak itu. Apalagi setelah kejadian semalam. Aku kehilangan muka. Bagaimana caraku menjelaskan pada Araz, jika aku masih belum sepenuhnya melupakan Putra.


Wajahku terasa panas. Bisa-bisanya aku tidak menolak bibir Putra saat laki-laki itu menciumku. Heh, aku bahkan membalasnya dan justru menciumnya lebih dulu saat tidak mampu menahan gejolak dalam hati. Lantas bagaimana aku sanggup bertemu Araz setelah apa yang kulakukan di belakang laki-laki itu.


Dasar nggak guna. Apa sih yang ada di pikiran lo, Nya? Bukannya sadar dari awal kalau Putra nggak mungkin sama lo. Masih aja mengharapkan hal yang sudah pasti nggak mungkin terjadi. Bisa-bisanya lo khianati Araz yang sudah jelas-jelas sayang sama lo. Kurang apa coba si Araz, sampai lo bisa tergoda sama Putra?


Sadar, Anya, sadar! Nggak ingat lo gimana berjuang mati-matiannya lo demi bisa lupain semua kenangan tentang Putra?


Tentu saja hanya diriku sendiri yang bisa menjawab pertanyaan dalam benakku. Aku tidak mungkin lupa, bagaimana caraku pergi dari rumah dan tidak berniat kembali selama dua tahun ini. Bagaimana caraku bertahan dengan tabungan yang pas-pasan sebelum akhirnya mendapat pekerjaan sesuai yang aku inginkan. Memblokir semua akun media sosial, bersembunyi di balik nomor yang tidak seorang pun tahu kecuali Damar dan Almira, sampai rela tinggal di kos-kosan kecil untuk menghapuskan jejak dari peredaran.


Sampai akhirnya Bude Maya dan Om Anas - kakak serta adik kandung Ayah - menjengukku ke Jakarta dan membelikan sebuah apartemen dari warisan kakek yang seharusnya menjadi hak Ayah. Namun, karena Ayah lebih dulu kembali pada bumi, mereka memberikannya padaku sebagai anak semata wayang Ayah.


Dan sekarang, hanya dengan sebuah ciuman, aku hampir terperangkap lagi dalam perasaan semu yang sudah jelas akhirnya tidak akan ada harapan. Lnatas apalagi yang akan diperjuangkan? Padahal di satu sisi, ada laki-laki yang jelas memiliki perasaan yang tulus kepadaku. Aku tidak mungkin menyia-nyiakannya bukan? Namun, sungguh aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.


"Non Kanya, sudah bangun? Ditunggu Bapak, sama yang lain di meja makan, Non."


Suara Bi Lastri terdengar dari balik pintu kamar. Asisten rumah tangga itu yang menggantikan Mbok Darmi yang sebelumnya menjadi pengasuhku hingga aku memutuskan pergi dari rumah dua tahun lalu. Kabarnya Mbok Darmi keluar tidak lama setelah aku memutuskan minggat dari rumah.


"Iya, Bi. Sebentar lagi aku turun."

__ADS_1


"Iya, Non. Mas Araz juga sudah nungguin, Non Kanya, dari tadi."


Araz. Jantungku berdegup kencang saat Bi Lastri menyebut nama laki-laki itu. Sungguh, aku benar-benar tidak sanggup bagaimana harus menghadapi Araz setelah ini.


Huufftt ... Masih dengan sedikit berat dan mata bengkak, aku bangun dari tempat tidur yang bahkan kini semakin nyaman agar aku bisa lama-lama berbaring. Namun, jelas itu tidak mungkin. Aku sudah menjawab panggilan Bi Lastri yang artinya aku sudah terbangun sejak tadi. Lantas bagaimana aku bisa pura-pura tidur jika sebelumnya sudah mengiyakan panggilan Bi Lastri?


Arrgghh ... kenapa gue bisa selemah ini sih kalau berurusan sama, Putra? Hello, Anya. Back the real world. Sudah waktunya bangun. Jangan kebanyakan mimpi! Hapus semua perasaan yang cuma bisa menghalangi lo melangkah.


"Kanya, sudah bangun? Boleh aku masuk?"


Suara Araz. Laki-laki itu berdiri di balik pintu.


Duh Tuhan, bagaimana ini? Apa yang mesti gue lakukan?


Tidak lama, daun pintu kamarku terkuak. Araz sudah rapi dengan setelan kaus polo warna putih dan jeans warna biru Dongker yang membuat penampilannya terlihat maskulin. Apalagi rambutnya dibiarkan sedikit berantakan. Membuat penampilan laki-laki itu semakin macho, tetapi juga terlihat lembut di sisi lain.


"Mas Araz, sudah siap? Kan penerbangannya masih nanti siang?" tanyaku menutupi kegugupan.


"Iya, rencananya aku mau mengajak kamu ke suatu tempat dulu sih sebelum balik ke Jakarta."


"Oh iya? Ke mana?"


"Ketemu kenalan. Dia tinggal di Amsterdam akhir-akhir ini. Ngurus pameran dia di sana. Kebetulan sekarang lagi pulang ke Surabaya. Lama nggak ketemu. Mumpung ada kesempatan, kenapa nggak dimanfaatkan?"


"Kenalan Mas Araz, pelukis?"

__ADS_1


"Iya, mungkin kamu juga pasti sudah tahu orangnya. Kariernya sampai sekarang nggak meredup sih, sejak awal dia debut. Bahkan sekarang makin bersinar. Ya, ada suatu momen dia lama nggak muncul. Kabarnya ada problem sama rumah tangganya, tapi kayaknya cuma kabar miring saja sih. Toh nyatanya mereka masih bareng sampai sekarang."


"Siapa, Altar Adhyaksa suaminya Dandelion Senjani?"


"Oh, kamu tahu istrinya juga?"


"Wah, aku justru akrab banget sama istrinya. Dulu, novel-novel dia jadi bacaan wajib kalau mau belajar soal sastra feminis. Soalnya dia salah satu penulis yang aktif angkat isu itu. Mas Araz mau ketemu sama mereka?"


"Iya, sebenarnya mau ketemu sama Altar saja sih, tapi kalau kamu kenal sama Senjani, nanti aku minta dia ajak istrinya sekalian."


"Serius boleh gitu?" tanyaku antusias.


Araz hanya mengangguk pelan. Ujung bibirnya terangkat melihat semangatku yang berlebih. Lupa sudah bagaimana lengketnya mata akibat menangis semalaman. Yang ada hanyalah perasaan bahagia yang meluap.


"Iya, boleh dong. Itu pun juga kalau mereka berkenan loh. Seneng banget kayaknya, mau ketemu sama idola."


Mataku berbinar mendengar pernyataan Araz. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan penulis idolaku itu. Dulu, waktu zaman kuliah, aku aktif mengikuti setiap tour peluncuran bukunya di mana pun berada. Sosoknya yang ramah dan asyik diajak ngobrol menjadikan kami cepat sekali akrab. Apalagi dia sama sekali tidak pernah memberi jarak dengan para penggemarnya. Dia bisa mengalir saat membicarakan apa saja dengan siapa saja.


"Iyalah, Mas. Siapa yang nggak seneng mau ketemu idola," jawabku membeo pernyataan Araz.


"Ya udah siap-siap gih. Aku tunggu di bawah ya?"


"Iya, Mas."


Setelah mengecup keningku, Araz keluar dari kamar. Membawa pula degub jantung yang tadi tak sanggup kukendalikan saat tak tahu harus berbuat apa. Namun, Araz selalu membuatku lega dengan cara yang sederhana. Dan, aku masih saja dengan tega mengkhianati ketulusannya.

__ADS_1


__ADS_2