Pulang

Pulang
Tersenyumlah, Sampai Matahari Iri Melihatmu


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Mungkin aku memang berlebihan. Berlebihan caraku mencintai Kanya. Berlebihan caraku ingin melindungi satu-satunya perempuan yang ada dalam hatiku. Juga berlebihan saat ingin selalu bersamanya setiap waktu. Sedangkan dia pasti ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Terlebih saat Tante Sukma sudah dipindahkan ke ruang ICU dengan segala jenis peralatan yang menempel di tubuhnya dan hanya boleh dijaga oleh satu orang saja.


Awalnya, Om Eka bersikukuh ingin menjaga Tante Sukma. Namun, Kanya dengan segala sifat keras kepalanya meminta Om Eka pulang. Mengajak serta aku yang ingin menemaninya malam ini. Setidaknya perempuan itu masih ada yang menjaganya meski di beranda rumah sakit sekalipun.


"Nggak, Mas. Mas Araz pulang saja sama Ayah. Aku bakal jagain, Mama. Toh kalaupun maksa di sini, Mas Araz juga nggak boleh di dalam ruangan. Mas Araz mau nungguin aku di mana? Sudah, Mas Araz ikut Ayah pulang saja. Aku bisa jaga diri kok."


Kupandangi wajah Kanya yang terlihat kuyu. Perempuan itu tampak pucat. Akibat kesedihan yang menumpuk juga seringnya menangis. Apalagi tubuhnya juga menolak asupan makanan. Selera makannya seolah ikut lesu serupa semangatnya yang kian memudar dilumat kesedihan.


Tadi siang, saat aku mengajaknya ke kantin rumah sakit pun, Kanya hanya makan setengah mangkuk soto yang dihidangkan. Dia bilang lidahnya terasa pahit. Dan menolak ketika aku memesankan teh manis hangat untuk memulihkan tenaganya. Dia beralasan jika malam harinya akan mencari makan saat lapar.


Nyatanya, hingga menjelang kepulanganku dan Om Eka, Kanya sama sekali tidak makan sesuap pun nasi. Dia menolak ajakanku saat menawarinya makan malam. Lagi-lagi dia berdalih akan mencari makanan jika merasa lapar.


"Di bawah ada mini market kok, Mas. Nanti aku cari sesuatu yang bisa mengenyangkan. Sudah, kalian balik saja. Aku yang akan temani Mama, malam ini. Jangan khawatir Ayah, aku baik-baik saja kok. Sudah, kalian balik aja sana!"


"Tapi kamu habis perjalanan jauh, Nak. Harusnya lebih banyak istirahat ketimbang, Ayah."


"Ayah juga sudah jagain Mama beberapa hari. Pasti juga sama lelahnya. Besok pagi gantian Kanya yang istirahat, tapi malam ini tolong, izinkan Kanya jagain Mama."


Perempuan itu masih saja keras kepala. Meski begitu, setidaknya aku bersyukur atas satu hal, peristiwa yang terjadi saat ini membuka hati Kanya untuk menerima kehadiran Om Eka sebagai ayah sambungnya. Perbincangan mereka menjelang petang tadi berakhir dengan pelukan hangat dan luluhnya hati Kanya menerima sosok Om Eka menggantikan posisi ayah kandungnya.


"Jaga diri kamu. Kalau gitu, Ayah sama Araz pulang ya?" pamit Om Eka hanya dibalas anggukan pelan oleh Kanya.


"Kalau ada apa-apa, cepat kasih kabar. Kamu juga bisa chat aku kapan saja kalau lagi suntuk. Sekiranya ngantuk, langsung tidur. Jangan sampai sakit!" petuahku justru membuat senyum Kanya mengembang.


"Iya, Mas. Kamu bawel banget sih. Sudah sana balik. Ditungguin Ayah, tuh." Kanya menunjuk dengan dagu sosok Om Eka yang menunggu di balik pintu.


"Ya sudah, aku balik dulu ya."


"Iya, Mas. Aku sudah kasih kabar ke Damar buat nganterin barang-barang Mas Araz, ke rumah. Dia bilang tadi sudah mau on the way. Mungkin sekarang dia sudah di rumah."


Aku tersenyum menanggapi pernyataan Kanya. Sebelum keluar dari ruangan Tante Sukma, aku mencium sekilas pucuk kepala perempuan itu.


"Jaga diri, jangan sampai sakit," ucapku membuat senyum Kanya lagi-lagi mengembang. Aku suka melihatnya banyak tersenyum.


"Iya, Mas."


Aku benar-benar pergi saat Om Eka membuka pintu dan mengajakku pulang. Meninggalkan Kanya yang tampak lesu dan kembali tidak bersemangat saat aku melangkah keluar ruangan. Jika seperti itu, bagaimana aku bisa tega meninggalkannya sendirian?


***


Mataku tidak bisa terpejam. Hampir pukul 12 malam saat aku melirik jam di layar gawaiku. Sejak tadi aku mencoba mengirimi Kanya pesan, tetapi belum ada tanda-tanda perempuan itu membaca pesan yang kukirimkan. Perasaanku tidak nyaman. Aku takut telah terjadi sesuatu pada Kanya. Apalagi saat ingat dia belum makan apa pun sejak siang.


Alcatraz


Kanya, apa kamu sudah tidur?


Alcatraz


Nya, semua baik-baik saja 'kan?


Pesanku belum juga terbalas. Hingga sebuah notifikasi muncul di layar gawaiku. Pesan dari Kanya.


Anya


Belum Mas, aku masih bangun. Maaf, aku baru pegang HP. Dari tadi nemenin Mama ngobrol.

__ADS_1


Aku tak membantah pernyataan Kanya. Menurut sebuah penelitian, katanya untuk merangsang kesadaran orang yang sedang koma, aku perlu sering-sering mengajaknya berbicara. Mungkin itu jugalah yang dilakukan Kanya demi membuat Tante Sukma segera siuman.


Alcatraz


Kalau lelah, istirahat ya, Nya. Jangan paksa buat tetap terjaga. Kamu juga jangan sampai sakit.


Anya


Iya, Mas.


Alcatraz


Jadi makan apa tadi?


Tidak lagi ada balasan. Hingga lama aku menunggunya, tetapi tetap tidak ada balasan dari Kanya. Pikiran buruk kembali menggangguku.


Ting ...


Sebuah pesan membuatku bergegas membuka kunci layar gawai. Berharap Kanya yang mengirimkan pesan, tetapi justru nama Putra yang muncul. Sedikit malas, aku membuka ruang obrolanku dengan laki-laki itu.


Putra Mahameru


Gimana kabar Kanya, Bang? Dia baik-baik saja 'kan? Aku tanya Papa, tapi belum ada balasan sampai sekarang.


Alcatraz


Nggak perlu khawatir, Kanya baik-baik saja. Ada aku.


Balasku tanpa basa-basi. Aku tahu, di masa depan Putra pasti akan menjadi kakak iparku jika Kanya mau menjadi teman hidupku. Meski begitu, entah mengapa masih ada perasaan tidak rela saat mengetahui fakta bahwa vokalis Nada Sumbang itu, akan menjadi bagian dari keluargaku di masa depan. Terlebih fakta bahwa Kanya pernah menjadi kekasih Putra. Sungguh, ini sebuah ikatan aneh yang terjadi. Dan, aku tidak pernah membayangkan sama sekali akan terikat dalam situasi seperti ini.


Ting ...


Putra Mahameru


Makasih sudah jagain Kanya buatku, Bang. Jika itu kamu, aku bisa benar-benar rela melepas Kanya. Sori, aku nggak bisa menyangkal jika masih memendam perasaan sayang sama Kanya. Tapi mulai detik ini, aku akan sungguh-sungguh merelakan Kanya. Aku tahu, dia berhak bahagia. Dan itu cuma bersamamu, Bang. Sori.


Pengakuan panjang Putra membuatku syok. Ternyata laki-laki yang mengaku telah rela menerima Kanya sebagai adik sambungnya, masih menjadi ancaman buatku. Dadaku berdegub kencang. Rasa panas tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhku. Aku cemburu. Pada kakak kekasihku yang pernah menjadi mantan pacarnya.


Layar gawaiku masih menyala. Membuka ruang obrolanku dengan Putra tanpa aku tahu harus membalas bagaimana. Pernyataan laki-laki itu sungguh membuatku terpaku. Bahkan rasanya otakku mendadak tidak sanggup diajak untuk berpikir jernih.


Putra Mahameru


Sori, Bang. Aku nggak bermaksud apa-apa dengan mengatakan ini. Aku hanya bersyukur kalian saling menemukan. Dan, aku semakin yakin kalau kalian bisa saling menguatkan. Bagaimanapun aku yang melihat bagaimana putus asanya Kanya saat kamu menghilang tiba-tiba. Bahkan dulu, dia nggak pernah sekhawatir itu saat aku sengaja menghilang. Aku tahu, kalian tulus saling mencintai. Maka aku akan berdiri dengan peranku sebagai kakak yang mendukung kalian.


Astaga, apa pula maksud Putra mengatakan semua ini padaku. Saat ini. Lewat chat room dan tidak mengatakan langsung padaku. Apa ini semacam ujian?


Dengan frustrasi aku mengacak-acak rambutku dan memutuskan untuk tidur. Tak berniat membalas pesan Putra yang sesaat mengabarkan jika dia akan pulang. Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap atau menghadapi laki-laki itu.


***


Ketukan di pintu membuatku seketika terjaga. Matahari sudah menerobos masuk lewat celah jendela. Mataku masih terasa berat. Kepalaku pun terasa pusing. Entah pukul berapa aku baru benar-benar bisa tidur. Pesan Kanya yang tidak terbalas, juga pengakuan Putra yang tiba-tiba, membuatku tidak bisa tidur semalaman.


"Nak, kamu sudah bangun?" Suara Om Eka terdengar dari balik pintu saat aku mencoba mengumpulkan kesadaran.


"Iya Om, aku sudah bangun," sahutku tidak ingin membuat Om Eka menunggu jawaban.


"Maafkan Om kalau mengganggu tidurmu, Nak, tapi kita harus segera ke rumah sakit."

__ADS_1


Suara Om Eka terdengar lagi. Aku bergegas menuju pintu dan membukanya saat Om Eka mengatakan akan menuju rumah sakit. Entah mengapa, perasaanku mengatakan telah terjadi hal buruk pada Kanya.


"Kanya kenapa, Om?"


Raut Om Eka terkejut saat mendengar pertanyaanku.


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Kanya ... ah, lupakan. Terkadang cinta memang selalu punya cara ajaib." Om Eka tersenyum sambil menatapku. Lalu katanya dengan muka serius,"Kanya pingsan. Suster yang merawat Sukma, menemukan Kanya nggak sadar saat mengecek kondisinya. Sekarang dia sudah dibawa ke ruang gawat darurat. Om harus segara ke sana sebagai wali yang dekat dengan Kanya."


Otakku tidak sanggup mencerna dengan benar informasi yang disampaikan Om Eka. Namun, aku bergegas menyambar jaket yang tergeletak di sisi ranjang dan mengikuti langkah laki-laki yang sudah lebih dulu menuju garasi.


Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Pikiranku masih dipenuhi dengan bagaimana kondisi Kanya saat ini. Aku ingin bertanya, kapan kira-kira Kanya pingsan sampai suster menemukannya, tetapi tak kuasa mengatakannya. Jika pikiran buruk yang mengganggu sejak tadi malam benar adanya, itu akan membuatku semakin bersalah pada Kanya. Mengapa aku tidak bersikeras untuk tetap tinggal.


"Tenang, Nak. Percayakan jika semua akan baik-baik saja."


"Iya, Om."


Tidak lama mobil yang dikendarai sopir pribadi Om Eka berbelok ke rumah sakit tempat Tante Sukma dirawat. Aku bergegas turun saat mobil belum benar-benar berhenti. Di belakangku, aku mendengar Om Eka berteriak memintaku untuk menunggu. Namun, langkahku justru semakin tergesa menuju resepsionis untuk menanyakan di mana Kanya dirawat.


Seorang suster mengantarkan ke tempat Kanya berbaring, tepat saat Om Eka memasuki ruang gawat darurat. Laki-laki itu mengikuti kami dari belakang dan segera pergi saat memastikan Kanya masih belum siuman. Katanya dia akan mengurus administrasi agar Kanya bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan.


Tak lama, Om Eka sudah berdiri di sampingku yang masih menggenggam tangan Kanya. Laki-laki itu menepuk pundakku.


"Dia kelelahan. Tubuhnya kekurangan cairan dan tekanan darahnya cukup rendah. Kata dokter, nggak lama lagi dia pasti akan siuman. Sebentar lagi juga sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan," kata Om Eka menjelaskan.


"Makasih, Om."


Baru saja Om Eka hendak beranjak, mata Kanya bergerak pelan. Perempuan itu tersadar. Pandangannya tertuju pada Om Eka, lantas padaku. Senyumnya lemah.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak. Araz bingung sekali saat dengar kamu pingsan. Sudah Ayah bilang 'kan, kalau nggak kuat jangan memaksakan diri. Jadinya kamu harus dirawat juga sekarang," kata Om Eka tidak bisa membuat Kanya membantah. Perempuan itu hanya diam dan mendengarkan perkataan ayahnya.


"Maafin Kanya, Yah. Kanya juga nggak tahu kalau bakal pingsan gini dan malah ngerepotin Ayah."


"Ayah nggak merasa kamu repotin kok. Yang penting itu, kamu sehat-sehat. Araz, Om minta tolong jagain Kanya ya. Om mau lihat keadaan Mama Kanya dulu," pinta Om Eka setelah berkata pada Kanya.


Laki-laki itu memohon izin, lalu meninggalkan kami berdua di ruang UGD. Beberapa suster masih menyiapkan pemindahan ruangan buat Kanya dan meminta kami untuk menunggu.


Selepas Om Eka pergi, aku menyentil kening Kanya pelan. Perempuan itu sudah membuatku khawatir sejak malam. Dan, pagi-pagi semakin membuatku khawatir saat tahu jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Ingin rasanya aku memarahi Kanya. Namun, dia bukan lagi anak kecil yang pantas mendapat perlakuan seperti itu. Dengan gemas, aku hanya bisa mengecup kening perempuan itu setelah berdebat dengannya.


"Kalau sudah mencapai batasmu istirahat, Kanya. Aku nggak mau kamu sakit. Kamu harus selalu sehat buat dukung kesembuhan Tante Sukma," kataku kembali melembut sambil menyelipkan anak-anak rambut di belakang telinga Kanya. Senyum perempuan itu mengembang. Sebelum akhirnya bibir kami saling bertautan.


"Mas Araz iseng banget sih. Gimana kalau ada perawat yang masuk?" tanya Kanya begitu bibir kami tidak lagi saling bertemu.


"Biar saja. Kita nggak melanggar aturan 'kan?"


"Iihh ... itu sih jelas mengganggu kenyamanan umum, Mas."


"Tapi kamu suka 'kan?" tanyaku menggoda Kanya yang sudah memerah pipinya. Senyumku mengembang. Perempuan itu paling cantik jika sedang tersipu.


"Iseng banget sih," katanya sambil menahan senyum malu-malu.


"Teruslah tersenyum, Nya. Tersenyumlah sampai matahari iri saat melihat senyummu. Sebab ada yang cerah selain sinarnya yang sampai ke bumi."


"Dih, mulai lagi deh gombalnya. Mas, Mas Araz tuh memang hobi banget gombalin cewek ya? Rasanya kok ahli banget sih bikin rayuan gitu?" tanya Kanya sok berlagak sewot meski pada kenyataannya dia tetap mengulum senyum.


"Barusan bukan gombalan, Nona. Harusnya memang lebih banyak tersenyum biar energi positif selalu menyelimuti kamu. Lihat 'kan, kamu jadi terlihat lebih baik setelah tersenyum."


Kanya membuang muka. Aku tahu dia menyembunyikan tawa.

__ADS_1


Ujung bibirku pun ikut mengendur. Dalam hati aku berjanji, akan tetap menjaga agar senyum di wajah Kanya tak pernah memudar.


Sungguh kamu begitu cantik saat tersenyum, Nya. Dan aku rela menggantinya dengan apa saja asal kamu tetap tersenyum. Teruslah tersenyum, Nya. Tersenyumlah sampai matahari iri jika senyummu lebih cerah, bahkan lebih hangat. Tersenyumlah, hapus semua lara agar menjadi bahagia.


__ADS_2