Pulang

Pulang
Pulanglah Dia Si Anak Hilang*


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku tak langsung mengiyakan ajakan Araz. Masih ada hal yang mengganggu pikiranku. Perihal pekerjaan, perihal izin yang harus kuajukan setelah cuti panjang, deadline yang menumpuk, dan masih banyak hal lainnya. Namun, di sisi lain, kalimat Om Eka masih terus terngiang. Tentang bagaimana wanita itu tak putus mendoakan aku. Tentang bagaimana wanita itu merindu setiap waktu, tapi terlalu gengsi untuk memohon dan mengakui jika memang perlu. Juga tentang kemungkinan jika wanita itu akan berubah pikiran saat aku pulang.


"Nya, apa ada yang menganggu pikiranmu?"


Pertanyaan Araz membuyarkan lamunanku. Lelaki itu duduk di seberang meja makan sambil meletakkan sepiring lauk yang baru selesai dimasaknya. Entah apa. Mendadak indera pengecapku seolah kehilangan selera meski aroma yang tercium begitu nikmat.


Araz yang menyadari jika aku bimbang, meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Dipandangnya wajahku yang tertunduk menyembunyikan raut masam dan menahan air mata. Aku tak ingin dia melihatku menangis lagi.


"Hanung pasti ngerti kok. Toh ini bukan hal yang direncanakan. Bilang aja. Atau perlu aku yang bilang sama Hanung?"


"Nggak usah, Mas. Aku ... "


Kebimbangan masih kuat mencengkram hatiku. Aku tak sanggup mengungkapkannya pada Araz, jika aku masih menumpuk kecewa yang telah membatu menjadi dendam pada wanita itu. Pada awal permasalahan di antara kami muncul hingga memaksaku pergi dari rumah, sampai keputusan sepihak yang tak pernah dibicarakannya denganku. Heh, apa pula yang kuharapkan?


"Nya, aku nggak pantas sebenarnya ngomong gini. Aku pun bukan anak yang berbakti sama orang tua, tapi apa aku sudah pernah cerita tentang Adhyaksa?"


Pertanyaan Araz membuatku mengerutkan kening. Selama kenal dengan Araz, belum pernah aku mendengar sekalipun tentang Adhyaksa. Lantas apa kaitannya Adhyaksa dengan permasalahanku kali ini?


"Dia adikku. Ingat kan, kalau aku punya adik yang sudah meninggal?"


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Araz. Lelaki itu memang pernah cerita jika memiliki adik yang sudah meninggal akibat penyakit yang sama dengan yang dideritanya, tapi belum sekalipun Araz menyebut namanya. Aku bahkan sempat mengira jika Arezlah adiknya.

__ADS_1


Araz masih menggenggam tanganku erat. Matanya yang sebesar biji almond berwarna kecoklatan itu menatapku lekat. Sesekali ia merapikan anak-anak rambutku yang menutupi mata. Sebelum akhirnya dia bercerita.


"Dulu, aku pernah memiliki penyesalan pada Aksa. Kami tumbuh sebagai saudara yang jarang ketemu. Padahal, Aksa selalu ingin menghabiskan banyak waktu bersamaku. Tapi aku lebih suka memberi makan egoku dan nggak pernah perhatian sama dia. Aku lebih suka mengejar mimpiku dan nggak pernah bertanya apa yang dia butuhkan. Pikirku, toh sudah ada Ayah sama Eomma yang lebih bisa mencurahkan kisah sayang pada Aksa. Nyatanya Aksa masih membutuhkan aku sebagai kakaknya. Sampai akhirnya Tuhan sama sekali nggak pernah ngasih aku kesempatan saat malam Aksa kambuh dan memohon ingin bertemu denganku. Aku justru mengerjakan kerjaan yang sudah tenggang waktu. Berpikiran, besok sajalah ketemu Aksa. Tanpa berpikir sedikit pun jika tubuh yang sudah kaku yang bakal kujumpai keesokkan harinya."


Cerita Araz panjang lebar. Lelaki itu menjeda ceritanya. Namun, aku mulai paham arah pembicaraan Araz. Seperti juga yang Om Eka bilang, mungkin ini memang kesempatan yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki segalanya.


Sesaat aku mengingat Putra. Kakak sambungku itu pernah suatu ketika bercerita jika ingin menjagaku dan satu lagi adik dalam perut Mama. Meski ia pun belum sepenuhnya memaafkan perbuatan mereka di masa lalu, tapi dia bilang jika mereka juga berhak bahagia. Dia berharap kehadiran sosok mungil yang ingin ia jaga pula, bisa menjadikan segala hal lebih baik. Bahkan sebelum peristiwa naas itu terjadi padanya, dia sempat memintaku untuk pulang.


Dering gawai mengalihkan perhatianku. Nama Putra muncul di layar gawai. Pasti Om Eka sudah berhasil menghubungi lelaki itu dan kabar tentang Mama sudah sampai padanya. Ragu-ragu aku menekan tombol hijau di layar gawai.


"Boleh aku yang bicara sama Putra?" tanya Araz. Tanpa berpikir dua kali, aku menyerahkan benda pipih itu pada Araz. "Halo Putra, ini Araz. Ya, jangan khawatir. Baik. Makasih. Ya, kami akan segera pergi."


Percakapan singkat itu pun sudah kutebak membicarakan tentang perkara apa. Terlihat jelas dari raut muka Araz yang terlihat tegang.


Tangisku pecah lagi. Mendengar kabar yang disampaikan Putra membuat tubuhku gemetar. Rasanya seluruh tulang tak kuat menahan beban tubuhku sendiri. Seolah ada yang ditarik paksa meninggalkan raga. Tak bisa kupungkiri, jika aku juga rindu. Namun, dendam sudah terlanjur membatu.


Araz membantuku bangkit dari kursi. Lalu membawaku dalam pelukannya yang terasa nyaman. Meski tak juga menghilangkan gemetar akibat mengetahui kondisi mama yang baru saja disampaikan Putra.


"Aku bersamamu, ayo kita hadapi ini bersama. Kamu nggak sendirian, Kanya."


Tanpa bisa berucap, aku hanya mampu memeluk tubuh Araz dan menumpahkan semua air mata dalam pelukan lelaki itu.


***

__ADS_1


Pada akhirnya aku berada di sini lagi. Dalam perjalanan kereta malam bersama lelaki yang sama dengan akhir tahun lalu saat Mas Hanung memintaku libur panjang. Jika dulu kami masih canggung dan membicarakan pekerjaan untuk mencairkan suasana, saat ini kami lebih banyak diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Hanya saling bersandar dan menautkan jemari untuk menghangatkan sekaligus menguatkan. Lebih tepatnya, akulah yang mencari kehangatan melalui genggaman tangan Araz. Hawa dingin AC bukan hanya menggigilkan badanku, melainkan juga hatiku. Sebelum benar-benar membeku, aku ingin memeluknya agar tidak jadi kaku. Hatiku. Sudah lama sekali ia mengeras bagai batu.


Lewat genggaman tangan Araz pula, aku mencari kekuatan menghadapi kenyataan yang masih abu-abu. Aku pun tak pernah tahu, apa yang akan terjadi setelah episode ini. Bayanganku tentang mama mengabur. Aku tak mau menebak pun mengandai-andai apa yang kemudian terjadi.


Pada akhirnya pula, aku serupa anak hilang yang digambarkan Andre Gide yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar itu. Meskipun tidak benar-benar sama. Kami memang sama-sama kabur dari rumah. Memuaskan hasrat untuk mencari keakuan. Namun, si anak hilang yang digambarkan Andre memiliki keterikatan pencarian pada Tuhan.


Sedang aku?


Aku pengembara dunia yang terlalu pengecut menghadapi masalah dan memutuskan untuk melarikan diri. Mengubur dendam yang sebenarnya atas ulahku sendiri. Heh, benarkah atas ulahku sendiri? Pada kenyataannya juga mereka turut ikut andil membentuk keakuanku yang seperti ini bukan?


Heh, bagaimanapun aku menerima, sepertinya dendam itu memang masih tersisa di sudut hati paling kelam.


Jika aku memang si anak hilang yang digambarkan Andre, maka dalam hati aku hanya memohon, aku menemukan Tuhan dan Tuhan menemukanku. Menerima dengan ikhlas setiap apa yang telah Ia berikan. Sebagai proses menuju pendewasaan yang tak terhitung oleh angka. Mungkin juga aksara.


Dan, perjalanan pulang kali ini benar-benar kesempatan yang diberikan Tuhan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Aku tak mengharapkan lebih. Aku pun tak mau menuntut terlalu banyak padaNya. Aku hanya mengharapkan kesempatan itu benar-benar masih ada.


.


.


.

__ADS_1


*Chairil Anwar diterjemahkan dari karya Andre Gide


__ADS_2