
Renjana Alcatraz
Setiap anak, pasti pernah mengalami fase bertengkar dengan orang tuanya. Entah perkara sepele karena pulang larut malam, atau hal lain yang saling bertentangan. Jika tidak ada yang dipertentangkan, mana mungkin akan terjadi selisih paham bukan?
Mungkin, hampir seluruh anak yang ada di muka bumi ini - aku pun tidak berani jamin hal itu benar atau salah sebab aku hanya memperkirakannya, pernah bertengkar dengan orang tua mereka. Sebab tidak semua anak bisa 100 persen menyetujui apa yang dititahkan oleh orang tua mereka. Anak cenderung ingin melakukan hal yang mereka anggap benar karena bukan robot dan mereka memiliki pikiran serta perasaannya sendiri.
Begitu juga denganku. Hubunganku dengan Ayah tidak pernah baik, meski laki-laki yang telah menyumbangkan benihnya itu tidak pernah bisa benar-benar marah menghadapi ulahku. Selalu ada momen di mana kita bisa jadi dua kawan yang saling mendukung dan saling merindukan.
Namun, melihat hubungan Kanya dengan Tante Sukma, aku menyadari satu hal, bahwa tidak semua pertengkaran antara anak dan orang tuanya bisa mudah diselesaikan. Perempuanku, perempuan yang tercipta dari luka itu, benar-benar tidak mudah menerima pertengkaran dengan ibunya di masa lalu. Bahkan masih berlanjut sampai sekarang.
Tidak mudah membujuk Kanya untuk segera bertemu wanita yang telah melahirkannya itu, meski sudah berada di kota yang sama. Perempuanku - yang tercipta dari luka itu, memilih pulang ke rumah Almira daripada langsung menemui ibunya di rumah sakit. Walaupun aku telah berusaha membujuknya agar menemui ibunya dulu. Bagaimanapun aku tidak mau melihat Kanya menyesal. Sekalipun bukan itu hal yang kuharapkan. Aku hanya ingin menjaga hatinya agar tidak semakin terluka jika sesuatu yang buruk terjadi.
Aku merasa gagal. Janjiku pada Putra untuk membawa Kanya pulang nyatanya tidak semudah mengucapkannya. Apa lagi semudah membalikkan telapak tangan seperti kebanyakan orang bilang. Sungguh, tidak semudah itu mencairkan dendam yang sudah bertahun-tahun tinggal dalam sudut gelap hati Kanya. Dan aku, tidak ingin dendam itu semakin menggerogoti sisi kemanusiaan perempuanku. Maka, kubujuk sekali lagi sebelum mobil yang dikendarai utusan Om Eka sampai di rumah Almira.
"Nya, kamu sungguh nggak mau lihat Mama kamu dulu?" tanyaku hati-hati. Aku tahu Kanya sedang sensitif dan aku tidak mau niat baikku justru membebani perempuan itu. Atau justru berbalik menyerangku.
Kanya tidak menjawab pertanyaanku untuk beberapa lama. Tetapi dia sedang tampak berpikir. Seperti menimbang bimbang antara mengikuti kata hati atau mempertahan ego yang selama dia pertahankan mati-matian.
"Nggak usah Mas, kita langsung ke rumah Almira saja," kata Kanya masih dengan keteguhan hati yang sama.
Aku tidak membantah jawaban Kanya, meski dalam hati ingin rasanya memaksa perempuan itu. Apalah dayaku. Aku tidak lebih dari orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan Kanya dan tidak tahu menahu seperti apa hubungan ibu dan anak itu. Sekalipun kini posisiku telah menjadi pacar Kanya, tetap saja aku tidak bisa memaksakan keteguhan hati atas pilihannya.
Senyumku mengembang. Aku meraih tangan perempuan itu dan mencium punggung tangannya. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa apa pun keputusannya aku akan tetap berdiri mendampingi perempuanku itu. Perempuan yang tercipta dari luka, milikku.
__ADS_1
"Ya sudah, aku nggak bakal paksa kamu. Tapi boleh kamu minta satu hal sama kamu?"
"Apa?"
"Besok, kamu harus segera menemui, Tante Sukma. Ada hal yang harus benar-benar kalian tuntaskan, Kanya. Setidaknya, Tante Sukma bisa memiliki kekuatan untuk melalui semua yang dia alami.
Aku memang belum pernah ketemu beliau. Tapi aku yakin satu hal, nggak pernah ada orang tua - apa lagi ibu - yang benar-benar tega mendorong anaknya pergi menjauh dari rumah yang terasa nyaman," kataku sambil terus menggenggam tangan Kanya yang terasa dingin. Mungkinkah kebekuan hatinya telah sampai pada kulit ari perempuan itu?
"Iya, Mas. Besok pagi-pagi sekali aku pasti ke tempat ... Mama."
Ucapan Kanya terjeda. Seperti berat meloloskan kata Mama dari kerongkongannya. Sedang mendung belum juga pergi meski hujan telah jatuh berkali-kali di wajah perempuan yang tercipta dari luka itu. Aku tidak suka. Wajahnya saat murung melenyapkan bias matahari terbit dari sorot kedua mata Kanya. Meredup, seakan kehilangan semangat untuk hidup.
"Boleh aku minta satu hal lagi?" tanyaku saat kami sama-sama kembali membisu.
"Asal itu bukan hal yang sulit kulakukan."
"Boleh, jangan lagi menangis? Setidaknya cukup sampai di rumah Almira. Jangan lagi ada air mata. Bersandar saja padaku, dan tidurlah yang nyenyak. Nggak apa jika bebanmu terasa berat saat nanti membuka mata, tapi untuk saat ini, saat bersamaku, jangan rasakan seluruh beban yang memberatkanmu. Boleh?"
Sebagai jawaban, Kanya menarik ujung bibirnya dan bersandar padaku. Sesaat dengkuran halus kembali terdengar. Aku tahu perempuan itu begitu lelah. Dan, membuatnya tidur hanyalah hal yang bisa kulakukan sementara.
Aku mengecup kening perempuan itu.
Tuhan, kalau saja aku bisa menanggung sedikit rasa sakit yang dia rasakan, Engkau boleh membaginya denganku. Namun, jika itu mustahil, maka biarkan aku tetap menjadi tempatnya bersandar saat ia merasa lelah dan lemah menghadapi semua hal, apa pun itu.
__ADS_1
***
Semua orang menyayangi Kanya. Pun dengan sepasang suami-istri yang kini sedang memeluknya. Aku tahu, Kanya dilimpahkan berkah melalui orang-orang yang peduli padanya. Namun, sikap keras perempuan itu ternyata lebih tinggi dari yang aku bayangkan. Ucapan tulus Damar tentang Tante Sukma, belum juga mengubah keputusan Kanya untuk segera menuju rumah sakit. Hingga Damar meminta Kanya beristirahat dan mengantarku ke kamar tamu yang sama dengan yang dulu pernah kutempati.
"Bang, kamu nggak terganggu sama sifat Kanya yang keras kepala 'kan?" tanya Damar tiba-tiba saat Kanya dan Almira sudah tidak terlihat di ruang keluarga.
"Nggak, aku mencintai Kanya dengan semua hal yang melekat padanya. Kadang sifat keras kepalanya itu yang menunjukkan kalau dia sedang nggak apa-apa, tapi merasa paling mampu menghadapi semua sendirian. Padahal dia orang yang paling rapuh yang pernah aku kenal."
"Syukur deh kalau gitu. Aku nggak tahu Kanya sudah cerita tentang ini atau belum, tapi for your information saja sih Bang. Hubungan Kanya sama Tante Sukma sudah lama nggak baik. Bahkan sebelum Tante Sukma memutuskan menikah sama Om Eka. Sifat mereka nggak jauh beda sebenarnya, dan aku yakin Kanya juga pasti sudah cerita sama Bang Araz. Aku ngomong gini bukan bermaksud apa-apa, Bang. Aku cuma memastikan dia telah bersama orang yang tepat."
"Oh, jadi kamu barusan mengujiku?" tanyaku pura-pura tersinggung. Aku tidak menyangka saja, jika Damar memang benar-benar tulus peduli sama Kanya, murni sebagai sahabat. Hal yang jarang sekali aku lihat bisa terjalin antara perempuan dan laki-laki.
"Ah, nggak gitu juga, Bang. Sori aku kelewatan, tapi maksud aku ... ."
Aku tertawa melihat respon Damar yang salah tingkah. Kutepuk pundak laki-laki itu dan meyakinkan padanya jika aku bukanlah pilihan yang salah bagi Kanya. Pun bagiku, bukan suatu kesalahan dengan memilih perempuan yang tercipta dari luka itu.
Justru setiap kali aku memutuskan membaca Kanya, semakin aku dibuat kagum oleh perempuan itu. Ada hal-hal yang terkadang di luar nalarku, tetapi Kanya selalu berhasil membuatku jatuh cinta dengan semua sifat atau apa pun yang tersurat juga tersirat dari pikirannya. Dan, aku suka. Aku suka membaca perempuan itu dengan segala kerumitannya.
"Tenang saja, Kanya selalu bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali, bahkan hanya dengan satu kalimat yang tiba-tiba meluncur dari bibirnya. Sifatnya yang terkadang spontan, itu hal yang membuatku semakin jatuh dalam pesonanya."
"Aku nggak sangka kalau Bang Araz ternyata sebucin itu sama Kanya. Dia beruntung bertemu orang yang tepat setelah patah hatinya yang membuatnya hingga sekarat."
"Kami sama-sama beruntung sudah dipertemukan takdir," jawabku membuat Damar tersenyum lebar. Dia menepuk pundakku sebelum memutuskan beranjak dan memintaku untuk istirahat.
__ADS_1
Katanya,"Besok akan jadi hari yang berat, Bang. Kamu harus banyak istirahat malam ini selagi sempat."
Aku hanya balas tersenyum sambil menutup pintu kamar. Sunyi. Namun, ada yang berisik tidak mau berhenti sejak tadi. Debar jantungku. Selalu berisik jika aku terlalu keras memikirkan sesuatu. Apalagi jika itu berkaitan dengan Kanya. Seakan menyambut esok merupakan tantangan yang tidak sabar kujalani akan bagaimana jadinya nanti.