Pulang

Pulang
Akhir Perjalanan


__ADS_3

Renjana Kanya


Hari ini kami memutuskan kembali ke Jakarta, setelah Mas Hanung mengirimkan pesan suara yang mengancam akan merobohkan gedung MediaPena jika kami tak segera balik ke Jakarta. Katanya,"Raz, gue minta lo jemput Kanya, bukan buat bulan madu. Balik nggak lo? Mentang-mentang bos, bisa seenaknya aja lo."


Kami tertawa saat mendengar ocehan Mas Hanung yang dikirimkan ke nomor Araz. Rencana balik yang seharusnya dua hari lagi, dipercepat satu hari. Beruntung Araz belum memesan tiket pesawat dan memilih memesan tiket kereta untuk perjalanan esok harinya. Jadi di sinilah kami, tempat pertama yang kami injak beberapa bulan lalu saat melakukan perjalanan pulang.


Senyumku mengembang. Rasanya sudah lama sekali aku tak tersenyum selepas ini. Terlalu banyak luka yang membuatku tak sanggup bersyukur dan melupakan hal yang sudah diberikan Tuhan. Hanya sanggup mengeluh tanpa bisa menerima apa yang terjadi di balik semua peristiwa yang kualami. Padahal, di balik itu semua begitu banyak pelajaran yang kuterima. Bahkan saat memutuskan untuk menerima dengan lapang dada, semua perasaan luka itu justru membuatku lebih bahagia.


Tuhan memang Maha Adil. Setelah melewati ratusan hari dengan berlinang air mata, Dia mengirimkan pengganti yang luar biasa. Dalam wujud Mama - yang selama ini kuingkari keberadaannya. Dalam wujud Ayah Eka, Victor, dan juga Putra - yang menjadikan aku kembali utuh. Dan, dari semua itu, Tuhan mengganti hal lain dengan begitu sempurna, dalam wujud Araz.


Kupandangi laki-laki yang sedang berdiri mencangklong tas punggung di sampingku. Hari ini dia terlihat keren. Atau memang dia selalu keren setiap saat dan aku luput memperhatikannya? Entahlah, bagiku hari ini Araz tampil dengan maksimal. Kaus putih dipadu jaket jeans warna biru muda dipasangkan dengan celana jeans berwarna lebih gelap dari atasannya. Rambutnya yang mulai panjang dibiarkan belah tengah. Sempurna.


Iseng, aku mengambil gawai dari kantong celana dan memosisikan angle yang tepat untuk menangkap gambarnya. Suasana stasiun yang lengang tak gaduh seperti biasa, terlihat sangat pas dengan tampilannya saat ini jika diabadikan lewat kamera.


"Mas Araz, lihat sini sebentar dong," panggilku membuat laki-laki itu menoleh. Di saat bersamaan aku mengambil posenya yang membuatku juga salah tingkah ketika melihat hasilnya.


"Gimana, bagus nggak?" Pertanyaan laki-laki itu membuatku semakin salah tingkah. Kurasakan wajahku memanas. "Duh, kamu sampai terpana gitu. Pasti cakep banget sih ini hasilnya."


"Itu sih karena aku yang mahir ambil angle gambarnya," kataku menyombongkan diri. Walaupun begitu tak urung juga tetap membuatku berdebar.


"Kalau gitu, coba sini kasih lihat."


"Nggaklah, kalau dikasih lihat ke Mas Araz nanti kekuatan mantranya bisa hilang," jawabku asal. Laki-laki itu mengerutkan kening.


"Tapi kan aku yang jadi model tuh. Masa nggak boleh lihat hasilnya. Kasih tahu coba sini."


Tepat ketika Araz hampir merebut gawai dari tanganku, kereta api yang akan membawa kami ke Jakarta telah mendekati stasiun. Momen yang tepat untuk menghindar. Aku bergegas menuju jalur tiga sesuai dengan pengumuman dari pengeras suara di atas pintu masuk stasiun.


"Eh, kok malah kabur sih," teriak Araz sayup-sayup tertangkap gendang telingaku. Laki-laki itu tersenyum saat aku menoleh kepadanya. Dan, aku menjulurkan lidah sebagai balasan.

__ADS_1


...****************...


Di atas kereta yang akan membawa kami ke Jakarta, diam-diam kuamati lagi hasil jepretanku.



Araz memang keren. Dilihat dari sisi mana pun, dia benar-benar mirip dengan pemeran utama laki-laki di film Kim Ji Young itu. Tak heran kalau siapapun yang melihatnya pasti bakal terpana. Meskipun ada satu dua orang yang jelas-jelas berteriak histeris setiap kali bertemu dengan laki-laki itu yang selalu ditanggapi dengan sombong. "Risiko orang ganteng, hal biasalah itu." Begitu katanya setiap kali ada perempuan yang berteriak histeris saat bertemu dengannya.


"Oh, jadi itu hasil jepretan kamu tadi? Cakep banget ya, pantes sampai diperhatiin mulu," kata Araz tiba-tiba mengagetkanku. Laki-laki itu bersandar di tempat dudukku dan mengintip dari balik punggung.


"Kok Mas Araz cepet banget sih baliknya," protesku saat menyadari kehadiran Araz. Laki-laki itu semula pamit ke toilet untuk meloloskan sesuatu yang mengganggu perutnya.


"Oh, jadi berharap aku lama di toilet nih?"


"Ya nggak masalah sih, asal bisa punya waktu lebih lama buat lihat galeri," jawabku asal sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela. Walau sebenarnya hal yang kulakukan itu adalah untuk menyembunyikan wajahku yang terasa panas.


"Kenapa lihat galeri kalau ada orang yang asli?"


"Udah, lihatin orangnya aja. Mumpung ada ini. Gratis kok, nggak dipungut biaya apa pun."


Aku melirik sebal ke arah Araz. Sementara laki-laki itu tertawa sambil duduk di sampingku. Untung kami mengambil kelas eksekutif, jadi tidak begitu banyak orang yang memperhatikan kami.


"Mas Araz memang aslinya nyebelin gini ya? Kayaknya awal-awal kenal dulu tuh Mas Araz nih orangnya berkharisma, tegas, nggak suka basa-basi, tapi makin ke sini kok makin rese ya?" kataku begitu Araz duduk di bangkunya.


"Kamu suka yang mana?" tanya Araz justru membuatku melirik sebal kepadanya.


Kalau saja ini bukan tempat umum, rasanya aku ingin sekali mencubit bagian tubuhnya yang mana saja asal membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Semakin lama dia semakin mirip Mas Hanung yang suka iseng dan jahil. Ya, aku lupa kalau mereka berteman. Bagaimanapun pasti ada satu dua kemiripan di antara mereka yang menjadikan pertemanan itu awet sampai sekarang bukan?


"Aku lebih suka kalau Mas Araz tidur."

__ADS_1


Pada akhirnya aku menjawab pertanyaan Araz yang lebih mirip guyonan daripada pertanyaan serius yang memerlukan jawaban. Terbukti laki-laki itu hanya tertawa saat mendengar jawabanku.


"Ya udah kalau gitu aku tidur ya. Bangunkan kalau sudah sampai," katanya sambil menyelonjorkan kakinya yang panjang. Aku hanya melirik sebal dan melemparkan kulit kacang - bekas camilan yang dia makan selama di perjalanan. "Loh, kenapa? Katanya aku disuruh tidur?"


"Iya, tidur aja sana. Biar aku ngobrol sama nyamuk," kataku masih asal. Araz tertawa tanpa suara. Diam-diam dia menggeser duduknya lebih dekat dan mencium pipiku.


"Cie, ngambek. Aku sudah pernah bilang belum, kamu itu makin cantik kalau ngambek," godanya tak sanggup menyembunyikan rona merah di pipiku.


"Tahu ah, Mas Araz rese."


Laki-laki itu tertawa. Diputarnya tubuhku hingga kini kami saling berhadapan. Senyum laki-laki itu menghiasi bibirnya.


"Kalau udah di Jakarta, kita sempatkan pulang ke Bandung yuk. Aku mau kenalkan kamu sama Ayah dan Eomma. Biar kalau kamu ngambek aku bisa peluk kamu di mana pun," katanya dengan raut muka serius.


Sial, aku tak sanggup berkata-kata ketika menatapnya. Hanya mengangguk pasrah sebagai jawaban.


Aku tahu, perjalanan kita masih panjang. Ini baru permulaan. Langkah awal untuk mencapai akhir dari perjalanan. Namun, aku ingin mempercayainya, jika kita bisa mencapai tujuan bersama.


Araz menggenggam tanganku. Senyumnya masih mengembang. Dielusnya pucuk kepalaku saat memintaku tidur dipundaknya. Pun senyum di bibirku tak sanggup memudar. Bersamanya selalu membuatku merasa nyaman dan aman. Aku memang sudah tertawan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...*End*...


__ADS_2