
Renjana Kanya
Dering telepon membuyarkan hening di antara kami setelah membahas banyak hal tentangku, tentang Putra. Nama kontak Arlan yang pada akhirnya kuputuskan untuk kuganti muncul di layar gawai. Araz memberiku tanda agar segera menerima telepon dari keyboardist Nada Sumbang itu.
"Halo Nya, lo di mana?" suara Arlan terdengar panik begitu sambungan telepon terhubung.
"Ada di taman, gimana Lan?"
"Putra udah siuman, tapi benturan di kepalanya lumayan keras dan bikin ...."
Sebelum Arlan sempat menyelesaikan kalimatnya, aku memutuskan sambungan telepon. Sudah bisa kutebak apa yang terjadi pada Putra. Lelaki itu pasti mengalami trauma akibat kekerasan yang dia alami. Tak mudah memang membuatnya segera lupa tentang apa yang baru saja dia lihat jika itu berkaitan dengan kekerasan. Apalagi jika dia mengalami langsung kejadian itu.
Aku bergegas lari ke ruangan tempat Putra dirawat, diikuti oleh Araz. Lelaki itu juga tak membiarkan melepas tanganku selama kami gelisah menunggu laju lift yang entah mengapa terasa begitu lambat.
Ting ....
Begitu pintu lift terbuka, aku kembali berlari. Putra masih berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam saat aku tiba. Meski begitu, aku tahu dia tak benar-benar tertidur, sebab kudengar dia merintih pilu. Tubuhnya gemetar dan bergerak gelisah. Sementara Arlan dan Vika tampak berdiri kikuk mendampingi seorang dokter bersama dua perawat yang sedang memeriksa keadaan Putra. Salah seorang hampir saja menyuntikkan cairan ke tubuh lelaki itu, sebelum sempat kucegah.
"Dok, biar saya coba dulu. Nanti, kalau dia nggak juga tenang, saya akan panggil Dokter," kataku membuat lelaki separuh baya memakai jas snelli itu menatap ragu ke arahku. Bagaimanapun aku lebih tahu keadaan Putra. Kak Noah - sepupu Putra, juga sering berpesan agar tak selalu memberi Putra obat penenang jika memang tak benar-benar parah. "Percaya sama saya, Dok."
"Baiklah, segera panggil perawat agar menyuntikkan obat penenang jika Saudara Putra belum juga membaik kondisinya."
"Baik Dok, terima kasih," ucapku sambil berjalan ke arah Putra dan menggenggam tangan lelaki itu. Aku mendekatkan wajah, lantas berbisik di telinga Putra. "Hei, bangun dulu yuk. Tenang, kamu udah nggak apa-apa. Buka mata kamu, Putra."
Putra bereaksi mendengar suaraku. Meski tubuhnya masih gemetar, dia perlahan membuka matanya dan melihat keadaan sekitar. Saat tatapan kami bertemu, dia memelukku erat. Ketakutan masih tersirat di matanya.
"Aku takut, lelaki itu mukulin aku. Aku takut, Anya," rengeknya sepertinya anak kecil sambil terus memeluk tubuhku.
"Udah, kamu aman sekarang. Dia udah nggak di sini," ucapku menenangkan. Sementara tanganku tak henti membelai rambut Putra.
__ADS_1
Sesaat, aku melirik Araz yang berdiri di ujung tempat tidur. Meski menyangkal, aku bisa melihat amarah terpendam di kedua matanya.
***
"Kalian udah jadian?"
Pertanyaan itu terlontar dari bibir Putra saat kondisinya mulai membaik. Dia duduk bersandar di tempat tidur yang sudah setengah ditegakkan Arlan sebelumnya. Sementara teman satu band Putra itu, mengantarkan Vika pulang atas permintaanku. Meski awalnya perempuan itu menolak dengan alasan merasa bersalah pada Putra.
"Daripada itu, bisa lo jelasin maksud semua ini?" kataku balik bertanya sambil menunjuk lebam di beberapa bagian tubuh Putra yang terbuka. Lelaki itu hanya menarik ujung bibirnya sekilas.
"Cie, masih khawatir nih?" goda Putra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya menurut lo? Gimana coba nggak khawatir kalau tahu kondisi lo kayak gini? Adek macam apa gue kalau sampai tega liat kakaknya dipukulin orang. Lagian kok bisa-bisanya sih lo sampai kayak gini? Mau uji kekuatan? Baru berantem sama Araz aja udah kambuh semaleman, ini lagi, sampai masuk rumah sakit."
"Tunggu, dari mana kamu tahu kalau aku kambuh setelah berantem sama, Araz?" tanya Putra penuh selidik. Padahal aku yang meminta orang di rumahnya agar tidak bercerita jika aku datang pada malam itu, tetapi justru aku sendiri yang membongkarnya.
"Menurutmu?"
"Iya, siapa lagi orang yang begitu ketakutan dan panik setiap kali lihat lo sakit kalau bukan, Om Eka."
"Dan kamu. Makasih ya Nya, udah mau balik peduli sama aku. Meski dengan status yang berbeda, cuma kamu yang bisa jadi tempat melabuhkan segala resah. Kamu masih tempat aku pulang, Nya."
Mendengar ucapan Putra, tidak lagi membuatku merasa terbebani atau merasakan gejolak amarah yang sempat kurasakan setelah perpisahan kami. Kini semua terasa biasa saja. Hanya menyisakan rasa nyaman yang berbeda. Nyaman sebab ada orang yang menjadikanku tempat pulang. Bukan sebagai pasangan, tetapi emm ... mungkin sebagai tempat menyandarkan lelah yang tak perlu didefinisikan dengan kejelasan status.
"Nanti lo juga pasti bakal ketemu sama tempat lo pulang yang sebenarnya. Vika mungkin?" godaku membuat wajah Putra tampak muram.
"Nggak kayak gitu, Nya. Dia sama aku punya kemiripan. Ibunya menikah lagi dan ayah tirinya cuma suka mabuk-mabukan, trus main kasar. Aku ngerasa kami punya kesamaan dalam hal ini, makanya aku peduli sama dia."
"Dengan mengorbankan badan lo sebagai sasaran amuk ayahnya?"
__ADS_1
"Dia minta tolong aku, Nya. Gimana aku bisa nolak kalau aku ingat kondisi aku dulu dan nggak ada seorang pun yang nolongin. Jelas aku nggak akan tega lakuin itu. Ngebiarin dia sendirian lewatin masalah yang dihadapi."
"Terus? Kan ada Arlan, ada yang lain juga. Kenapa dia minta tolong kamu?"
Nada suaraku meninggi saat mengingat bagaimana cerobohnya Vika yang melibatkan artisnya dalam masalah pribadi. Untung berita atas pemukulan orang tua Vika pada Putra tak sampai muncul kepermukaan. Mungkin manajemen rumah produksi tempat Nada Sumbang bernaung telah melakukan sesuatu agar tidak sampai terjadi skandal. Meski begitu, sejak pagi cemasku semakin bertumpuk-tumpuk dan tak henti melihat kanal pemberitaan, memastikan apakah ada berita tentang Putra ataupun Vika.
"Aku nggak sengaja pernah lihat wajah dia luka akibat dipukuli ayahnya. Makanya aku minta ke dia kalau terjadi hal yang sama nggak perlu sungkan minta bantuan. Aku juga nggak tahu kalau ternyata bakal jadi kayak gini."
"Ck, ini nih, sok mau jadi pahlawan, tapi nggak lihat gimana kondisi diri sendiri. Terus gimana kalau udah gini?"
"Kalau udah gini berarti bisa istirahat dong. Lo kira nggak capek kerja mulu tiap hari? Buat siapa juga belum jelas," kata Putra sambil menata tumpukan bantal di punggungnya agar terasa lebih nyaman. "Btw, gimana itu ceritanya kalian bisa jadian? Udah beneran move on nih?"
"Dih, lo kira gue masih berharap sama lo?"
Tawa Putra berderai. Meski lagi-lagi meringis menahan nyeri akibat luka yang belum mengering.
"Nya, nggak usah bilang Papa ya. Aku nggak apa-apa kok. Bakal panjang urusannya kalau Papa sampai tahu masalah ini."
"Gue juga nggak niat kasih tahu sih."
"Hei, maafin Papa ya. Aku tahu ini berat buat kamu sih, tapi ... bukankah mereka juga berhak bahagia?"
Senyumku sinis mendengar pernyataan Putra yang lebih terdengar seperti pertanyaan. Lelaki itu menatapku yang memilih mengamati jatuhnya air dari slang infus. Aku menghindari tatapannya demi tak ingin menunjukkan jika masih ada amarah yang tersimpan untuk mereka.
"Masih tetap nggak mudah ya maafin mereka?" tanya Putra saat aku lebih lama membisu.
"Entahlah, perkara mereka beda sama kita. Duh, udah deh nggak bisa mikir gue," elakku menghindari pertanyaan lelaki itu. Lagipula bagaimana bisa aku semudah itu memaafkan mereka?
Huufftt ... sebelum amarah benar-benar menguasaiku, aku pamit pada Putra untuk mencari Araz. Hampir makan siang dan lelaki itu belum menelan sesuap makanan pun. Aku tak ingin membuatnya sakit akibat kelalaianku untuk mengajaknya makan.
__ADS_1
"Ya udah, ajakin sini kalau selesai makan. Bagaimanapun dia bakal jadi adik gue," kata Putra sok galak. Aku hanya membalas dengan tatapan sinis lantas beranjak dari tempat duduk di samping Putra. Sementara lelaki itu hanya tergelak juga merintih bersamaan.